Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Ke Istana Kerajaan


__ADS_3

Pada pagi hari di istana Pangeran Panji. Setelah menerima laporan dari prajuritnya, kalau Iblis Bermata Satu dan Nyi Manis sudah pulang, Pangeran Panji segera mengumpulkan para pendekar yang dia undang untuk datang ke istananya, termasuk Nyi Manis dan Iblis Bermata Satu.


Pada kesempatan itu, Nyi Manis menyampaikan apa yang tadi malam dia lihat dan dia alami bersama Iblis Bermata Satu.


"Pangeran, di istana Pangeran Pandu, paling tidak, ada tiga pendekar berkekuatan sangat tinggi. Kalau tidak salah mereka adalah Nyi Jinten, Ki Dwijo dan Ki Klewang Klewung. Ditambah seorang anak muda yang ilmu silat dan tenaga dalamnya sangat tinggi !" kata Nyi Manis, "tetapi kemungkinan besar masih ada yang lainnya yang belum keluar."


"Terimakasih Nyi Manis," jawab Pangeran Panji. Untuk sejenak, Pangeran Panji terdiam berpikir. Namun kemudian dengan cepat melihat ke arah gurunya, Ki Kama Catra.


"Guru, aku mendapat laporan dari para prajurit, bahwa tabib yang berhasil mengobati istriku, yaitu Ki Bhanujiwo dan muridnya, sudah melarikan diri. Bagaimana itu bisa terjadi ? Dan bagaimana dengan ramuan untuk ilmu baru yang guru ciptakan ?" Pangeran Panji bertanya pada gurunya.


"Haaahhh ha ha ha ... ! Tidak apa apa mereka melarikan diri, Pangeran. Pangeran tidak usah khawatir, ilmu baruku sebentar lagi sempurna !" jawab Ki Kama Catra.


"Bukankah Ki Bhanujiwo yang membuat ramuan sudah pergi ?" tanya Pangeran Panji lagi pada gurunya.


"Guru masih memiliki ramuan yang dia buat dan itu cukup untuk digunakan sampai ilmu guru sempurna," jawab Ki Karma Catra lagi.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menyerang istana Adi Pandu ? Kita habisi semua pendekar yang berada di sana ?" tanya Pangeran Panji pada semua yang hadir pada pertemuan itu.


"Jangan dulu Pangeran. Tunggu beberapa hari lagi, sampai ilmuku yang baru benar benar sempurna !" jawab Ki Kama Catra.


"Baiklah guru. Kita akan menyerang istana Adi Pandu, setelah guru berhasil menyempurnakan ilmunya. Selama menunggu, kita akan berusaha memastikan jumlah kekuatan istana Adi Pandu !" kata Pangeran Panji yang kemudian membubarkan pertemuan itu.


----- * -----


Sementara di istana Pangeran Pandu, Ki Dwijo dan para sahabatnya menemui Pangeran Pandu. Mereka menceritakan perkembangan keadaan akhir akhir ini. Terutama tentang terjadinya penyerangan dan penyusupan yang melibatkan para pendekar tingkat tinggi, yang diperkirakan, pendekar pendekar itu suruhan Pangeran Panji.


"Pangeran Pandu, kami tahu, sebenarnya Pangeran Pandu tidak berminat pada kekuasaan. Tetapi demi rakyat dan kerajaan, cobalah Pangeran Pandu ikut memperhatikan perkembangan kerajaan !" kata Ki Dwijo.


"Bukankah situasi kerajaan, baik baik saja paman ?" tanya Pangeran Sindu.


"Sebenarnya, kerajaan tidak sedang baik baik saja, Pangeran. Cobalah Pangeran menengok Prabu Lingga Kawiswara. Dan kemudian bertemu dengan para senopati dan punggawa kerajaan Banjaran Pura. Pangeran akan mendapatkan cerita yang akan mengejutkan Pangeran !" jawab Ki Dwijo lagi.


Mendengar semua yang dikisahkan oleh Ki Dwijo, Pangeran Pandu tercekat. Dia seperti disadarkan, betapa selama ini dia sangat tidak peduli dengan keadaan kerajaan. Apalagi kondisi kerajaan sekarang yang besar kemungkinan terjadi perebutan kekuasaan.


"Aku harus segera menghadap ayahanda raja. Aku juga harus secepatnya meminta informasi pada para paman senopati. Kakang Panji tidak boleh dibiarkan seenaknya memerintah mereka !" kata Pangeran Pandu dalam hati.


Kemudian, kepada Ki Dwijo dan para pendekar yang lainnya, Pangeran Pandu menyampaikan, akan secepatnya ke istana raja serta akan menemui para punggawa kerajaan, terutama para senopati kerajaan.

__ADS_1


Untuk menjaga keselamatannya dari segala kemungkinan yang mengancam, Pangeran Pandu akan dikawal oleh Rengganis dan Den Roro yang menyamar sebagai prajurit, serta Ki Bhanujiwo yang menyamar sebagai sais kereta, serta ditambah beberapa prajurit.


----- * -----


Sesaat setelah melesat keluar dari taman keputren dan hendak menuju ke istana Pangeran Pandu, Puguh melihat rombongan kereta Pangeran Pandu memasuki istana kerajaan.


Melihat itu, Puguh pun tidak jadi keluar dari komplek istana. Dia berusaha mengikuti rombongan Pangeran Pandu dari kejauhan.


