Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menjadi Murid Dewi Laksita


__ADS_3

Pendekar pendekar yang memiliki getaran kekuatan sangat tinggi yang jumlahnya cukup banyak itu segera ikut mengepung Puguh dan Rengganis.


Namun, gerakan mereka segera dihadang oleh mereka yang datang setelah suara lengkingan.


Kemudian, terjadilah pertarungan yang melibatkan banyak pendekar yang berkekuatan sangat tinggi.


Bersamaan dengan berlangsungnya pertarungan, Puguh mendengar suara pengemis yang tadi mengeluarkan suara lengkingan.


"Anak muda ! Ayo ikuti aku !" teriak pengemis itu sambil mendahului melompat dan meninggalkan pertarungan.


Mendengar teriakan itu, Puguh sejenak menatap Rengganis yang terlihat mengangguk pelan.


Maka, begitu terbuka kesempatan, Puguh dan Rengganis segera melenting ke belakang dan mengikuti arah pergi pengemis tadi.


Melihat kepergian Puguh dan Rengganis, semua pendekar yang tadi pada pihak melawan Puguh terkejut. Mereka merasa, tidak berguna jika pertarungan tetap dilanjutkan.


Akhirnya, walaupun tanpa saling memberitahu, satu persatu, para pendekar itu langsung pergi meninggalkan pertarungan. Mereka berusaha untuk bisa mengejar dan mengikuti arah pergi Puguh.


----- * -----


Sementara itu si Kerajaan Banjaran Pura. Setelah Puguh dan Rengganis pergi meninggalkan Kerajaan Banjaran Pura, Ki Dwijo, Resi Wismaya dan para pendekar sepuh lainnya meninggalkan istana. Secara diam diam, mereka ingin berkelana untuk mencari berita dan keberadaan Puguh serta Rengganis.


Namun, dari semua pendekar sepuh, ada satu pendekar yang tidak jadi meninggalkan istana Kerajaan Banjaran Pura. Pendekar itu adalah Dewi Laksita.


Dewi Laksita, yang saat bertemu untuk pertama kalinya, langsung merasa tertarik dengan Putri Cinde Puspita. Karena sebelumnya, saat berkunjung ke keputren istana Kerajaan Banjaran Pura, Dewi Laksita merasakan getaran kekuatan dalam tingkatan yang sangat tinggi, walaupun hanya secara samar dan hanya sebentar. Getaran kekuatan yang sifatnya mirip dengan yang dimiliki oleh Rengganis, yang membuat Dewi Laksita berkeinginan untuk mengangkat Rengganis sebagai muridnya yang akan mewarisi ilmu kesaktiannya sebelum dia meninggal.


Kemudian, setelah beberapa kali bertemu dengan Putri Cinde Puspita, Dewi Laksita akhirnya merasa yakin, jikalau getaran kekuatan yang istimewa itu berasal dari tubuh Putri Cinde Puspita. Walaupun dirasa agak aneh juga, karena Putri Cinde Puspita tidak bisa ilmu silat sama sekali.


"Pantas saja, getaran kekuatan itu terasa mentah. Ternyata berasal dari tubuh yang tidak punya tenaga dalam sama sekali," kata Dewi Laksita dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya Dewi Laksita berkeinginan mengangkat Putri Cinde Puspita sebagai muridnya.


Hingga pada suatu saat di pagi hari, Dewi Laksita sengaja masuk ke keputren dan berjalan jalan di taman dekat kolam.


Ketika sampai di pintu masuk ke taman, terlihat Putri Cinde Puspita duduk di kursi yang menghadap ke kolam. Dewi Laksita melihat, Putri Cinde Puspita duduk dengan posisi yang sama dalam waktu yang lama. Dewi Laksita sengaja menunggu, hingga berapa lama Putri Cinde Puspita duduk tanpa bergerak sama sekali. Hanya terlihat naik turunnya pundak karena gerak pernafasannya. Itupun dalam jarak yang sangat panjang untuk ukuran bernafas.


"Semedi dalam duduk ? Gadis sepertinya tanpa sengaja melakukan semedi dalam duduknya. Pantas saja terkadang samar samar terasa adanya getaran kekuatan dengan tingkat yang sangat tinggi," kata Dewi Laksita dalam hati.


Setelah menunggu dari pagi hingga siang hari, akhirnya Dewi Laksita berjalan mendekati Putri Cinde Puspita sambil pura pura terbatuk batuk.


Mendengar suara batuk dari arah pintu masuk ke taman, Putri Cinde Puspita menoleh dan melihat seorang perempuan tua dengan pakaian pendekar.


"Bibi, apakah bibi salah satu teman dari Ki Dwijo ?" tanya Putri Cinde Puspita sambil bangkit dari duduknya dan kemudian menjura.


