
Atas saran dari Ki Dwijo gurunya, Puguh dan Rengganis pergi menuju sebuah bukit yang bernama Bukit Gumuk Pasir Wedhi.
Sebuah bukit yang sangat gersang, yang sebagian besar permukaannya berpasir serta berbatu batu sangat besar dan hanya sebagian kecil permukaan tanah yang ditumbuhi rumput.
Bukit yang luasnya tidak sampai separuh luas hutan Alas Ombo itu terletak diantara Kerajaan Banjaran Pura dengan lautan lepas.
Di sisi kiri dan kanan bukit Gumuk Pasir Wedhi mengalir dua buah sungai yang cukup lebar.
Selama ini, bukit Gumuk Pasir Wedhi menjadi benteng alami Kerajaan Banjaran Pura yang dari arah lautan lepas.
Hal ini karena sedikit sekali orang atau bahkan pendekar sekalipun yang berani melintasi bukit Gumuk Pasir Wedhi ataupun dua sungai yang mengapitnya, dikarenakan Bukit Pasir Wedhi dan kedua sungai yang mengapitnya, terkenal angker dan sangat berbahaya.
Banyak bagian dari bukit Gumuk Pasir Wedhi yang permukaannya bisa bergerak sendiri dan menghisap apapun yang melintas di atasnya.
Selain itu, petir sering terjadi di bukit itu. Petir yang tidak bisa diperkirakan kapan menyambarnya dan dalam setiap keadaan yang bagaimana, petir itu menyambar.
Hanya binatang binatang tertentu yang mampu hidup di bukit Gumuk Pasir Wedhi, itupun binatang yang sangat beracun dan berbahaya, seperti ular pasir hitam, kalajengking merah, katak batu raksasa dan juga semut api.
Karena keadaan alamnya yang sangat ekstrim itu, Puguh dan Rengganis terpaksa tinggal di cekungan yang teletak diantara dua batu yang sangat besar.
Sudah hampir sepekan, Puguh dan Rengganis tinggal di bukit Gumuk Pasir Wedhi. Hari ini mereka berdua berniat keluar sebentar menuju ke kampung yang terdekat untuk menambah cadangan perbekalan yang hampir habis.
Baru saja mereka berdua keluar dari cekungan, tiba tiba terdengan suara ketukan berulang ulang. Suara ketukan itu cukup pelan, namun terdengar sangat penyakitkan di telinga Puguh dan Rengganis.
Karena itu, segera saja Puguh dan Rengganis melindungi pendengaran mereka dengan tenaga dalam.
Kemudian Puguh dan Rengganis mencari arah sumber suara ketukan dengan menuruni bukit hingga ke tepi sungai yang terletak di sebelah kiri bukit.
Dari kejauhan, di seberang sungai, Puguh dan Rengganis melihat seorang laki laki paruh baya mengenakan pakaian biksu dan kepala pelontos, sedang duduk di pinggir sungai sambil mengetuk ketukkan tongkat kayunya yang cukup besar ke batu yang ada di sekelilingnya.
Tuk tuk ! Tuk tuk ! Tuk tuk !
__ADS_1
"Hati hati adik Rengganis ! Hanya orang yang memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi yang bisa melakukan serangan dengan menggunakan suara, dari jarak yang masih jauh !" kata Puguh.
"Iya kakang. Batu yang terkena ketukan pun tidak pecah atau berpindah tempat. Menandakan pengendalian tenaga dalam yang sangat ahli !" jawab Rengganis.
"Kita biarkan saja, kita belum tahu tujuan biksu itu berada di pinggir sungai !" kata Puguh lagi, "Kita lewat belakang saja."
Kemudian, Puguh dan Rengganis berjalan ke arah sisi bukit yang mengarah ke Kerajaan Banjaran Pura.
Namun, saat mereka berdua hampir sampai di kaki bukit, Puguh dan Rengganis merasakan, jauh di depan mereka, tiga getaran kekuatan yang sangat kuat bergerak ke arah bukit.
"Ini hanya kebetulan, atau mereka yang memang datang secara bersamaan ?" kata Rengganis.
"Kita kembali ke atas ! Kita tunggu saja mereka di atas bukit, adik Rengganis !" kata Puguh, "Adik Rengganis jangan terlalu jauh dari Kakang !"
