Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Mengembara


__ADS_3

Setelah Puguh berada di samping gurunya terdengar suara yang bertanya pada gurunya.


"Siapa anak kecil itu, Ki Dwijo ?" tanya kakek tua yang tadi bertarung dengan Ki Dwijo, guru Puguh.


"He he he he ..... Ki Bhanujiwo, dialah muridku yang kuceritakan padamu kemaren, namanya Puguh," jawab Ki Dwijo sambil terkekeh.


Tiba tiba Ki Bhanujiwo melesat ke arah Puguh dan jari telunjuk kanannya mengarah ke ubun ubun Puguh hingga menimbulkan suara berkesiutan.


Mendengar suara kesiutan dan gerakan yang mengancam ubun ubunnya, secara reflek Puguh menghindar dengan menggeser tubuhnya ke samping, sehingga ketokan jari Ki Bhanujiwo hanya lewat di sampingnya.


"Bagus !"


Terdengar suara Ki Bhanujiwo. Saat Puguh melihat, ternyata Ki Bhanujiwo sudah berada di tempatnya tadi.


"Ngger Puguh, dia Ki Bhanujiwo sahabat guru. Kamu bisa memanggilnya paman guru," kata Ki Dwijo sambil mengusap usap kepala Puguh.


Puguh pun mendekat dan membungkukkan badannya di depan Ki Bhanujiwo.


"Ha ha ha ha .... mimpi apa gurumu itu, bisa mendapatkan murid sepertimu !" kata Ki Bhanujiwo sambil mengelus kepala Puguh.


Kemudian mereka berbincang bincang di pinggir dataran yang menyerupai tanah lapang itu.


"Ki Dwijo, apa rencanamu selanjutnya ? Kau akan pulang ke kampung halamanmu ?" tanya Ki Bhanujiwo.


"Tidak Ki, aku tidak akan pulang. Aku akan tetap mengikuti kemanapun langkah kakiku membawa tubuh ini," jawab Ki Dwijo.


"Terserah kamu sajalah. Yang jelas, tempat ini selalu terbuka lebar buatmu dan muridmu," kata Ki Bhanujiwo.


"Terimakasih Ki Bhanujiwo," jawab Ki Dwijo.


Mereka berjalan menyusuri pinggir tebing. Beberapa saat kemudian mereka sampai di ujung tanah lapang yang dekat dengan tebing yang menjulang cukup tinggi. Ternyata di sana berdiri sebuah gubuk yang sudah tampak reot. Gubuk itulah tempat tinggal Ki Bhanujiwo. Agak jauh di sebelah gubuk itu, ada sungai kecil mengalir yang airnya berasal dari celah retakan tebing.


"Ngger Puguh, bisa kau ambilkan air minum di sungai sana ?" tanya Ki Bhanujiwo pada Puguh.

__ADS_1


"Bisa paman," jawab Puguh sambil beranjak ke arah belakang gubuk, untuk mencari tempat untuk membawa air.


Sementara itu, Ki Dwijo dan Ki Bhanujiwo melanjutkan bercerita.


"Sudah berapa lama kau latih muridmu itu Ki Dwijo ?" tanya Ki Bhanujiwo.


"Aku belum melatihnya. Aku baru membukakan simpul simpul syaraf dan pembuluh darahnya," jawab Ki Dwijo.


Mendengar jawaban Ki Dwijo, Ki Bhanujiwo mengernyitkan keningnya merasa heran.


"Jangankan kamu Ki Bhanujiwo, aku yang menemukan dia pertama kali pun juga heran, dari mana anak itu mendapatkan kekuatannya," sambung Ki Dwijo menjawab keheranan Ki Bhanujiwo.


Setelah mereka mengobrol cukup lama, akhirnya Ki Dwijo dan Puguh kembali ke tempat mereka, tikungan sungai yang di dekatnya tumbuh satu pohon besar.


----- ° -----


Hari demi hari, Puguh lalui dibawah bimbingan Ki Dwijo gurunya. Pada awalnya, Puguh hanya diajari menyempurnakan ilmunya yang dia dapatkan dari Padepokan Macan Kumbang yaitu ilmu 'Cakar Harimau'.


Di bawah bimbingan Ki Dwijo yang pada masa mudanya terkenal dengan julukan Pendekar Tangan Seribu, ilmu 'Cakar Harimau' yang dikuasai oleh Puguh menjadi berkali lipat kecepatan, kekuatan dan keampuhannya.


