Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Perjumpaan Kembali Dengan Rengganis Dan Ki Dwijo


__ADS_3

Untung bagi Ki Bayuseta, Rengganis tidak mengetahui kisah tentang perselisihan antara Ki Bayuseta dan Ki Bajraseta. Sehingga dalam bertarung, Rengganis tidak ada perasaan dendam ataupun amarah yang bisa membuatnya berbuat lebih kejam.


Sementara Ki Bayuseta sendiri sekarang ini juga tidak mencoba menampakkan, kalau dirinya sebenarnya masih terhitung kakek dari Rengganis.


Saat Rengganis bisa mengimbangi kemampuan Ki Bayuseta, terjadi hal sebaliknya bagi Ki Dwijo. Menghadapi dua lawan tangguh yang kemampuannya hampir setingkat dengannya, Nyi Chandra Praya dan Kalayaksa, membuat Ki Dwijo harus sangat hati hati dan penuh perhitungan.


Terutama harus mewaspadai serangan serangan Nyi Chandra Praya yang mulai memasukkan racun di dalam setiap serangannya.


Dengan menggabungkan ilmu andalannya yaitu ilmu meringankan tubuh Sindhung Arina dengan ilmu pukulan tangan kosong Bhantala Wreksa, membuat Ki Dwijo masih bisa bertahan menghadapi dua serangan yang sama sama sangat kejam.


Berbeda dengan Nyi Chandra Praya yang menggunakan racun, serangan Kalayaksa mengarah ke bagian tubuh yang mematikan seperti ubun ubun, leher ataupun perut. Bahkan tanpa ada perasaan malu, serangan Kalayaksa terkadang menyasar ke arah ********.


Benturan telapak tangan ataupun kepalan tangan yang terisi penuh dengan tenaga dalam pun terjadi hampir setiap saat.


Plak ! Plak ! Plak !


Deeesss !


Blaaammm !


Namun, tanpa disadari oleh Ki Dwijo, Nyi Chandra Praya selalu berusaha menebarkan racun yang tidak bisa dirasakan dan diketahui oleh setiap lawannya. Andaikan lawannya berkemampuan tinggi, biasanya akan terlambat menyadarinya.


Demikian juga dengan Ki Dwijo. Karena harus membagi tenaganya untuk menghadapi dua orang lawannya, membuat Ki Dwijo terlambat menyadari, sudah ada sedikit racun yang mengenai tubuhnya.


Ki Dwijo mulai merasakannya saat merasa selalu terlambat menghindari serangan Kalayaksa. Beberapa kali Ki Dwijo harus merelakan bahunya terkena pukulan Kalayaksa, untuk menghindarkan leher atau perutnya terkena serangan.


Situasi yang dialami oleh Ki Dwijo, ternyata juga menjadi perhatian Rengganis.


Karena sambil mengamati keadaan Ki Dwijo, membuat konsentrasi Rengganis menjadi terpecah.


Hingga suatu ketika, saat Ki Dwijo menghindari pukulan beruntun dari Nyi Chandra Praya, dalam posisi tubuh sedikit membungkuk, Ki Dwijo terpaksa harus menerima tendangan Kalaksa yang mengarah perutnya.


Buuuggghhh !


Tubuh Ki Dwijo terdorong mundur hingga beberapa langkah.


Melihat Ki Dwijo terkena tendangan, Rengganis pun secara reflek segera meloncat ke arah Ki Dwijo untuk membantunya.


"Guru !!!" teriak Rengganis, yang tidak memperhatikan datangnya serangan pukulan dari Ki Bayuseta yang dengan derasnya menyasar ke arah tengkuk Rengganis.

__ADS_1


Plaaakkk !!!


Terdengar suara nyaring benturan pukulan yang mengandung tenaga dalam. Dalam benturan itu, terlihat tubuh Ki Bayuseta terhuyung huyung mundur hingga beberapa langkah.


Setelah gerakan tubuhnya terhenti, Ki Bayuseta segera menatap ke arah orang yang menangkis pukulannya. Terlihat olehnya, seorang anak muda dengan badan yang gagah tegap walaupun sedikit kurus.


Sementara pemuda yang baru datang itu, langsung menatap serius ke arah Ki Bayuseta.


"Adik Rengganis, kau bantu guru. Biar orang ini kakang yang menghadapi. Dia ada hutang yang harus dibayar !" kata pemuda yang baru datang itu.


Mendengar suara itu, Rengganis sangat terkejut sekaligus sangat gembira. Sehingga tanpa sadar dia menjawab sambil menjerit.


"Kakang Puguh ?! Baik kakang !" jerit Rengganis.


Seperti mendapatkan tambahan tenaga, Rengganis segera melesat ke arah lawan lawan gurunya.


Mendekatnya gadis muda itu untuk membantu Ki Dwijo, jelas bukan sesuatu yang diharapkan oleh Nyi Chandra Praya dan Kalayaksa. Karena, melawan Ki Dwijo saja mereka belum menunjukkan tanda tanda keunggulan, apalagi sekarang lawan mereka bertambah satu lagi, dan walaupun masih muda, kemampuannya tidak berada di bawah mereka.


