Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kembali Melatih Ilmu Naga Pijana


__ADS_3

Sebenarnya, Aswa Muka dan Aswa Kudana sangat geram, begitu mendengar lima anak muda itu adalah tangan kanan dari Pangeran Langit Barat. Selagi ada Iswara Dhatu, dengan bertiga, mereka bisa melawan lima tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Tetapi ternyata, mereka harus menahan kegeraman mereka, karena Iswara Dhatu memilih pergi untuk menyelamatkan cucunya.


Walau Aswa Muka dan Aswa Kudana sempat ikut bertarung selama beberapa jurus. Begitu Iswara Dhatu meninggalkan mereka, mereka berdua berhitung, akan berat dan membutuhkan waktu lama, untuk melawan sekaligus lima tangan kanan Pangeran Langit Barat. Selain itu yang terpenting, mereka berdua tidak ingin, Rengganis yang sedang berada di dasar Danau Tujuh Warna, terganggu.


Akhirnya, Aswa Muka dan Aswa Kudana ikut pergi dan berharap, orang orang Pangeran Langit Barat mengejarnya dan menjauhi tempat Rengganis sedang menyerap kekuatan.


Bersamaan dengan itu, di dasar Danau Tujuh Warna, Rengganis masih berkonsentrasi menyerap kekuatan tanaman ganggang. Karena merasakan dingin dan sejuk di seluruh permukaan kulitnya, hingga Rengganis seperti lupa waktu. Hingga sore hari, Rengganis belum ingin naik ke permukaan.


Tiba tiba, dari arah permukaan, meluncur dengan sangat cepatnya ke arah Rengganis, sebatang pedang yang bilahnya mengeluarkan pendaran sinar putih pekat.


Seluruh permukaan kulit tubuh Rengganis yang saat itu dipenuhi getaran kekuatan dari tanaman ganggang, langsung bereaksi saat ada sebatang pedang yang meluncur deras ke arahnya.


Begitu pedang yang meluncur itu hanya berjarak sekitar satu tombak dari tubuhnya, tiba tiba gelombang kekuatan yang sangat besar keluar dari seluruh permukaan kulit tubuh Rengganis dan langsung menerjang, menahan dan menyelubungi pedang itu.


Selama beberapa waktu, pedang itu berhenti meluncur dan diam melayang di dalam air. Pendaran sinar putih pekat yang keluar dari bilah pedang itu sudah tidak terlihat lagi karena terselimuti oleh gelombang kekuatan yang berwarna hitam pekat.


Seperti diserap oleh sesuatu, gelombang kekuatan itu perlahan lahan semakin tipis dan akhirnya hilang sama sekali. Hanya menampakkan sebilah pedang yang meluncur ke bawah dan menancap di dasar danau. Terlihat pedang itu bilahnya menjadi berwarna hitam pekat.


Tanpa terasa malam terlewati. Hingga siang hari di hari ke tujuh, belum terlihat tanda tanda Rengganis hendak mengakhiri proses penyerapan kekuatan tanaman ganggang.


Menjelang sore hari, Rengganis mengakhiri semedinya. Ketika beranjak berdiri, pandangan mata Rengganis tertuju pada sebatang pedang yang menancap di dasar danau, dan hanya berjarak sekitar satu tombak dari tempatnya bersila.

__ADS_1


Dengan gerakan yang sangat ringan, Rengganis menyambar pedang berwarna hitam legam itu, kemudian melesat ke permukaan dengan sangat cepatnya.


Sesampai di tepi danau, Rengganis segera berteriak, "Guru sekalian ! Lihatlah, aku menemukan sebuah pedang di dasar danau ! Sepertinya sebuah pedang pusaka !"


Rengganis mengacungkan senjata pedang itu ke atas. Namun perlahan ditariknya kembali ke bawah pelan pelan saat menyadari, kedua gurunya tidak berada di tempat biasanya.


Segera saja Rengganis melihat kejanggalan. Terlihat bekas pertarungan yang tidak terlalu banyak di sekelilingnya berdiri.


Setelah mengamati sisa sisa bekas pertarungan, Rengganis segera melesat ke arah kotaraja Kerajaan Kisma Pura. Hingga akhirnya terlibat dalam pertarungan dan berhasil menolong Ki Dwijo.


Sementara itu, Iswara Dhatu terus saja berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, menuju ke perbukitan tempat Trah Keluarga Asmara Dhatu tinggal.


