Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Bertemu Para Guru Padepokan Macan Kumbang


__ADS_3

Di Padepokan Macan Kumbang, Puguh menyampaikan siasatnya pada Ki Bajrapadsa, Ki Ragajampi dan Ki Aryatama tentang rencananya menyelamatkan daerah daerah yang terkena cengkeraman Perkumpulan Jaladara Langking. Selain itu, Puguh juga memberitahukan, kalau dirinya sudah bertemu dengan Senopati Nata dan beliau sangat menyetujui dan siap membantu kekuatan dari dalam.


Akhirnya disepakati lima hari lagi rombongan dari Padepokan Macan Kumbang akan berangkat ke Kadipaten Langitan, dengan perkiraan lama perjalanan sekitar dua hari. Sedangkan Puguh akan berangkat lebih dahulu, karena ada yang harus dia rencanakan dan persiapkan dengan Senopati Nata.


Puguh juga berharap, Ki Bajrapadsa bisa mengajak saudara saudara dari Padepokan lainnya.


Menjelang pagi, Puguh langsung kembali berangkat ke Kadipaten Langitan. Namun sebelum berangkat, Puguh menyempatkan diri untuk menemui murid murid Padepokan Macan Kumbang yang dulunya adalah teman teman seperguruannya, yang sudah terbangun pada dini hari itu.


Pada kesempatan yang sangat sempit itu, Puguh bisa bertemu dengan Wiroyoga, Wirayuda dan Anjani. Bahkan bisa bertemu dengan seniornya dulu seperti Arimbi, Darutama dan Kaneko. Semuanya Puguh salami. Namun saat bersalaman dengan Anjani, Anjani tidak mau dipanggil mbakyu.


"Kita seumuran, Puguh. Tidak sepantasnya kau memanggilku mbakyu !" kata Anjani.


"Baiklah mbaky ... , eh. An ... jani," jawab Puguh sambil tersenyum lebar.


Setelah berbincang sebentar dengan mereka, Puguh pun berpamitan.


Teman teman yang dia pamiti melihat Puguh hanya berjalan biasa, namun hanya dalam waktu sekejab, tubuh Puguh sudah hilang di telan rerimbunan pepohonan.


Saat Puguh melangkah pergi, terdengar suaranya seperti dekat dengan mereka semua.


" Mbakyu dan kakang semuanya, Padepokan Macan Kumbang adalah sekumpulan orang orang berjiwa ksatria. Jadi tidak boleh takut dengan segerombolan orang orang jahat !" kata Puguh yang tubuhnya sudah melesat jauh meninggalkan daerah kekuasaan Padepokan Macan Kumbang.


Suasana dini hari itu kembali senyap. Apalagi setelah mereka semua kembali ke pondok mereka masing masing. Namun sebenarnya tidak benar benar senyap. Karena ada satu hati yang bergemuruh dan panas membara laksana api arang yang tertiup angin. Bukan dendam bukan amarah bukan pula rasa cemburu. Entah rasa apa, hanya orang itu yang tahu. Tatapan matanya terus mengarah ke arah perginya Puguh. Hingga tanpa disadarinya, tempat pertemuan sudah sepi, hanya ada dia sendiri. Sampai kemudian dia disadarkan oleh suara yang menegurnya.


"Adik, apakah kakimu dimakan semut ? Sehingga engkau tidak bisa melangkah pergi bersama dengan yang lainnya ?" tanya orang itu.


"Eehhh ... kakang. Benar, tadi kakiku kesemutan, kelamaan berdiri. Puguh memang kurang ajar, bicaranya lama banget membuatku harus berdiri lama mendengarkannya !" jawab orang yang masih tertinggal sendiri tadi, sambil ceoat cepat membalikkan badan dan kemudian meninggalkan orang yang menegurnya sambil diam diam lengan kirinya mengusap matanya yang kedua kelopak matanya sudah penuh dengan air.


Orang yang menegurnya itu pun hanya bisa tersenyum tipis sambil mengangkat kedua pundaknya.

__ADS_1


"Engkau memang benar adikku. Puguh memang kurang ajar. Bukan membuatmu kelamaan berdiri, tetapi membuatmu kelamaan menunggu untuk bertemu !" kata orang yang menegur itu sambil berjalan pelan menyusul adiknya.


----- * -----


Sementara itu, dengan tehnik berlarinya yang hampir sempurna, Puguh tiba di belakang rumah Senopati Nata saat matahari baru saja menampakkan diri. Mudah saja Puguh melompati tembok benteng tanpa ketahuan oleh para prajurit penjaga. Kemudian dengan santainya Puguh langsung duduk di kursi yang menghadap ke ruang tengah tanpa ada rasa kekhawatiran terlihat oleh para prajurit. Karena Puguh yakin, tidak akan ada prajurit yang mendekat ke teras belakang, tanpa dipanggil oleh Senopati Nata. Puguh pun duduk dengan kepala disandarkan dan mata terpejam, seakan dia hendak istirahat.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Puguh mendengar suara langkah Senopati Nata yang hendak ke teras belakang.


Namun langkahnya dihentikan dan digantikan dengan suara lirih.


"Kita bicara di dalam saja. Cepat masuk ke dalam !" kata Senopati Nata pelan.


