
Sementara itu, pada pertarungan Puguh melawan Ki Naga Kecil yang dibantu oleh tiga siluman binatang lainnya, lima puluh jurus berlalu dengan cepat.
Walaupun bisa memaksakan Puguh untuk hanya bertahan dan kesulitan untuk memberikan serangan balasan, namun Ki Naga Kecil juga tidak bisa lebih jauh lagi membuat Puguh terdesak.
Melihat hal itu, dengan tidak sabar lagi, Pangeran Langit Barat kembali ikut masuk ke dalam pertarungan.
Senjata pedangnya yang pqnjangnya hampir dua kali panjang pedang biasa, dengan sangat ringannya berkelebatan mengancam titik titik tubuh Puguh yang berbahaya.
Dengan ikut bergabungnya Pangeran Langit Barat dalam pertarungan, jelas membuat semakin berat pertarungan yang sedang dihadapi oleh Puguh. Dan dengan cepat membuat Puguh semakin terdesak.
Hal itu memaksa Puguh untuk mengeluarkan hampir seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Namun tetap saja Puguh tidak bisa memaksimalkan kekuatannya untuk menyerang. Karena, setiap berhadapan dengan siluman ular, siluman kuda ataupun siluman kerbau, Puguh tidak tega untuk melukai para siluman binatang itu.
Sambil terus menangkis setiap serangan yang datang dari Pangeran Langit Barat ataupun dari para siluman binatang, tanpa terasa tubuh Puguh semakin melayang ke atas, hingga akhirnya pertarungan berlangsung dalam keadaan terbang melayang di udara.
Hingga pada suatu saat, Puguh yang sudah mengeluarkan hampir seluruh kemampuannya, terus melayang mundur karena terkepung dari depan, atas dan dari arah kiri kanannya.
Pangeran Langit Barat terus menerus mencecar Puguh dengan tebasan ataupun tusukan. Sementara ketiga siluman binatang menghadang dari arah kanan, kiri dan atasnya.
Saat Puguh sedang menghadapi cecaran serangan dari empat arah, dengan posisi pedangnya menangkis serangan Pangeran Langit Barat dan tangan kirinya mengadang kibasan ekor siluman ular, tiba tiba, dari arah depan, tepat dari samping kanan Pangeran Langit Barat, melesat dengan sangat cepatnya, sebuah senjata tombak dengan dua mata tombak di kedua ujungnya.
Begitu cepatnya senjata tombak itu meluncur, membuat Puguh hanya sempat melihat dengan ujung matanya dan merasakan desiran getaran kekuatan yang mendekat.
Saat mata tombak itu hanya tinggal berjarak satu jengkal dari dadanya, tiba tiba Puguh merasakan wujud siluman elang keluar dari tubuhnya dan langsung menahan datangnya senjata tombak yang meluncur.
Dalam sekejap mata, senjata tombak itu langsung menembus dada siluman elang, dan terus menembus dada Puguh.
Jleeebbb !
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, dalam sesaat, waktu berhenti berputar. Puguh melihat, semua berhenti bergerak kecuali siluman elang dan dirinya yang masih bisa bergerak.
"Siluman elang ! Apa yang kau lakukan !" teriak Puguh saat melihat siluman elang mengorbankan diri untuk menyelamatkannya.
"Puguh ! Dengarkan aku ! Waktu hanya sebentar !" kata siluman elang.
"Maafkan aku, tidak bisa lagi menyertaimu dalam wujudku yang sempurna. Karena hanya dengan melakukan inilah, yang bisa menghindarkan tubuhmu terkena senjata tombak itu ! Puguh, cepatlah kau kau masukkan inti jiwaku ke dalam cincin itu, sebelum waktu di dimensi duniamu terbuka dan berjalan kembali. Karena aku hanya memiliki satu kali kesempatan dalam menutup dan menghentikan jalannya waktu di duniamu !" sambung siluman elang itu.
Tanpa menjawab dan dengan harapan besar bisa menyelamatkan siluman elang, Puguh segera mengeluarkan tenaga dalamnya hingga cukup besar, dan kemudian menarik inti jiwa siluman elang, lalu memasukkannya ke dalam cincin yang dia kenakan itu.
