
Di tengah malam yang dingin, Puguh duduk bersila di atas sebuah batu datar yang cukup besar yang berada di tepi sungai. Udara yang cukup dingin seakan tidak dirasakan oleh Puguh yang bertelanjang dada.
Tempat di tepi sungai itu sengaja dipilih oleh kakek yang sekarang menjadi guru Puguh, setelah pada sore hari sebelumnya mencari cari tempat.
Di depan Puguh yang duduk bersila seperti orang bersemedi, berdiri gurunya yang melakukan totokan pada bagian bagian tubuh Puguh. Terkadang berputar ke belakang Puguh untuk melakukan totokan totokan pada punggung dan tengkuk Puguh. Kemudian pindah lagi ke depan untuk menotok dada Puguh. Bahkan ubun ubun dan pelipis Puguh tidak terhindar dari totokan gurunya.
Bila diperhatikan dengan lebih teliti, ada hal yang aneh pada tubuh Puguh. Dalam suhu udara malam yang cukup dingin, seluruh tubuh Puguh berkeringat. Bahkan kening dan ujung hidungnya pun berkeringat.
Saat itu tubuh Puguh merasakan sangat panas. Rasanya seperti ada bara api di sekujur tubuhnya.
Sekitar satu jam kemudian, dari kepala terutama ubun ubun Puguh keluar uap yang berwarna coklat kehitaman. Bahkan seluruh tubuh Puguh juga mengeluarkan uap walaupun tidak setebal yang keluar dari ubun ubun Puguh.
Setelah sekitar setengah jam, uap yang keluar dari tubuh Puguh menjadi semakin tipis dan warnanya menjadi putih transparan.
Melihat uap yang keluar dari tubuh Puguh sudah menipis dan berwarna putih, kakek yang sekarang menjadi guru Puguh kembali berdiri di depan Puguh yang masih duduk bersila dengan mata terpejam seperti orang bersemedi.
Setelah menunggu beberapa saat dan uap yang keluar dari tubuh Puguh sudah stabil, kakek itu kembali mengetuk dada kiri Puguh dua kali totokan dengan jari telunjuk kanannya.
Sesaat setelah totokan di dada kirinya, tubuh Puguh bergetar. Getaran tubuh semakin lama semakin kencang bersamaan dengan mukanya yang menjadi merah padam.
Begitu warna merah di mukanya mencapai leher, tiba tiba Puguh memuntahkan gumpalan darah hitam sebanyak dua kali.
Setelah muntah, tubuh Puguh langsung lemas seperti tidak bertulang dan memudian jatuh pingsan.
Puguh pingsan sekitar satu jam. dia terbangun saat tubuhnya merasakan kedinginan.
Gurunya mendekat dan menyodorkan bajunya. Dengan tubuh menggigil, Puguh segera memakai kembali bajunya.
Setelah itu, gurunya kembali melakukan totokan pada beberapa bagian tubuh Puguh untuk menstabilkan suhu tubuhnya.
Setelah suhu tubuhnya kembali normal, barulah Puguh merasakan seluruh tubuhnya lemas dan perutnya sangat lapar.
Baru saja hendak turun dari batu tempat dia duduk, gurunya sudah mendekat lagi dan kembali menyodarkan buah buahan.
__ADS_1
Karena lapar, langsung saja Puguh menyantap semua buah yang diberikan oleh gurunya. Selesai makan, Puguh beranjak turun dan melihat gurunya. Saat itulah dia ingat, buah buahan tadi dia habiskan sendiri dan tidak mengajak gurunya makan.
Sambil meringis Puguh berkata, "Heee ... buahnya habis, guru."
"Tidak apa apa biar tubuhmu cepat pulih dan tidak lemas lagi," jawab gurunya.
Kemudian sambil berdiri, gurunya menunjuk ke suatu arah.
"Le ngger, kau lihat gunung itu ? Kamu istirahat sebentar. Nanti sebelum matahari terbit, kita harus sudah sampai di gunung itu, untuk menemui sahabatku," kata gurunya.
Mata Puguh yang sudah terbiasa untuk melihat dalam keadaan gelap, segera bisa melihat. Jarak gunung itu dengan tempat ini cukup jauh dan sepertinya tidak mungkin untuk sampai di sana sebelum matahari terbit, bahkan bisa saja nanti siang.
