Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Trah Naga


__ADS_3

"Jadi ilmu kesaktian peninggalan Pendekar Penunggang Elang sudah diketemukan dan sudah ada yang mewarisinya ? Dia akan menjadi penghalang terbesar, berjalannya rencana ini ! Kalau begitu, kita harus segera menemukan senjata pedang itu !" gumam Ki Naga Besar pelan.


"Ki Naga Hitam ! Bagaimana hasil penyelidikanmu ? Dimana kiranya senjata pedang itu disembunyikan ?" tanya Ki Naga Besar.


"Di Kerajaan Kisma Pura yang aku susupi, aku belum bisa memastikannya. Tetapi ada beberapa tempat yang aku curigai sebagai tempat menyembunyikan senjata pedang itu, namun belum sempat aku periksa semuanya. Karena di luar perkiraan dan kendaliku, Pangeran Langit Barat dan pasukan perangnya datang lebih awal dan langsung melakukan penyerangan. Entah kenapa, Ki Naga Kecil tidak bisa mengendalikan Pangeran Langit Barat. Malah justru, bersama Pangeran Langit Barat, Ki Naga Kecil memasuki Hutan Perbatasan dan mengambil semua siluman binatang yang berada di dalam hutan itu ! " jawab Ki Naga Hitam sekalian menjelaskan.


"Dimana tempat yang kau perkirakan sebagai tempat menyembunyikan senjata pedang itu, Ki Naga Hitam ?" tanya Ki Naga Besar.


"Kemungkinan, kalau tidak disimpan di dalam Istana Kerajaan Kisma Pura, bisa jadi disembunyikan di Gunung Pedang atau di Perbukitan tempat Trah Keluarga Asmara Dhatu atau di Rawa Jingga !" jawab Ki Naga Hitam.


"Baiklah ! Kita tunggu berita terjadinya perseteruan para pendekar dengan pasukan Kerajaan Kisma Pura ! Tiga hari lagi, kita keluar untuk mencari senjata pedang itu ! Karena, hanya senjata pedang itu, yang dulu mampu menembus pertahanan Pendekar Penunggang Elang dan melukainya !" kata Ki Naga Besar.


"Sekarang kau beristirahatlah ! Kekuatanmu sangat dibutuhkan !" sambung Ki Naga Besar.


"Tidak Ki Naga Besar ! Aku akan kembali menyusup ke Istana Kerajaan untuk menyaksikan pertikaian pihak kerajaan dengan para pendekar ! Dan akan segera kucari senjata pedang itu !" jawab Ki Naga Hitam.


Kemudian, Ki Naga Besar dan Ki Naga Hitam naik kembali ke permukaan, hingga keadaan air lautan berangsur angsur menjadi tenang kembali dan cuaca pun kembali cerah.


Sesampai di permukaan, Ki Naga Besar terkejut dan segera menatap ke arah Ki Naga Hitam.


"Ki Naga Hitam ! Kurasakan ada tiga getaran kekuatan yang sangat besar sedang menuju kemari ! Segeralah pergi ! Usahakan kepergianmu tidak mereka ketahui !" kata Ki Naga Besar.


"Baiklah Ki Naga Besar !" sahut Ki Naga Hitam yang langsung melesat melayang, mengambil jalan memutar.


     ----- * -----


Tidak jauh dari pantai tempat pasukan perang Kerajaan Menara Langit mendarat. Tiga bayangan tubuh melesat dengan sangat cepat di udara, menuju ke arah pesisir.


"Kakang Puguh ! Getaran kekuatan sangat besar yang tadi kita rasakan berasal dari arah pantai, sudah tidak terasa lagi !" kata salah satu sosok itu.


"Benar adik Rengganis ! Bahkan awan badai yang tadi terlihat pun menghilang dengan tiba tiba !" jawab Puguh sambil terus melesat melayang. Di belakangnya terlihat Pangeran Indra Prana yang ikut melayang karena terhubung dengan kekuatan tenaga dalamnya.


"Sepertinya, baru ada pertarungan, atau ada seseorang dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat besar, di pantai di depan kita !" sahut Kartika Dhatu.


"Adik Rengganis ! Adik Kartika Dhatu ! Kita langsung menuju pantai ! Tetap hati hati ! Jangan terlalu jauh dari kakang !" ucap Puguh sambil menambah kecepatannya.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian, Puguh, Rengganis dan Kartika Dhatu tiba di tepi pantai. Mereka menyaksikan keadaan pantai yang porak poranda seperti baru saja terkena badai.


"Cuaca cerah, tetapi tiba tiba ada badai ? Dan tiba tiba badai itu menghilang ?" gumam Puguh, "Ini bukan karena alam ! Hati hati ! Kurasakan, ada seseorang yang begitu besar kekuatannya, yang sepertinya sedang menunggu kita !"


Baru saja Puguh selesai berbicara, tiba tiba dari arah lautan terdengar suara yang disertai dengan munculnya getaran kekuatan yang sangat besar.


"Hhaaahhh ! Ternyata hanya tiga anak muda yang masih ingusan !" kata Ki Naga Besar sambil melesat ke arah pantai.


Ki Naga Besar segera mendarat di pantai, di depan Puguh, Rengganis dan Kartika Dhatu yang juga baru saja turun ke daratan.


