
Setelah pertemuan dan pembicaraan dengan Pangeran Pandu, selama beberapa hari Ki Dwijo pergi mengunjungi sahabatnya. Dalam waktu yang sangat mendesak, Ki Dwijo hanya bisa pergi ke tempat Ki Pande dan Ki Kebo Ranu. Pada mereka berdua, Ki Dwijo menuturkan semua yang telah terjadi di komplek istana kerajaan.
Mendengar penuturan Ki Dwijo itu, Ki Pande dan Ki Kebo Ranu bersedia datang ke Istana Pangeran Pandu.
Pada kesempatan itu,Ki Dwijo meminta pada Ki Pande dan Ki Kebo Ranu untuk mengajak teman temannya yang lain. Ki Dwijo juga memberikan tanda pengenal agar saat mereka tiba, bisa langsung menuju ke istana Pangeran Pandu. Dan Ki Dwijo juga menambahkan, agar mereka secepatnya datang ke istana Pangeran, karena keadaan sudah mendesak dan membahayakan.
Setelah Ki Pande dan Ki Kebo Ranu berjanji akan secepatnya, Ki Dwijo segera kembali ke istana Pangeran Pandu.
Sesampainya Ki Dwijo di istana Pangeran Pandu, pada petang harinya, gantian Puguh yang pergi meninggalkan istana Pangeran Pandu.
Saat hari mulai gelap, Puguh yang mengenakan pakaian prajurit untuk menutupi pakaian ringkasnya yang serba hitam, melesat dengan sangat cepat ke arah istana Pangeran Panji.
Setelah melompati tembok benteng, Puguh sengaja berjalan ke arah pos penjagaan yang tidak banyak prajuritnya.
Dengan tergopoh gopoh seperti orang yang baru saja diangkat menjadi prajurit, Puguh mendekati empat orang prajurit yang berjaga di pos samping istana Pangeran Panji.
"Prajurit baru siap menerima perintah ! Disuruh bergabung di pos ini !" kata Puguh setelah dekat dengan keempat prajurit itu.
Pemimpin prajurit jaga di pos itu sejenak melihat Puguh.
"Siapa yang menyuruhmu ? Dan siapa namamu ?" tanya pemimpin prajurit itu.
"A ... aku prajurit jaga istana dalam. Mendapat hukuman disuruh jaga di luar, bergabung bersama kalian," jawab Puguh.
"Dihukum karena apa ?" tanya salah satu prajurit.
"A .. anu .... aku ketiduran !" jawab Puguh.
Haaahhh ha ha ha !
Mereka semua tertawa mendengar jawaban Puguh. Bagi mereka, kesalahan karena ketiduran adalah lucu, apalagi sampai dihukum, dipindah untuk jaga di luar. Karena tugas berjaga di dalam istana adalah harapan semua prajurit.
"Sekarang kamu jaga di sini. Kami akan berkeliling memeriksa keadaan dulu !" perintah pemimpin prajurit.
"Siap !" jawab Puguh persis seperti Prajurit sungguhan.
__ADS_1
Kemudian, keempat prajurit itu pergi meninggalkan pos jaga. Dua orang ke arah kanan dan dua orang ke arah kiri.
Setelah sendirian di dalam pos jaga, Puguh menarik nafas lega. Karena rencana pertama berhasil.
Dengan menyamar menjadi prajurit jaga, Puguh tidak akan diperhatikan dan tidak akan menarik perhatian dan menimbulkan kecurigaan dari para pendekar tingkat tinggi yang berada di dalam istana Pangeran Panji.
Puguh melakukan itu, karena Puguh belum tahu pasti jumlah dan siapa saja pendekar yang berada di istana Pangeran Panji. Serta seberapa tinggi kemampuan para pendekar yang diundang oleh Pangeran Panji.
Kalau hanya Iblis Bermata Satu dan Nyi Manis, pihak Pangeran Pandu masih bisa mengatasinya. Tetapi kalau pendekar yang setingkat dengan mereka jumlahnya banyak, atau bahkan ada pendekar dengan kesaktian diatas mereka, Puguh dan Ki Dwijo serta Rengganis akan kesulitan menghadapi mereka semua.
Maka tujuan Puguh menyusup ke dalam istana Pangeran Panji adalah untuk mengetahui seberapa besar kekuatan prajurit dan pendekar yang sudah bergabung dengan Pangeran Panji.
Beberapa saat setelah keempat prajurit di pos jaga itu pergi berkeliling, Puguh segera berjalan cepat ke arah istana Pangeran Panji. Tangannya menenteng bungkusan kain putih.
Sesampai di pintu gerbang dalam, Puguh dihadang oleh prajurit penjaga di gerbang dalam.
Pada prajurit penjaga, Puguh mengatakan kalau dia jaga dalam istana dan diutus untuk mengantarkan bahan bahan untuk membuat ramuan obat.
Mendengar jawaban Puguh, tanpa menaruh curiga sedikitpun, mereka memperbolehkan Puguh melewati pintu gerbang untuk masuk ke dalam istana.