Sesampai di atas bukit, Puguh dan Rengganis dikejutkan dengan adanya lima orang berpenampilan aneh.
Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan dengan pakaian serba putih yang terbuat dari kain sutra. Wanita itu terlihat cantik dengan dandanannya yang cukup tebal dan di seluruh tubuhnya mengenakan banyak sekali perhiasan emas. Begitu banyaknya perhiasan emas itu sehingga menimbulkan suara bergemerincing.
Walau masih cukup jauh, Puguh dan Rengganis bisa menangkap getaran kekuatan yang sangat tinggi dari kelima orang itu terutama dari wanita paruh baya itu.
Tidak ada pilihan lain karena sudah naik ke atas bukit, Puguh dan Rengganis berjalan ke arah lima orang yang berpenampilan aneh itu.
"Hiihhh hi hi hi hi ! Kebetulan ! Anak muda ganteng dan cantik ! Aku mendengar, disini ada barang antik ! Cepat serahkan padaku dan akan aku bayar berapapun harga yang kau minta !" kata wanita paruh baya itu.
"Maaf Bibi ! Kami tidak punya apa apa ! Tidak ada yang bisa kami jual," jawab Rengganis.
"Hiihhh hi hi hi hi ... Kamu cantik cantik, sayang sekali menolak tawaranku ! Kalau begitu, nyawamu yang akan aku beli !" sahut wanita paruh baya lagi.
Begitu wanita paruh baya itu berhenti berbicara, tiba tiba salah seorang laki laki kekar yang memanggul buntalan berat sudah melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh dan Rengganis.
Namun, saat laki laki kekar itu baru sampai di tengah tengah, tiba tiba terdengar suara ketukan disertai melesatnya batu sebesar kepalan orang dewasa, yang menghadang gerakan laki laki kekar itu.
__ADS_1
Tuk tuk ! Tuk tuk !
Taaakkk !
Menabrak batu yang melesat cepat itu, laki laki kekar yang membawa buntalan berat itu kembali terdorong ke tempatnya.
"Hiihhh hi hi hi hi ! Wiku Polobogo ! Keluarlah ! Kenapa kau mengganggu kesenanganku ! Apa kau sudah bosan hidup ?" teriak wanita paruh baya itu.
Tiba tiba dari arah kiri wanita paruh baya itu, melesat sesosok bayangan yang kemudian mendarat tepat di depan wanita paruh baya itu.
"Dewa Batara ... Biyung Kencana ! Kau tidak boleh serakah hendak memiliki barang antik itu sendiri !" jawab laki laki paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Wiku Polobogo.
"Itu urusanku ! Kalau kau tidak segera pergi dari sini, mumpung kau sendirian, biar kau aku benamkan dulu di laut pasir itu !" sahut Biyung Kencana.
"Dewa Batara ! Selain serakah, kau juga merasa bisa mengambilnya sendirian !" jawab Wiku Polobogo.
Mendengar jawaban Wiku Polobogo, Biyung Kencana melirik sebentar ke arah Puguh.
"Bagaimana anak muda ? Serahkan padaku dan akan aku bayar lunas sekarang, berapapun kau meminta harganya !" kata Biyung Kencana sambil mengerling ke arah Puguh.
"Maaf bibi, aku tidak paham maksudmu dan aku tidak berniat menjual apapun !" jawab Puguh, "Permisi, kami hendak mencari barang barang untuk perbekalan kami."
Kemudian, Puguh dan Rengganis membalikkan badan hendak menuju ke arah Kerajaan Banjaran Pura.
Namun, dari arah Kerajaan Banjaran Pura, Puguh dan Rengganis kembali melihat ada tiga sosok tubuh yang melesat sangat cepat ke arah puncak bukit dengan gerakan kaki yang melangkah biasa.
Sesaat kemudian, mereka bertiga tiba di puncak bukit dan berhenti tidak jauh dari mereka yang sudah tiba lebih dulu.
"Topeng Seta, Topeng Jenar ! Tempat inikah yang kau maksud ?" tanya orang yang berdiri di tengah yang usianya lebih tua dari dua orang disamping kiri kanannya.
"Benar Guru ! Anak muda di depan itulah yang kami lihat !" jawab Topeng Seta.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_