Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menuju Kadipaten Randu Beteng II


__ADS_3

Setelah beberapa waktu Ki Bhanujiwo dan Den Roro pergi ke hutan perbatasan untuk mencari bahan yang dibutuhkan untuk membuat ramuan obat, akhirnya mereka mendapatkan bahan bahan yang mereka maksud.


Segera saja mereka kembali ke gedung Kadipaten Randu Beteng untuk meracik bahan bahan yang telah mereka dapatkan.


Tidak berapa lama, Ki Bhanujiwo dan Den Roro selesai membuat ramuan obat. Kemudian dengan perlahan dan telaten, Den Roro meminumkan ramuan yang telah mereka buat pada Dewi Kinara yang masih koma. Hal itu Den Roro lakukan hingga tiga kali dan berjarak beberapa waktu, karena kondisi Dewi Kinara yang masih koma.


Setelah sekitar setengah hari menunggu, mulai terlihat ada reaksi dari tubuh Dewi Kinara.


Suhu tubuh Dewi Kinara mulai meningkat. Bahkan seluruh tubuhnya terasa sangat panas. Butiran butiran keringat keluar dari dahi dan pelipis Dewi Kinara.


Kemudian, terlihat bibir Dewi Kinara sedikit bergerak dan mulai terdengar mengigau bercampur dengan rintihan kesakitan.


Setelah tersiksa dengan rasa panas pada seluruh tubuhnya dan juga rasa sakit dan pedih pada luka terkena racun dan bagian tubuh di sekitarnya, akhirnya Dewi Kinara kembali pingsan.


Dengan cepat Den Roro membersihkan keringat Dewi Kinara dengan kain yang telah tersedia.


Beberapa waktu kemudian, Dewi Kinara terbangun dari pingsannya. Betapa bahagianya Pangeran Panji, hingga akhirnya meminta pada Ki Bhanujiwo dan Den Roro untuk merawat istrinya hingga benar benar sembuh.


Di sela sela waktu menunggui istrinya, Pangeran Panji selalu menyempatkan diri bertemu dengan para pengawalnya untuk menerima laporan laporan dari para pengawalnya.


Kekalahan dan tewasnya anggota Perkumpulan Jaladara Langking di wilayah Kadipaten Langitan dan sekitarnya oleh beberapa orang yang berseberangan kepentingan dengan Perkumpulan Jaladara Langking, terutama berita munculnya seorang pendekar muda yang sangat tinggi ilmunya, juga sampai pada Pangeran Panji.


Mendengar semua kabar berita yang disampaikan oleh para pengawalnya, Pangeran Panji pun akhirnya memberikan titahnya.

__ADS_1


"Kita biarkan dulu keadaan Kadipaten Langitan. Kamu berdua, cari pemuda itu sampai ketemu !" perintah Pangeran Panji pada dua orang laki laki muda berpakaian prajurit, yang kemaren lusa menjemput Ki Bhanujiwo dan Den Roro.


"Yang lainnya, selain yang bertugas menjaga dan mengawasi Kadipaten Randu Beteng, besok pagi ikut kembali ke keraton !" Pangeran Panji melanjutkan perintahnya.


Para pendekar yang bertugas sebagai pengawal Pangeran Panji memang cukup banyak. Mereka semua adalah orang orang pilihan Pangeran Panji dan rata rata masih berusia muda dan memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Mereka semua memakai pakaian prajurit, sehingga para Senopati kerajaan dan Pangeran Pangeran yang lainnya bahkan Prabu Lingga Kawiswara Raja Kerajaan Banjaran Pura sendiri tidak mengetahui, kalau para prajurit pengawal Pangeran Panji merupakan pendekar pendekar berilmu tinggi.


Pendekar pendekar muda itu bersedia diajak bergabung oleh Pangeran Panji, karena dijanjikan kedudukan dan diberi bayaran yang besar.


----- * -----


Keesokan harinya, rombongan Pangeran Panji meninggalkan Kadipaten Randu Beteng untuk kembali ke Keraton Kerajaan Banjaran Pura.


Pada hari yang sama, sejak pagi pagi buta di setiap tempat yang dilewati orang orang, tertempel gambar seorang laki laki muda yang tampan dan gagah, dengan tulisan 'Penjahat Diburu Kerajaan'. Gambar itu dengan cepat menyebar di seluruh wilayah Kadipaten Randu Beteng. Hal itu atas ide dari Candranala dan Suryanala, dua laki laki muda berpakaian prajurit yang mendapat tugas untuk menangkap laki laki muda yang dianggap sebagai penjahat yang sedang diburu oleh kerajaan.


Pada pagi itu, Puguh yang melakukan perjalanan bersama dengan Ki Dwijo dan Rengganis tiba di perbatasan Kadipaten Randu Beteng.