Dalam berjalan menuju bangunan istana, Puguh belum bisa merencanakan, apa yang akan dikatakan jika ditanya oleh orang orang dari dalam istana.
Begitu sampai di gerbang istana, Puguh melihat di sana ada cukup banyak prajurit. Puguh bisa merasakan, dari getaran tenaga dalamnya dan dari sikapnya, mereka bukan prajurit biasa. Kemudian Puguh dihentikan oleh seorang prajurit.
"Berhenti ! Siapa kau dan dari mana kau !" tanya seorang prajurit.
"Aku prajurit yang berjaga di pos gerbang dalam. Aku disuruh mengantarkan ini pada tamu yang bernama Iblis Bermata Satu. Tetapi aku tidak tahu tempatnya dan orangnya. Kalau bisa, minta tolong antarkan ini ke dalam," jawab Puguh.
Para prajurit yang sebenarnya merupakan pendekar pendekar yang diundang dan disewa oleh Pangeran Panji itu, diam diam terkejut mendengar nama Iblis Bermata Satu disebut. Mereka juga tidak mau untuk mengantarkan bungkusan kain putih yang dibawa oleh Puguh, sehingga mereka semua serentak menolak permintaan Puguh.
"Kalau aku tidak boleh masuk, bungkusan ini aku titipkan di sini saja, biar nantinya diambil sendiri oleh orang yang bernama Iblis Bermata Satu," kata Puguh.
Mendengar jawaban Puguh, prajurit yang menghadang Puguh tadi, segera menyuruh Puguh untuk masuk dan mengantarkan sendiri bungkusan putih itu.
"Kau antarkan sendiri bungkusan itu ! Tetapi jangan lama lama ! Begitu selesai urusanmu, segera keluar dan kembali ke tempatmu !" kata prajurit tadi.
__ADS_1
"Agar bisa cepat, tolong antar aku mencari tempatnya. Begitu kuserahkan bungkusan ini, aku akan segera kembali ke pos jaga !" jawab Puguh.
Semua prajurit di gerbang istana itu juga tidak ada yang bersedia mengantarnya. Akhirnya Puguh diijinkan masuk gerbang istana.
Dengan tingkat tenaga dalamnya yang sudah sangat tinggi, Puguh bisa menyembunyikan getaran tenaga dalamnya, sehingga orang lain tidak bisa merasakan getaran tenaga dalamnya dan tidak bisa mengukur tingkat tenaga dalam dan kemampuannya.
Kemudian, dengan melangkah pelan, Puguh memasuki istana Pangeran Panji. Di teras depan, tempat pertama yang dia masuki, Puguh tidak menjumpai seorangpun.
Maka Puguh pun melanjutkan melangkah menuju ke ruang tengah. Di ruang tengah, ruangan dalam istana yang paling luas itu, Puguh juga tidak menjumpai satu orang pun.
Setelah berjalan memutar, seolah olah sedang mencari arah pintu yang akan dia masuki, Puguh masuk ke pintu yang mengarah ke ruangan samping.
Saat berjalan memutar tadi, Puguh bisa mendengar dan merasakan, di pintu yang menuju ruang dalam atau ruang singgasana, sedang berkumpul banyak orang. Dari getaran yang Puguh tangkap dan rasakan, banyak yang memiliki tenaga dalam tinggi bahkan ada beberapa yang masuk dalam tingkat sangat tinggi.
Maka, agar tidak bertemu banyak orang, Puguh masuk ke pintu samping yang menuju ke ruang samping.
Saat Puguh menyusuri ruangan samping, dari arah depannya, berjalan ke arahnya beberapa orang prajurit yang dipimpin oleh prajurit berbadan tinggi besar.
"Heeeiii kamu ! Pergi kemana saja kamu ! Ayo cepat bantu yang lain membawa masuk hidangan yang sudah disiapkan !" bentak prajurit berbadan tinggi besar itu.
Puguh yang sedikit terkejut dan belum paham dengan situasinya, segera menuju ke ruang yang ditunjuk oleh prajurit tinggi besar.
Di dalam ruangan yang dimaksud, telah tertata rapi banyak sekali makanan dan minuman yang siap santap.
Kemudian, seperti prajurit yang lainnya, Puguh ikut mengusung makanan dan minuman untuk dibawa ke ruang dalam tempat diadakannya pertemuan Pangeran Panji dengan para pendekar.
Karena jumlah makanan dan minuman yang sangat banyak, membuat mereka semua harus bolak balik mengusungnya.
Pada suatu waktu, saat Puguh baru saja meletakkan makanan di meja yang sangat besar dan panjang, tiba tìba terdengar suara perempuan.
"Hentikan prajurit itu, aku ingin melihat wajahnya !" teriak perempuan tua yang membawa tongkat.
Semua yang berada di situ terdiam dan memandang ke arah yang sama. Ke arah Puguh yang baru saja meletakkan makanan di meja panjang dan lebar.
Mendengar suara teriakan perempuan itu, Puguh terkejut. Sekilas Puguh melirik ke arah datangnya suara.
__ADS_1
"Nyi Manis !" kata Puguh dalam hati sambil menghentikan jalannya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_