Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Mencoba Menyusup


__ADS_3

Puguh yang sejak awal sudah sangat siaga, segera menyambut serangan kedua lawan di depannya. Dengan jurus jurus dalam ilmu Bantala Wreksa, Puguh mampu menyapok semua serangan belati kedua lawannya.


Bahkan dalam suatu kesempatan, kecepatan pukulan Puguh tidak bisa dihindari oleh salah seorang lawannya hingga mengenai dadanya.


Buuuggghhh !


Lawan yang terkena pukulan itu terlempar ke bawah. Namun, seolah tidak memperdulikan keadaan temannya, penyerang yang satunya lagi, melompat tinggi kemudian tubuhnya meluncur ke arah Puguh dan mencecar dengan serangan tusukan dan tebasan.


Melihat cara menyerang mereka, Puguh memperkirakan, kedua lawannya itu sangat terlatih untuk dalam melakukan pembunuhan tersembunyi.


Hal itu nampak dari senjata belati yang mereka gunakan, dan juga gerakan jurus jurus mereka yang efektif namun selalu mengarah ke bagian tubuh yang mematikan.


Menghadapi lawan yang satunya lagi yang meluncur ke arahnya, dengan ilmu meringankan tubuh Sindhung Arina, Puguh memutar sesemikian rupa tubuhnya, sehingga cecaran tusukan belati lawannya bisa dihindari semua.


Digabungkan dengan memainkan ilmu pukulan tangan kosong Bantala Wreksa, Puguh membalas menyerang bahkan berhasil memaksa lawannya untuk mundur hingga sampai di pinggiran atap.


Mungkin karena sedikit panik, temannya tidak segera naik membantu, penyerang yang di atas genteng itu sedikit keliru melangkah dan menginjak tempat kosong.


Bersamaan dengan itu, sebuah pukulan tangan kanan Puguh berhasil mengenai tengkuknya, hingga penyerang itu jatuh terjerambab di tanah.


Buuuggghhh !


Bruuuggghhh !


Penyerang yang terjatuh tadi langsung pingsan dan tidak bergerak lagi.


Melihat temannya tidak sadarkan diri, penyerang yang terkena pukulan di dada tadi kembali mencecar Puguh dengan serangkaian tusukan belati.


Saat Puguh beberapa kali menghindar, penyerang yang terpukul di dadanya tadi, diam diam merogoh saku kirinya. Kemudian dengan tiba tiba, kedua tangan penyerang itu melemparkan dengan sangat cepat senjata rahasia jarak jauh berupa belati kecil. Sedangkan belati yang dipakai untuk menyerang tadi sudah digigit pada bilahnya.


Tidak mau mengambil resiko, Puguh menghindari dua belati kecil yang melesat sangat cepat ke arahnya dengan melompat dan menekuk tubuhnya, sehingga belati itu hanya tipis melewati samping tubuh dan bawah kakinya.


Namun, di luar perkiraan Puguh, saat dirinya menghindar, penyerang tadi juga melemparkan belati besar yang tadi digigitnya ke arah temannya yang tergeletak di tanah. Hingga belati besar itu tepat menancap di dada kiri temannya.


Kemudian saat Puguh sedikit terkejut dengan kejadian itu, dimanfaatkan oleh penyerang tadi untuk lari melompati benteng Istana Kepangeranan dan dengan cepat menghilang dalam kegelapan.


Walau sedikit terlambat, Puguh segera mengejar penyerang yang melarikan diri tadi.

__ADS_1


Namun, karena saat itu malam sangat gelap dan terutama karena Puguh mengkhawatirkan keselamatan Pangeran Pandu, Puguh segera kembali ke Istana Kepangeranan. Sesaat Puguh memeriksa tubuh penyerangnya yang masih diam terlentang di tanah. Namun ternyata penyerang itu sudah tewas.


Kemudian Puguh melesat dengan cepat ke dalam Istana Kepangeranan. Setelah memastikan keadaan benar benar aman, Puguh kembali ke arah pertarungan tadi dan membawa jasad penyerangnya yang sudah tewas ke dalam Istana Kepangeranan untuk diperiksa.


Mendengar kegaduhan yang hanya sesaat itu, semuanya terbangun dan keluar dari kamar, termasuk Pangeran Pandu.


Kemudian mereka memeriksa tubuh penyerang yang sudah tewas itu. Namun, tidak ada apapun yang bisa digunakan sebagai petunjuk.


"Kalau berdasarkan kemampuan ilmu silatnya, sulit dipastikan dua orang penyerang tadi ada hubungannya dengan empat orang berpakaian prajurit yang kemaren datang ke Kadipaten Randu Beteng. Karena jurus jurus yang digunakan dua penyerang tadi, sangat berbeda dengan jurus jurus keempat orang berpakaian prajurit, dan juga ilmunya masih sedikit di bawah empat orang yang datang ke Kadipaten Randu Beteng," kata Puguh.


Ki Dwijo mencoba memeriksa belati yang digunakan dua orang penyerang tadi. Namun lagi lagi belum ada hal yang bisa digunakan sebagai petunjuk. Karena ternyata, belati yang dipakai oleh penyerang tadi, juga banyak dijual di toko toko penjual senjata, sehingga tidak ada ciri khusus yang bisa menjadi petunjuk.


----- * -----


Setelah malam penyerangan itu, beberapa hari berikutnya, tidak ada kejadian apa apa di Istana Kepangeranan yang dihuni Pangeran Pandu.


