
Mendapatkan laporan tentang keributan akan terjadinya kematian, kepala kampung mengajak beberapa orang laki laki yang biasanya membantu kepala kampung sebagai petugas keamanan, kepala kampung itu mendatangi laki laki tua yang dimaksudkan oleh orang orang yang melapor.
Kepala kampung dan orang orang pengikutnya itu segera mendekati dan mengepung laki laki tua itu.
Namun, keadaan fisik laki laki tua itu, membuat kepala kampung dan para laki laki penduduk kampung yang mengikutinya, meragukan berita yang telah mereka terima.
"Kakek, apakah kakek tahu, apa yang telah terjadi di tempat ini ?" tanya kepala kampung sambil mendekat ke arah laki laki tua itu.
Mendengar pertanyaan kepala kampung itu, laki laki tua itu hanya diam saja sambil menatap wajah kepala kampung.
Kemudian kepala kampung lebih mendekat lagi ke laki laki tua itu.
"Kakek ! Kakek bisa mendengar perkataanku ?" tanya lagi kepala kampung sambil memegang kedua bahu laki laki tua itu dengan kedua tangannya.
Laki laki tua itu tetap terdiam sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah kepala kampung yang memegang bahunya. Cumping hidungnya terlihat sedikit bergerak gerak seolah membaui sesuatu.
Sementara kepala kampung sejenak terkejut melihat sinar mata laki laki tua itu yang agak aneh dan sedikit menakutkan.
Kemudian, laki laki tua itu memegang kedua tangan kepala kampung yang masih di bahunya.
Tiba tiba, tubuh kepala kampung itu bergetar dengan keras. Nafasnya terasa berat dan tersengal sengal. Matanya melotot menatap laki laki tua itu.
"Kau ... ! Kau ... Bu ... kan manu ...," ucap kepala kampung itu dengan terbata bata dan tidak terselesaikan.
Karena seluruh tubuhnya lebih dahulu berubah menghitam dan kemudian terjatuh di dekat kaki laki laki tua itu. Kepala kampung itu tewas dengan kondisi yang mengenaskan. Dari tubuh menghitam kepala kampung itu keluar asap yang dengan cepat dihirup oleh laki laki tua itu.
Melihat semua kejadian itu, untuk beberapa saat para laki laki yang mengikuti kepala kampung itu terkejut. Namun kemudian ada satu warga kampung yang memberanikan diri dan kemudian berteriak.
"Orang tua itu penjahatnya ! Tangkap orang itu !" teriak warga kampung yang berani itu.
__ADS_1
Kemudian, dengan senjata seadanya, para warga kampung yang tadi mengikuti kepala kampung, bergerak mengepung.
Namun, para warga kampung itu belum sempat menyerang, saat tubuh laki laki tua itu mendekati para warga kampung yang mengepungnya dengan gerakan yang tidak bisa dilihat oleh mereka semua.
Tidak berapa lama, para warga kampung yang mengepung itu berjatuhan dan tewas dengan kondisi seluruh tubuhnya menghitam, tanpa sempat berteriak ataupun meminta tolong.
Bahkan para warga kampung yang menyaksikan dari jauh pun tidak bisa menghindar dan menjadi korban kekejian laki laki tua itu. Anak anak, wanita dan orang orang tua yang berada di sekitar tempat itu juga tidak luput menjadi sasaran.
Uniknya, dari setiap tubuh korbannya itu, selalu keluar asap yang dengan cepat dihirup oleh laki laki tua itu.
Akhirnya ketika hari beranjak siang menjelang sore, kampung itu menjadi sunyi senyap seperti kampung mati.
Kemudian, laki laki tua itu berjalan meninggalkan kampung itu untuk pergi menuju kampung yang lain.
Selama beberapa hari, kejadian itu terulang terjadi di kampung kampung berikutnya.
