Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Mengalahkan Indravanara


__ADS_3

Suara ledakan berkali kali itu menarik perhatian para pendekar yang berada di dalam istana maupun yang berada di sekitar istana. Sehingga mereka semua berdatangan mendekat.


Sementara, hanya dalam beberapa waktu, pertarungan Indravanara melawan Puguh sudah berlangsung puluhan jurus.


Gerakan mereka berdua yang sangat cepat, membuat pertarungan mereka sudah tidak lagi bisa diikuti dengan mata.


Melihat para pendekar berdatangan, Indravanara sambil terus melayangkan serangan, memberi aba aba pada para pendekar itu.


"Kepung dan tangkap bangsa manusia ini !" teriak Indravanara.


Mendengar aba aba Pemimpin Tertinggi mereka, para pendekar itu mulai bergerak mengepung. Namun mereka masih bingung, bagaimana mereka akan ikut dalam pertarungan.


Dalam kebingungan mereka itu, tiba tiba terdengar suara menahan mereka.


"Semuanya jangan ikut dalam pertarungan ! Kalian hanya akan mengantarkan nyawa !" teriak kakek tua kepala suku.


Mendengar teriakan kakek tua kepala suku itu, para pendekar menghentikan gerakan mereka. Karena mereka sebenarnya juga menyadari, mereka hanya akan menjadi beban dalam pertarungan itu.


"Adi Natavanara ! Jangan halang halangi mereka untuk ikut bertarung !" tiba tiba Indravanara berteriak.


"Kakang Indravanara ! Tingkat kemampuan mereka tidak pada pertarungan ini ! Mereka hanya akan menjadi korban !" jawab kakek tua kepala suku yang bernama Natavanara.


"Paman Indravanara ! Kakek tua itu benar ! Kau hanya akan mengirim nyawa mereka ! Jangan jangan saat ada kera raksasa yang menyerang bangsa manusia setengah kera, kau juga menyuruh mereka untuk melawan ! Kau tidak menghargai nyawa rakyatmu sendiri !" kata Puguh.


"Haahhh ! Kau tidak tahu apa apa !" sahut Indravanara sambil menghunus senjata pedangnya dan kemudian merangsek maju untuk menyerang.


"Paman kakek tua ! Tolong kau cegah mereka semua untuk ikut bertarung !" teriak Puguh sambil melenting ke atas untuk menghindari serangan Indravanara.


Kemudian, dengan tubuh kembali meluncur ke bawah, Puguh menghunus senjata pedangnya.


Dalam sesaat, ruangan yang sudah terang oleh sinar obor itu, semakin terang saat bilah pedang Puguh mengeluarkan pendaran sinar hijau terang, begitu terkena aliran tenaga dalam tingkat tinggi.


Di dalam ruangan istana yang sangat luas itu, terjadi benturan pedang berkali kali yang mengeluarkan suara yang sangat keras.


Tanggg ! Tanggg ! Tanggg !


Tranggg ! Tranggg !

__ADS_1


Sambil memainkan jurus pedang yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Pendekar Penunggang Elang, Puguh mengingatkan Indravanara untuk membebaskan Pemimpin bangsa kera raksasa yang ditahannya.


"Paman Indravanara ! Ayo kita bebaskan Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa yang kalian tahan !" ucap Puguh.


"Tidak akan ! Kami tidak akan membebaskannya !" jawab Indravanara.


"Paman ! Kalau begitu, aku yang akan membebaskannya !" kata Puguh.


Kemudian, dengan menambah aliran tenaga dalamnya, tangan kiri Puguh memainkan jurus Jata Candrama.


Tubuh Puguh bergerak dengan sangat cepat untuk memaksakan pertarungan jarak pendek. Diantara kelebatan pedangnya yang digerakkan semakin cepat serta mengeluarkan sinar hijau yang semakin terang, tangan kiri Puguh mengirimkan pukulan pukulan yang mengarah ke beberapa titik tubuh Indravanara.


Tidak mau kalah, Indravanara terus berusaha mengimbangi kecepatan gerak Puguh. Hingga pada suatu saat, pukulan tangan kiri Puguh mengancam bahu kanan Indravanara, saat tangan kanan Indravanara yang memegang pedang, terpental ke belakang ketika berbenturan dengan pedang Puguh.


Dengan sedikit memutar tubuh ke kanan, Indravanara menghadang pukulan Puguh dengan pukulannya juga.


Benturan dua pukulan yang dilapisi dengan tenaga dalam yang sangat tinggi itu menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.