Namun di Istana Kepangeranan milik Pangeran Panji, terlihat lebih sibuk dari biasanya. Lebih banyak lagi prajurit yang berada di komplek Istana Kepangeranan. Dan lebih banyak lagi orang orang yang masih asing, datang ke istana Pangeran Panji. Kelihatannya beberapa hari ini, Pangeran Panji banyak menerima tamu.


Puguh, dengan ketajaman matanya dan kemampuannya melihat dalam jarak yang cukup jauh, bisa melihat kesibukan itu. Namun dilihat hanya diluarnya saja karena tidak bisa mendekat.


Akhirnya, pada tengah malam, dengan pakaian yang serba hitam dan penutup muka, Puguh melesat dengan sangat cepat menuju Istana Kepangeranan milik Pangeran Panji.


Setelah melompati tembok benteng Istana Kepangeranan milik Pangeran Panji, Puguh segera melompat ke atas genteng salah satu sudut bangunan yang cukup gelap.


Dengan mata dan telinga yang sudah terlatih, Puguh segera mengetahui mana ruangan yang kosong dan mana ruangan yang ada orangnya. Namun semua itu belum ada yang menarik perhatian Puguh.


Dari atas genteng deretan bangunan belakang, dari jarak yang cukup jauh, Puguh melihat ada banyak orang di pendopo depan Istana Pangeran Panji. Melihat dari banyaknya orang yang hadir, Puguh memperkirakan sedang ada pertemuan.


Dengan tanpa menimbulkan suara, Puguh segera melesat mendekat ke arah pendopo depan.


Baru saja akan jongkok, tiba tiba Puguh mendengar kesiuran angin yang mengarah cepat ke kepalanya.


Dengan cepat, Puguh meloncat menghindar. Namun, kesiuran angin yang mengandung tenaga dalam sangat tinggi itu seperti mengikuti di belakangnya.


Terpaksa Puguh meloncat terus untuk menghindari serangan hingga akhirnya kembali mendekati tembok benteng Istana Kepangeranan.


Di bawah kegelapan malam, di dekat tembok, penyerang itu menghentikan serangannya.

__ADS_1


Dalam beberapa saat, Puguh dan penyerang itu saling menatap dalam gelap.


Puguh melihat di depannya berdiri seorang laki laki paruh baya. Badannya tinggi dan rambutnya panjang dikuncir dan sudah memutih semua. Matanya sebelah kiri selalu tertutup, sepertinya dulunya bekas terluka. Raut mukanya datar bahkan cenderung dingin.


"Anak muda, apakah kau juga tamu dari Pangeran Panji ?" tanya orang bermata satu itu.


"Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa !" kata Puguh bertanya balik.


"Sebenarnya aku tidak peduli, kau juga tamunya atau bukan. Aku sebenarnya sedang bosan di dalam berbincang terus. Saat aku keluar hendak mencari hiburan, kebetulan bertemu denganmu. Sepertinya kamu cukup bisa menghiburku !" kata orang bermata satu itu.


Kemudian, sambil mengambil posisi kuda kuda, orang bermata satu itu menyambung perkataannya, "Orang orang lemah itu memanggilku Iblis Bermata Satu. Sebelum kau terluka, sebutkan siapa dirimu, anak muda."


Karena orang di depannya itu tidak mengira atau menganggap kalau dia penyusup, maka Puguh pun tidak berniat menyebutkan namanya yang sesungguhnya.


"Aku Iblis Bermata Elang !" jawab Puguh sekenanya.


"Hmmm ! Unik juga namamu, walau tidak sesuai dengan pembawaanmu yang jauh dari kata kejam !" sahut Iblis Bermata Satu, "Tapi sudahlah. Ayo kita buktikan ! Iblis mana yang lebih kejam !"


Kemudian, tanpa berkata kata lagi, Iblis Bermata Satu, langsung melesat dengan sangat cepat, menyerang Puguh.


Puguh yang sudah bersiap, segera menyambut serangan Iblis Bermata Satu. Sesaat kemudian, terjadi adu pukul dan tendangan antara Puguh dan Iblis Bermata Satu.


Hingga suatu saat, mereka berdua saling melayangkan pukulan dengan kecepatan yang sangat tinggi dan masing masing pukulan mereka mengenai dada lawannya.


Duuuggghhh ! Duuuggghhh !


Mereka berdua sama sama terdorong ke belakang dua langkah. Sesaat Puguh merasakan dadanya sesak, segera saja dialirkan tenaga dalamnya ke arah dadanya untuk menetralkan isi dadanya yang sempat terguncang.


"Orang ini, tenaga dalamnya sangat tinggi. Aku harus berhati hati menghadapinya !" kata Puguh dalam hati.


Sementara itu, Iblis Bermata Satu saat terkena pukulan di dadanya, merasakan dadanya panas dan nafasnya sesak.


"Anak ... ini ! Dalam usianya sekarang, tenaga dalamnya sudah mengimbangiku ! Murid siapakah dia ?!" gumam Iblis Bermata Satu.


"Bagus anak muda ! Aku sangat terhibur dengan kemampuanmu !" kata Iblis Bermata Satu sambil tersenyum menahan sakit, "Ayo kita ulang lagi !"


Kemudian, tanpa memberi waktu Puguh untuk menjawab, Iblis Bermata Satu segera melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh dan melayangkan serangan beruntun.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2