Karena itu, begitu memasuki Kadipaten Randu Beteng, Puguh menjadi lebih waspada. Karena di Kadipaten Randu Beteng ini, dulu Puguh bertemu dengan tokoh tokoh Perkumpulan Jaladara Langking yang tingkatan ilmunya sangat tinggi seperti Putri Mahatariti dan kedua orangtuanya.


Saat melewati jalanan yang mulai ramai dilewati orang orang, mata Puguh yang sudah terlatih melihat dalam kegelapan dan melihat sesuatu dalam jarak yang jauh dengan bantuan tenaga dalamnya, Puguh melihat banyak gambar ditempel di pohon pohon dan dinding dinding bangunan dan pagar. Walaupun jauh, Puguh bisa melihat dengan jelas.


Saat melihat gambar itu, Puguh terkejut. Gambar gambar yang tertempel itu mirip sekali dengan wajahnya.


Sejenak Puguh tertegun, kemudian melihat ke sekelilingnya. Sesaat Puguh berpikir. Namun kemudian, dengan tanpa menimbulkan suara, Puguh melesat pergi meninggalkan Ki Dwijo dan Rengganis. Sesaat kemudian, tubuh Puguh sudah berada di sela sela rimbunnya dedaunan, berdiri di atas sebuah dahan pohon yang cukup tinggi, sehingga tetap bisa melihat Ki Dwijo dan Rengganis.

__ADS_1


"Maafkan Puguh, guru. Maafkan kakang, adik Rengganis. Aku hanya tidak ingin membawa kalian ke dalam bahaya, dalam situasi yang belum jelas, siapa kawan siapa lawan ini !" bisik Puguh.


Sebenarnya Puguh bisa saja tetap melakukan perjalanan bersama Ki Dwijo dan Rengganis dengan menggunakan topeng ataupun menyamar. Namun, hal itu tetap membahayakan mereka.


Sehingga untuk sementara, Puguh akan menghindari berdekatan dengan mereka, agar mereka tidak terseret ke dalam bahaya.


Hal itu Puguh lakukan setelah Puguh membaca tulisan yang terdapat dalam gambar yang ditempel di hampir semua tempat. Tulisan itu menyinggung kerajaan. Berarti orang orang yang mencarinya sudah bukan orang orang dari Kadipaten tertentu, tetapi sudah pada tingkat Kerajaan. Puguh sedikit banyak memahami, kalau berurusan dengan Kerajaan, berarti berhadapan dengan orang orang yang kesaktiannya sudah tidak terukur.


Dari kejauhan, Puguh melihat, Ki Dwijo dan Rengganis dengan lancar melewati pemeriksaan prajurit yang berjaga di pintu gerbang jalan masuk menuju ke Kadipaten Randu Beteng.


Sementara itu, saat berjalan melewati gambar gambar yang ditempel di berbagai tempat, Ki Dwijo dan Rengganis sempat memperhatikan gambar itu selama beberapa waktu. Sesaat kemudian, mereka berdua menoleh ke belakang.


"Ka ... kang ?" ucap Rengganis menjadi semakin pelan saat melihat Puguh tidak ada di belakangnya. Rengganis mencoba mencari Puguh dengan melihat ke beberapa arah.


Sementara itu Ki Dwijo, juga melihat ke belakang dan tidak mendapati Puguh berada di belakangnya. Namun Ki Dwijo segera bersikap biasa karena Ki Dwijo juga sempat melihat gambar yang tertempel di berbagai tempat. Sehingga Ki Dwijo bisa memahami apa yang dilakukan oleh Puguh.


Setelah melewati pemeriksaan di pintu gerbang, barulah Ki Dwijo memberikan penjelasan pada Rengganis.


"Nduk, jangan kau khawatirkan Puguh. Dia akan baik baik saja. Justru sebaliknya, Puguhlah yang mengkhawatirkan keselamatan kita, kalau kita tetap bersama sama dengannya. Karena sepertinya, urusan yang ada sangkut pautnya dengan Perkumpulan Jaladara Langking, sudah tidak pada tingkat Kademangan atau Kadipaten. Tetapi sepertinya sudah melibatkan keraton. Itu kakek simpulkan dari tulisan pada gambar gambar itu !" kata Ki Dwijo mencoba menjelaskan pada Rengganis.


"Tetapi kakang Puguh sendirian, kakek," kata Rengganis.


"Ssttt ! Mulai sekarang jangan mudah menyebut nama Puguh. Banyak mata dan telinga di sekitar kita !" sahut Ki Dwijo.

__ADS_1


"Baik kakek," jawab Rengganis walaupun sebenarnya masih belum paham dengan situasi yang sebenarnya.


__________ ◇ __________


__ADS_2