
Selama tiga hari, Puguh tinggal di rumah Senopati Nata. Namun waktunya lebih banyak dipergunakan untuk keluar, mengamati keadaan. Terutama pada hari hari menjelang kedatangan rombongan dari Padepokan Macan Kumbang. Puguh sering sekali pergi ke daerah perbatasan yang kemungkinan menjadi jalur kedatangan rombongan Padepokan Macan Kumbang. Puguh berharap, dalam beberapa hari ini tidak ada kejadian yang menarik perhatian orang orang Perkumpulan Jaladara Langking dan membuat mereka datang ke Kadipaten Langitan. Kedatangan lebih banyak orang orang Perkumpulan Jaladara Langking akan membuat situasi lebih sulit untuk dikendalikan. Karena, yang sekarang ini Puguh belum bisa mengukur dan melihat kemampuan orang orang Perkumpulan Jaladara Langking. Dan tentunya juga belum bisa melihat seberapa jauh perkembangan kemampuan teman temannya. Makanya Puguh berniat sesedikit mungkin munculnya korban di pihak teman temannya.
----- * -----
Pada suatu sore menjelang malam, setelah beberapa hari berlalu. Puguh yang setiap saat menengok arah kedatangan rombongan Padepokan Macan Kumbang, merasakan adanya getaran tenaga dalam yang mendekat ke arahnya. Walaupun masih jauh dan masih lemah getarannya, namun Puguh sudah bisa merasakannya.
Untuk memastikan kedatangan mereka aman dan tidak menimbulkan dan menarik perhatian, Puguh pun segera melesat mendekatinya. Hanya dalam dua tarikan nafas, Puguh sudah berhenti di depan rombongan Padepokan Macan Kumbang.
Ki Bajrapadsa yang berlari paling depan pun tiba tiba menghentikan larinya saat melihat di depan ada orang yang berdiri di tengah jalan yang hendak mereka lewati. Puguh yang melihat rombongan Padepokan Macan Kumbang menjadi ragu, segera mendekat.
"Maaf guru dan kakang mbakyu, kalau kedatanganku mengagetkan kalian semua !" kata Puguh.
Ki Bajrapadsa, begitu melihat yang datang adalah Puguh langsung hilang rasa kekhawatirannya pada keselamatan murid muridnya. Karena dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan semua murid yang dia ajak serta.
Puguh melihat, yang datang bersama sama dengan Ki Bajrapadsa, sama dengan yang dia perkirakan. Selain Ki Bajrapadsa, ada Ki Ragajampi. Kemudian yang ikut adalah Darutama, Kaneko dan Arimbi. Yang agak mengagetkan adalah Wirayoga dan sikembar Wirayuda dan Anjani juga ikut. Tidak ada satupun tokoh dari Padepokan lain yang ikut serta. Tetapi Puguh tidak mempermasalahkan.
"Delapan orang ya. Tidak apa apa. Justru memudahkan aku dalam melindunginya," kata Puguh dalam hati.
"Bagaimana guru, kita istirahat dulu ?" tanya Puguh.
"Kita terus saja Puguh, karena sudah dekat," jawab Ki Bajrapadsa.
"Baiklah guru, tapi maaf sebelumnya. Mulai dari sini, kita bisa berlari secepatnya menuju rumah Senopati Nata yang dulu tempat kita menginap. Tapi jaraknya jangan sampai melewati tiga puluh langkah dariku. Kedatangan kita tidak akan diketahui oleh siapapun," kata Puguh.
Kemudian, Puguh menggerakkan telapak tangan kiri terbuka menyamping di depan dada dan jari telunjuk dan jari tengan tangan kanan lurus mengacung ke atas.
__ADS_1
Tiba tiba tangan kanan yang mengacung ke atas dia hentakkan lurus ke bawah tepat di depannya. Dari jari telunjuk tangan kanan Puguh itu keluar gelombang tenaga dalam yang menghujam ke tanah dan langsung merembet ke sekelilingnya hingga mencapai tiga puluh langkah.
Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi yang segera bisa merasakan datangnya gelombang tenaga dalam, terkagum dengan kemampuan Puguh yang meningkat sangat pesat.
Mereka berdua kagum, karena tidak sembarang pendekar sanggup melakukan seperti yang sekarang dilakukan oleh Puguh, menggunakan gelombang getaran tenaga dalamnya untuk menutupi getaran tenaga dalam orang lain, apalagi jumlahnya lebih dari satu orang. Dan yang lebih mengagumkan lagi, itu akan dilakukan dalam keadaan berlari secepatnya.
