Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menghadapi Serigala Mata Biru


__ADS_3

Puguh dan Rengganis terus meloncat dan menyelinap diantara tubuh tubuh sangat besar serigala mata biru, sambil melakukan tendangan dan pukulan pada serigala mata biru yang terdekat.


Pack pack ! Pack pack packkk !


Bughhh ! Bughhh !


Tetapi kali ini, karena kekuatan masing masing serigala mata biru itu lebih tinggi dari yang sudah dilumpuhkan oleh Rengganis, membuat binatang binatang itu tidak langsung roboh dengan sekali pukulan.


Setelah menerima beberapa kali pukulan pada kepalanya, barulah serigala mata biru itu terjatuh ke tanah dsn pingsan.


Karena begitu banyaknya serigala mata biru yang menyerang secara serentak, membuat posisi Rengganis tanpa disadarinya menjauh dari Puguh.


Sambil berloncatan menghindar, indera penciuman Rengganis merasakan aroma khas pepohonan. Telinganya mendengar desiran gerak daun daun, ranting dan cabang pepohonan di sekitarnya. Seluruh permukaan kulitnya mulai bereaksi dengan adanya pohon pohon itu.


"Hebat ! Dinding jurang ini begitu tinggi dan panjang hingga ditumbuhi pohon pohon yang cukup besar !" kata Rengganis dalam hati.


Kemudian, sambil melayang menghindari terkaman para serigala mata biru dan membalas serangan dengan pukulan ataupun tendangan, Rengganis perlahan mengarahkan pertarungannya ke dinding jurang yang dipenuhi oleh pohon pohon yang cukup besar.


Perlahan Rengganis mulai mengubah cara bernafasnya. Dengan menggunakan tehnik bernafas dan tehnik penyerapan kekuatan tumbuhan untuk digabungkan dengan tenaga dalamnya, membuat Rengganis tidak akan kehabisan tenaga dalam.


"Akan kucoba Ilmu Sara Jiwana yang diberikan Ibu Pohon dengan menggunakan selendang, sekalian mencoba hasil latihanku !" gumam Rengganis.


Dengan cepat, Rengganis melolos empat selendang yang melilit di pinggangnya.


Kemudian, dengan gerakan yang sedikit lebih lamban, Rengganis mulai menggunakan Ilmu Sara Jiwana. Keempat selendangnya meliuk liuk di sekitar tubuhnya, lalu seperti mempunyai mata, ujung selendang itu meluncur ke arah serigala mata biru yang mendekat.


Ctarrr ! Ctarrr ! Ctarrr !


Ilmu yang diberikan oleh Dyah Astari atau Ibu Pohon memang unik. Gerakannya yang sedikit lambat dengan gerakan selendang yang meliuk liuk, membuat setiap lawannya tertipu dengan apa yang dilihatnya.


Seperti halnya para serigala itu. Melihat gerakan manusia yang dikepungnya menjadi lambat, para serigala itu dengan cepat meloncat untuk menerkam.

__ADS_1


Namun, begitu bagian kepala para serigala mata biru itu mendekat, ujung selendang itu tiba tiba meliuk dengan sangat cepat mengarah ke bagian leher, dada ataupun keempat kaki para serigala mata biru itu.


Sementara para serigala mata biru itu, setiap terkena totokan ataupun tusukan ujung selendang beberapa kali di bagian leher ataupun dadanya dan salah satu kakinya terjerat selendang, membuat serigala itu terseret dan mengalami kesulitan bernafas hingga akhirnya jatuh pingsan.


Selama lima puluh jurus Rengganis memainkan jurus jurus Sara Jiwana, sudah puluhan serigala mata biru yang jatuh pingsan terkena serangannya.


Sementara itu di tempat yang berbeda, dengan menggunakan ilmu pukulan yang diajarkan oleh Ki Dwijo gurunya, Puguh memberondong dengan pukulan dan tendangan, setiap serigala mata biru yang mendekat.


Bughhh ! Bughhh !


Pack ! Pack ! Pack !


Setiap serigala mata biru yang terkena tiga atau empat pukulan atau tendangannya, akan langsung terjungkal dan tidak bangun lagi.


