Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Penyerbuan Ke Gedung Kadipaten Randu Beteng


__ADS_3

Dalam waktu singkat, Puguh sudah berada di dekat rumah bercat hijau yang menjadi markas cabang Perkumpulan Jaladara Langking.


Puguh segera mencari Ki Dwijo gurunya dan Rengganis yang Puguh perkirakan berada di sekitar markas Perkumpulan Jaladara Langking, dengan mencoba merasakan getaran tenaga dalamnya.


Sejenak kemudian, Puguh merasakan adanya dua getaran tenaga dalam dari arah jalan masuk ke gedung Kadipaten Randu Beteng.


Dengan cepat, Puguh melesat dan mendekatinya, dan ternyata memang benar, Ki Dwijo dan Rengganis berada di bawah pohon besar di pinggir jalan yang cukup sepi dari orang orang yang lewat.


"Guru, aku datang," kata Puguh setelah berada cukup dekat dengan mereka berdua.


Walaupun Ki Dwijo dan Rengganis sudah memperkirakan, Puguh akan mendatangi mereka, bahkan tadi sempat bisa merasakan getaran tenaga dalamnya, namun mereka masih saja terkejut dengan kehadiran Puguh yang tidak menimbulkan suara.


Kemudian mereka bertiga dengan ringkas dan singkat menceritakan hasil penyelidikan mereka.


Ki Dwijo memberitahukan juga pada Puguh, jika sejak beberapa hari kemaren, maskas cabang Perkumpulan Jaladara Langking, kosong tidak ada seorangpun. Sepertinya mereka pergi bersama sama ke suatu tempat.


Sesaat Puguh mencoba untuk merasakan getaran tenaga dalam dari arah rumah bercat hijau. Namun Puguh tidak mendengar suara apapun dari rumah yang cukup besar itu dan tidak merasakan adanya getaran tenaga dalam sedikitpun dari markas cabang Perkumpulan Jaladara Langking itu.


"Kalau begitu kebetulan guru. Kita tinggal menghadapi para prajurit kerajaan yang masih berada di gedung Kadipaten. Puguh lihat, prajurit kerajaan ini hanya ada empat orang. Tetapi mereka bukan prajurit biasa, guru. Mereka lebih seperti para pendekar tingkat tinggi yang disewa atau bekerja pada Pangeran Panji dan berpakaian seperti prajurit kerajaan !" kata Puguh.


"Guru, yang masih menjadi pertanyaan, yang pertama, ada hubungan apa Pangeran Panji dengan Perkumpulan Jaladara Langking. Yang ke dua, kalau memang benar, apa tujuan Pangeran Panji menyewa para pendekar berkemampuan tinggi untuk menjadi pengawal dan prajuritnya. Karena Pangeran Panji sendiri sudah terkenal sebagai Pangeran yang memiliki ilmu silat yang tinggi !" kata Puguh.


"Untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu, kita mau tidak mau, harus pergi ke kotaraja Kerajaan Banjaran Pura, ngger Puguh. Tetapi di sana kita harus sangat hati hati. Karena di kotaraja kerajaan, banyak sekali terdapat pendekar berkemampuan tinggi. Bahkan para prajurit, terlebih para pemimpin prajurit, terutama para senopatinya, mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi !" jawab Ki Dwijo menjelaskan.


"Namun, sebelum kita pergi ke kotaraja, Puguh berencana membebaskan beberapa wilayah yang kita lewati, dari cengkeraman Perkumpulan Jaladara Langking. Seperti, saat ini, kita akan menyerang gedung Kadipaten Randu Beteng, guru," kata Puguh.


Kemudian Puguh menyampaikan rencananya. Dikarenakan di gedung Kadipaten Randu Beteng ada empat prajurit, dua orang akan dihadapi oleh Puguh. Sedangkan dua orang lagi bisa dihadapi oleh Ki Dwijo dan Rengganis.


"Kita usahakan melakukan penyerangan dengan cepat dan tidak meninggalkan jejak, sehingga pihak Pangeran Panji tidak bisa memastikan siapa pelakunya !" kata Puguh.


Kemudian, mereka bertiga saling bercerita dan menyampaikan rencananya apa saja yang akan mereka kerjakan saat melakukan serangan ke gedung Kadipaten Randu Beteng, sambil menunggu waktu penyerangan tiba.


----- * -----

__ADS_1


Hari mulai gelap, pertanda malam mulai tiba. Dalam kegelapan malam, tiga sosok tubuh yang semuanya menggunakan penutup muka, melesat dengan cepat ke arah gedung Kadipaten Randu Beteng.


Mereka bertiga terus saja melewati samping gerbang menuju gedung Kadipaten yang dijaga prajurit Kadipaten.


Saat sampai di pendopo Kadipaten, mereka disambut oleh Suryanala dan Candranala. Langsung saja Puguh menanggapi sambutan mereka dengan menerjang mereka dan mencecar mereka berdua dengan serentetan serangan. Sehingga falam waktu singkat, terjadi pertarungan yang berjalan dengan sengit.