Pada hari hari berikutnya, berita tentang kematian beruntun akibat kekejian laki laki tua itu sampai ke kerajaan dan ke telinga para pendekar. Setelah beberapa warga kampung yang sedikit mengerti ilmu silat, bisa meloloskan diri dan melaporkan ke petugas kerajaan ataupun ke para pendekar. Hingga akhirnya, laki laki tua itu lebih dikenal dengan julukan Tangan Iblis karena kekejiannya.
Sampai beberapa waktu, para petugas kerajaan yang dikirim untuk menangkap laki laki tua itu ataupun para pendekar yang mencoba untuk menangkap atau melumpuhkan laki laki tua itu, tidak pernah ada yang berhasil, bahkan mereka semua juga menjadi korban keganasan laki laki tua itu.
----- \* -----
Pada waktu yang bersamaan, di tempat Puguh berlatih dan bersemedi, ada sesosok bayangan transparan tinggi besar yang terlihat gelisah dan terlihat tidak sabar menunggu, dan selalu menatap tempat Puguh berlatih dan bersemedi dari tempat yang cukup jauh. Karena sudah lima hari ini, Puguh melakukan semedi dan belum terlihat beniat mengakhiri semedinya.
"Ngger, Puguh ! Cepatlah kau dapatkan kekuatan itu !" kata sosok bayangan transparan tinggi besar itu dengan pelan.
Sosok bayangan transparan itu adalah kera raksasa yang mendapat tugas untuk menunggu dan melindungi Puguh secara diam diam, selama Puguh berlatih dan mengkonsumsi rmuan obat yang dia berikan.
Beberapa hari ini, kera raksasa itu selalu gelisah dan seperti tidak sabar, karena beberapa hari ini, kera raksasa itu mulai merasakan adanya getaran kekuatan iblis yang sangat tinggi tingkatnya. Kekuatan Iblis yang akan menghancurkan alam manusia dan memusnahkan manusia.
__ADS_1
Hingga pada tengah malam di hari ke lima, Puguh mulai merasakan seluruh badannya panas. Keringat memenuhi seluruh tubuhnya.
Terlihat, tubuh Puguh mulai bergetar dan semakin lama semakin kuat getarannya.
Pada saat Puguh hampir tidak kuat menahan semua itu, Puguh mulai merasakan ada lonjakan kekuatan di seluruh tubuhnya. Aliran tenaga dalamnya terasa semakin besar dan deras menyebar ke seluruh tubuhnya.
Puguh pun mulai berusaha mengendalikan dan menstabilkan kekuatan dan tenaga dalamnya, hingga tubuhnya terlihat bergetar hebat.
Saat Puguh sedang berusaha menguasai keadaan tubuhnya, kera raksasa yang menyaksikan latihan dan semedi Puguh itu justru merasa sangat senang dan juga was was.
Selain merasa senang karena melihat Puguh hampir berhasil dalam semedinya itu, kera raksasa itu juga dapat mendengar munculnya suara suara ledakan dari tubuh Puguh yang masih duduk bersila. Suara ledakan yang hanya sang kera raksasa, yang bisa mendengarnya.
Baaammm ! Baaammm ! Baaammm !
Dbaaammm !
Suara ledakan dari tubuh Puguh itu, sebenarnya, terbukanya simpul simpul syaraf dan peredaran darah Puguh.
Hingga menjelang dini hari, terlihat tubuh Puguh tidak lagi bergetar dan mengeluarkan keringat.
Puguh pun dengan perlahan menghentikan latihannya.
Sesaat Puguh terdiam, kemudian perlahan Puguh berusaha bangun dari duduk bersilanya.
Puguh berdiri dan kemudian menatap ke sekeliling tempatnya bersemedi.
Begitu mendapati, tidak ada seorangpun yang menunggunya, Puguh segera bergerak melesat ke arah kera raksasa yang selalu menunggunya.
Hanya dalam waktu yang singkat, Puguh dan kera raksasa itu sudah saling berhadapan.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_