Terlihat bola sinar berwarna hijau terang, sebesar kepalan tangan manusia dewasa, keluar dari siluet wujud siluman elang, yang kemudian dengan sangat cepat melesat masuk ke dalam cincin yang dikenakan Puguh.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara siluman elang mengucapkan kata perpisahan.
"Selamat tinggal Puguh ! Walau aku sudah tidak bersamamu, namun inti jiwaku bisa masuk dan melebur ke dalam tubuhmu, sehingga seluruh kemampuanku akan bisa kau miliki ! Cepat pejamkan matamu dan bayangkan dengan siapa kau ingin bertemu !" kata siluman elang yang suaranya terdengar semakin pelan dan kemudian hilang tak terdengar. Bersamaan dengan itu, akhirnya musnah juga wujud tubuh siluman elang.
Plaaasss !
Bhhhaaannnggg !
Sesaat setelah suara ledakan itu, terdengar suara lekingan kesakitan dari siluman harimau, siluman ular dan siluman kuda serta siluman kerbau, yang wujudnya ditarik dengan paksa dan masuk kembali ke dalam kedua mata tombak, senjata dari Ki Naga Kecil.
Disusul kemudian dengan suara dentangan, karena jatuhnya senjata tombak itu ke tanah.
Klang !
Sesaat suasana menjadi sunyi. Tubuh Ki Naga Kecil dan Pangeran Langit Barat terlempar di tengah tengah para prajurit pasukan perang Kerajaan Menara Langit.
__ADS_1
Hal itu sempat menimbulkan kekacauan dan ketakutan dari para prajurit pasukan perang Kerajaan Menara Langit.
Namun, begitu para prajurit itu mengenali siapa yang terlempar di tengah tengah mereka, mereka segera menolong dan membangunkan Ki Naga Kecil dan Pangeran Langit Barat.
Hal itu terjadi, karena saat terdengar suara ledakan, Pangeran Langit Barat dan Ki Naga Kecil sekilas memikirkan keadaan pasukan perangnya.
----- * -----
Di dalam goa di belakang air terjun, Iswara Dhatu dan Rengganis yang merasakan adanya getaran kekuatan walaupun sangat lemah dan hampir tidak bisa dirasakan, terus menyusuri lorong goa, untuk mencari sumber getaran kekuatan yang sangat lemah itu.
Iswara Dhatu sangat berhadap, dapat segera menemukan sumber getaran kekuatan itu, dan berharap itu adalah Kartika Dhatu.
Setelah beberapa waktu, Iswara Dhatu dan Rengganis tiba di sebuah ruangan goa yang sangat luas dan memiliki langit langit goa yang sangat tinggi.
Iswara Dhatu dan Rengganis mengitarkan pandangan mata mereka ke sekeliling ruangan goa itu. Tatapan mata mereka berdua akhirnya terhenti di salah satu sudut ruangan goa, dimana terdapat sebuah altar yang cukup lebar. Di atas altar itu, tergeletak satu tubuh perempuan.
Mereka berdua segera melesat ke arah altar itu. Iswara Dhatu terkejut bercampur dengan perasaan gembira, karena telah menemukan Kartika Dhatu cucunya.
Iswara Dhatu segera memeriksa keadaan Kartika Dhatu yang tergeletak tidak sadarkan diri. Walau tubuhnya lemas seperti orang tidur dan nafasnyapun terlihat teratur, namun di tubuh Kartika Dhatu, dirasakan getaran kekuatannya sangat lemah, yang hanya bisa dirasakan oleh para pendekar yang sudah mencapai tingkat sangat tinggi.
Namun Iswara Dhatu tidak menemukan hal hal aneh di tubuh Kartika Dhatu, selain tidak sadarkan diri dan lemahnya getaran kekuatan dari dalam tubuh Kartika Dhatu. Bahkan luka pada punggung Kartika Dhatu pun juga sudah tidak terlihat.
"Bibi Iswara Dhatu ! Ayo segera kita bawa Kartika Dhatu keluar dari goa dan pergi dadi tempat ini. Takutnya kita membebani kakang Puguh !" kata Rengganis mengingatkan.
Mendengar perkataan Rengganis, Iswara Dhatu tersadar dan segera menyambar tubuh Kartika Dhatu, kemudian memanggulnya untuk dibawa keluar dari goa itu.
"Ayo Rengganis ! Terimakasih telah mengingatkanku !" kata Iswara Dhatu.
__ADS_1
---------- ◇ ----------