Pertarungan antara Puguh dan Rengganis melawan sekelompok serigala mata biru sudah berlangsung hingga dua ratus jurus. Sudah banyak serigala mata biru yang Puguh dan Rengganis jatuhkan. Tubuh tubuh serigala mata biru yang pingsan sudah banyak yang berserakan. Namun sepertinya pertarungan itu belum akan usai. Karena Puguh melihat masih banyak serigala mata biru yang menatap pertarungan dari kejauhan.


Tanpa terasa sudah selama setengah hari, Puguh dan Rengganis bertarung melawan banyak serigala mata biru.


Maka Rengganis terpikir untuk mencari cara lain untuk mempercepat selesainya pertarungan ini.


"Kakang Puguh cari saja serigala mata biru yang menjadi rajanya ! Yang disini biar aku yang menahannya !" kata Rengganis pelan namun terdengar jelas seperti dekat di telinga Puguh.


Mendengar perkataan Rengganis, Puguh menoleh dan mencoba melihat situasi pertarungan Rengganis. Terlihat olehnya, Rengganis sangat mampu menghadapi para serigala mata biru yang mengeroyoknya. Dengan empat ujung selendang yang selalu menghadang setiap serigala yang mendekat dan gerakan pepohonan di sekitarnya yang dia kendalikan, membuat Rengganis tidak terlalu banyak bergerak dan terlihat santai.


Kemudian, sambil melenting tinggi ke atas, Puguh mencoba melihat dan merasakan keberadaan raja serigala mata biru.


"Sayangnya aku tidak sempat tahu, dari mana arah datangnya serigala serigala itu !" kata Puguh dalam hati.


"Kakang belum tahu, dari arah mana mereka datang !" kata Puguh menjawab ucapan Rengganis.


"Mungkin kita harus melumpuhkan mereka semua dahulu, agar raja serigala bisa segera muncul !" kata Rengganis.

__ADS_1


Kemudian Rengganis kembali menambah ketinggian melayangnya sehingga semakin menjauh dari Puguh.


Lalu Rengganis menambah aliran tenaga dalam dan juga kecepatannya. Kedua tangannya bergerak mengendalikan keempat selendang dan juga pohon pohon yang lebih besar lagi. Bahkan akar akar yang menjuntai di permukaan dinding jurang juga ikut bergerak menjerat kaki serigala yang mendekat. Selain itu, gerakan ujung ujung selendangnya menjadi lebih cepat lagi. Hingga beberapa saat kemudian, semakin banyak serigala mata biru yang berjatuhan setelah kakinya terjerat akar akar pohon ataupun tubuhnya tertahan dahan dahan pohon untuk sementara, kemudian terkena hantaman ujung selendang di leher, tengkuk ataupun dadanya.


Sementara itu di dasar jurang, Puguh juga menambah aliran trnaga dalamnya hingga gerakannya pun menjadi bertambah cepat.


Puluhan bahkan mungkin sudah ratusan kali pukulan dan tendangannya mengenai sasaran yang dia tuju.


Plak ! Plak ! Plak ! Plak !


Bughhh ! Bughhh ! Bughhh !


Walaupun semakin bertambah banyak serigala mata biru yang berjatuhan, tetapi Puguh dan Rengganis juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menjatuhkan setiap ekornya. Karena, serigala mata biru yang mendekat, memiliki kekuatan dan daya tahan terhadap pukulan yang lebih tinggi lagi.


Dalam sehari, dasar jurang sudah dipenuhi oleh tubuh serigala mata biru yang pingsan ataupun yang tidak bisa bergerak karena terkena totokan.


Tanpa terasa waktu memasuki petang hari. Tiba tiba terdengar lolongan yang keras dan sangat panjang. Selain itu, lolongan itu juga mengandung getaran kekuatan yang sangat tinggi dan bersifat menekan.


'Aaauuuuwww .... !"


"Pertunjukan kekuatan yang sangat besar melalui getaran suara !" gumam Puguh.


"Kakang Puguh ! Mungkin itu rajanya serigala mata biru !" teriak Rengganis.


"Baiklah adik Rengganis. Yang disini aku serahkan semuanya padamu !" teriak Puguh.


Sejenak kemudian, tubuh Puguh melesat menyusuri dasar jurang ke arah datangnya suara lolongan.


Namun beberapa serigala mata biru yang tadi mengepung dan penyerangnya, ikut melesat mengejar Puguh, seolah tidak ingin kehilangan mangsanya.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2