Ki Dwijo baru mematangkan ilmu yang sudah dikuasai oleh Puguh, dan belum mengajarkan ilmunya. Karena ilmu 'Bantala Wreksa' membutuhkan kekuatan atau tenaga dalam yang sangat besar. Sedangkan usia Puguh masih kecil dan belum mampu untuk berlatih ilmu 'Bantala Wreksa'.


Namun Puguh sangat cepat memahami semua yang diajarkan oleh Ki Dwijo gurunya.


Terkadang Ki Dwijo mengajak Puguh untuk berlatih di tempat lain, seperti di pinggir sungai. Tetapi kadang juga di dalam arus sungai yang deras.


Tanpa terasa, sudah berjalan sekitar enam bulan, Puguh menjadi murid Ki Dwijo. Banyak sekali yang berubah pada diri Puguh. Selain badannya yang cukup tinggi dan tegap untuk anak seumuran delapan tahun seperti dirinya, otot ototnya pun sudah mulai terbentuk, walau badannya tetap sedikit kurus.


Walaupun Puguh tidak pernah mengeluh dan mengatakannya, Ki Dwijo tahu, Puguh butuh teman atau bertemu orang lain selain dirinya sebagai gurunya.


Maka Ki Dwijo berencana mengajak Puguh mengembara, untuk menambah pengalaman dan mengasah ilmu yang telah dilatihnya.


----- ° -----

__ADS_1


Pada suatu pagi, Ki Dwijo mengajak Puguh untuk berkemas, karena mereka hendak ke kota kadipaten, untuk melihat keramaian.


Kebetulan di sana akan diadakan suatu pertandingan beladiri yang diadakan setiap dua tahun sekali.


Niatan Ki Dwijo, minimal Puguh bisa melihat keramaian. Sukur sukur Puguh ada peluang untuk bisa ikut mendaftar pertandingan.


Keluar dari tempat mereka, melewati sungai, perbukitan dan hutan, mereka menggunakan ilmu berlari cepat mereka. Walaupun tingkatnya belum seperti gurunya, namun dengan tehnik ilmu meringankan tubuh yang dia pelajari di ruangan dalam batang pohon dulu dan dipelajari lagi dengan bimbingan gurunya membuat Puguh tidak terlalu ketinggalan oleh gurunya.


Tanpa Puguh sadari, gurunya juga penasaran dengan tehnik yang dia miliki. Gurunya bahkan memperkirakan, jika Puguh sudah memiliki tenaga dalam pada tingkat tertentu, dengan menggunakan tehnik meringankan tubuh yang dia miliki, memungkinan besar Puguh akan bisa menyamai gurunya, bahkan mungkin bisa melampauinya.


Tidak sampai setengah hari, mereka berdua sampai di pinggir suatu kampung yang cukup padat penduduknya. Mereka menghentikan lari mereka dan langsung memasuki kampung dengan berjalan kaki.


Ketika mulai bertemu dengan beberapa pejalan kaki, mereka berdua baru menyadari ternyata baju mereka berdua sudah terlihat lusuh dan jelek.


Ki Dwijo pun berniat membeli beberapa stel pakaian untuk mereka berdua.


Setelah mencari cari toko, akhirnya mereka berdua mendapatkan beberapa stel pakaian yang cukup bagus walaupun harganya murah.


Setelah berganti pakaian, Ki Dwijo dan Puguh berjalan kaki menelusuri jalan jalan di kampung itu.


Ki Dwijo sengaja melewati jalan jalan di kampung untuk mencari dan mendengarkan berita berita. Terutama tentang akan diadakannya pertandingan bela diri.


Saat mereka berdua sampai di perempatan jalan menuju kampung lain, Ki Dwijo mengajak Puguh untuk beristirahat di salah satu sudut perempatan yang ada pohonnya yang cukup besar. Sambil berteduh dan beristirahat, mereka melihat lihat ke jalan.


Tiba tiba Ki Dwijo berkata pelan pada Puguh.


"Ngger Puguh, coba kamu tengok dan mendekat ke jalan. Akan ada yang lewat perempatan itu sebentar lagi, dari arah belakang kita. Sepertinya rombongan besar. Cari tahu, siapa mereka," kata Ki Dwijo.


"Baik guru," jawab Puguh tanpa bertanya lagi, walau hatinya sedikit heran. Dia juga punya pendengaran yang tajam, namun sampai saat ini belum mendengar hal yang mencurigakan.


Tapi Puguh yakin, gurunya jauh lebih sakti dari dirinya. Mungkin gurunya sudah mendengar suara walaupun masih jauh.


Puguh pun berdiri di tepi jalan, menunggu datangnya suatu rombongan besar seperti yang dikatakan oleh gurunya.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2