
Puguh mendengarkan dan memperhatikan semua yang dikisahkan oleh Ki Bhanujiwo sampai selesai. Kemudian secara sekilas, Puguh memperhatikan sekelilingnya.
"Maaf Ki Bhanujiwo, kenapa Ki Bhanujiwo tidak berusaha melarikan diri dari tempat ini ?" Puguh memberanikan diri bertanya.
"Sudah aku coba beberapa kali. Namun, setiap kami mengeluarkan tenaga dalam melebihi tenaga dalam yang dibutuhkan untuk meracik dan memasak ramuan obat, kami merasakan nyeri pada luka kami dan kemudian memuntahkan darah segar," jawab Ki Bhanujiwo.
"Ki Bhanujiwo sudah mencoba bersemedi untuk meringankan dan mengobati luka dalam itu ?" tanya Puguh.
"Setiap kami bersemedi dan mencoba mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh, setelah beberapa saat, aliran tenaga dalam kami menjadi kacau, sehingga menambah rasa sakit yang kami derita. Sepertinya ada aliran tenaga dalam lain yang masuk ke tubuh kami," kata Ki Bhanujiwo menjelaskan.
"Ki Bhanujiwo sudah pernah mencari tahu, kira kira apa penyebabnya ?" tanya Puguh lagi.
"Secara persisnya kami kurang tahu. Tetapi kemungkinan karena luka dalam kami atau tempat ini dilapisi dan dilindungi tabir yang dibuat dengan tenaga dalam yang sangat tinggi," jawab Ki Bhanujiwo.
"Bolehkah saya mencoba memeriksa luka Ki Bhanujiwo ?" tanya Puguh.
Ki Bhanujiwo pun mempersilahkan Puguh bahkan berharap Puguh bisa memnyembuhkan dan memulihkan kondisi mereka berdua.
Dalam posisi Ki Bhanujiwo duduk bersila dan Puguh juga bersila di belakangnya, Puguh memeriksa keadaan dan luka dalam Ki Bhanujiwo dengan mengalirkan tenaga dalamnya ke punggung, pundak dan tengkuk Ki Bhanujiwo.
Selama mengobati Ki Bhanujiwo, Puguh merasakan, sebenarnya luka dalam Ki Bhanujiwo tidak terlalu berat. Dalam keadaan normal, seharusnya Ki Bhanujiwo bisa menyembuhkan diri sendiri dengan aliran tenaga dalamnya.
Setelah beberapa waktu, Puguh menambah aliran tenaga dalamnya, agar tenaga dalam Ki Bhanujiwo bisa secepatnya pulih.
Saat aliran tenaga dalam yang cukup besar keluar dari kedua telapak tangan Puguh, tiba tiba Puguh merasakan ada yang menarik tenaga dalamnya kebawah ke arah lantai. Puguh juga merasakan ada sesuatu yang menekan pundaknya sehingga tubuhnya terasa berat.
Puguh pun segera menambah lagi jumlah tenaga dalam yang dia keluarkan. Tekanan di kedua pundaknya dan tarikan lantai sekitar tempat dia duduk semakin bertambah kuat.
Merasa penasaran akan hal itu, Puguh kembali meningkatkan aliran tenaga dalamnya.
__ADS_1
Tubuh Ki Bhanujiwo terlihat sedikit bergetar, saat aliran tenaga dalam yang cukup besar membanjir dari kedua telapak tangan Puguh.
"A ... nak ini, ... tenaga da ...lam ..nya, sangat luar biasa !" kata Ki Bhanujiwo dalam hati.
Ki Bhanujiwo hanya merasakan betapa tenaga dalam yang mengalir dari kedua telapak tangan Puguh semakin lama semakin besar.
Namun tanpa Ki Bhanujiwo mengetahui, Puguh sedang berusaha melawan suatu tenaga yang mendorong dan menariknya ke arah lantai. Untuk menahan suatu tenaga yang menekannya itu, Puguh harus meningkatkan lagi aliran tenaga dalamnya hingga ke tingkat yang tinggi. Saat itulah, Puguh sekilas melihat sebentuk asap hitam yang keluar dari empat dinding ruangan pembuatan ramuan obat yang bergerak ke arah tubuhnya. Puguh juga merasakan, lantai ruangan itu yang tiba tiba penuh dengan asap hitam.
Sebentuk asap hitam yang keluar dari dinding itu menekan berusaha masuk ke dalam tubuhnya. Namun, asap hitam yang memenuhi lantai itu berusaha menarik dan menyerap tenaga dalam Puguh.
"Jadi kekuatan ini yang membentuk tabir dan menyelimuti ruangan ini dan mungkin juga menyelimuti ruangan gudang perpustakaan. Tabir yang juga menghubungkan ruangan gudang perpustakaan dengan ruangan pembuatan ramuan obat, dengan sebentuk pintu hitamnya. Mungkin kekuatan tabir ini juga yang menahan tenaga dalam Ki Bhanujiwo dan Den Roro !" kata Puguh dalam hati.
