Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Mencari Rengganis


__ADS_3

"Iswara Dhatu, kenapa kau tidak datang pada pertemuan di Padepokan Wukir Candrasa ? Apakah saat itu kau tidak diundang oleh Ki Dahana Yaksa ?" tanya Dewi Laksita.


"Dewi Laksita, jangan sebut nama itu di depanku lagi ! Untungnya orangnya sudah tewas, di tanganmu ya anak muda ? Dia telah mencuri siluman elang yang selama ini telah menunggu makam leluhur kami !" jawab Iswara Dhatu.


"Bibi, kalau boleh tahu, ada kepentingan apakah bibi ingin bertemu denganku ?" tanya Puguh.


"Ohh ya anak muda. Kami dari Trah Keluarga Asmara Dhatu, ingin mengucapkan selamat kepadamu, yang telah berhasil mewarisi ilmu kesaktian serta senjata pusaka Pendekar Penunggang Elang. Juga kami ingin berterimakasih, kau telah mewakili kami Trah Keluarga Asmara Dhatu, menghukum penjahat Ki Dahana Yaksa yang telah mencuri siluman elang. Dan yang terakhir, kami mengundangmu untuk datang ke tempat kami !" jawab Iswara Dhatu.


"Terimakasih atas semua yang telah engkau sebutkan bibi. Tetapi maaf, aku sedang mencari temanku yang saat ini sedang dalam bahaya, jadi aku belum bisa menghadiri undanganmu !" kata Puguh sambil menjura pada Iswara Dhatu.


"Temanmu ? Rengganis yang kau maksud ?" tanya Iswara Dhatu.


Mendengar pertanyaan Iswara Dhatu, Puguh menceritakan apa yang dialami oleh Rengganis secara singkat.


"Aahhh kasihan gadis itu ! Baiklah, aku akan mengutus orang orang terbaik dari Trah Keluarga Iswara Dhatu, untuk membantumu mencari Rengganis agar segera bisa diketemukan !" kata Iswara Dhatu.


"Terimakasih bibi !" jawab Puguh.


"Baiklah anak muda, kami tunggu kedatanganmu ! Kami permisi, maaf bila telah menghambat perjalananmu !" kata Iswara Dhatu, "Dewi Laksita, seperti biasanya, kau bisa datang kapanpun ke tempat kami, untuk bertukar pengalaman denganku !"


"Heehhh he he he he ! Dengan senang hati, aku akan datang Iswara Dhatu !" jawab Dewi Laksita.


Sesaat setelah jawaban Dewi Laksita, tubuh Iswara Dhatu lenyap, melesat pergi diikuti oleh pengikutnya serta Kartika Dhatu yang selalu menundukkan mukanya seperti gelisah.


Selama dalam perjalanan, Iswara Dhatu selalu memperhatikan Kartika Dhatu cucunya.


"Cucuku, sepertinya pesaingmu tidak hanya gadis yang hilang itu. Gadis yang seperti putri raja itu sepertinya juga punya niatan yang sama dengan kita ! Kau harus segera meningkatkan kemampuanmu !" kata Iswara Dhatu.


Mendengar ucapan neneknya, Kartika Dhatu hanya terdiam saja.


Sementara itu, suasana ujung jalan tempat Iswara Dhatu dan pengikutnya menghadang Puguh kembali hening. Namun keheningan itu segera terpecahkan oleh suara Dewi Laksita.

__ADS_1


"Puguh, apakah kau kenal dengan gadis cantik yang berdiri disamping Iswara Dhatu tadi ?" tanya Dewi Laksita.


"Kenal bibi. Dia bernama Kartika Dhatu, cucu dari bibi Iswara Dhatu," jawab Puguh.


"Aahhh ... Kalau sudah urusan perempuan, rumit dan akan selalu rumit !" gumam Dewi Laksita pelan sambil melirik pada Putri Cinde Puspita.


"Apa yang guru maksudkan ?" tanya Putri Cinde Puspita yang sejak tadi hanya diam.


"Muridku, kalau kau ingin ikutan, kau harus lebih kuat lagi. Guru akan membantumu menjadi lebih kuat lagi !" jawab Dewi Laksita.


"Ikutan apa, guru ?" tanya Putri Cinde Puspita lagi.


"Sudahlah ! Ayo kita bantu Puguh agar segera menemukan Rengganis !" sahut Dewi Laksita.


Kemudian, mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk mencari Rengganis. Selama dalam perjalanan, mereka seringkali mencoba mencari dengar berita berita di dunia persilatan. Siapa tahu ada berita yang berhubungan dengan Rengganis.


Hingga akhirnya pada tengah malam, mereka beristirahat di penginapan di suatu perkampungan.