Sementara Ki Dwijo dan Rengganis tanpa memperdulikan hadangan Suryanala dan Candranala, terus saja melesat ke arah gedung Kadipaten.


Sesampainya di dalam gedung Kadipaten, di ruang pertemuan, Ki Dwijo dan Rengganis menjumpai dua orang laki laki muda berpakaian seperti prajurit.


Melihat ada yang masuk ke Gedung Kadipaten tanpa ijin, kedua laki laki muda itu hendak menegur. Namun, belum juga mereka berbicara, Ki Dwijo dan Rengganis telah menerjang mereka dan mengurung mereka dengan serangan.


Sebentar saja, terjadi pertarungan Ki Dwijo dan Rengganis melawan kedua laki laki muda yang menjaga gedung Kadipaten.


Sementara itu, di luar gedung Kadipaten, Puguh dikeroyok oleh Suryanala dan Candranala. Kali ini, Suryanala dan Candranala dibuat terkejut, karena semua gerakan Puguh lebih cepat dan lebih bertenaga dibanding dengan saat mereka bentrok kemaren.


Setiap pukulan ataupun tendangan mereka beradu, tubuh Suryanala dan Candranala terdorong mundur hingga dua langkah. Tangan dan kaki mereka pun terasa bergetar setiap kali berbenturan dengan tangan dan kaki Puguh.


Dengan menambah aliran tenaga dalamnya, Puguh ingin pertarungan ini bisa segera berakhir sebelum menimbulkan kecurigaan yang dapat menghambat rencana mereka.


Sementara, Puguh yang melihat kedua lawannya melakukan serangan secara serentak, segera memapakinya dengan menggerakkan kedua tangannya kedepan.


Sesaat kemudian, terdengar suara benturan pukulan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.


Blaaarrr ! Blaaarrr !


Dalam benturan itu, tubuh Suryanala dan Candranala terdorong mundur dan terhuyung huyung hingga lima langkah dengan tangan kanan yang terasa nyeri.


Merasa kesulitan jika terus beradu tenaga dalam, Suryanala dan Candranala segera mencabut senjata golok mereka.


Seakan sudah terbiasa bekerja sama, arah dan pola serangan golok Suryanala dan Candranala tertata rapi dan saling mengisi hingga membuat rapat pertahanan dan serangan mereka.


Sementara itu, melihat kedua lawannya mengeluarkan senjata, terpaksa Puguh menggunakan pedangnya.

__ADS_1


Segera saja terdengar suara berdentangan akibat benturan bilah golok dengan bilah pedang.


Taaannnggg ! Taaannnggg !


Traaannnggg !


Menyadari, jika suara dentangan itu akan menarik perhatian jika tidak segera dihentikan dan menyelesaikan lawannya, akhirnya Puguh meningkatkan aliran tenaga dalamnya ke senjata pedangnya. Perlahan, bilah pedang yang berwarna hitam legam itu, mengeluarkan pendaran sinar hijau terang, hingga bilahnya seolah berwarna hijau.


Melihat perubahan warna bilah pedang lawannya, Suryanala dan Candranala sedikit terkejut.


Namun, mereka tidak bisa berlama lama, karena dengan gerakan yang lebih cepat lagi, Puguh sudah mendahului menyerang mereka berdua.


Terlihat kilatan kilatan warna hijau saat Puguh menggerakkan pedangnya menyerang kedua lawannya. Hanya dalam tiga kali benturan senjata, bilah golok Suryanala dan Candranala sudah retak retak.


Pada saat kedua lawannya mengkhawatirkan senjatanya, Puguh sudah kembali melesat. Tubuhnya melompat dengan tidak terlalu tinggi, lalu kemudian pedangnya meluncur cepat.


Candranala yang masih berusaha menangkis dengan goloknya, terpaksa harus kehilangan goloknya, karena bilahnya hancur berbenturan dengan pedang Puguh.


Namun Candranala tidak sempat meratapi hancurnya golok miliknya ketika pedang Puguh setelah membentur golok, memutar dengan sangat cepat mengarah ke dada Candranala.


Praaannnggg !


Jleeebbb !


Candranala tiba tiba merasakan lemas tubuhnya hingga jatuh berlutut. Dadanya terasa perih. Pandangan matanya terjatuh pada bajunya yang berlubang sebesar bilah pedang dan terkena noda darah sedikit. Pandangan matanya tidak melihat adanya pedang yang menancap di dadanya. Karena, pada saat yang sama, pedang Puguh sudah dengan sangat cepat menyambar golok Suryanala hingga bilah goloknya hancur berantakan.


Traaannnggg !


Jleeebbb !


Sesaat, Suryanala merasakan telapak tangan kanannya bergetar, disusul tubuhnya tiba tiba merasa lemas. Tubuhnya pun terjatuh dan dadanya terasa sedikit perih.


Suryanala terpaku. Pandangan matanya semakin memudar, hingga kemudian menjadi gelap sama sekali.

__ADS_1


----- * -----


__ADS_2