Iswara Dhatu sangat mengkhawatirkan Kartika Dhatu cucunya, setelah mendengar ucapan salah satu tangan kanan Pangeran Langit Barat yang mengatakan, kalau Pangeran Langit Barat saat itu sedang menuju perbukitan tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Sambil terus berlari, Iswara Dhatu mencoba memeriksa keadaan tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu. Namun, beberapa kali memeriksa, Iswara Dhatu tidak menemukan Kartika Dhatu dan para anggota Trah Keluarga Asmara Dhatu yang masih hidup, ataupun menemukan tanda tanda atau sisa sisa pertempuran yang bisa memberi petunjuk siapa yang menyerang tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Walaupun tidak mendapatkan petunjuk yang bisa digunakan untuk memperkirakan siapa yang datang dan menyerang tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu, Iswara Dhatu mengarahkan kecurigaannya pada Pangeran Langit Barat.


"Apa mungkin Pangeran Langit Barat sudah tiba di sini, sehingga sudah terjadi pertarungan di sini ?" gumam Iswara Dhatu.


Kemudian, dikarenakan kecurigaannya dan melihat kondisi tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu yang hancur dan sudah tidak ada anggotanya yang berada di situ, akhirnya Iswara Dhatu memutuskan untuk pergi ke kotaraja Kerajaan Kisma Pura.


"Untuk mendapatkan info, aku harus ke kotaraja Kerajaan Kisma Pura ! Disana banyak berkumpul para pendekar, yang mungkin bisa memberikan informasi !" kata Iswara Dhatu dalam hati.

__ADS_1


Segera saja Iswara Dhatu melesat pergi meninggalkan tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.


----- * -----


Beberapa waktu sebelumnya.


Setelah selesai mempelajari Kitab Naga Pijana di Gunung Pedang, Kartika Dhatu segera kembali ke perbukitan tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Di tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu, Kartika Dhatu terus berlatih ilmu Naga Pijana. Selain itu, Kartika Dhatu juga tekun kembali menggembleng para anggota dan anak murid Trah Keluarga Asmara Dhatu, untuk mengembalikan kekuatan Trah Keluarga Asmara Dhatu. Karena, selama beberapa waktu terakhir ini, dia cukup banyak kehilangan anggota dan terutama anak murid Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Dalam penguasaan ilmu silat andalan Trah Keluarga Asmara Dhatu, yaitu ilmu Tarian Dewi Kematian, dengan bakatnya yang luar biasa, Kartika Dhatu bisa mencapai tingkat yang paling tinggi dari semua keturunan Trah Keluarga Asmara Dhatu. Tingkat yang dicapainya bahkan melebihi tingkat Iswara Dhatu neneknya. Dan, hanya Kartika Dhatu yang mampu memainkan tehnik Tarian Dewi Kematian dengan empat selendang.


Ditambah lagi, sekarang mempelajari jurus jurus Naga Pijana, tanpa menyadarinya, penguasaan tehnik Naga Pijana oleh Kartika Dhatu, lebih bagus dan lebih sempurna dibanding dengan Iswara Dhatu neneknya. Penguasaan ilmu silat Kartika Dhatu tanpa terasa telah sampai pada tingkat lebih dari sangat tinggi.


Hingga pada suatu pagi, Kartika Dhatu dan para anggota inti Trah Keluarga Asmara Dhatu, merasakan adanya cukup banyak getaran kekuatan yang melesat cepat menuju ke arah perbukitan tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Segera saja, Kartika Dhatu mengajak cukup banyak anggota keluarga inti Trah Keluarga Asmara Dhatu untuk menghadang di kaki perbukitan.


Sesaat setelah sampai di kaki perbukitan, getaran kekuatan yang cukup banyak itu tiba di kaki bukit. Kartika Dhatu melihat, ada sekitar dua puluh laki laki yang dipimpin oleh seorang laki laki berpakaian sangat mewah.


"Siapa kalian ? Apa tujuan kalian datang ke tempat tinggal kami ?" tanya Kartika Dhatu.


"Haahhh ha ha ha ha ! Aku adalah Pangeran Langit Barat ! Aku ingin bertemu dengan Iswara Dhatu yang kabarnya menjadi pemimpin di sini !" jawab laki laki yang berpakaian sangat mewah yang ternyata Pangeran Langit Barat.

__ADS_1


---------- ◇ ----------


__ADS_2