
Bersamaan dengan pertarungan Ki Dwijo dan Resi Wismaya yang melawan Mahawiku Nuraga. Begitu siluman serigala mata biru berhasil di keluarkan dari tubuh Rengganis, Bantala Yaksa segera melesat ke arah Rengganis yang dalam sejenak mengalami lemas tubuhnya.
Dengan cepat Bantala Yaksa mengikat tubuh lemas Rengganis dengan cambuk yang terbuat dari akar kayu hitam.
Melihat hal itu, Dewi Laksita, Putri Cinde Puspita dan Iswara Dhatu segera melesat ke arah Bantala Yaksa.
"Lepaskan gadis itu !" teriak Dewi Laksita.
Namun, sebelum mereka bisa mendekati Bantala Yaksa, dua puluh orang anggota utama Padepokan Wukir Candrasa yang masing masing memiliki tingkat kekuatan tinggi segera menghadang.
Dua puluh orang bersenjata golok itu segera mengepung dan menyerang mereka bertiga.
"Buat barisan pelindung dan lepaskan panah api ke udara !" teriak Bantala Yaksa.
Sesaat setelah teriakan itu, ratusan anggota Padepokan Wukir Candrasa yang lainnya, segera mengepung dan sebagian membuat barisan yang melindungi pemimpin baru mereka Bantala Yaksa.
Selain itu, dari bangunan yang masuk deretan belakang Padepokan Wukir Candrasa, melesat keluar puluhan pendekar yang memiliki getaran kekuatan tinggi. Mereka semua masuk ke dalam pertarungan, setelah melihat tanda panah api dìlepaskan. Para pendekar yang sengaja diundang oleh Bantala Yaksa atas saran dari Mahawiku Nuraga itu segera bergabung dengan para anggota utama Padepokan Wukir Candrasa.
Kepungan banyak orang itu membuat Dewi Laksita, Iswara Dhatu dan Putri Cinde Puspita, untuk sementara waktu merasakan kerepotan.
Dalam hiruk pikuk pertarungan itu, diam diam tanpa diketahui oleh semua orang, Bantala Yaksa dengan membawa tubuh Rengganis yang masih lemas, menyelinap ke arah halaman belakang menuju ke bangunan pribadi yang dulu dipakai sebagai tempat latihan ayahnya. Bangunan yang cukup besar itu hanya terdiri dari tiga ruangan, yaitu kamar tidur yang cukup besar, ruang yang digunakan untuk kurungan dan ruang tengah yang luas untuk latihan.
Sesampai di bangunan itu, Bantala Yaksa meletakkan tubuh Rengganis di kamar tidur. Kemudian Bantala Yaksa duduk di kursi yang menghadap ke tempat tidur, tempat Rengganis terbaring diam.
Rengganis yang sejak tadi berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, perlahan mulai bisa menyadari keadaannya.
Dalam terbaring diamnya dan dalam keadaan mata tertutup, Rengganis sebenarnya merasa terkejut, saat mencoba mengeluarkan tenaga dalamnya, ternyata tenaga dalamnya tidak ada sama sekali.
Perlahan Rengganis membuka kedua matanya. Lalu dengan memutar matanya perlahan, Rengganis mengetahui, dirinya terbaring di sebuah kamar yang cukup besar.
Rengganis kembali merasa terkejut, saat melihat ada sesosok laki laki yang duduk di kursi dan menghadap ke arahnya. Dan Rengganis bertambah terkejut saat melihat pakaiannya compang camping, kotor terkena noda darah dan debu, serta banyak sekali sobek
Namun, dalam keadaan yang seperti itu, Rengganis belum bisa mengeluarkan tenaganya.
__ADS_1
Sementara itu, melihat Rengganis sudah sadar, Bantala Yaksa berdiri dan mendekat beberapa langkah ke tempat Rengganis berbaring.
"Nona, kau sudah sadar ?" tanya Bantala Yaksa.
Mendengar pertanyaan itu, Rengganis menggeser matanya pelan ke arah Bantala Yaksa berdiri.
"Aku akan bertanya pada nona, tolong dijawab karena waktu kita sempit !" sambung Bantala Yaksa, "Sejak pertama kita bertemu, aku sudah jatuh cinta pada nona. Maukah nona menjadi istriku ?"
Rengganis sangat terkejut, mendengar pertanyaan yang tidak diperkirakan sebelumnya itu.
"Kau sudah gila !" ucap Rengganis pelan.
"Maaf, waktuku tidak banyak. Pilihanmu ada dua, kau bersedia dengan sukarela atau aku harus memaksamu untuk bersedia !" sahut Bantala Yaksa.
Rengganis merasakan ada bahaya yang mengancamnya. Tetapi, dia belum bisa apa apa. Tubuhnya masih lemas, walaupun sudah bisa menggerakkan tubuhnya, namun tenaga dalamnya sangat sedikit.
"Beri aku waktu untuk berpikir sebentar," jawab Rengganis.