"He he he he .... kau ragu ngger ? Nanti kita coba dulu," kata gurunya melihat ekspresi keraguan muncul di wajahnya.
Setelah cukup beristirahat, mereka berdua segera beranjak dari batu di tepi sungai tempat mereka duduk.
Kakek itu langsung saja berjalan ke arah gunung yang mereka tuju.
Serta merta Puguh berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Seketika Puguh terkejut melihat kecepatan larinya. Sambil tersenyum kegirangan, dengan sedikit mengeluarkan tenaga, Puguh segera melesat menyusul gurunya.
Segera saja Puguh sampai di samping gurunya. Saat dia hendak mengatakan sesuatu, tiba tiba tubuh gurunya audah kembali melesat jauh di depan. Padahal kakinya hanya melangkah biasa.
Puguh pun menambah tenaga dalamnya untuk menambah kecepatan larinya.
Seperti tadi, jarak sebentar saja Puguh sudah bisa menyusul gurunya. Tetapi lagi lagi gurunya segera melesat lebih cepat lagi dan sesaat kemudian tubuh gurunya sudah jauh di depannya.
Hal.itu berlangsung berulang ulang, sampai Puguh harus mengerahkan tenaga dalam hingga delapan puluh persen.
Setelah mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalamnya, akhirnya Puguh bisa menyusul dan berlari di samping gurunya, walaupun hanya sebentar. Karena gurunya kemudian berhenti.
Karena fokus pada bagaimana cara bisa mengejar gurunya, Puguh kurang memperhatikan sekitarnya.
__ADS_1
Ternyata mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju, dan matahari belum memperlihatkan cahayanya.
Melihat gurunya berhenti dan menatap tajam ke satu arah, Puguh mencoba memperhatikan sekelilingnya.
Dataran yang cukup luas dan panjang di punggung sebuah gunung. Di kanan kirinya dan depannya di kelilingi oleh pepohonan, sedang bagian belakangnya yang menghadap gunung terdapat tebing yang cukup tinggi. Membuat suasana di dataran itu sangat sejuk dan asri.
Beberapa saat kemudian, sinar matahari muncul dari belakang mereka. Puguh melihat, gurunya maju agak jauh ke dataran yang ditumbuhi rerumputan dan matanya tetap menatap tajam ke arah dinding tebing.
"Kamu tunggu di sini dulu ya ngger," kata gurunya Puguh. Yang membuat Puguh terperangah adalah, bicara gurunya belum selesai tetapi tubuhnya sudah melesat jauh ke depan. Tetapi tetap dengan gerakan seperti orang berjalan.
Tiba tiba angin yang cukup kencang menerpa seluruh tubuh Puguh. Anehnya, angin yang menerpa tubuhnya itu hanya sebentar kemudian hilang, tapi berulang ulang. Kemudian disusul suara suara berdebuk seperti suara pukulan.
Sambil memicingkan matanya dan melindunginya dengan telapak tangan, Puguh melihat ke arah gurunya tadi melangkah. Cukup jauh di depan, di tengah tengah dataran itu, Puguh hanya melihat kelebatan kelebatan tanpa bisa mengetahui dengan persis apa itu.
Tiba tiba terdengar suara tertawa yang mengagetkan Puguh.
"Heh he he he ...... Hebat hebat hebat ! Si Pendekar Tangan Seribu semakin cepat saja."
"Ha ha ha ha .... Kulit macanmu juga semakin keras," jawab gurunya Puguh sambil melancarkan serangan pukulan yang mengandung tenaga dalam. Dan langsung disambut dengan pukulan juga oleh lawannya, sehingga dua kepalan tangan yang penuh dengan tenaga dalam pun beradu.
Sesaat setelah terdengar suara orang berbicara, tiba tiba terdengar suara ledakan, dampak dari bertemunya dua pukulan.
Baaammm !!!
Setelah suara ledakan, kesiutan angin yang tadinya selalu menerpa Puguh, tiba tiba berhenti.
Dari jarak yang cukup jauh, Puguh melihat, gurunya sedang berdiri berhadapan dengan seseorang.
Tiba tiba Puguh mendengar teriakan gurunya, "Le ngger, kemarilah !"
Mendengar panggilan gurunya, Puguh segera berlari ke arah gurunya.
__________ ◇ __________
__ADS_1