
Kakek tua kepala suku itu menceritakan hal yang sama dengan yang sudah diceritakan oleh Argamanik. Namun ada yang menarik perhatian Puguh, saat laki laki tua kepala suku itu mengatakan, kalau bangsa kera raksasa sudah terlihat, beberapa ada yang memasuki Negeri Tanah Dewa lagi. Sepertinya bangsa kera raksasa mendekati dan bekerja sama dengan bangsa siluman untuk melemahkan dan menghancurkan bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera.
"Kakek, aku bisa terlempar ke negeri ini, karena bertarung dan beradu pukulan dengan siluman kera raksasa yang juga bisa berubah wujud menjadi manusia dengan cara berpakaian yang mirip dengan kakek. Apakah kira kira kakek mengetahui atau kenal siluman kera itu ?" tanya Puguh.
"Apakah siluman kera raksasa itu sangat tinggi besar dan bisa bergerak dengan sangat cepat serta bisa membuat tubuhnya seperti menghilang ?" kata kakek tua kepala suku itu balik bertanya.
Mendengar pertanyaan kakek tua itu, Puguh hanya mengangguk.
Kakek tua itu dengan cepat berdiri.
"Ikuti aku. Akan aku perlihatkan sesuatu padamu !" kata kakek tua itu cepat.
Kemudian, tanpa menunggu jawaban Puguh, kakek tua itu melesat menembus pekatnya malam menuju ke arah hutan yang lebih dalam lagi. Puguh pun segera mengikuti arah pergi kakek tua itu.
Sesaat kemudian, kakek tua itu berhenti berlari. Kemudian mendekat ke suatu tempat. Tiba tiba tempat itu menjadi terang, saat kakek tua itu kembali bergerak dengan berlari cepat untuk menyalakan obor obor yang membentuk persegi mengelilingi tanah kosong.
Begitu tempat itu terang oleh nyala banyak obor, ternyata mereka tiba di suatu tempat berbentuk persegi yang cukup lapang.
Di tengah tengah tanah lapang itu, ada lubang berbentuk lingkaran berdiameter sekitar lima meter dengan kedalaman sekitar sepuluh meter. Di tengah tengah lubang itu ada tiang dari batang pohon kayu hitam setinggi hampir sama dengan kedalaman lubang.
Di tiang itu ada kera raksasa tua berbulu coklat yang sangat kurus setinggi lima meter, dengan leher dirantai ke tiang kayu hitam itu. Kedua pergelangan kaki dan pergelangan tangannya juga dirantai yang ujung rantainya terhubung ke dinding lubang. Semua rantai besi itu diselubungi pendaran sinar putih transparan. Sepertinya rantai itu dialiri tenaga dalam yang sudah dimanterai.
Terlihat nafas kera raksasa tua itu jarang jarang dan nampak tersengal.
Ketika mendengar ada yang datang, kera Raksasa itu mendongakkan kepalanya dengan pelan untuk melihat.
Ketika melihat kera raksasa tua itu, diam diam Puguh terkejut. Walaupun sangat samar, Puguh masih bisa menangkap dan merasakan, kera raksasa yang dirantai itu memiliki getaran tenaga dalam dan kekuatan yang sangat tinggi.
"Siapa dia, tingkat kekuatan dan tenaga dalamnya sangat tinggi !" kata Puguh dalam hati.
"Anak muda, kau lihat di bawah sana ?" tanya kakek tua kepala suku itu.
Puguh mengangguk mendengar pertanyaan itu.
"Dia adalah pemimpin tertinggi bangsa kera raksasa. Dia sudah sangat lama di sini. Dipenjara di sini saat bangsa kera raksasa dikalahkan oleh kerjasama bangsa manusia dengan bangsa manusia setengah kera !" kakek tua kepala suku bangsa manusia setengah kera itu menceritakan.
"Bukankah bangsa kera raksasa sudah dihukum dengan diusir dari Negeri Tanah Dewa ini, kakek ?" tanya Puguh.
__ADS_1
"Heehhh he he he he .. ! Semua bangsa kera raksasa memang sudah diusir, namun tidak dengan pemimpin tertingginya. Bangsa manusia dan bangsa kera raksasa sudah menangkapnya, tidak mungkin kami lepaskan lagi hanya untuk dihukum usir !" jawab kakek tua kepala suku itu.
Kakek tua itu baru saja hendak mengajak Puguh untuk lebih mendekat ke tempat pemimpin tertinggi kera raksasa itu ditahan, ketika tiba tiba terdengar suara lengkingan tinggi khas bangsa manusia setengah kera. Lengkingan yang memberi tanda akan adanya bahaya.
Mendengar itu, kakek tua kepala suku bangsa manusia setengah kera itu segera berbalik dan menatap Puguh.
"Kita kembali dulu ke perkampungan. Sepertinya ada bahaya yang mengancam suku kami, anak muda !" kata kakek tua kepala suku itu sambil kemudian tubuhnya melesat dengan sangat cepat ke arah perkampungannya.
