Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kegelisahan Ki Bajraseta


__ADS_3

Ki Bajraseta menggerakkan tangan kirinya seperti orang mengambil dan menarik sesuatu. Tiba tiba seorang anggota Golok Iblis Selatan yang tersisa itu merasa tubuhnya ditekan jatuh dan diseret ke arah Ki Bajraseta dengan leher seperti dicekik.


"Katakan ! Pimpinan siapa yang kau maksud ! Dan kenapa membunuh !" tanya Ki Bajraseta pelan.


Anggota Golok Iblis Selatan itu terkejut dan panik, karena sudah keceplosan.


"A ... anu .. am ... pun ! To .. long lepaskan dulu ... " jawab anggota Golok Iblis Selatan dengan nafas yang berat karena leher tercekik.


Melihat yang dilakukan oleh Ki Bajraseta, Ki Bhanujiwo terkagum. Karena hal itu menunjukkan, betapa sangat tingginya tenaga dalam yang dimiliki Ki Bajraseta, sehingga bisa melakukan serangan dari jauh tetapi lawannya merasa seperti benar benar disentuh.


Ki Bajraseta menghentikan gerakan tangan kirinya, seketika anggota Golok Iblos Selatan itu merasa lega dan bisa bernafas lagi. Namun ketika baru saja menurunkan tangan kirinya, tiba tiba saja anggota Golok Iblis Selatan itu, dalam posisi duduk berlutut, mengambil sesuatu dari pinggang kanannya dan dengan cepat menusukkan ke lehernya. Hanya dalam beberapa saat, muka orang itu gosong menghitam kemudian jatuh terlentang. Berkelojotan sesaat, kemudian terdiam.


Ki Bajraseta yang tidak sempat mencegah gerakan anggota Golok Iblis Selatan itu, sangat terkejut. Karena ada hal hal yang akan dia tanyakan, orang itu keburu tewas.


Melihat anggota Golok Iblis Selatan yang tersisa itu tewas, Ki Bhanujiwo segera maju untuk memeriksa. Siapa tahu ada hal hal yang bisa dia ambil sebagai tambahan informasi.


Selesai memeriksa, Ki Bhanujiwo segera mengubur jasad tiga orang Golok Iblis Selatan.


Kemudian, Ki Bhanujiwo berbincang bincang dengan Ki Bajraseta, terutama tentang kemunculan kembali kelompok Jaladara Langking.


Karena Ki Bhanuniwo akan kembali pulang ke tempat tinggalnya, dan Ki Bajraseta juga ingin bertemu dengan Ki Dwijo, maka akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan bersama menuju ke Kadipaten Langitan.


Tanpa terasa, sudah setengah hari, Ki Bhanujiwo dan Ki Bajraseta melakukan perjalanan menuju tempat tinggal Ki Bhanujiwo. Akhirnya, mereka pun tiba di padang rumput di bawah tebing yang memanjang dan menjulang tinggi.


Segera saja mereka berdua berjalan menuju ke gubug tempat Ki Dwijo dan Puguh berada.


Sesampai di gubug, akhirnya Ki Bajraseta bisa bertemu dengan Ki Dwijo. Mereka bertiga pun berbincang sampai dengan tengah malam. Ki Bajraseta akhirnya ikut bermalam di gubug itu. Bahkan hingga berhari hari Ki Bajraseta ikut tinggal di situ.

__ADS_1


----- o -----


Seperti biasanya, Puguh dan Ki Dwijo pergi ke air terjun untuk berlatih. Sudah dua bulan lebih mereka berdua tinggal di gubug Ki Bhanujiwo.


Dalam dua pekan terakhir ini, Puguh tidak hanya berlatih ilmu silat bersama Ki Dwijo. Namun semenjak Ki Bhanujiwo pulang, Puguh juga mulai belajar tentang obat dan pengobatan.


Selama itu pula, Ki Bajraseta yang ikut tinggal di tempat itu, hanya berdiam diri dan lebih sering menyendiri, entah dengan pergi ke padang rumput ataupun pergi ke sungai kecil di bawah air terjun.


Pada suatu pagi, seperti biasa, Ki Dwijo dan Puguh pergi ke air terjun. Mereka selalu melakukan latihan di sana. Dan sesudah latihan, mereka selalu melakukan semedi di bawah iar terjun.


Sedangkan Ki Bhanujiwo, sudah dua hari ini naik ke atas, untuk mencari bahan obat yang terdapat di gunung di atas tempat mereka.