Begitu kereta Pangeran Pandu benar benar sudah memasuki pintu gerbang istana kerajaan, Puguh pun berhenti mengikutinya.


Kemudian, karena waktu yang masih menjelang sore, sambil menunggu waktu malam, Puguh kembali melesat ke arah taman keputren.


Sesampainya di taman keputren, Puguh mendapati taman itu sepi, tidak ada seorangpun di sana.


Maka, sambil menunggu waktu malam tiba, Puguh segera duduk di rerumputan taman. Sesaat kemudian, Puguh tenggelam di dalam semedi.


Beberapa waktu kemudian, hari menjadi gelap. Puguh pun menghentikan semedinya.


Baru saja hendak beranjak pergi, telinga Puguh menangkap langkah kaki yang sangat halus. Maka, Puguh segera menyelinap di antara tanaman tanaman perdu yang berfungsi seperti pagar.


Sesaat kemudian, terlihat Putri Cinde Puspita yang berjalan ke arah deretan kursi yang berada di pinggir kolam, dan kemudian duduk di salah satu kursi menghadap ke arah kolam.


Namun tiba tiba, terdengar lagi langkah kaki dari pintu masuk taman. Puguh merasakan ada tiga getaran tenaga dalam yang bergerak menuju ke arah Putri Cinde Puspita.


Beberapa saat kemudian, terlihat tiga orang berpakaian prajurit lengkap yang berjalan tegap menuju ke tempat Putri Cinde Puspita.


"Ampun beribu ampun Putri. Besok waktunya menghadap ke istana kerajaan, seperti yang sudah diatur oleh Pangeran Panji !" kata salah seorang prajurit itu.


"Siapkan saja seperti biasanya !" jawab Putri Cinde Puspita dengan tanpa merubah posisi duduknya.


Mendengar perintah dari Putri Cinde Puspita, ketiga prajurit itu segera pergi meninggalkan Putri Cinde Puspita sendirian.


Beberapa saat, Putri Cinde Puspita masih terlihat termenung. Pada waktu menjelang malam beginilah, biasanya kelebatan bayangan dalam pikiran dan penglihatannya muncul.


Namun, hingga beberapa waktu memasuki malam, tidak terjadi apapun pada Putri Cinde Puspita. Hal itu membuat Putri Cinde Puspita tiba tiba teringat pendekar muda yang baru kemaren bertemu dengannya.


"Pendekar muda, kuharap kau bisa mengawalku masuk ke dalam istana !" kata Putri Cinde Puspita dengan berbisik.

__ADS_1


Walaupun hanya berbisik, namun itu bisa didengar Puguh dengan sangat jelas.


"Kasihan Putri Cinde Puspita. Keselamatannya terancam, tanpa ada yang melindunginya," kata Puguh dalam hati.


"Kalau Putri berkenan, aku akan mengawal Putri memasuki istana kerajaan," jawab Puguh dengan reflek.


Mendengar suara Puguh, Putri Cinde Puspita sangat terkejut, dan sama terkejutnya dengan Puguh yang terlepas mengatakan itu.


"Pendekar Puguh ? Kau masih berada di sini ?" tanya Putri Cinde Puspita sambil berdiri dan membalikkan badan, menatap ke arah Puguh bersembunyi.


"Aku masih di sini, Putri !" jawab Puguh sambil keluar dari balik tanaman pagar.


"Puguh, aku berterimakasih kau bersedia mengawal aku !" kata Putri Cinde Puspita dengan nada suara yang terlihat gembira.


"Baiklah Putri. Besok aku akan datang lagi ke taman ini !" jawab Puguh yang merasa heran, kenapa dirinya bisa mengucapkan itu.


"Akan aku tunggu kedatanganmu," kata Putri Cinde Mustika.


Kemudian, Puguh berbalik dan beranjak pergi. Sesaat kemudian, tubuhnya melesat dengan sangat cepat hingga terlihat seperti terbang, menuju ke arah istana kerajaan. Puguh bermiat untuk melihat keadaan Pangeran Pandu.


Di komplek bangunan istana kerajaan, Puguh menyelinap dan berlari di atas genting.


Saat Puguh tiba di atas genting sebuah bangunan pendopo yang cukup luas, tiba tiba datang kesiuran angin bayangan tubuh dari arah depan, yang langsung menabrak tubuh Puguh yang sedang melesat di atas genting.


Dalam sekejap, benturan dua tubuh pun terjadi.


Plaaakkk !!!


Terdengar suara benturan yang cukup keras, saat Puguh menepis datangnya bayangan tubuh yang menabraknya.


Dalam benturan itu, Puguh terdorong tiga langkah ke belakang. Sedangkan bayangan tubuh itu kembali melayang ke belakang dengan bersalto dan kemudian mendarat di atas genting, cukup jauh di depan Puguh.


Puguh merasakan, kedua telapak tangannya seperti mendorong tembok batu.


"Siapa dia ? Baru kali ini aku menemui lawan yang tubuh dan tenaga dalamnya bersifat keras !" kata Puguh dalam hati.


Sementara itu, bayangan tubuh yang menabrak Puguh, sangat terkejut.

__ADS_1


"Uffft ... tingkat tenaga dalam yang sangat tinggi di usianya masih sangat muda !" gumam bayangan tubuh itu sambil mengibaskan kedua tangannya yang terasa sangat kebas.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2