"Aku beri waktu kau sebentar !" kata Bantala Yaksa sambil tersenyum senang, karena yakin bisa memperistri perempuan cantik di depannya itu.
"Baiklah ! Tapi ingat, kau tidak bisa lari, karena tempat ini sudah aku lindungi dengan kekuatan tenaga dalamku !" jawab Bantala Yaksa sambil kemudian melangkah pelan.
"Aku suka bau wangi bunga. Bisakah kau menyediakan tanaman bunga di kamar ini ?"' tanya Rengganis.
Mendengar perkataan Rengganis, Bantala Yaksa tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Akan aku sediakan apapun yang kau minta !" jawab Bantala Yaksa.
Dengan cepat Bantala Yaksa mengambil beberapa tanaman bunga yang ditanam di dalam pot pot besar yang terbuat dari gerabah, kemudian ditata berderet didekat dinding kamar. Setelah itu keluar lagi dari kamar dan memperkuat lagi selubung yang mengurung kamar itu dengan tenaga dalamnya.
_____ * _____
Di halaman tengah komplek bangunan Padepokan Wukir Kencana, pertarungan antara Mahawiku Nuraga melawan Resi Wismaya dan Ki Dwijo berjalan dengan keras.
__ADS_1
Setelah berkali kali tubuhnya terpental setiap berbenturan serangan dengan Mahawiku Nuraga, Resi Wismaya dan Ki Dwijo, mulai mengatur kerjasamanya. Mereka berusaha mengurangi benturan serangan dengan menghindar.
Namun seakan tidak ingin melepaskan lawannya, Mahawiku Nuraga meningkatkan lagi aliran tenaga dalam dan kecepatannya.
Tongkatnya berkali kali menghantam ke arah tubuh Resi Wismaya dan Ki Dwijo. Terkadang diputar dengan sangat kencang dan mengarah ke kepala Ki Dwijo dan Resi Wismaya.
Peningkatan kekuatan dan tenaga dalam yang pesat dari Mahawiku Nuraga, membuat Ki Dwijo dan Resi Wismaya tidak bisa menghindar terus, hingga akhirnya terpaksa harus menangkis. Hal itu membuat Ki Dwijo dan Resi Wismaya kembali berkali kali terpental tubuhnya, setiap berbenturan senjata.
Bersamaan dengan itu, Iswara Dhatu, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita harus menghadapi kepungan lebih dari lima puluh orang.
Walaupun sudah bisa mengurangi jumlah lawannya, namun tetap belum bisa membuat mereka bertiga menguasai keadaan.
Tanpa terasa, pertarungan sudah berlangsung hampir seratus jurus. Benturan senjata, benturan pukulan, jeritan kesakitan dan teriakan kemarahan mewarnai sepanjang jalannya pertarungan.
Di tengah tengah hiruk pikuk pertarungan itu, tiba tiba datang serombongan perempuan berpakaian ringkas berwarna serba putih berjumlah sekitar dua puluh orang, dipimpin oleh Kartika Dhatu dan langsung bergabung masuk ke dalam pertarungan.
Masuknya Kartika Dhatu dan rombongannya ke dalam pertarungan itu, langsung merubah jalannya pertarungan.
Walaupun hanya berjumlah dua puluhan, sebagai anggota inti Trah Keluarga Asmara Dhatu yang memiliki kekuatan dan tenaga dalam tingkatan hampir sangat tinggi, mereka tetap mampu mengimbangi lawannya yang berjumlah lebih banyak.
Dengan keadaan yang sekarang bisa dikatakan menguasai keadaan, Iswara Dhatu sempat memperhatikan jalannya pertarungan Ki Dwijo dan Resi Wismaya melawan Mahawiku Nuraga.
Melihat kedua sahabatnya yang sepertinya agak terdesak, Iswara Dhatu segera menggeser posisi bertarungnya mendekati Dewi Laksita.
"Dewi Laksita ! Pengawasan anak anak semua, aku serahkan kepadamu ! Aku akan membantu Ki Dwijo dan Resi Wismaya !" teriak Iswara Dhatu sambil menyibak beberapa lawan yang menghadang di depannya.
"Percayakan padaku, Iswara Dhatu !" jawab Dewi Laksita.
Kemudian, tanpa membuang waktu lagi, Iswara Dhatu melenting agak tinggi lalu melesat ke arah pertarungan Ki Dwijo dan Resi Wismaya.
Melihat Iswara Dhatu masuk ke pertarungan mereka, cukup membuat Ki Dwijo dan Resi Wismaya bisa bernafas agak lega.
"Ki Dwijo ! Resi Wismaya ! Kita harus segera menghentikannya, sebelum tubuhnya berubah lebih mengerikan lagi !" kata Iswara Dhatu.
__ADS_1
Mendengar perkataan Iswara Dhatu, Ki Dwijo dan Resi Wismaya segera berpencar hìngga membuat kepungan dari tiga arah.
__________ ◇ __________