Jdammm !!!


Akibat dari benturan dua pukulan itu, tubuh mereka berdua terdorong ke belakang. Tubuh Indravanara terpental ke belakang hingga kemudian jatuh berlutut. Tangan kanannya menancapkan pedangnya ke tanah untuk menyangga tubuhnya.


Sementara tubuh Puguh yang juga terdorong ke belakang, langsung menotolkan kakinya ke tanah hingga membuat tubuhnya melayang ke atas.


"Apakah paman Indravanara ingin melanjutkan pertarungan ini, sampai salah satu dari kita mati ?" tanya Puguh sambil melayang mendekat ke arah Indravanara.


"Ilmu, kekuatan dan tenaga dalam anak bangsa manusia ini sudah melewati batas sangat tinggi. Tidak ada pilihan lain bagiku, selain membiarkan dia melakukan apa yang dia maksudkan !" kata Indravanara dalam hati, sambil mencoba berdiri.


Melihat Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa itu terdiam saja, masih dengan tubuh yang melayang, Puguh mengajak Natavanara, kakek tua kepala suku bangsa manusia setengah kera untuk kembali ke perkampungan.


"Kakek tua, kita pulang ke perkampungan. Besok pagi pagi, kita ke lubang tahanan yang berada di tengah hutan !" kata Puguh.


"Ayo, anak muda," jawab kakek tua kepala suku yang dibuat terkejut dengan kemampuan Puguh yang bisa mengungguli Pemimpin Tertinggi bangsa manusia setengah kera.


Kemudian, tanpa berkata kata lagi, Puguh dan Natavanara si kakek tua kepala suku, melesat keluar dari istana Pemimpin Tertinggi bangsa manusia setengah kera.


Sementara itu, setelah Puguh dan Natavanara meninggalkan istana, Indravanara yang berusaha berdiri, mencoba bergerak melangkah.

__ADS_1


Namun satu langkah bergerak, Indravanara tiba tiba terbatuk dan kemudian memuntahkan darah segar. Tubuhnya limbung hingga kemudian terjatuh lagi dan tidak sadarkan diri.


----- * -----


Keesokan paginya, Puguh dengan diantar Natavanara, kakek tua kepala suku, meninggalkan perkampungan, melesat cepat ke arah hutan yang lebih dalam.


Setelah beberapa saat berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, mereka berdua tiba di lubang tahanan yang kemaren lusa mereka datangi.


Sesaat mereka hanya berdiri sambil menatap ke sekeliling mereka.


"Paman Natavanara ! Apakah paman tahu cara melepaskan rantai yang mengikat Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa ?" tanya Puguh.


"Rantai itu dilapisi dengan tenaga dalam yang disertai mantera ! Kita harus membuka dulu, mantera itu," jawab Natavanara.


Mereka tiba di bibir lubang tahanan. Puguh melihat, Pemimpin Tertinggi bangsa kera hanya terdiam.dwngan kepala.menunduk.


"Paman kera raksasa, apakah paman baik baik saja ?" tanya Puguh sambil berjongkok di bibir lubang tahanan.


"Grrhhh ! Pergilah kalian !" jawab Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa sambil tetap menunduk dan tubuh yang tidak bergerak sedikitpun.


"Paman kera raksasa ! Aku akan membebaskan paman, tetapi paman kera raksasa harus berjanji satu hal !" kata Puguh lagi.


"Grrhhh ! Pergilah ! Tidak ada yang bisa kalian lakukan disini !" sahut Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa.


"Bagaimana kalau aku bisa membebaskan paman kera raksasa ?" kata Puguh sambil berdiri.


"Grrhhh !" Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa itu menggeram sambil perlahan mengangkat mukanya," Kemampuan apa yang kau miliki, hingga kau berani menawarkan kebebasan pada diriku ?"


Puguh tahu, Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa itu meremehkan kemampuannya.


Maka dengan tubuh melayang, Puguh perlahan turun ke dasar lubang tahanan dan mendarat tepat di depan Pemimpin Tertinggi Bangsa kera raksasa itu.


"Aku akan mencoba membebaskan paman kera raksasa. Namun paman kera raksasa harus berjanji satu hal. Apakah paman bersedia ?" tanya Puguh.


"Apa yang harus aku berikan padamu, anak muda bangsa manusia ?" tanya balik Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa itu.


"Aku tidak meminta benda apapun ! Aku hanya meminta, setelah terbebas, paman kera raksasa tidak kembali menyerang bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera !" kata Puguh.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2