
"Biksu jahat ! Cepat berikan obat penawar sihir itu padaku !" kata Puguh sambil melangkah mendekati Mahawiku Nuraga.
"Hheeehhh he he he he !" Apakah kau bersedia menukarnya dengan senjata pedangmu itu ?" tanya Mahawiku sambil berdiri lagi. Kemudian lengan kirinya bergerak mengusap sisa darah di kedua ujung bibirnya.
Lalu, dengan menggenggam tongkatnya lebih erat lagi, tiba tiba Mahawiku Nuraga melesat ke arah Puguh sambil tangan kirinya melemparkan sesuatu ke arah Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita.
Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita segera meloncat mundur saat ada kepulan serbuk putih di depan mereka.
Sementara itu, melihat kekejian lawannya, dengan cepat Puguh memutar pedangnya untuk menghalau datangnya serangan tongkat Mahawiku Nuraga.
Dengan sedikit meloncat, Puguh melesat ke arah Mahawiku Nuraga. Pedangnya meluncur sangat cepat mengarah ke dada Mahawiku Nuraga.
Namun, tiba tiba muncul kekuatan yang sangat besar menangkis senjata pedang Puguh.
Traaannnggg !
Setelah suara benturan senjata itu, Puguh melihat tubuh tinggi besar dengan tangan kanan memegang senjata gada berdiri tepat di depannya. Di samping kirinya agak ke belakang, Puguh melihat seseorang yang dia kenal, Bantala Yaksa putra dari Ki Dahana Yaksa. Di belakang mereka berdiri sekitar dua puluh pimpinan Padepokan Wukir Candrasa yang tingkat kekuatannya sudah sangat tinggi.
"Kaukah manusia yang bernama Puguh ?" kata sosok tubuh raksasa setinggi hampir dua kali tubuh manusia dewasa.
"Benar," jawab Puguh yang merasakan adanya getaran kekuatan yang sangat besar keluar dari tubuh raksasa itu.
"Puguh ! Sebagai murid dari Resi Wismaya, kau sudah kami anggap teman. Kenapa kau tega melakukan itu pada ayahku ?" tanya Bantala Yaksa.
"Bantala Yaksa ! Terimakasih telah menganggapku teman. Tetapi rupanya kau belum mendengar cerita yang sebenarnya !" jawab Puguh.
"Bukankah kau yang telah membunuh ayahku ?" tanya Bantala Yaksa dengan memicingkan matanya.
"Kami bertarung. Ayahmu terluka. Kalau akhirnya ayahmu tewas, mungkin itu sudah takdirnya. Ayahmu telah mencuri siluman elang yang bukan menjadi haknya. Ayahmu, bersama dengan Prabu Girindra Nata, menantang bertarung pendekar yang mewakili Kerajaan Banjaran Pura ! Artinya, ayahmu tewas dalam pertarungan yang adil dan ksatria !" jawab Puguh.
"Dan kau juga telah melukai Nyi Riwut Parijatha. Aku, Kala Caraka, sebagai anaknya akan menuntut balas atas kekalahan ibuku !" kata manusia raksasa yang ternyata Kala Caraka.
Melihat kedatangan mereka semua, dan perubahan situasi yang sangat cepat, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita mendekati Puguh.
"Puguh, hati hati ! Makhluk raksasa itu, setengah manusia setengah siluman ! Ilmunya sulit ditebak !" kata Dewi Laksita pelan.
__ADS_1
"Terimakasih bibi. Tetapi, sebaiknya bibi Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita segera pergi dari sini. Aku tidak ingin, bibi Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita berada dalam bahaya !" jawab Puguh pelan.
"Kami akan tetap disini membantumu Puguh !" jawab Dewi Laksita.
"Tetapi situasinya tidak memungkinkan, bibi !" jawab Puguh.
Saat Puguh masih mengkhawatirkan keselamatan Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita, tiba tiba dari belakang mereka terdengar suara perempuan.
"Ternyata Padepokan Wukir Candrasa masih saja suka menindas orang lain !" kata Iswara Dhatu yang tiba tiba muncul di belakang Puguh bersama dengan Kartika Dhatu dan selusin pembantu utamanya yang memiliki tingkat kekuatan sangat tinggi.
Diam diam Bantala Yaksa terkejut, melihat kedatangan rombongan dari Trah Keluarga Asmara Dhatu. Jelas bukan situasi yang menguntungkan pihak Padepokan Wukir Candrasa.
Saat masih dipimpin oleh ayahnya saja, Padepokan Wukir Candrasa harus berpikir dan berhitung berulang ulang untuk berseteru dengan Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Walaupun dipihaknya ada Kala Caraka yang tingkat kekuatannya mungkin diatas Ki Dahana Yaksa, tetapi tetap belum menjadikan jaminan untuk bisa memenangkan pertarungan.
