Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan di Puncak Gunung Pedang III


__ADS_3

Sementara, di ruangan lain bangunan berbentuk lingkaran itu, pertarungan Dewi Laksita melawan Ki Kraman Jiwa sudah mulai menggunakan senjatanya.


Dewi Laksita, dengan kedua tangannya memegang dua senjata dwisulanya yang berbentuk kecil tetapi memanjang, terus mencecar Ki Kraman Jiwa.


Sementara itu, Ki Kraman Jiwa yang menggunakan senjata gada besar, tidak menjadi berkurang sedikitpun kecepatannya.


Pertarungan antara Dewi Laksita melawan Ki Kraman Jiwa adalah pertarungan yang sangat kontras namun tetap berjalan dengan sangat sengit.


Dewi Laksita dengan senjatanya yang ringkas dan ringan, didukung dengan gerakannya yang sangat cepat, sangat efektif membuat arah serangan senjata trisula bisa berpindah pindah dengan cepat ke arah semua bagian tubuh Ki Kraman Jiwa.


Sementara itu, Ki Kraman Jiwa, seorang pendekar yang menguasai wilayah Pegunungan Kidul, dengan mengandalkan kuda kuda yang sangat kuat, kuda kuda khas pendekar pendekar dari pegunungan. Ditambah dengan senjata gadanya yang sangat kuat untuk pertahanan.


Berkali kali senjata mereka beradu hingga menimbulkan suara dentangan yang berubah ubah dan selalu saja kedua senjata dwisula terpental mundur dengan sangat cepat.


Ting ! Ting !


Trang ! Trang ! Trang !


Sesaat setelah benturan senjata, Ki Kraman Jiwa selalu mengulang gebugan gadanya atau menyusulinya dengan serangan pukulan tangan kiri ataupun dengan tendangan.


Bahkan beberapa kali, pukulan tangan kirinya ataupun tendangan Ki Kraman Jiwa mampu mengenai tubuh Dewi Laksita.


Pack ! Pack ! Pack ! Pack !


Bugghhh ! Bugghhh !


Secara sekilas, Dewi Laksita terlihat terdesak, karena beberapa kali terkena pukulan dan selalu terpental mundur.


Namun, sebenarnya pertarungan berjalan sangat berbeda dari yang terlihat.


Setiap terjadi benturan senjata yang menimbulkan suara suara yang berubah ubah, itu sangat mengganggu konsentrasi Ki Kraman Jiwa.


Senjata dwisula itu selalu bergetar setiap berbenturan dengan senjata gada di tangan Ki Kraman Jiwa. Getaran dua bilah dwisula yang menimbulkan suara berdenging, didorong oleh tenaga dalam Dewi Laksita yang sangat tinggi dan kemudian diarahkan untuk menyerang telinga kanan dan kiri Ki Kraman Jiwa. Kadang kala, getaran yang ditimbulkan diarahkan untuk menyerang dada Ki Kraman Jiwa.

__ADS_1


Itulah keistimewaan senjata dwisula Dewi Laksita. Getaran suaranya seolah tidak berbahaya karena tidak menimbulkan luka yang nyata. Tetapi, getaran bilah dwisula yang menimbulkan suara yang berubah ubah itu sangat memecah konsentrasi hingga membuat Ki Kraman Jiwa terkuras tenaga dalamnya.


Walaupun Ki Kraman Jiwa sudah berusaha menutupi kedua telinganya dengan tenaga dalam, tetap saja getaran dan dengingan bilah dwisula itu merambat di seluruh permukaan kulitnya, menggetarkan isi dadanya dan seperti menggema di otaknya.


Hingga setelah pertarungan melewati seratus jurus, gerakan Ki Kraman Jiwa menjadi sedikit melambat dan kekuatannya menjadi berkurang.


Namun Dewi Laksita tidak merubah pola serangannya. Tidak melakukan tusukan pada beberapa bagian tubuh Ki Kraman Jiwa yang pertahanannya mulai terbuka. Bahkan berkali kali Dewi Laksita membenturkan kedua bilah dwisula yang dipegang di tangan kanan kirinya, hingga menimbulkan getaran suara yang semakin keras.


Twang ! Twang ! Twang ! Twang !


Hingga suatu saat, Dewi Laksita melihat, Ki Kraman Jiwa sudah semakin kepayahan.


"Ki Kraman Jiwa, apakah kita tetap akan melanjutkan pertarungan ini ?" tanya Dewi Laksita sambil terus menyerang dan membenturkan kedua senjata dwisulanya.


Mendengar pertanyaan Dewi Laksita, Ki Kraman Jiwa segera menghentikan gerakannya dan telapak tangan kirinya diacungkan ke depan.


Dewi Laksita menatap tajam tubuh Ki Kraman Jiwa yang masih berdiri tegak. Nafasnya sedikit memburu. Sesaat kemudian, dari lubang telinga, mulut, hidung dan mata Ki Kraman Jiwa, keluar darah yang menandakan kalau Ki Kraman Jiwa mengalami luka dalam.


