
Dalam perjalanan mencari Rengganis, Puguh dan Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita sampai di suatu kota kecil yang masih menjadi wilayah Kerajaan Kisma Pura. Di kota itu, mereka bertiga mendengar kabar adanya pendekar wanita yang aneh.
Pendekar aneh itu adalah seorang perempuan muda yang cantik dan suka menolong. Namun sering telengas pada orang yang dia anggap jahat. Dan sering lupa dengan apa yang sudah dilakukannya.
Mendengar berita itu, mereka bertiga berpikir, jangan jangan pendekar aneh itu adalah Rengganis yang mereka cari. Maka mereka bertiga segera mencari keberadaan pendekar aneh itu.
Setelah mencari hingga beberapa waktu, mereka bertiga justru bertemu dengan Wiku Polobogo dan Mahawiku Nuraga.
Karena curiga kedua biksu itu membuntuti Rengganis, Puguh segera menghadang mereka.
"Biksu jahat ! Hentikan dan tarik sihirmu pada gadis itu dan kau akan aku bebaskan !" kata Puguh sambil menatap tajam kedua biksu itu.
"Hheeehhh he he he he ! Sayangnya, setiap sihir yang kami lepaskan, tidak bisa ditarik lagi !" jawab Mahawiku Nuraga.
"Kalau begitu, aku yang akan memusnahkan ilmu sihir kalian !" ucap Puguh sambil melesat ke arah Mahawìku Nuraga kemudian melayangkan beberapa pukulan.
Mendapatkan serangan yang sangat cepat dari Puguh, Mahawiku Nuraga yang tidak ada kesempatan untuk berkelit, segera menggerakkan senjata tongkatnya untuk menangkis.
Setelah beberapa pukulan bisa ditangkis, sebuah pukulan Puguh berhasil mengenai dadanya.
Plak ! Plak ! Plak !
Deeesss !
Tubuh Mahawiku Nuraga terdorong beberapa langkah, begitu terkena pukulan. Selama beberapa saat, dirasakan dadanya sesak dan nafasnya berat.
Untung bagi Mahawiku Nuraga, saat Puguh kembali menerjang, serangannya dihadang oleh Wiku Polobogo.
Sambil melenting, Wiku Polobogo mengarahkan tongkatnya ke kepala Puguh.
Melihat Wiku Polobogo menghadang serangannya, dengan cepat Puguh mencabut senjata pedangnya kemudian melakukan beberapa kali tebasan ke arah Wiku Polobogo.
Trang trang ! Trang trang ! Trang !
Dalam beberapa kali benturan senjata itu, Wiku Polobogo terdesak mundur hingga beberapa langkah.
----- * -----
Sementara itu, Dewi Laksita yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan, segera menghadang Mahawiku Nuraga.
"Heehhh he he he he ! Biksu jahat ! Jangan kau berpikir bisa lari, sekarang !" kata Dewi Laksita.
Merasa jalan pikirannya bisa ditebak oleh lawannya, Mahawiku Nuraga merasa geram.
Kemudian dengan amarah yang meluap luap, Mahawiku Nuraga menerjang Dewi Laksita dengan sangat cepat. Tongkatnya diputar untuk memberikan serangan dari dua arah pada lawannya.
__ADS_1
Namun, Dewi Laksita yang sudah mengetahui kekuatan lawannya, segera menggerakkan kedua senjata dwisulanya untuk menghalau datangnya serangan ujung tongkat.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Dalam benturan senjata itu, Dewi Laksita dan Mahawiku Nuraga sama sama terdorong dua langkah ke belakang.
Belum juga bisa mendesak lawannya, Mahawiku Nuraga segera mengalirkan tenaga dalamnya hingga jumlah yang sangat banyak. Kemudian tubuhnya melenting dan melesat lurus ke arah Dewi Laksita dengan sangat cepatnya. Ujung tongkatnya meluncur cepat ke arah kepala Dewi Laksita, sedangkan tangan kirinya di samping dada siap untuk melakukan pukulan.
Bersamaan dengan itu, melihat lawannya meluncur ke arahnya dengan serangan yang berbahaya, Dewi Laksita segera melesat ke atas sambil menambah jumlah aliran tenaga dalamnya. Dengan menebaskan secara menyilang senjata dwisula di tangan kirinya di atas kepala, Dewi Laksita menghalau ujung tongkat yang meluncur ke kepalanya. Kemudian dengan cepat senjata dwisula di tangan kanannya meluncur memapaki pukulan tangan kiri Mahawiku Nuraga yang penuh dengan tenaga dalam.
Klaaannnggg !
Blaaammm !
Dalam dua kali benturan serangan yang mengandung tenaga dalam sangat tinggi itu Mahawiku Nuraga terhuyung ke belakang hingga tiga langkah. Sementara Dewi Laksita melayang kembali ke belakang kemudian mendarat di tanah. Sejenak Dewi Laksita merasakan kedua senjata dwisulanya tergetar.
"Biksu yang satu ini nampaknya mempunyai kekuatan sedikit di atas Wiku Polobogo !" kata Dewi Laksita dalam hati.
Baru saja kembali memasang kuda kudanya, Mahawiku Nuraga sudah kembali melayangkan serangan ke arahnya, sambil diam diam tangan kirinya menaburkan sesuatu ke arahnya.
"Heehhh he he he he ! Biksu jahat ! Kau ingin menyihirku juga ? Jangan harap kau bisa melakukannya !" kata Dewi Laksita sambil menghadang gerakan Mahawiku Nuraga.