Kemudian perlahan lahan, tubuh Puguh mulai bergetar dan peluh mulai memenuhi wajah dan tubuhnya.
Getaran tubuh Puguh yang mengeluarkan aliran tenaga dalam itu membuat tubuh Ki Bhanujiwo terdorong dan terpental ke depan hingga jatuh tertelungkup. Den Roro yang melihat tubuh Ki Bhanujiwo terjatuh, segera menolongnya dengan membuatnya terduduk. Namun Ki Bhanujiwo segera memuntahkan sarah hitam beberapa kali dan kemudian jatuh tidak sadarkan diri.
Asap hitam yang bergerak ke arah tubuh Puguh pun semakin bertambah pekat. Membuat tubuh Puguh yang bergetar hebat dalam posisi duduk bersila, kadang terlihat kadang tertutup sepenuhnya oleh asap hitam itu.
Setelah selama beberapa waktu berlalu, di sela sela asap hitam yang menutupi tubuh Puguh, terlihat muncul pendaran sinar hijau.
Pendaran sinar hijau itu semakin lama semakin membesar dan terang sehingga mulai mengimbangi pekatnya asap hitam. Saat itulah terlihat, pendaran sinar hijau terang itu ternyata keluar dari tubuh Puguh.
Pendaran sinar hijau yang sangat terang itu sepertinya menyerap asap hitam pekat itu, sehingga terlihat, asap hitam itu bergerak cepat membanjir dan akhirnya masuk ke dalam tubuh Puguh.
Beberapa saat kemudian, asap hitam yang keluar dari dinding ruangan itu habis tidak tersisa, terserap masuk ke tubuh Puguh bersamaan dengan meredupnya pendaran sinar hijau ywng kemudian kembali masuk ke tubuh Puguh. Tetapi, asap hitam yang memenuhi lantai ruangan itu, perlahan kembali masuk ke dalam lantai.
Tubuh Puguh sudah tidak bergetar lagi, tetapi seluruh tubuhnya terlihat penuh dengan keringat.
Puguh bangkit dari duduk bersilanya dan segera menghampiri Ki Bhanujiwo yang masih tergeletak dengan Den Roro yang duduk bersimpuh di sampingnya.
__ADS_1
Kemudian Puguh mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Ki Bhanujiwo dengan meletakkan telapak tangan kanannya di dada Ki Bhanujiwo.
Beberapa saat kemudian, Ki Bhanujiwo terbangun. Puguh pun menghentikan penyaluran tenaga dalamnya dan mendudukkan Ki Bhanujiwo.
Sementara itu, Ki Bhanujiwo yang tadinya pingsan, merasa seperti terbangun dari tidur yang nyenyak. Tubuhnya terasa sehat dan ringan. Nafasnyapun ringan dan tidak ada rasa nyeri lagi di dadanya. Bahkan Ki Bhanujiwo merasakan, tenaga dalamnya seperti penuh kembali.
"Ki Bhanujiwo, kita harus segera keluar dari sini dan pergi ke istana Pangeran Pandu. Di sana sudah ada guru," kata Puguh.
"Baiklah, aku juga tidak mau bekerja bagi orang orang itu !" jawab Ki Bhanujiwo.
"Sesampainya di istana Pangeran Pandu, tolong Ki Bhanujiwo segera mengobati luka dalam Den .... eh Roro," kata Puguh sambil menatap ke arah Den Roro.
Den Roro baru akan membuka mulutnya dan Ki Bhanujiwo belum menjawab, ketika telapak tangan kanan Puguh mengarah ke dinding.
Tiba tiba, di dinding itu terbentuk sebuah pintu berwarna hitam pekat.
"Mari kita segera keluar dari ruangan ini !" kata Puguh sambil menuntun Ki Bhanujiwo untuk berdiri dan berjalan ke arah pintu hitam itu dengan Den Roro mengikuti dari belakang.
Sesaat setelah melewati pintu hitam itu, Ki Bhanujiwo dan Den Roro tiba tiba sudah berada di depan gerbang dalam istana Pangeran Pandu.
Pada prajurit yang menjaga pintu gerbang dalam istana Pangeran Pandu, Ki Bhanujiwo mengatakan kalau ingin bertemu dengan Ki Dwijo.
Karena beberapa hari ini ada cukup banyak tokoh persilatan yang datang ke istana Pangeran Pandu dan ingin bertemu Ki Dwijo, tanpa banyak bertanya, prajurit itu segera mengantarkan Ki Bhanujiwo dan Den Roro masuk ke dalam istana Pangeran Pandu.
Sementara itu, Puguh tidak ikut berpindah ke istana Pangeran Pandu. Tubuh Puguh kembali berada di ruangan pembuatan ramuan obat. Keadaan di dalam ruangan pembuatan ramuan obat itu menjadi lebih terang.
Kemudian, dengan cepat Puguh kembali duduk bersila di lantai ruangan itu, untuk bersemedi memulihkan dan menstabilkan tubuh dan tenaga dalamnya.
__________ ◇ __________
__ADS_1