"Maafkan aku yang berlaku kejam Ki Kraman Jiwa. Terimalah ini !" kata Dewi Laksita sambil melemparkan bungkusan kecil berisi ramuan obat untuk mengobati luka dalamnya dan kemudian menutup rapat mulutnya.


"Terimakasih atas pelajaran yang sangat berharga ini, Dewi Laksita !" kata Ki Kraman Jiwa sambil melesat.


Ki Kraman Jiwa tahu, Dewi Laksita bicara begitu karena tidak ingin melukainya. Luka dalam yang dia derita pun juga tidak terlalu berat dan itupun juga sudah diberikan obatnya oleh Dewi Laksita.


Tepat saat Ki Kraman Jiwa keluar dari sekat putih yang membentuk lingkaran, Dewi Laksita terbatuk batuk kecil dan kemudian memuntahkan darah segar hingga dua kali.


Sambil tersenyum tipis, Dewi Laksita mengusap kedua ujung mulutnya untuk membersihkan sisa darah yang masih terlihat sedikit.


"Tehnik pukulan gadamu semakin sempurna saja Ki Kraman Jiwa !" ucap Dewi Lalsita yang kemudian melompat menabrak dinding sekat putih, hingga tubuhnya tiba tiba berpindah ruangan dan berada satu ruangan dengan Ki Dahana Yaksa.


Sementara itu, Ki Dahana Yaksa yang baru saja hendak beranjak, seketika tersenyum lebar saat melihat Dewi Laksita berpindah ke ruangannya.


"Haahhh ha ha ha ha ! Dewi Laksita memang semakin sakti saja !" kata Ki Dahana Yaksa yang diam diam terkejut, Dewi Laksita bisa berpindah ruangan dalam waktu yang lebih cepat dibanding pertarungan yang dulu. Pertarungan yang sekarang pun kemungkinan kemenangan Dewi Laksita hampir bersamaan dengan kemenangan yang dia raih.

__ADS_1


"Tapi ahhh .... Kau sepertinya terluka ?" tanya Ki Dahana Yaksa, "Mungkin kau butuh waktu untuk memulihkan lukamu, Dewi Laksita ?"


Memdengar pertanyaan Ki Dahana Yaksa, Dewi Laksita menggelengkan kepalanya sambil mengambil obat dari kantong bajunya dan segera menelannya.


"Tidak perlu ! Aku cukup meminum obat ini dan akan pulih kembali !" jawab Dewi Laksita.


"Ahh benar ! Kau memang selain pendekar sakti, juga merupakan Dewi Pengobatan !" kata Ki Dahana Yaksa dengan tulus.


"Apakah kita akan berbincang terus ?" tanya Dewi Laksita.


"Haahhh ha ha ha ha ! Kau juga tidak sabaran seperti Ki Kala Caraka !" jawab Ki Dahana Yaksa, "Ayo kita mulai !"


Kemudian, Ki Dahana Yaksa mengacungkan pedang yang masih dipegangnya ke atas sambil bibirnya membaca mantera. Sesaat, terlihat bilah pedangnya mengeluarkan kilatan warna hijau. Lalu, dengan kecepatan yang sulit diukur, tubuh Ki Dahana Yaksa melesat ke arah Dewi Laksita.


Bersamaan dengan itu, saat melihat Ki Dahana Yaksa bersiap, Dewi Laksita menambah aliran tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya, hingga dalam jumlah yang cukup besar. Membuat kedua senjata dwisula yang dipegangnya, bergetar dan mengeluarkan suara dengingan.


Lalu, seperti kilat, tubuhnya melesat memapaki datangnya serangan Ki Dahana Yaksa. Seketika ruangan itu dipenuhi dengan suara dentangan senjata beradu.


Klang ! Klang ! Klang !


Twang ! Twang ! Twang !


Sampai dua puluh jurus lebih, Ki Dahana Yaksa dan Dewi Laksita saling serang tanpa berhenti sekalipun. Hingga pada benturan yang kesekian kalinya, mereka sama sama melompat ke belakang.


Klang ! Twang !


Huuhhh ! Sungguh suatu jurus baru yang sangat menakutkan !" kata Ki Dahana Yaksa yang diam diam merasa telinganya sedikit sakit dan isi dadanya bergetar.


"Tehnik apa lagi yang kau temukan, Ki Dahana Yaksa, hingga tenaga dalammu meningkat pesat dan seperti tidak pernah berkurang ?" tanya Dewi Laksita yang kedua tangannya bergetar hingga ke pangkal bahu.


"Nanti ! Nanti kita bercerita, Dewi Laksita !" sahut Ki Dahana Yaksa sambil bersiap lagi.


Sesaat kemudian, mereka berdua kembali saling gempur, saling serang dalam kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti mata dan dalam tingkatan tenaga dalam yang sangat tinggi.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2