"Anak anak muda ! Pergilah dari tempat ini ! Atau kuhancurkan tubuh kalian !" kata Ki Naga Besar dengan suara serak.


"Pendekar Puguh ! Pakaian orang ini, sama dengan orang yang menjadi guruku !" bisik Pangeran Indra Prana yang berdiri agak di belakang Puguh.


Mendengar bisikan Pangeran Indra Prana, Puguh menganggukkan kepalanya.


"Orang tua ! Sepertinya kau ada hubungannya dengan Ki Naga Kecil !" kata Puguh sambil menatap tajam Ki Naga Besar.


"Anak muda ! Kau kenal Ki Naga Kecil ?" tanya Ki Naga Besar.


"Pergilah ! Pulanglah ke negeri kalian ! Kalian telah membuat kekeliruan, berani menyusup ke tanah Jawadwipa ini !" kata Puguh tidak menjawab pertanyaan Ki Naga Besar.


Tiba tiba, terjadi lonjakan getaran kekuatan dari dalam tubuh Ki Naga Besar, saat Ki Naga Besar mengeluarkan kekuatan tenaga dalam hingga cukup besar.


Melihat dan merasakan hal itu, Puguh segera meningkatkan kewaspadaannya dan mulai menyiapkan tenaga dalamnya.


"Pangeran Indra Prana ! Disini hanya ada satu getaran kekuatan, dan gurumu tidak ada di sini ! Kemana kira kira orang yang menjadi gurumu itu pergi ?" tanya Puguh sambil berbisik pada Pangeran Indra Prana.


"Apa mungkin guru sudah kembali ke istana kerajaan ?" gumam Pangeran Indra Prana menjawab pertanyaan Puguh.


"Pangeran Indra Prana ! Sejauh mana aku bisa mempercayaimu ?" tanya Puguh lagi.


"Pendekar Puguh ! Kau bisa mempercayaiku ! Nyawaku yang menjadi taruhannya !" jawab Pangeran Indra Prana.


"Baiklah Pangeran Indra Prana ! Kembalilah ke istana kerajaan sekarang juga! Hadanglah gurumu sebisa mungkin, bersama sama dengan para pendekar yang masih berada di sekitar istana kerajaan ! Karena, sepertinya ada sesuatu yang dicarinya !" kata Puguh lagi.

__ADS_1


"Tetapi, .... !" jawab Pangeran Indra Prana dengan perasaan ragu.


"Jangan khawatir Pangeran, kau tidak sendirian ! Pergilah !" sahut Puguh.


"Baiklah Pendekar Puguh !" jawab Pangeran Indra Prana.


Kemudian, tanpa menunggu lagi, Pangeran Indra Prana segera melesat ke arah Istana Kerajaan Kisma pura.


Sesaat setelah Pangeran Indra Prana melesat pergi, dengan cepat Puguh sedikit menoleh ke arah Kartika Dhatu.


"Adik Kartika Dhatu ! Tolong kau susul dan kau temani Pangeran Indra Prana ! Jika dia menunjukkan kalau ternyata dia pengkhianat, bunuh saja dia ! Hati hati jika bertemu dengan orang yang menjadi guru Pangeran Indra Prana !" kata Puguh cepat.


"Baiklah kakang ! Percayakan semua itu padaku !" jawab Kartika Dhatu singkat.


Tanpa membuang waktu lagi, Kartika Dhatu segera melesat ke arah Pangeran Indra Prana pergi.


Semuanya berlangsung dwngan cepat. Setelah memastikan Pangeran Indra Prana dan Kartika Dhatu pergi dengan aman dan tidak ada yang mengikutinya, Puguh sedikit lega dan kembali menatap tajam Ki Naga Besar.


"Apakah kelompok mereka itu, yang di catatan kaki kitab peninggalan guru, yang disebut dengan Trah Naga ?" kata Puguh dalam hati.


"Kalau memang benar mereka dari Trah Naga, aku akan berusaha menghabisi mereka semua, agar tidak menimbulkan masalah di kelak kemudian hari !" sambung Puguh dalam hatinya.


"Kakek tua ! Apakah kalian sudah keluar semua ? Atau masih ada yang bersembunyi ?" tanya Puguh dengan suara yang agak pelan.


"Hhaaahhh ! Kau sudah mengetahuinya ya ? Padahal kami selalu menyembunyikan diri !" jawab Ki Naga Besar.


"Tetapi, karena kalian sudah mengetahui siapa kami, kalian harus mati di tangan Ki Naga Besar !" lanjut Ki Naga Besar.


Kemudian, perlahan getaran kekuatan yang semakin bertambah besar, keluar dari tubuh Ki Naga Besar.


"Adik Rengganis ! Hati hati dan bersiaplah ! Kekuatannya bahkan diatas kekuatan yang dimiliki Ki Naga Kecil !" kata Puguh.


"Kakang Puguh jangan khawatir !" jawab Rengganis.


Bersamaan dengan itu, tiba tiba muncul gelombang angin yang sangat besar di sekitar tempat Ki Naga Besar berdiri, saat Ki Naga Besar menggerakkan kedua lengannya.

__ADS_1


Kemudian, Ki Naga Besar mengayunkan kedua lengannya ke arah Puguh dan Rengganis. Seketika, dua gelombang angin menerjang ke arah Puguh dan Rengganis.


----------- ◇ ----------


__ADS_2