Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan di Tepi Sungai


__ADS_3

Belum juga dua puluh lima jurus, dua orang pendekar berpakaian pengemis dari Padepokan Kuwanda Brastha, terkena pukulan panglima perang Kerajaan Menara Langit di dadanya. Keduanya terlempar ke belakang dan langsung memuntahkan darah segar.


Bersamaan dengan itu, saat panglima perang Kerajaan Menara Langit dihadang oleh dua orang pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha, kedua senopati Kerajaan Kaling Pura, segera berdiri di samping kanan dan samping kiri Pangeran Kanaya Wijaya.


"Pangeran ! Kita lari ke arah sungai ! Kita pancing mereka agar mengejar kita ke arah sana !" kata salah satu Senopati Kerajaan Kaling Pura.


Namun, belum sempat mereka melangkah pergi, berdatangan cukup banyak pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang segera mengepung mereka.


Melihat hal itu, panglima perang Kerajaan Menara Langit yang baru saja memukul jatuh dua orang pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha, segera melesat ke arah Pangeran Kanaya Wijaya.


"Kalian para pengacau ! Jangan berpikir kalian bisa lolos kali ini !" teriak panglima perang Kerajaan Menara Langit itu.


Namun, saat panglima perang kerajaan Menara Langit baru saja melenting, tiba tiba ikut melenting ke arahnya dua sosok tubuh yang kemudian menghadang arah geraknya sambil melakukan serangan. Mereka berdua adalah dua orang pendekar yang baru saja terkena pukulan di dadanya.


Merasa terhalangi gerakannya, panglima perang Kerajaan Menara Langit segera menggerakkan kedua tangannya untuk melakukan serangan.


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Deeesss ! Deeesss !


Karena sebelumnya sudah menderita luka parah, kedua pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha itu hanya bisa menangkis serangan beberapa kali dan kemudian, dada mereka kembali terkena pukulan keras, yang membuat mereka terlempar ke belakang agak jauh, kemudian jatuh terhempas ke tanah dan tewas seketika.


Melihat hal itu, beberapa pendekar berpakaian pengemis segera mendekat ke arah Pangeran Kanaya Wijaya.


"Pangeran, segera lari ke arah sungai seperti yang sudah direncanakan ! Biar kami yang menghadangnya !" kata pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha.


Mendengar perkataan itu, kedua senopati Kerajaan Kaling Pura segera mengajak Pangeran Kanaya Wijaya untuk lari.


Saat ada kesempatan, segera saja, ketiganya melesat mundur kemudian berlari ke arah tepi sungai yang ada terbingnya.


Melihat lawannya melarikan diri, panglima perang Kerajaan Menara Langit segera berteriak pada anak buahnya.

__ADS_1


"Kejar panglima sialan itu ! Jangan biarkan mereka semua lolos lagi !" teriak panglima perang itu.


Mendengar perintah dari panglima besar Kerajaan Menara Langit, dua panglima perang yang di bawahnya, segera melesat mengejar Pangeran Kanaya Wijaya, diikuti oleh sekitar dua puluh prajurit.


Sementara itu, beberapa pendekar berpakaian pengemis mencoba menahan panglima perang itu selama mungkin agar tidak mengejar Pangeran Kanaya Wijaya, sedangkan sebagian dari pendekar berpakaian pengemis itu segera ikut melesat pergi, mengikuti arah lari Pangeran Kanaya Wijaya.


Pada waktu yang bersamaan, Pangeran Kanaya Wijaya dengan dikawal oleh dua orang senopati Kerajaan Kaling Pura, terus berlari ks arah tepi sungai seperti yang sudah mereka rencanakan.


Beberapa waktu kemudian, Pangeran Kanaya Wijaya dan dua senopatinya sampai di tepi sungai dan langsung menemui Puguh yang sudah menunggu di ujung jalan itu. Sedangkan kedua orang senopatinya berhenti di tengah jalan dan bersiap menghadapi serbuan pasukan lawan yang mengejarnya.


Tidak berapa lama, dua panglima perang yang diikuti oleh sekitar dua puluh prajurit segera sampai di jalan di tepi sungai itu.


Begitu mereka sampai di tengah tengah jalan itu, tiba tiba dari atas tebing, meluncur turun dengan cepat Roro Nastiti yang sejak tadi melihat semua hal itu dari atas tebing.


"Senopati ! Kalian urus para prajurit itu ! Kedua panglima perang ini serahkan kepadaku !" kata Roro Nastiti yang langsung menyerang dua orang panglima perang yang sudah meloloskan senjata pedangnya.


