
Saat pertama menemukan tubuh Nyi Riwut Parijatha, Kala Caraka memanggil Nyi Riwut Parijatha dengan sebutan ibu, karena Kala Caraka adalah anak kandung dari Nyi Riwut Parijatha.
Nyi Riwut Parijatha mendapatkan anak atau mengandung, saat sedang belajar ilmu dan mencari kekuatan dari siluman.
Saat pergi ke suatu tempat yang berawa rawa, suatu tempat yang masih sangat angker dan dihuni oleh makhluk makhluk siluman yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi, Nyi Riwut Parijatha bertemu dengan siluman berwujud manusia yang tingginya hampir dua kali tinggi tubuh manusia dewasa.
Nyi Riwut Parijatha dan siluman yang bernama Kala Rekta itu saling jatuh cinta dan akhirnya mendapatkan keturunan seorang anak laki laki manusia setengah siluman bernama Kala Caraka.
Akhirnya Nyi Riwut Parijatha tinggal di tempat yang bernama Rawa Jingga itu bersama anak dan suaminya. Mereka bertiga mempunyai kesaktian yang sangat tinggi, namun mereka tidak suka memperlihatkan kesaktian mereka.
Namun sebagai manusia, Nyi Riwut Parijtha sesekali pulang untuk menemui sanak saudaranya, hingga akhirnya diberi pusaka yang membuat Nyi Riwut Prijatha bisa bolak balik dari dunia manusia ke dunia siluman. Pusaka yang sebenarnya adalah salah satu dari bola mata Kala Rekta suaminya itu berbentuk bola berwarna merah membara itu kemudian diletakkan di ujung senjata tongkat milik Nyi Riwut Parijatha.
Dengan bola pusaka di ujung tongkat kecilnya itu, Nyi Riwut Parijatha bisa berkomunikasi dengan anak dan suaminya, selama dia di dunia manusia. Selain itu, Kala Rekta dan Kala Caraka anak mereka, bisa mengetahui apa yang terjadi dengan Nyi Riwut Parijatha.
Hingga akhirnya, ketika Nyi Riwut Parijatha kalah dan terluka saat bertarung melawan Puguh, serta bulatan merah menyala di ujung tongkat kecil hancur terkena ujung pedang Puguh, Kala Caraka bisa segera tahu dan segera menyusul ibunya.
----- * -----
Menjelang pagi hari, Kala Caraka yang membawa tubuh Nyi Riwut Parijatha ibunya, tiba di tempat tinggalnya yang dikenal dengan nama Rawa Jingga.
Dinamakan Rawa Jingga, karena di dunia manusia dan bagi pandangan mata manusia, dataran luas yang berbukit bukit kecil itu permukaannya hanya berwujud air dan lumpur.
Seluruh permukaan tempat itu, permukaan air dan permukaan lumpurnya berwarna jingga. Air dan lumpurnya juga setiap saat mengeluarkan uap berwarna jingga. Pekatnya uap berwarna jingga itu membuat sinar matahari tidak bisa menembus hingga ke permukaan air dan lumpurnya. Semua itu membuat dataran itu hanya memiliki jarak pandang yang pendek dan setiap saat dalam nuansa temaram seperti senja hari.
Keadaan alam dataran luas berbukit bukit itu membuat tidak ada makhluk hidup yang bisa hidup disitu. Hanya keluarga Kala Rekta yang tinggal di tempat itu. Membuat tempat itu semakin angker bagi manusia.
Kala Caraka terus saja melesat di tanah berlumpur dan berair, jauh ke pedalaman.
__ADS_1
Di tengah tengah Rawa Jingga itu, berdiri rumah yang cukup besar dan tinggi.
Sesampai di rumah itu, Kala Caraka segera meletakkan tubuh ibunya di kamar ibunya.
Kemudian, dengan cara khusus dan menggunakan gerakan tangan tertentu untuk mengalirkan tenaga dalam ke tubuh ibunya, Kala Caraka membangunkan ibunya yang tidak sadarkan diri.
Perlahan Nyi Riwut Parijatha sadar dan membuka kedua matanya. Setelah terdiam beberapa saat, Nyi Riwut menyadari, dirinya sudah berada di kamarnya. Dilihatnya Kala Caraka anaknya duduk di samping tempat tidurnya.
"Anakku, terima kasih sudah membawa ibu pulang," kata Nyi Riwut Parijatha pelan.
