Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan di Puncak Gunung Pedang V


__ADS_3

Serangannya yang bisa dihindari Resi Wismaya dan akhirnya membuat senjata dayung besarnya menghantam tanah, terjadi berulang kali. Hal itu semakin membuat Ki Jala Seta tidak terima karena merasa diremehkan.


"Resi Wismaya ! Jangan menghindar terus ! Balas seranganku !" teriak Ki Jala Seta.


Akhirnya, karena berondongan serangan berkekuatan sangat besar yang tidak ada hentinya, membuat Resi Wismaya tidak bisa terus menerus menghindar.


Tongkat bututnya yang sejak tadi berada tangan kirinya mulai dipergunakan untuk menepis senjata dayung besar yang mulai membahayakan tubuhnya.


Setiap Ki Jala Seta menyerang dan senjata dayung besarnya mendekat, Resi Wismaya selalu menepis, sehingga membuat senjata dayung besar itu berubah arah.


Hal itu semakin membuat Ki Jala Seta naik darah.


"Resi Wismaya ! Apakah kau takut beradu tenaga denganku ?" kata Ki Jala Seta sambil terus menyerang.


"Heehhh he he he ! Ki Jala Seta, kuakui tenaga luarmu memang sangat besar. Tetapi jangan dihabiskan di sini !" jawab Resi Wismaya.


Pertarungan Resi Wismaya melawan Ki Jala Seta berjalan lama. Karena sejak awal bergebrak, Resi Wismaya selalu menghindar dan tidak berusaha menangkis.


Hal itu dilakukan Resi Wismaya, bukan karena takut, bukan karena meremehkan, dan bukan karena tidak mau bertarung melawan Ki Jala Seta.


Tetapi, karena Resi Wismaya dalam beberapa gebrakan dulu, sangat tahu kalau Ki Jala Seta selain mempunyai tenaga dalam, juga mempunyai tenaga kasar yang sangat kuat dan sangat ahli dalam menggunakan tenaga kasar atau tenaga luar.


Dengan berusaha selalu menghindar dan bergerak terus, Resi Wismaya berusaha membuat Ki Jala Seta kehabisan tenaga atau paling tidak tenaga kasarnya sudah berkurang.


Pertarungan Resi Wismaya melawan Ki Jala Seta sudah berjalan lebih dari seratus jurus.


Resi Wismaya mulai memindahkan tongkat bututnya dari tangan kiri ke tangan kanan, menandakan kalau Resi Wismaya mulai serius dalam bertarung.


Tiba tiba, gerakan tubuh Resi Wismaya menjadi lebih cepat lagi dan mulai menangkis setiap serangan Ki Jala Seta dan juga berusaha membalas serangan.


Mulailah terdengar beradunya senjata dayung besar Ki Jala Seta dengan tongkat butut Resi Wismaya.


Takkk ! Takkk !


Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !

__ADS_1


Setelah berjalan sekitar dua puluh jurus dalam membalas serangan, beberapa pukulan Ki Jala Seta mulai mendarat di tubuh Resi Wismaya. Namun beberapa kali tusukan ujung tongkat butut Resi Wismaya juga mulai mengenai tubuh Ki Jala Seta.


Tusukan tongkat butut Resi Wismaya sepertinya dilakukan dengan asal dan tidak mengenai dengan telak bagian bagian tubuh seperti dada, perut atau bahkan kepala.


Setelah beberapa jurus lagi berlalu, Resi Wismaya kembali meningkatkan kecepatannya. Ki Jala Seta pun berusaha mengimbanginya.


Namun, baru beberapa jurus berlalu, Resi Wismaya kembali memperlambat gerakannya.


Berubah ubahnya kecepatan Resi Wismaya terjadi beberapa kali. Hingga dalam suatu kesempatan, saat dalam gerakan tubuh yang tidak terlalu cepat, Resi Wismaya mengadu pukulan tangan kirinya dengan pukulan tangan kiri Ki Jala Seta.


Plakkk !


Sesaat setelah benturan pukulan itu, tubuh Ki Jala Seta tiba tiba berhenti bergerak. Mulutnya menyeringai, tetapi sebenarnya sedang menahan rasa sakit.


Apabila ada orang lain yang melihat, Ki Jala Seta terlihat baik baik saja.


Namun Ki Jala Seta merasakan, titik titik di tubuhnya yang tadi terkena tusukan tongkat butut Resi Wismaya terasa nyeri. Membuat seluruh tubuhnya terasa sakit, karena saat Ki Jala Seta hendak mengalirkan tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya, tenaga dalamnya seperti terhambat.


"Heehhh he he he he ! Ki Jala Seta, kau semakin hebat saja. Terimakasih atas waktu dan pelajarannya," kata Resi Wismaya yang tubuhnya melesat cepat mengelilingi tubuh Ki Jala Seta sambil menggerakkan ujung tongkat bututnya, menotok bagian bagian tertentu tubuh Ki Jala Seta.