Sesaat kemudian, terdengar berkali kali suara benturan logam saat kedua pedang pendek Roro Nastiti berkelebatan cepat mengurung dan mencecar kedua panglima perang itu.


Bersamaan dengan itu, kedua senopati Kerajaan Kaling Pura itu dan dibantu oleh beberapa pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha segera mengepung dua puluh orang pasukan perang Kerajaan Menara Langit.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, dua puluh jurus kemudian, para prajurit pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang memiliki ilmu silat dalam tingkat rendah hingga menengah, langsung kocar kacir dan harus meregang nyawa di tangan para pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha ataupun kedua senopati Kerajaan Kaling Pura yang memiliki ilmu silat pada tingkat tinggi hingga sangat tinggi.


Bersamaan dengan itu, baru dalam tiga puluh jurus, Roro Nastiti sudah memberikan banyak luka tusukan ataupun tebasan pada tubuh kedua panglima perang yang menjadi lawannya. Hingga beberapa jurus kemudian, kedua pedang pendek Roro Nastiti, berhasil menghujam ke dada kedua panglima perang, hingga tewas seketika.


Setelah berhasil mengalahkan kedua lawannya, Roro Nastiti segera kembali melesat ke atas tebing, untuk melihat dan memantau pergerakan pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang lebih besar lagi yang menyusul mengejar Pangeran Kanaya Wijaya, dan dipimpin langsung oleh dua panglima perang yang bawahan langsung Panglima Perang Jaladri.


Bersamaan dengan itu, begitu Pangeran Kanaya Wijaya berdiri di depannya, Puguh segera mendekatinya.


"Pangeran, mendapatkan luka luka ?" tanya Puguh.


"Aku tidak terluka, Pendekar Puguh," jawab Pangeran Kanaya Wijaya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi Pangeran, hingga kalian harus menggunakan waktu yang lebih lama ?" tanya Puguh lagi.


"Kami dikepung cukup banyak pasukan perang, dan juga, kami tidak mengira, panglima perang mereka banyak yang memiliki ilmu silat tingkat sangat tinggi !" jawab Pangeran Kanaya Wijaya.


"Seharusnya, kalian cukup terlihat saja, kemudian lari ke sini. Karena mereka akan lari mengejar Pangeran. Tetapi sudahlah, yang penting Pangeran selamat !" kata Puguh.


"Ayo kita naik ke atas tebing, Pangeran !" kata Puguh lagi sambil kemudian melenting ke atas. Sesaat kemudian, Pangeran Kanaya Wijaya pun menyusul naik ke atas tebing.


Di atas tebing, Puguh dan Pangeran Kanaya Wijaya serta Roro Nastiti yang sudah berada di atas tebing terlebih dahulu, melihat, serombongan pasukan perang bergerak cepat menuju ke arah mereka.


Beberapa waktu kemudian, pasukan perang Kerajaan Menara Langit sudah sangat dekat dan mulai masuk ke jalan yang berada di tepi sungai.


Dari atas tebing, Puguh bisa merasakan, dua orang panglima perang yang memimpin pasukan perang itu, memiliki getaran kekuatan yang sangat tinggi.


Di belakang dua panglima perang itu, ada lagi delapan panglima perang bawahannya yang tubuhnya juga mengeluarkan getaran kekuatan hampir sangat tinggi.


Setelah semua pasukan perang Kerajaan Menara Langit masuk ke jalan di tepi sungai itu, Puguh, Roro Nastiti dan Pangeran Kanaya Wijaya segera melesat turun ke jalan di tepi sungai itu.


Saat Pangeran Kanaya Wijaya berhenti di depan dua orang panglima perang itu, kedua panglima perang Kerajaan Menara Langit segera mencabut senjata pedangnya.


"Kau tidak akan bisa lolos lagi, Pangeran !" kata salah satu panglima perang itu.


"Pangeran itu akan aku tangkap sendiri ! Yang lainnya, boleh dibunuh !" sambung panglima perang itu sambil melesat ke arah Pangeran Kanaya Wijaya.


Mendengar ucapan panglima perang itu, Puguh segera melangkah maju.


"Pangeran ! Kau bersama Roro Nastiti menghadapi panglima perang itu !" kata Puguh lagi, "Panglima perang yang satunya lagi, menjadi bagianku !"


Kemudian, dengan sangat cepat, Puguh melesat ke arah panglima perang yang satunya. Dengan memainkan jurus Bantala Wreksa, kedua tangan Puguh bergerak dengan sangat cepat, melakukan pukulan berkali kali ke arah tubuh panglima perang lawannya.


---------- ◇ ----------

__ADS_1


__ADS_2