Dengan mengandalkan kecepatannya, Rengganis menyerang ke arah Nyi Chandra Praya. Namun, baru saja tubuhnya bergerak melesat, terdengar suara Puguh memperingatkannya.


"Adik Rengganis, hati hati dengan racun yang terkandung dalam pukulan perempuan tua itu !" kata Puguh.


"Terima kasih, kakang," jawab Rengganis.


Saat Rengganis sibuk berhadapan dengan Nyi Chandra Praya, dan Kalayaksa melawan Ki Dwijo. Ki Bayuseta terpaku menatap Puguh.


Untuk beberapa saat, Ki Bayuseta saling menatap tajam dengan Puguh.


"Anak ini hanya dalam beberapa bulan, mengalami peningkatan dalam kecepatan dan tenaga dalamnya !" kata Ki Bayuseta dalam hati.


"Orangtua ! Sudah saatnya kau membayar semua kejahatanmu !" kata Puguh pelan namun sampai ke telinga Ki Bayuseta.


Mendengar perkataan Puguh, Ki Bayuseta tersenyum kaku dipaksakan.


"Anak muda ! Ambillah dariku apapun yang kamu bisa !" kata Ki Bayuseta.


Tanpa menjawab lagi, tubuh Puguh telah melesat ke arah Ki Bayuseta. Dengan gerakan kaki seperti orang melangkah biasa, kedua tangan Puguh memainkan Bhantala Wreksa yang diajarkan oleh Ki Dwijo.


Puguh memainkan ilmu Bhantala Wreksa dengan cara yang berbeda. Gerakan kedua tangannya dalam melakukan pukulan yang sangat cepat, dia gabungkan dengan ilmu meringankan tubuh yang Puguh dapatkan saat terjebak di dalam ruangan pohon kayu hitam raksasa.

__ADS_1


Hal itu membuat gerakan setiap jurus yang dimainkan Puguh terlihat aneh. Ki Bayuseta melihat, Puguh seperti bergerak lambat, namun tiba tiba, pukulan Puguh sudah mengancam beberapa bagian tubuhnya.


Ki Bayuseta mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghindari serangan serangan Puguh. Namun, ke arah manapun Ki Bayuseta bergerak menghindar, serangan Puguh selalu mengejarnya.


Hingga setelah pertarungan berjalan sekitar sepuluh jurus, beberapa pukulan Puguh mulai mendarat di beberapa bagian tubuh Ki Bayuseta.


Plak ! Plak !


Buuuggghhh ! Buuuggghhh !


Deeessshhh !


Terkena serangan pukulan dan tendangan secara beruntun, tubuh Ki Bayuseta terlempar ke belakang dan kemudian jatuh dalam posisi terduduk.


Nafas Ki Bayuseta agak memburu, terlihat darah di kedua sudut bibir Ki Bayuseta.


"Itu balasan atas apa yang telah kau lakukan padaku dulu. Sekarang, terimalah balasan atas apa yang telah kau lakukan pada guru guruku !" ucap Puguh pelan sambil menatap tajam wajah Ki Bayuseta.


Kemudian, dengan sedikit menambah tenaga dalamnya, gerakan Puguh menjadi lebih cepat lagi. Tubuhnya berkelebat dengan sangat cepatnya dan dalam satu masa, beberpa pukulan dan tendangan dilayangkan secara beruntun.


Ki Bayuseta berusaha menghindari sambil menangkis serangan Puguh. Namun, karena ilmu meringankan tubuh Puguh yang sudah tidak bisa diimbangi lagi, membuat beberapa pukulan dan tendangan Puguh mendarat di beberapa bagian tubuhnya.


Plaaakkk !


Duuukkk ! Duuukkk !


Breeessshhh !


Terlihat tubuh Ki Bayuseta limbung terkena beberapa pukulan. Dan pada suatu kesempatan, pukulan tangan kanan Puguh mengenai dengan telak dada Ki Bayuseta.


Tubuh Ki Bayuseta sedikit terangkat ke atas, saat pukulan tangan kanan Puguh bersarang di dadanya. Kemudian terlempar ke belakang dengan tubuh membungkuk. Pandangan matanya gelap, hingga akhirnya tubuhnya jatuh terhempas ke tanah dengan sangat kerasnya.


Ki Bayuseta terjatuh dalam posisi terlentang, hingga terlihat tidak bergerak lagi. Dari mulutnya keluar darah segar.


Ki Bayuseta tewas sebelum tubuhnya jatuh menyentuh tanah, dengan organ dalam yang hancur terkena pukulan Bhantala Wreksa.


Pada saat yang bersamaan, dengan mengandalkan kecepatannya, Rengganis berhasil mendesak Nyi Chandra Praya, yang pontang panting berlompatan menghindari sersngan Rengganis.


Hingga akhirnya, pada serangan beruntun, beberapa pukulan Rengganis mengenai tubuh Nyi Chandra Praya. Diakhiri satu pukulan yang mengenai kepala Nyi Chandra Praya, membuat tubuh Nyi Chandra Praya, bergerak gontai hingga kemudian jatuh berlutut dengan darah keluar dari mulut, hidung, mata dsn telinganya yang membuatnya tewas seketika.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2