"Anak ini, tidak pernah henti hentinya mengejutkanku dengan kemampuannya. Sampai seberapa tinggi sekadang tingkat kemampuan dan kesaktiannya !" kata Ki Bajrapadsa dalam hati.
Setelah merembetnya gelombang getaran tenaga dalam yang dibuat oleh Puguh berhenti, Puguh segera mengajak mereka semua untuk berlari secepat yang mereka bisa.
Beberapa saat kemudian, mereka semua tiba di rumah Senopati Nata dan tentunya melalui jalan yang biasa digunakan oleh Puguh, yaitu melompati pagar belakang.
Mereka diterima dengan senang hati oleh Senopati Nata. Mereka semua berbincang dengan Senopati Nata cukup lama, sebelum akhirnya kedatangan Senopati Utama Wiguna dan Senopati Raksaguna. Murid murid pun masuk beristirahat di kamar mereka masing masing, kamar yang sudah dipersiapkan oleh Senopati Nata yang memang rumahnya besar dan luas.
Setelah semua murid masuk ke kamar mereka, Senopati Nata, Senopati Raksaguna dan Senopati Utama Wiguna berembug dengan Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi serta Puguh.
Pada kesempatan itu, Senopati Nata memberitahukan pada Puguh, untuk berhati hati saat nanti berhadapan dengan Ki Naga Wiru. Karena, selain senjata tombak pendek bermata tombak di kedua ujungnya yang belum ada orang yang bisa menahan serangannya, juga, Ki Naga Wiru bisa menggerakkan benda apapun dibuat berputar dan meluncur ke arah lawannya. Dan serangan itu sama berbahayanya dengan senjata tombak pendeknya.
"Terimakasih atas pesannya paman. Aku akan sangat berhati hati saat menghadapi Ki Naga Wiru," jawab Puguh menanggapi saran dari Senopati Nata.
"Ki Naga Wiru, rupanya selama beberapa tahun ini, ilmu kesaktiannya bertambah tinggi !" kata Puguh dalam hati.
----- * -----
Akhirnya setelah dua hari menunggu, Senopati Nata melihat Ki Naga Wiru datang yang disertai oleh Ni Srayu.
__ADS_1
Melihat yang datang hanya mereka berdua, Senopati Nata segera memberikan kabar pada Puguh.
Melihat kesempatan yang sangat baik itu, Puguh pun segera mengajak semuanya bergerak untuk menantang Ki Naga Wiru, Ki Klawu Carma dan Ni Srayu.
Mereka semua berjalan menuju lapangan luas yang berada persisi di depan pendopo Kadipaten Langitan.
Sesampai di tengah lapangan, Puguh berhenti. Sementara Senopati Nata, Senopati Utama Wiguna dan Senopati Raksaguna berdiri di sebelah kiri Puguh namun agak ke pinggir lapangan. Sedangkan Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi berdiri di sebelah kanan Puguh agak ke pinggir.
Belum juga mereka berteriak menantang, dari arah gedung Kadipaten Langitan terdengar suara tertawa keras.
"Hah ha ha ha ..... ! Rupanya ada yang sengaja menantangku ! Kali ini akan aku habisi, kalian semua yang menentang peraturan kami !" Terdengar suara keras dari arah gedung Kadipaten Langitan.
Sesaat setelah suara itu hilang, melesat tiga bayangan tubuh ke arah lapangan disertai dengan munculnya getaran tenaga dalam yang sangat kuat. Tiga bayangan tubuh itu berhenti didepan Puguh.
"Siapa kau anak muda ? Apakah kau sudah bosan hidup, hingga berani membuat kekacauan di tempat ini ?" tanya Ki Naga Wiru.
"Aku dan guruku pernah menghadapi keroyokanmu bersama adikmu, Ki Naga Gringsing," jawab Puguh.
"Jadi kamu anak kecil itu ? Hah ha ha ha ..... kau menantangku ? Gurumu saja tidak mampu menghadapiku !" jawab Ki Naga Wiru.
"Terserah apapun yang akan kau katakan. Yang jelas, hari ini aku akan melenyapkan kalian !" kata Puguh.
"Bocah kurang ajar !" teriak Ki Naga Wiru sambil kedua tangannya mengembang di kiri kanan tubuhnya dan ditarik cepat ke arah dadanya.
Tiba tiba dari arah belakang Puguh melesat enam anak panah sambil berputar dengan sangat cepatnya.
__ADS_1
__________ ◇ __________