Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Dimulainya Perang Saudara


__ADS_3

Di taman kaputren di pinggir kolam, Putri Cinde Puspita mengajak Puguh berbincang sepulang dari istana kerajaan.


"Puguh, aku ingin kau yang menjadi pengawal pribadiku, bukan prajurit yang lain !" kata Putri Cinde Puspita.


"Maaf Putri Cinde. Bukannya aku tidak mengkhawatirkan keselamatan Putri Cinde. Tetapi, mohon tunjuk saja salah seorang Senopati muda atau pendekar yang lain untuk menjadi pengawal Putri Cinde," jawab Puguh.


"Kenapa kau tidak mau, Puguh ?" tanya Putri Cinde Puspita.


"Kerajaan dalam bahaya, Putri. Aku ingin berusaha mencegah para pendekar yang terbujuk ataupun bersedia membantu Pangeran Panji. Karena, karena, kalau perang terjadi dan melibatkan banyak pendekar dan perguruan bela diri, dunia persilatan akan terpecah belah. Dan apabila itu terjadi, rakyat jelatalah yang paling sengsara dan dirugikan. Karena akan tumbuh subur kejahatan dimana mana !" jawab Puguh.


"Kalau hanya itu alasannya, kau tetap bisa melakukan semuanya meskipun telah menjadi pengawal pribadiku !" kata Putri Cinde Puspita lagi.


"Maaf Putri Cinde. Masih banyak lagi alasannya," kata Puguh.


Sementara itu di istana Kerajaan Banjaran Pura. Setelah dilantik menjadi raja, Pangeran Pandu yang telah menjadi raja dengan gelar Prabu Pandu Kawiswara, segera mengumpulkan semua punggawa kerajaan.


Dalam pertemuan itu, Prabu Pandu Kawiswara meminta semua Punggawa untuk kembali bekerja seperti biasa. Khusus pada para Senopati, Prabu Pandu Kawiswara menyampaikan, jika nantinya banyak pendekar yang akan membantu berperang. Karena Pangeran Panji juga mengerahkan kekuatan para pendekar yang memihaknya.


Maka dari itu, Prabu Pandu Kawiswara meminta, prajurit dan para pendekar bisa berkerja sama.


Setelah melakukan pertemuan dengan para punggawa kerajaan, Prabu Pandu Kawiswara segera melakukan pertemuan dengan Ki Dwijo, Ki Pande, Ki Kebo Ranu, Ki Tanggul Alas, Ki Klewang Klewung, Nyi Jinten dan para pendekar tingkat menengah. Prabu Pandu Kawiswara meminta bantuan para pendekar itu untuk ikut membantu pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura.


----- * -----


Waktu berjalan dengan cepat. Beberapa hari ini suasana tegang sangat terasa di istana Kerajaan Banjaran Pura.


Selain para prajurit yang berlatih formasi perang, juga kehadiran banyak pendekar ke istana Kerajaan Banjaran Pura, menambah suasana panik bagi rakyat biasa.

__ADS_1


Maka, demi memberi perasaan aman bagi warganya, Prabu Pandu Kawiswara menyuruh rakyat di sekitar istana, apabila perang sedang berlangsung, rakyat yang berada di sekitar istana kerajaan Banjaran Pura, diminta masuk ke halaman istana dan membuat tenda tenda untuk berteduh. Nantinya akan ada prajurit yang menjaganya.


Pada suatu pagi, di hari ke sepuluh sejak Pangeran Pandu dilantik menjadi raja dan mendapat julukan Prabu Pandu Kawiswara.


Senopati Wiraga, Senopati Karuna, Senopati Cakrayuda dan senopati yang paling senior dan paling tinggi tingkat tenaga dalam dan ilmu silatnya, Senopati Arya Kastara sedang membahas stategi dan taktik perang melawan pasukan Pangeran Panji. Sebenarnya Kerajaan Banjaran Pura memiliki lima senopati. Namun Senopati Lembu Caraka tidak ada di dalam istana semenjak Pangeran Panji keluar dari istana. Ditengarai, Senopati Lembu Caraka memihak dan mengikuti Pangeran Panji.


Sebelumnya, keempat senopati itu baru saja menerima laporan dari pemimpin pasukan mata mata, yang melihat pergerakan pasukan dari arah hutan tempat Pangeran Panji tinggal dan menyusun kekuatan pasukan perangnya. Diperkirakan, jumlah pasukan perang Pangeran Panji sekitar lima sampai enam ribu prajurit dan dipimpin langsung oleh Senopati Lembu Caraka.


Namun pemimpin mata mata itu tidak bisa memperkirakan, berapa jumlah dan kekuatan pendekar yang berada di pihak pasukan Pangeran Panji.