Mendengar ucapan ibunya, Kala Caraka hanya mengangguk dan mencoba tersenyum.
"Ibu, siapa pendekar yang mampu mengalahkan ibu ?" tanya Kala Caraka hati hati.
"Anakku, Ibu akan ceritakan asal kau berjanji tidak akan membalas dendam," kata Nyi Riwut Parijatha sambil memegang tangan anaknya.
"Ibu ikut bergabung dengan para pendekar itu,karena ibu berniat membalaskan dendam pamanmu. Tetapi ibu menyadari, balas dendam itu tidak baik dan tidak akan menyelesaikan masalah. Maka ibu melarangmu untuk membalas dendam !" kata Nyi Riwut Parijatha mengakhiri ceritanya.
Setelah tidak ada lagi yang ingin diceritakan oleh ibunya, Kala Caraka meminta ibunya untuk beristirahat dan tidak banyak melakukan gerakan dulu. Karena melihat luka dalam yang dialami ibunya, Kala Caraka harus segera mengobati ibunya agar bisa segera pulih kembali.
----- * -----
Sebelum itu, di pertarungan Rengganis. Dengan dibantu oleh siluman serigala mata biru, Rengganis berhasil mengalahkan lawan lawannya.
Namun di sisi lain, munculnya siluman serigala mata biru membuat rasa iri dan tamak para pendekar yang mengeroyoknya semakin bertambah besar.
Wiku Polobogo yang ikut mengeroyok Rengganis, segera memberi kode pada temannya sesama biksu yang bernama Mahawiku Nuraga, untuk ikut menghadapi Rengganis.
__ADS_1
Namun Wiku Polobogo dan Mahawiku Nuraga tidak bertarung langsung berhadapan dengan Rengganis. Melainkan mereka berdiri di belakang para pendekar yang lainnya. Hanya sesekali mereka ikut menyerang Rengganis secara langsung. Namun, bibir mereka terus bergerak membaca suatu mantera, sambil sesekali tangan kanan mereka melemparkan sesuatu ke arah Rengganis atau tempat sekitar Rengganis berdiri melayang.
Tanpa terasa seratus jurus berlalu dengan cepat. Sudah setengah lebih jumlah lawan berhasil Rengganis jatuhkan.
Namun ada yang berubah pada diri Rengganis. Kedua bola matanya yang tadinya mengeluarkan sinar putih, perlahan berubah menjadi warna biru seperti warna mata siluman serigala mata biru. Gerakannya semakin lugas dan serangannya semakin ganas.
Demikian juga dengan siluman serigala mata biru. Dengan tubuhnya yang sangat besar, membuat sekali terkam, apabila mengenai tubuh lawan, membuat tubuh lawannya terkoyak hancur dan tewas seketika.
Hingga beberapa puluh jurus kemudian hampir semua lawannya telah dibunuhnya. Tinggal tersisa dua orang lawan yaitu Wiku Polobogo dan Mahawiku Nuraga.
Karena tidak merasakan adanya gerakan menyerang ke arahnya, selama beberapa saat Rengganis mengedarkan pandangan matanya ke sekitarnya, untuk memastikan, semua lawannya tewas atau setidaknya sudah tidak berdaya.
Kemudian, Rengganis menatap tajam ke arah dua orang yang tersisa. Dengan perasaan terkejut, Rengganis membuka mulutnya.
"Kakang ... ?" kata Rengganis sedikit menjerit senang, karena tiba tiba Puguh berada di tempat pertarungannya dalam keadaan sehat.
Namun bersamaan dengan suara jeritan Rengganis itu, Wiku Polobogo meloncat cepat menjauh dan kemudian lari melompati tembok benteng kotaraja dan melesat ke arah hutan.
Rengganis yang baru saja hendak memanggil Puguh lagi, tiba tiba melihat Puguh juga melesat keluar benteng kotaraja mengejar Wiku Polobogo yang melarikan diri.
Setelah memasukkan siluman serigala mata biru, segera saja Rengganis melesat meloncati tembok benteng mengikuti Puguh mengejar Wiku Polobogo.
Hanya dalam sesaat, tiga bayangan tubuh telah lari melesat di luar tembok benteng dan semakin menjauhi kota.
Seketika tempat pertarungan Rengganis melawan para pengeroyoknya terasa sangat sepi. Hanya suara angin yang berhembus.
__________ ◇ __________
__ADS_1