Memdapatkan totokan tongkat Resi Wismaya, rasa nyeri di tubuh Ki Jala Seta hilang, digantikan rasa lemas pada seluruh tubuhnya.


Sementara itu, setelah melakukan totokan beberapa kali pada tubuh Ki Jala Seta, Resi Wismaya segera melesat menembus dinding sekat tipis, untuk menuju ke ruangan lain di lingkaran itu.


Plasss !


Hanya dalam sesaat, Resi Wismaya berpindah ke ruangan yang menjadi tempat pertarungan Ki Dahana Yaksa melawan Dewi Laksita.


Resi Wismaya tiba bertepatan dengan saat Ki Dahana Yaksa melesat untuk melayangkan serangan ke arah Dewi Laksita yang matanya terpejam dan terlihat belum siap karena terluka.


Melihat hal itu, Resi Wismaya langsung melesat. Tiba tiba tubuhnya sudah menghadang arah gerak Ki Dahana Yaksa.


Debgan tongkat bututnya, Resi Wismaya menangkis pedang Ki Dahana Yaksa yang meluncur sangat cepat, mengancam leher Dewi Laksita.


Benturan tongkat butut dengan pedang yang sama sama mengandung tenaga dalam tingkat sangat tinggi, dalam jumlah yang besar, menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.

__ADS_1


Blaaammm !


Sesaat setelah suara ledakan itu, tubuh Ki Dahana Yaksa terpental ke belakang hingga beberapa langkah.


Sementara itu, Resi Wismaya yang juga terdorong mundur beberapa langkah, segera menyambungnya dengan meloncat ke arah Dewi Laksita, dan kemudian memberikan beberapa totokan pada tubuh Dewi Laksita.


"Keluarlah dulu dari selubung ini, Dewi Laksita. Sembuhkan dulu dirimu !" kata Resi Wismaya.


Mendengar suara Resi Wismaya dan merasakan tubuhnya sudah terasa ringan kembali, Dewi Laksita segera keluar dengan melesat menabrak selubung lingkaran.


"Terimakasih atas budi baikmu, Resi Wismaya !" kata Dewi Laksita.


Sementara itu, Resi Wismaya tidak sempat menjawab ucapan Dewi Laksita. Karena perhatiannya sudah pada keadaan Ki Dahana Yaksa.


"Ki Dahana Yaksa, ilmu apa lagi yang sedang kau pelajari ini ?" tanya Resi Wismaya.


"Haahhh ha ha ha ha ! Resi Wismaya, lihat dan saksikan ! Aku sedang mengembangkan tehnik baru. Aku mengambil kekuatan dari siluman yang berhasil aku tangkap dan aku gabungkan dengan kekuatanku !" jawab Ki Dahana Yaksa.


"Tapi itu masih jauh dari sempurna !" sahut Resi Wismaya.


"Haahhh ha ha ha ha ! Memang aku baru mencobanya. Ternyata kekuatan siluman ada yang setinggi ini !" jawab Ki Dahana Yaksa dengan tertawa senang.


Untuk sejenak, Ki Dahana Yaksa dan Resi Wismaya saling menatap tajam, seolah ingin mengetahui kekuatan masing masing pihak.


"Sepertinya, siluman yang diambil kekuatannya oleh Ki Dahana Yaksa bukan siluman yang dia kalahkan dan dia tangkap sendiri. Sehingga Ki Dahana Yaksa hanya bisa mengambil kekuatannya, tidak seluruh kemampuan yang dimiliki siluman itu !" kata Resi Wismaya dalam hati.


Sementara itu, Ki Dahana Yaksa diam diam terkejut dengan tingginya tingkat tenaga dalam Resi Wismaya sekarang ini.


"Setelah tiga tahun tidak bertemu, Resi Wismaya berhasil mencapai tingkat tenaga dalam setinggi ini. Memang kebersihan darah dan tehnik dari Resi Wismaya tidak diragukan lagi. Untung aku sudah menggunakan kekuatan siluman, sehingga aku bisa mengimbanginya !" kata Ki Dahana Yaksa dalam hati.


"Resi Wismaya, sepertinya hanya tinggal kita berdua yang berada di ruangan ini. Bagaimana kalau kita selesaikan pertarungan ini. Selain sudah tidak sabar ingin menghadapimu, juga ada tugas yang harus segera aku selesaikan !" kata Ki Dahana Yaksa.


"Sepertinya tidak ada peluang bagi aku untuk mengelak dari pertarungan ini !" jawab Resi Wismaya.


Kemudian, secara bersamaan, Ki Dahana Laksa dan Resi Wismaya mengalirkan sejumlah besar tenaga dalam ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Sesaat kemudian, tubuh mereka berdua melesat menghilang karena begitu cepatnya gerakan mereka berdua.


__________ ◇ _________


__ADS_2