Sejak melakukan penggabungan yang sempurna dengan kekuatan siluman elang, Puguh belum pernah lagi melakukan semedi.


Maka, pada semedinya kali ini, Puguh sempat terkejut. Karena Puguh memasuki alam jiwa dan bertemu dengan siluman elang.


"Kraaakkk ! Puguh ketahuilah ! Mulai saat ini kau bisa setiap saat masuk ke alam jiwamu untuk menemuiku. Saat bersemedi, ada dua alam yang bisa kau masuki. Alam ketenangan untuk memulihkan kekuatanmu atau alam jiwa untuk menemuiku !" kata siluman elang.


"Terimakasih telah memberitahu aku tentang hal ini. Siluman elang, apakah kau bisa merasakan keberadaan sesama siluman, seperti siluman serigala mata biru yang telah menyatu dengan Rengganis ?" tanya Puguh.


"Dalam kondisi normal, bisa ! Walau hanya dalam batas jarak tertentu. Namun, untuk Rengganis saat ini, aku tidak bisa merasakan getaran kekuatan siluman serigala mata biru secara jelas. Karena sepertinya terhalang tabir yang sangat tebal !" jawab siluman elang.


"Apakah karena sihir yang mengenai Rengganis yang menjadi tabir itu ?" tanya Puguh lagi.


"Kemungkinan iya. Tetapi sepertinya sihir yang mengenai Rengganis agak berbeda. Aku curiga, bukan Rengganis yang menjadi sasarannya, tetapi siluman serigala mata biru yang mereka inginkan !" jawab siluman elang.

__ADS_1


"Terimakasih," kata Puguh yang kemudian memasuki alam ketenangan untuk memulihkan kekuatannya. Tanpa terasa, Puguh melakukan semedi hingga menjelang pagi hari.


----- * -----


Sementara itu di Rawa Jingga, daerah kekuasaan Kala Caraka. Kala Caraka dan Kala Rekta dengan telaten merawat dan mengobati Nyi Riwut Parijatha.


Akhirnya, setelah beberapa hari, Nyi Riwut Parijatha pulih kembali.


Setelah ibunya sehat kembali, Kala Caraka seperti biasa, berpamitan untuk berkeliling wilayah Rawa Jingga untuk memeriksa keadaan. Karena, walaupun daerah Rawa Jingga dianggap angker oleh manusia, terkadang ada pendekar yang berkemampuan tinggi, memasuki wilayah Rawa Jingga untuk mencari dan mengambil air panas ataupun tanah panas Rawa Jingga sebagai campuran membuat ramuan.


Saat sampai di perbatasan Rawa Jingga, Kala Caraka dikejutkan dengan adanya beberapa orang yang duduk di perbatasan wilayah Rawa Jingga.


Setelah cukup dekat, Kala Caraka baru mengetahui kalau yang duduk di perbatasan itu adalah Bantala Yaksa, anak dari Ki Dahana Yaksa pamannya.


"Adi Bantala Yaksa, kenapa berada di sini ?" tanya Kala Caraka.


"Maaf kakang Kala Caraka, kami sengaja menunggu kakang disini !" jawab Bantala Yaksa.


"Ada perlu apa adi Bantala Yaksa menunggu aku disini ?" tanya Kala Caraka dengan heran.


Kemudian, Bantala Yaksa menceritakan pada Kala Caraka. Bantala Yaksa meminta tolong pada Kala Caraka untuk membalaskan dendam atas kematian bapaknya, Ki Dahana Yaksa. Kalau Kala Caraka bisa membunuh manusia yang membunuh ayahnya, jabatan Pemimpin Besar di Padepokan Wukir Candrasa akan diserahkan pada Kala Caraka. Sebenarnya, Bantala Yaksa sudah dicegah oleh para pamannya yang menduduki jabatan wakil dulu, untuk tidak melakukan balas dendam.


"Adi Bantala Yaksa, perlu kau ketahui, ibuku atau bibimu, baru saja mengalami luka parah karena ingin membalaskan kematian ayahmu, Ki Dahana Yaksa. Bahkan ibuku, Nyi Riwut Parijatha, hampir saja kehilangan nyawanya demi membalas dendam. Setelah sadar, ibuku berpesan padaku untuk tidak membalas dendam !" jawab Kala Caraka.


Sejenak suasana sepi, tidak ada satu yang mengeluarkan suara.


Namun Bantala Yaksa masih tidak mau menyerah. Dan dia tahu, Kala Caraka yang setengah manusia setengah siluman sebenarnya mempunyai ilmu kesaktian yang sangat tinggi, bahkan kemungkinan besar lebih sakti dari ibunya.


Namun Bantala Yaksa terus saja membujuk Kala Caraka.


__________ ♡ __________

__ADS_1


__ADS_2