"Hheehhh he he he he ! Benar sekali Putri ... " jawab Dewi Laksita dengan suara menggantung.


"Cinde Puspita !" sahut Putri Cinde Puspita.


Setelah berbincang bincang cukup lama, akhirnya Dewi Laksita bertanya hal yang sangat tidak diduga oleh Putri Cinde Puspita.


"Putri Cinde Puspita, apakah kau mau belajar ilmu silat ?" tanya Dewi Laksita.


"Aku sejak kecil belum pernah sedikit pun belajar ilmu silat," jawab Putri Cinde Puspita.


"Kalau ada yang bisa melatihmu hingga bisa sakti seperti Rengganis, apakah kau mau ?" tanya Dewi Laksita.


Mendengar nama Rengganis disebut, Putri Cinde Puspita teringat akan Puguh.


"Semisal aku ingin pun, apakah ada yang bersedia menjadi guru buatku ?" kata Putri Cinde Puspita pelan seperti bergumam sambil matanya menatap jauh ke depan. Angan angannya teringat pada Puguh, Rengganis, dan pendekar pendekar muda lainnya.

__ADS_1


"Putri Cinde Puspita, maukah kau menjadi muridku ?" sahut Dewi Laksita.


"Bibi serius mau melatihku ?" tanya Putri Cinde Puspita.


Mendengar pertanyaan Putri Cinde Puspita, Dewi Laksita hanya tersenyum dan mengangguk.


"Gadis ini memiliki kekuatan istimewa yang masih belum terasah, berlatih beberapa bulan saja, kemampuannya akan melampauiku ! Sepertinya gadis ini memiliki kekuatan titisan seperti Rengganis !" kata Dewi Laksita dalam hati. Bibirnya terus tersenyum. Dewi Laksita merasa hatinya tenang, karena sudah ada yang akan menjadi pewaris ilmu ilmunya.


"Mungkin bukan jodohku untuk menjadi guru Rengganis, gadis pemilik getaran kekuatan yang istimewa. Aku sudah merasa cukup mendapatkan Putri Cinde Puspita sebagai muridku !" kata Dewi Laksita dalam hati, "Semoga aku berhasil dalam menjadi gurunya."


Akhirnya, dengan atas sepengetahuan dan ijin dari Prabu Pandu Kawiswara, dan tetap di dalam keputren, Putri Cinde Puspita berlatih ilmu silat di bawah bimbingan Dewi Laksita.


Walaupun mengenal ilmu silat setelah dewasa, namun karena tanpa disadarinya Putri Cinde Puspita telah memiliki dasar yang sangat kuat, maka, hari demi hari, minggu demi minggu bahkan hitungan bulan, Putri Cinde Puspita mengalami peningkatan kemampuan dan kekuatan yang sangat pesat.


Sekarang ada yang berubah, dalam penampilannya. Walaupun tetap berpenampilan lembut dan murah senyum, namun sorot matanya lebih tajam, menggambarkan ketetapan hatinya.


Oleh Dewi Laksita gurunya, Putri Cinde Puspita diarahkan menggunakan satu senjata berbentuk dwisula. Putri Cinde Puspita mengambil salah satu senjata pusaka milik istana Kerajaan Banjaran Pura, yaitu dwisula yang ukurannya seperti tombak pendek, namun bermata dua.


Setelah dua bulan terus menerus berlatih, berkat kekuatan tersembunyi yang dimilikinya, dan berkat kejelian Dewi Laksita dalam melatih dan membangkitkan kekuatan tersembunyi dari Putri Cinde Puspita, membuat kemampuan Putri Cinde Puspita sudah setingkat dengan gurunya. Bahkan untuk tenaga dalam dan kecepatannya, Putri Cinde Puspa sudah melampaui gurunya.


Namun, setinggi apapun suatu ilmu silat, tanpa dipraktikkan langsung, adalah omong kosong dan tidak ada gunanya.


Maka, pada suatu hari, Dewi Laksita berencana mengajak Putri Cinde Pispita untuk melakukan perjalanan guna mencari pengalaman.


Saat Putri Cinde Puspita dan Dewi Laksita meminta ijin pada Prabu Pandu Kawiswara, Prabu Pandu Kawiswara tidak memberikan jawaban. Tetapi, turun dari singgasananya dan langsung melesat menyerang Putri Cinde Puspita dengan serangan yang sungguh sungguh.


Mengetahui kalau Prabu Pandu Kawiswara atau kakak kandungnya sedang mengujinya, maka Putri Cinde Puspita tidak segan segan untuk membalas memyerang.


Setelah menyerang selama lebih kurang sepuluh jurus, akhirnya Prabu Pandu Kawiswara mengijinkan Putri Cinde Puspita melakukan perjalanan.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2