Tanpa menjawab, Puguh segera mengikuti kakek tua kepala suku itu kembali menuju perkampungan.
Sesampai di gerbang masuk ke perkampungan suku yang dipimpin oleh kakek tua itu, mereka berdua melihat sebuah pertarungan. Pertarungan yang terlihat tidak seimbang.
Hampir dua puluh manusia setengah kera mengeroyok satu kera raksasa setinggi hampir empat meter. Namun, walaupun dikeroyok banyak lawan, terlihat, kera raksasa itu merupakan pihak yang unggul.
Hal itu terlihat dari sudah banyaknya manusia setengah kera yang jatuh terluka dan tidak bisa melanjutkan pertarungan. Bahkan beberapa terlihat pingsan.
Melihat hal itu, kakek tua kepala suku itu segera masuk ke dalam pertarungan.
"Dimana pasukan inti ? Kenapa hanya kalian yang menghadapinya ?" tanya kakek tua itu pada pasukannya.
"Kepala suku, pasukan inti masih di dalam !" jawab beberapa anggota pasukan yang mengepung kera raksasa.
Mendengar perintah kepala sukunya, mereka yang mengeroyok kera raksasa segera minggir dan berjaga jaga di sekeliling pertarungan.
Kemudian, kakek tua segera melesat dan berdiri di depan kera raksasa itu.
"Kera raksasa sialan !" teriak kakek tua itu sambil melenting ke atas dan langsung menyerang kera raksasa dengan serangkaian pukulan dan tendangan.
Merasakan getaran tenaga dalam lawannya yang kali ini memiliki kekuatan yang tinggi, kera raksasa itu menghadap ke arah kakek tua yang menyerangnya. Kedua kepalan tangan kanannya yang terlihat sangat besar, menyambut datangnya pukulan kakek tua yang baru datang itu. Benturan pukulan itu menimbulkan suara yang cukup keras.
Plakkk ! Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !
Blarrr !
Sesaat setelah suara ledakan itu, terlihat tubuh kakek tua itu terlempar ke belakang.
"Uhukkk ! Sepertinya dia salah satu pimpinan bangsa kera raksasa ! Tingkat kekuatannya berada di atasku !" gumam kakek tua itu sambil mengusap kedua sudut bibirnya dan kemudian berdiri lagi.
__ADS_1
"Kakek istirahat dulu, biar aku yang menghadapinya !" kata Puguh saat melihat kakek tua itu terluka.
Terlihat mimik muka lega di wajah kakek tua kepala suku, saat melihat Puguh membantu.
"Hati hati anak muda, tingkat kekuatan kera raksasa sialan itu sangat tinggi !" kata kakek tua kepala suku sambil agak mundur untuk memberi tempat pada Puguh.
Kemudian, dengan cepat Puguh berdiri di depan kera raksasa itu. Sementara kakek tua kepala suku itu terlihat melesat ke dalam perkampungan untuk melihat keadaan di dalam kampung.
Bersamaan dengan itu, seperti tidak peduli dengan bergantinya lawan, kera raksasa itu lansung melesat mendekat sambil melakukan serangan.
Melihat kera raksasa itu menyerang, Puguh memapakinya dengan pukulan juga sambil menambah aliran tenaga dalamnya.
Kembali terdengar suara ledakan yang lebih keras, saat terjadi benturan serangan mereka.
Packkk ! Packkk ! Packkk !
Dbammm !
Dalam benturan pukulan itu, terlihat tubuh kera raksasa terdorong ke belakang hingga dua langkah.
Kera raksasa itu terbelalak saat merasakan kedua lengannya bergetar dan dadanya sedikit sesak.
Namun hal itu tidak membuat kera raksasa itu takut. Justru, sambil meningkatkan lagi aliran tenaga dalamnya, kera raksasa itu kembali melesat menyerang lagi.
Akibatnya, kera raksasa itu beberapa kali terdorong mundur. Hingga akhirnya, saat Puguh sedikit menambah aliran tenaga dalamnya, kera raksasa itu terlempar hingga jatuh terduduk.
Dengan segera, kera raksasa itu kembali berdiri. Sambil mulutnya melakukan lengkingan keras.
"Tunggu saatnya pembalasan kami, manusia muda !" teriak kera raksasa itu sambil tubuhnya yang tinggi besar melenting ke atas, kemudian meluncur turun sambil melayangkan serangan beruntun ke arah Puguh.
Melihat kenekatan kera raksasa itu, Puguh pun menambah aliran tenaga dalamnya, dan kemudian menghadang datangnya serangan itu.
Panggg ! Panggg ! Panggg !
Daaammm !
Kali ini, tubuh kera raksasa itu terlempar ke belakang kemudian jatuh terhempas ke tanah dengan keras dan tidak bergerak lagi.
__ADS_1
__________ ◇ __________