Sementara itu, melihat gurunya masih belum bisa mendesak lawannya, Putri Cinde Puspita segera melesat ikut mengepung lawannya.
"Hati hati dengan apapun yang dilemparkan oleh tangan kirinya, Putri !" kata Dewi Laksita memperingatkan muridnya.
Klang klang ! Klang ! Klang !
Sesaat setelah benturan itu, Mahawiku Nuraga dan Putri Cinde Puspita sama sama melompat ke belakang.
Diam diam Mahawiku Nuraga terkejut.
"Gadis muda ini, kekuatannya tidak kalah dengan gurunya, bahkan mungkin tingkat tenaga dalamnya melebihi gurunya !" kata Mahawiku Nuraga dalam hati.
Namun, Dewi Laksita yang kali ini dibantu oleh muridnya, ganti tidak memberi kesempatan pada Mahawiku Nuraga untuk bernafas lega.
Tubuhnya meluncur sangat cepat ke arah Mahawiku Nuraga sambil beberapa kali saling membenturkan kedua senjata dwisulanya.
Twang ! Twang ! Twang ! Twang !
Sesaat kemudian, tusukan bertubi tubi menghujani tubuh Mahawiku Nuraga.
Bersamaan dengan itu, dari arah yang lain, Putri Cinde Puspita yang telah meningkatkan aliran tenaga dalamnya, juga kembali melesat melancarkan serangan dengan senjata dwisulanya yang kini mengeluarkan suara dengungan.
Dikeroyok dua orang yang kemampuan dan kekuatannya tidak dibawahnya, dengan cepat, tidak sampai dua puluh jurus, Mahawiku Nuraga terdesak.
__ADS_1
----- * -----
Sementara itu pada pertarungan yang lain, hanya dalam tiga puluh jurus, Puguh sudah mendesak Wiku Polobogo. Tebasan pedangnya sudah berkali kali memberikan luka pada tubuh Wiku Polobogo.
"Biksu jahat ! Cepat berikan penawar sihirmu !" kata Puguh.
"Hhaaahhh ha ha ha ha ! Seumpama penawar sihir itu ada, juga tidak akan aku berikan padamu ! Kecuali kau tukar dengan senjata pedangmu itu !" jawab Wiku Polobogo.
Mendengar perkataan Wiku Polobogo, Puguh menarik nafas panjang satu kali dan menghembuskannya dengan menghentak pendek.
"Baiklah biksu jahat, kalau begitu terimalah pedang ini !" ucap Puguh pelan. Perlahan getaran kekuatan yang sangat besar keluar dari tubuh Puguh.
Terkena aliran tenaga dalam tingkat sangat tinggi hingga jumlah yang besar, pedang di tangan kanan Puguh mengeluarkan sinar hijau terang. Dengungan pelan terdengar dari bilah pedang itu.
Kemudian seperti menghilang, tubuh Puguh melesat dengan sangat cepat ke arah Wiku Polobogo.
Sesaat kemudian, terlihat kelebatan sinar hijau terang menghujani tubuh Wiku Polobogo saat Puguh mencecar tubuh Wiku Polobogo dengan tusukan ataupun tebasan pedang.
Sementara itu, mendapatkan serangan berkekuatan sangat tinggi serta dengan kecepatan tingkatan sangat tinggi, Wiku Polobogo berusaha bertahan dengan memutar tongkatnya untuk melindungi seluruh tubuhnya.
Tetapi, dengan tingkat kekuatan dan tenaga dalam yang masih di bawah Puguh, bertarung satu lawan satu melawan Puguh, Wiku Polobogo hanya mampu bertahan selama dua puluh jurus.
Setelah menerima beberapa kali tebasan pada tubuhnya, sebuah tusukan pedang di dadanya mengakhiri perlawanan Wiku Polobogo.
Bersamaan dengan itu, di pertarungan yang lain, Mahawiku Nuraga melawan Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita. Setelah benturan senjata berkali kali yang semakin lama membuat tangan Mahawiku Nuraga kebas dan bergetar hingga ke bahu. Terjadi benturan pukulan antara Mahawiku Nuraga dengan Putri Cinde Puspita.
Bertemunya pukulan tangan kiri mereka yang mengandung tenaga dalam tingkat sangat tinggi yang besar itu menimbulkan ledakan yang cukup keras.
Blaaammm !
Sesaat setelah ledakan itu, tubuh Mahawiku Nuraga terlempar ke belakang hingga beberapa depa dan kemudian jatuh terduduk di tanah. Terlihat, kedua sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Sementara itu, Putri Cinde Puspita terdorong mundur dua langkah.
Saat Dewi Laksita hendak melompat untuk menghabisi Mahawiku Nuraga, terdengar teriakan mencegahnya.
"Bibi Dewi Laksita, hentikan ! Ada yang ingin akuntanyakan pada biksu itu !" kata Puguh.
Mendengar teriakan Puguh, Dewi Laksita menghentikan langkahnya.
"Pendeta jahat ! Berikan obat penawar untuk sihirmu pada temanku !" kata Puguh sambil berjalan mendekati Mahawiku Nuraga.
Masih terduduk di tanah, Mahawiku Nuraga melihat ke arah puguh, kemudian berpindah melihat tubuh Wiku Polobogo yang terbujur bersimbah darah. Seketika mukanya menjadi sedikit pucat.
"Apakah kau akan membebaskan aku, kalau aku memberimu obat penawar itu ?" tanya Mahawiku Nuraga.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_