Mempertimbangkan semua itu, Bantala Yaksa yang sikapnya lebih berhati hati dan lebih cerdik dibanding ayahnya, memilih untuk menahan diri dulu.
"Ahh kiranya bibi Iswara Dhatu yang datang !" kata Bantala Yaksa.
Mendengar perkataan Iswara Dhatu, sesaat muka Bantala Yaksa memerah karena marah. Namun, kemarahan itu segera ditahan dan disembunyikan.
"Aku yakin, bibi Iswara Dhatu tidak akan tega pada kami yang lebih muda. Kalau begitu, kami mohon undur diri dari sini !" jawab Bantala Dhatu yang kemudian dengan cepat memberi kode pada semua pengikutnya termasuk pada Kala Caraka.
Kemudian, tanpa berkata kata lagi, Bantala Yaksa melesat pergi meninggalkan tempat itu, diikuti oleh semua pengikutnya.
Mahawiku Nuraga yang kehilangan sekutu, segera ikut melesat pergi mengikuti rombongan dari Padepokan Wukir Candrasa.
Sepeninggal orang orang dari Padepokan Wukir Candrasa, selama beberapa saat, suasana di tempat itu terasa sunyi, tidak ada yang mengeluarkan suara.
Namun kemudian terdengar suara Iswara Dhatu berkata pada Puguh.
"Puguh, agar dalam mencari Rengganis, kau lebih tenang dan aman serta bisa lebih cepat, sebaiknya kau bersama kami saja !" kata Iswara Dhatu.
Mendengar perkataan Iswara Dhatu, Dewi Laksa merasa tersinggung. Namun, belum sempat menjawab, sudah terdengar ucapan Puguh.
__ADS_1
"Maaf bibi Iswara Dhatu. Mungkin aku masih harus bersama bibi Dewi Laksita, karena masih harus menyembuhkan luka luka mereka !" Jawab Puguh.
"Apa kau tidak.memandang aku, Iswara Dhatu ?" tanya Dewi Laksita.
"Hhaaahhh ! Baiklah anak muda. Aku yakin suatu saat kelak kau akan membutuhkan bantuan kami. Kalau kau sudah mulai merasa membutuh bantuan kami, kau tahu kemana harus mencari !" kata Iswara Dhatu yang tidak memperdulikan pertanyaan Dewi Laksita.
"Terimakasih bibi Iswara Dhatu !" jawab Puguh, "Kami akan permisi dahulu !"
Mendengar Puguh berpamitan, Iswara Dhatu hanya diam sambil tangannya mempersilahkan Puguh untuk pergi dahulu.
----- * -----
Sementara itu, setelah terpaksa meninggalkan Puguh, Bantala Yaksa dan pengikutnya berencana pulang dulu ke Padepokan.
Namun.di tengah perjalanan, Bantala Yaksa menghentikan larinya dan kembali menghadap ke arah kedatangan mereka.
Sesaat kemudian, Mahawiku Nuraga muncul dan mendekati mereka.
"Paman biksu, kenapa kau membuntuti kami ?" tanya Bantala Yaksa.
"Hheeehhh he he he he ! Maaf anak muda. Mungkin aku bisa bergabung dengan kalian. Aku memiliki sesuatu yang bisa menambah kuat temanmu itu !" jawab Mahawiku Nuraga sambil menunjuk ke arah Kala Caraka.
Bantala Yaksa adalah seorang anak muda yang cerdik dan bisa menyembunyikan niatannya. Sehingga tidak mudah menaruh kepercayaannya pada orang lain yang belum dia kenal.
Namun Bantala Yaksa juga sangat pintar untuk menangkap kesempatan. Sehingga dia tidak menolak tawaran Mahawiku Nuraga.
"Paman Biksu boleh bergabung dengan kami. Namun tidak ada syarat apapun yang harus paman berikan pada kami. Dan perlu paman biksu ketahui, kalau paman berkhianat atau menipu kami, paman akan kami buat memilih mati daripada hidup dengan kesakitan yang luar biasa !" jawab Bantala Yaksa.
Akhirnya, pihak Padepokan Wukir Candrasa mendapatkan tambahan kekuatan.
Bahkan selama beberapa hari di Padepokan Wukir Candrasa, Mahawiku Nuraga membantu Kala Caraka yang setengah manusia setengah siluman, untuk meningkatkan kekuatannya dengan menggunakan tehnik sihirnya.
Dengan bantuan sihir Mahawiku Nuraga, tingkat kekuatan Kala Caraka meningkat pesat.
__________ ◇ __________
__ADS_1