
Para gerombolan penyerang itu seperti belum melihat kekuatan. Begitu senjata mereka terjatuh, pemimpin gerombolan penyerang dengan diikuti oleh beberapa anggota gerombolan yang berilmu tinggi, melangkah mendekat ke arah Rengganis. Sorot mata mereka terlihat penuh dengan nafsu.
"Yang lainnya, ambil semua barang mereka ! Biar perempuan ini kami yang menghadapi !" perintah pemimpin gerombolan yang berbadan tinggi besar.
"Menyerahlah nona ! Daripada kita bertarung, lebih baik kita bersenang senang !" kata pemimpin gerombolan sambil melangkah mendekat.
Mendengar ucapan pemimpin gerombolan itu, Rengganis menjadi jijik. Tangan kirinya yang masih memegang selembar daun, segera bergerak dengan cepat, melemparkan daun yang melesat ke arah pemimpin gerombolan itu.
Pemimpin gerombolan itu tidak sempat menghindar ketika daun yang melesat itu mendarat di mulutnya dengan keras.
Plakkk !
Walau tubuhnya tidak terdorong mundur, tetapi saat tangan kiri pemimpin gerombolan itu mengusap bibirnya yang perih, terlihat darah menempel di daun yang telah diusap dari bibirnya.
Ketika menyadari bibirnya pecah pecah karena lemparan daun, pemimpin gerombolan itu menjadi semakin naik pitam.
"Itu akibatnya jika mulutmu mengeluarkan kata kata kotor !" kata Rengganis dengan telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah muka pemimpin gerombolan itu.
"Arrccchhh ! Aku ***** ***** kau !" teriak pemimpin gerombolan itu sambil kemudian berlari menyerang Rengganis yang menunjuk mukanya.
Namun, gerakan pemimpin gerombolan itu, masih terlihat sangat pelan di mata Rengganis.
Dengan sedikit menggeser tubuhnya, Rengganis menghindari pukulan pemimpin gerombolan itu dan kemudian kaki kanannya terangkat sedikit menendang ke arah pinggang kanan pemimpin gerombolan dan mengenainya dengan telak.
Buggghhh !
Tubuh pemimpin gerombolan itu terdorong dan kemudian jatuh tersungkur di tanah. Namun dia berusaha bangkit kembali. Kemudian melakukan ancang ancang untuk menyerang lagi.
Hingga saat pemimpin gerombolan itu baru saja hendak menotolkan kakinya untuk meloncat, tiba tiba terdengar suara dari belakangnya.
"Orang besar bodoh ! Apakah kau memang sudah bosan hidup ? Lihatlah sekelilingmu !" kata Puguh yang tiba tiba sudah berada di belakangnya.
Mendengar perkataan itu, pemimpin gerombolan bertubuh tinggi besar itu dengan cepat membalikkan badannya menghadap ke arah suara tadi. Dilihatnya, berdiri di depannya seorang laki laki muda yang cukup tampan dengan kulit yang bersih walau dengan pakaian yang sederhana.
Kemudian pemimpin gerombolan penyerang itu melihat ke sekelilingnya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya dia, saat melihat semua anak buahnya terkapar di lantai tidsk bisa bangkit lagi, dengan menahan rasa sakit di perut, di dada ataupun di kepala. Bahkan para wakilnya yang ilmunya lebih tinggi dari anak buahnya, terlihat duduk berlutut dengan memegangi perut dan dadanya.
Pemimpin gerombolan itu, terlalu emosi dan memusatkan perhatiannya pada perempuan muda di depannya, sehingga tidak memperhatikan keadaan anak buahnya.
"Kalau kau memang sudah bosan hidup, aku bersedia untuk mencabut nyawamu !" kata Rengganis sambil maju ke arah pemimpin gerombolan.
Melihat semua anak buahnya terluka, pemimpin gerombolan itu merasa lemas tubuhnya, kemudian jatuh dengan bertumpu kedua lututnya. Kedua tangannya terkulai di samping.
"Kau boleh membunuhku, tetapi bebaskan semua anak buahku !" kata pemimpin gerombolan itu dengan suara lemas.
"Pergilah ! Bawa semua anak buahmu ! Tinggalkan semua barang barang yang kalian tampas !" kata Puguh.
Kemudian, tanpa memperdulikan pemimpin gerombolan yang mulai berdiri lagi dan sibuk mengurusi semua anak buahnya, Puguh dan Rengganis segera menghampiri kereta yang berisi penumpang.
"Kalian boleh keluar dari kereta, keadaan sudah aman," kata Puguh.
Mendengar perkataan Puguh, empat orang keluar dari kereta. Mereka adalah Ki Sugih Brana bersama istri dan kedua anaknya. Ki Sugih Brana dan istrinya adalah saudagar kain batik.
"Pendekar, terimakasih atas pertolongannya !" kata Ki Sugih Brana.
"Sama sama Ki," jawab Puguh.
Setelah memberikan pengobatan pada para prajurit pengawal rombongan kereta Ki Sugih Brana, dan karena memang tidak ada tempat yang menjadi tujuan utamanya, maka Puguh dan Rengganis menerima tawaran Ki Sugih Brana.