Tanpa menunggu lagi, Puguh pun segera melesat ke ruang tengah.


"Kenapa kita harus bicara secara sembunyi paman ? Ini kan rumah paman sendiri dan mereka adalah anak buah paman ?" tanya Puguh.


Puguh pun hanya mengangguk. Kemudian dengan ringkas Puguh mengabarkan pada Panglima Nata, kalau pasukan pendekar dari Padepokan Macan Kumbang akan berangkat lima hari lagi. Ditambah dengan perhitungan lama perjalanan sekitar dua hari. Jadi mereka akan tiba di Kadipaten Langitan tujuh hari lagi.


Mendengar kabar dari Puguh, hari ini secepatnya Senopati Nata akan mengabari Senopati Raksaguna dan Senopati Utama Wiguna. Puguh diminta bersedia menunggu karena mereka bertiga akan sesegera mungkin berkumpul di ruangan ini.


Mendengar hal itu, Puguh pun menyanggupinya. Kemudian dengan cepat, Senopati Nata pergi ke gedung Kadipaten Langitan dan berharap sesegera mungkin bisa bertemu dengan Senopati Raksaguna dan Senopati Utama Wiguna.


Namun pagi itu, Senopati Nata belum sempat bertemu dengan kedua Senopati itu, justru bertemu dengan Ki Klawu Carma yang memang berambisi untuk menjadi seorang penguasa, sehingga sampai tega memenjarakan Raden Tumenggung Suryo Langit yang menjadi adipati di Kadipaten Langitan.


Namun berita tentang Raden Tumenggung Suryo Langit dijebloskan ke dalam penjara, hanyalah tiga senopati itu yang tahu, dan mereka bertiga diancam jangan sampai berita ini menyebar. Karena Ki Klawu Carma ingin jalannya roda pemerintahan tetap berjalan baik, dengan membuat seolah olah Raden Tumenggung Suryo Langit baik baik saja dan tetap berada di gedung Kadipaten menjalankan fungsi pemerintahannya.


Maka dari itu, ketika pagi pagi bertemu dengan Senopati Nata, Ki Klawu Carma langsung memanggilnya.


"Senopati Nata ! Apa ada yang akan kau laporkan ?" tanya Ki Klawu Carma.

__ADS_1


"Tidak ada !" jawab Senopati Nata.


"Kalau tidak ada yang harus dilaporkan, kenapa pagi pagi kamu datang kegedung Kadipaten ?!" tanya Ki Klawu Carma.


Tanpa menjawab, Senopati Nata langsung berbalik dan pergi meninggalkan Ki Klawu Carma.


Hingga akhirnya di pintu gerbang masuk ke gedung Kadipaten Langitan, Senopati Nata berhasil bertemu dengan Senopati Utama Wiguna dan Senopati Raksaguna. Dan dengan sesedikit mungkin mereka berbincang, Senopati Nata langsung kembali pulang.


Demikian pula dengan Senopati Utama Wiguna dan Senopati Raksaguna. Mereka berkeliling sebentar di area sekitar gedung Kadipaten Langitan. Kemudian, di depan gerbang masuk gedung Kadipaten Langitan, mereka pun berpisah.


Sementara itu, Senopati Nata yang sudah kembali ke rumahnya, segera menemui Puguh yang menunggu di ruang tengah. Namun sebelumnya, Senopati Nata berpesan pada lurah prajurit yang bertugas, untuk memusatkan kekuatan jaga di depan. Karena Senopati Nata sendiri yang akan menjaga di belakang sambil duduk di teras belakang. Padahal semata mata hal itu untuk memudahkan Senopati Utama Wiguna dan Senopati Raksaguna masuk melalui tembok belakang.


Saat Puguh dan Senopati Nata berbincang, tiba tiba muncul dua orang dari arah teras belakang. Segera saja Puguh dan Senopati Nata menyambutnya sambil berdiri dan mempersilakan mereka duduk.


Setelah berbasa basi sejenak, akhirnya Puguh menceritakan rencana yang sudah dia bahas dengan Ki Bajrapadsa dari Padepokan Macan Kumbang.


Entah apa saja yang mereka bicarakan, karena mereka berbicara sangat lirih dan lebih sering memakai kode tangan.


Namun terlihat, beberapa saat kemudian, Senopati Utama Wiguna dan Senopati Raksaguna beranjak pulang. Sedangkan Puguh tinggal dirumah Senopati Nata. Walaupun sebenarnya sangat mudah bagi Puguh untuk keluar masuk rumah Senopati Nata kapanpun dia kehendaki.


__________ ◇ __________


Sebelumnya penulis mohon maaf yang sebesar besarnya, apabila dalam beberapa hari ini, tidak update chapter, karena tiga empat hari terakhir ini penulis sedang tepar karena influensa berat hingga menyentuh handphone pun tidak mampu.


Biasanya, walaupun sakit, selama masih bisa untuk mengerjakan, apapun akan penulis kerjakan.


Namun, karena mungkin memang disuruh beristirahat total, akhirnya penulis dibuat tepar dan benar benar tak berdaya hanya bisa berbaring di tempat tidur.


Atas kesabaran dan pengertian dari para pembaca semuanya, penulis mengucapkan banyak terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2