Sementara, Ki Bajraseta sejak pagi pagi buta sudah berada di pinggir padang rumput.


Dalam beberapa hari ini, Ki Bajraseta selalu begitu. Dan sepertinya dia selalu menghindar untuk bertemu dengan Ki Dwijo dan Ki Bhanujiwo.


Suasana pagi hari di padang rumput sangat tenang dan hening. Hanya ada embun pagi yang menempel di rerumputan, yang menampilkan keindahannya dengan sesekali terlihat berkerlip walaupun sinar matahari belum menyapa. Namun semua keindahan itu seperti tidak dirasakan oleh Ki Bajraseta. Karena dari gestur dan mimiknya, seolah jiwa, hati dan pikiran Ki Bajraseta tidak berada di padang rumput ini, walaupun raganya berada di sini.


Saat hembusan angin itu berhenti, tiba tiba di depan Ki Bajraseta telah berdiri membelakangi Ki Bajraseta, seseorang yang berpenampilan mirip Ki Bajaseta.


"Kakang Bayuseta ... " kata Ki Bajraseta dengan suara sedikit tercekik.


"Adikku, .... kenapa belum juga kau lakukan," kata orang yang dipanggil dengan nama Bayuseta.


"Aku menunggu waktu yang tepat, kakang," jawab Ki Bajraseta.


"Waktumu tinggal tiga hari," sahut Ki Bayuseta.

__ADS_1


"Biar aku mencari waktu yang tepat, kakang. Aku ingin sendiri dulu untuk berpikir," jawab Ki Bajraseta.


"Adikku, kakang tahu, kamu bukan sedang berpikir dan mencari waktu yang tepat. Namun, .... kamu ragu ! Kamu tidak berani dan tidak bisa melakukan," kata Ki Bayuseta, "Ingat, nyawa cucumu ada ditanganmu, tergantung keputusanmu."


Ki Bajraseta terdiam. Pikirannya teringat dan mengkhawatirkan cucu perempuan satu satunya. Cucunya sekarang ini disandera oleh Ki Bayuseta dan teman temannya yang sebenarnya masih satu keluarga besar dengannya. Tetapi mereka tega menyandera cucunya untuk memaksa dirinya agar mau mengikuti keinginan mereka.


"Bajraseta adikku, dengan prinsipmu yang diam dan mengalah, apa yang kau dapatkan selama ini ? Apa yang kau harapkan dan kau dapatkan dari golongan putih ? Kau hanya masuk kelompok orang dengan kemampuan sangat tinggi. Tetapi kau bukan yang terbaik dan terkuat," kata Ki Bayuseta


sambil memutar tubuhnya .


"Kita hanya meminta satu kali ini saja. Kami menunggu darma baktimu satu kali saja," sambung Ki Bayuseta, "Habisi mereka secepatnya. Dan kau bisa secepatnya bertemu dengan cucumu. Ingat, waktumu tinggal tiga hari. Tiga hari lagi, aku akan datang ke sini lagi. Kalau kau tidak melakukan apa yang sudah ditugaskan kepadamu, terpaksa aku yang akan bertindak sendiri."


Ki Bajraseta tertegun. Tatapan matanya kosong. Sehingga dia tidak menyadari, jika kakaknya, Ki Bayuseta telah pergi dan hanya meninggalkan desiran angin lembut yang menerpa kulit wajahnya.


"Ki Bajraseta, .... " terdengar suara memanggilnya.


Ki Bajraseta terkejut. Dilihatnya, yang berdiri di depannya adalah Ki Bhanujiwo.


"Owhh ... Ki Bhanujiwo," jawab Ki Bajraseta.


"Apakah tadi ada yang datang ke sini Ki Bajraseta ?" tanya Ki Bhanujiwo.


"Tidak ada siapa siapa selain kita berdua, Ki Bhanujiwo," jawab Ki Bajraseta, "Sinar matahari sudah terasa panas, mari kita kembali ke rumah."


Kemudian, tanpa menunggu jawaban, Ki Bajraseta sudah lebih dahulu melesat secepat angin, menuju ke gubug.


Sementara Ki Bhanujiwo hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dilihatnya, sinar matahari mulai muncul untuk membagikan kehangatannya.

__ADS_1


Ki Bhanujiwo pun akhirnya pergi meninggalkan padang rumput dan kembali ke gubugnya.


__________ 0 __________


__ADS_2