Keempat Senopati itu sepakat, hari ini juga pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura diberangkatkan untuk menghadang pasukan perang Pangeran Panji.


Pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura segera diberangkatkan dengan jumlah yang seimbang dengan pasukan Pangeran Panji, dipimpin oleh Senopati Wiraga dan Senopati Karuna dan Senopati Cakrayuda memimpin sayap kanan dan sayap kiri. Ketiga senopati itu, dengan menunggang kuda, berada di baris terdepan, memimpin pasukan mereka masing masing.


Sementara Senopati Arya Kastara tetap berada di istana Kerajaan Banjaran Pura, untuk menjaga apabila Pangeran Panji mengirimkan pasukan penyusup.


Ki Dwijo, Ki Klewang Klewung dan Nyi Jinten serta Rengganis, tetap berada di istana. Sedangkan Ki Bhanujiwo dan Den Roro sudah sejak awal berada di ruangan khusus untuk merawat ayah dari Prabu Pandu Kawiswara yaitu Lingga Kawiswara.


Sementara itu, sebelumnya, Puguh setelah keluar dari taman keputren, terus saja menuju ke istana kerajaan, karena mendengar kabar, Pangeran Pandu yang masih berada di istana kerajaan, akan dilantik menjadi raja Kerajaan Banjaran Pura menggantikan ayahnya Prabu Lingga Kawiswara yang sakit keras.


Di istana kerajaan, Puguh bertemu dan berkumpul kembali dengan Ki Dwijo dan Rengganis. Bahkan sempat bertemu dengan Ki Bhanujiwo dan Den Roro.


Namun, pertemuan Puguh dengan mereka semua, tidak berlangsung lama. Karena, sesaat setelah menjadi raja Kerajaan Banjaran Pura, Prabu Pandu Kawiswara memanggil Puguh secara khusus, untuk menghadapnya. Atas permintaan Putri Cinde Puspita, Puguh mendapatkan titah untuk tetap berada di istana, menjadi pengawal khusus Prabu Pandu Kawiswara dan Putri Cinde Puspita.


Maka terpaksa Puguh kembali meninggalkan Rengganis dan Ki Dwijo, untuk menjaga Prabu Pandu Kawiswara dan Putri Cinde Puspita. Namun, seringnya, Puguh berada di kaputren atas permintaan Putri Cinde Puspita. Dan hal itu, Ki Dwijo dan Rengganis terutama pendekar yang lainnya, tidak mengetahui secara persis. Mereka semua menganggap, Puguh sedang sedang mendapatkan tugas.


----- \* -----

__ADS_1


Di luar istana kerajaan Banjaran Pura. Kedua pasukan perang akhirnya bertemu di luar kotaraja, masih dekat dengan pinggiran hutan.


Dalam jarak yang masih lima puluh meter, kedua pasukan berhenti dan saling berhadapan.


Senopati Wiraga sebagai panglima perang pasukan Kerajaan Banjaran Pura, segera menderap kudanya maju lebih jauh lagi, hingga akhirnya berhadapan dengan Senopati Lembu Caraka sebagai panglima perang pasukan Pangeran Panji.


"Senopati Lembu Caraka, kenapa kita harus berhadapan dalam situasi seperti ini ?" tanya Senopati Wiraga.


"Senopati Wiraga, kita sama sama membela dan mempertahankan yang masing masing kita anggap benar !" jawab Senopati Lembu Caraka.


"Sangat disayangkan perang saudara ini. Suatu hal yang sebenarnya bisa kita hindari," kata Senopati Wiraga lagi.


"Senopati Wiraga, mari kita buktikan, kebenaran mana yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang !" sahut Senopati Lembu Caraka sambil menghela kudanya hingga berjalan mundur dengan pelan, sambil wajahnya tetap menatap tajam Senopati Wiraga.


Ketika jarak dengan pasukannya hanya tinggal lima meter, Senopati Lembu Caraka menghentikan jalan mundur kudanya. Kemudian tangan kanannya diangkat tinggi tinggi ke atas.


Sesaat kemudian, terdengar teriakan keras Senopati Lembu Caraka.


Seeerrraaannnggg !!!


Mendengar aba aba itu, pasukan perang Pangeran Panji bergerak maju dengan semangat penuh untuk menyerang.


Sama dengan yang dilakukan oleh Senopati Lembu Caraka, demikian juga dengan Senopati Wiraga. Dengan menarik sedikit tali kekangnya, kuda yang dia tunggangi berjalan mundur pelan pelan hingga hanya berjarak sekitar lima meter dari pasukannya.


Sesaat setelah mendengar aba aba pasukan lawan, Senopati Wiraga segera mengangkat tangan kanannya kemudian memberi aba aba untuk maju.


Seraaaaang !!!

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2