Selama dalam perjalanan, Puguh dan Rengganis mendapatkan banyak informasi tentang kerajaan Kisma Pura dan tentang Prabu Girindra Nata. Selain itu, Puguh juga bertanya tentang para tokoh tokoh pendekar Kerajaan Kisma Pura.
Ki Sugih Brana menceritakan, kalau Prabu Girindra Nata selain gemar dengan ilmu silat, juga suka mengumpulkan wanita cantik untuk dijadikan selirnya.
Di dunia persilatan Kerajaan Kisma Pura, ada tiga tokoh dunia persilatan yang dianggap paling berpengaruh dan disegani.
Yang pertama adalah Trah Keluarga Asmara Dhatu. Sebuah keluarga yang kepemimpinannya dipegang oleh wanita dan anggota keluarganya kebanyakan adalah wanita.
Semua anggota Trah Asmara Dhatu memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga jarang ada orang yang berani berurusan dengan mereka.
Selain itu, anggota keluarga Trah Asmara Dhatu, tidak suka mencampuri urusan pemerintahan dan urusan orang lain sehingga mereka terlihat sangat tertutup dengan urusan dunia luar.
__ADS_1
Yang kedua adalah Padepokan Wukir Candrasa. Sebuah padepokan yang mempunyai murid sangat banyak. Padepokan itu memiliki ilmu silat andalan yang menggunakan senjata pedang.
Kemudian yang ke tiga adalah Resi Wismaya. Seorang tokoh tua yang kesaktiannya sangat luar biasa. Seorang Resi yang tidak pernah menetap di suatu tempat dan sangat sulit untuk ditemui.
Sebenarnya selain ketiga tokoh itu, masih banyak tokoh tokoh lain yang mempunyai kesaktian yang sangat tinggi dan banyak juga padepokan padepokan yang ada di Kerajaan Kisma Pura. Namun dari banyaknya tokoh persilatan yang terkenal sangat sakti, mereka bertigalah yang paling termasyhur dengan kesaktiannya.
Setelah hampir seharian mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba di kota kecil dan berniat singgah di kota itu.
Di kota kecil itu, Puguh dan Rengganis menyampaikan pada Ki Sugih Brana, jikalau mereka berdua tidak bisa menyertai perjalanan Ki Sugih Brana.
Setelah berpisah dengan Ki Sugih Brana, Puguh dan Rengganis masuk ke keramaian kota untuk mencari warung makan yang biasa dijadikan tempat berkumpul orang orang dunia persilatan.
----- * -----
Keesokan harinya, Puguh dan Rengganis melanjutkan perjalanan mereka. Karena tujuan Puguh adalah untuk mendapatkan informasi terutama tentang Prabu Girindra Nata, maka Puguh tidak terlalu berharap dapat bertemu dengan para tokoh sakti itu.
Puguh dan Rengganis keluar dari kota kecil itu dan mulai melewati daerah tandus yang berbukit bukit.
Setelah melewati beberapa kali punggung bukit, Puguh Dan Rengganis sampai di suatu danau kecil. Danau yang sepi dan tenteram dengan airnya yang sangat tenang. Hamparan airnya itu bergerak sedikit karena tertiup angin, menambah keindahan pemandangan di sekitar danau itu.
Namun, dalam tenangnya suasana tepi danau itu, samar samar Puguh dan Rengganis melihat suara orang bertengkar atau lebih tepatnya orang yang memaki maki seseorang.
Setelah melewati gundukan batu besar di tepi danau, terlihat seorang laki laki bertubuh gemuk berdiri sambil memaki maki seorang laki laki tua berbadan sedang dan rambut yang sudah memutih semua, yang sedang duduk di batu kecil di tepi danau.
"Kalau kau tetap tidak mau, kau tetap akan kuhajar !" bentak laki laki gemuk itu. Kemudian dengan senjata dayungnya, laki laki gemuk itu menghantam laki laki tua berambut putih itu tepat di kelapanya.
Praaakkk !
Hempasan senjata dayung besar itu membuat laki laki tua berambut putih itu terlempar cukup jauh dan jatuh bergulingan. Namun, walau terjatuh, tidak terdengar suara keluhan sedikitpun dari mulut laki laki tua berambut putih itu. Bahkan sekilas, senyuman samar terlintas di bibirnya.
Melihat hal itu, Rengganis langsung melesat ke arah laki laki tua berambut putih dan segera menolongnya berdiri.
Kemudian Rengganis segera membalikkan badannya menghadap ke arah laki laki gemuk itu.
"Paman ! Kenapa kau berlaku kejam pada orang tua ini ?" tanya Rengganis.
__ADS_1
"Heehhh he he he ! Kau ingin membantunya ? Baiklah ! Rasakan ini !" sahut laki laki gemuk itu sambil melesat. Tubuhnya tiba tiba hilang dari pandangan Rengganis, dan sesaat kemudian tanpa terdengar suara kesiurannya, senjata dayung besar itu mengarah ke kepala Rengganis dari arah samping kirinya.
__________ ◇ __________