
Sosok tubuh yang berdiri di pinggir tebing itu perlahan membalikkan badannya. Tangan kirinya bergerak pelan menyeka rambut kusut yang menutupi wajahnya.
"Adik Rengganis, mari kita pulang," kata Puguh sambil melangkah mendekat.
"Kakang Puguh jangan mendekat !" sahut Rengganis.
"Kenapa kita tidak boleh berdekatan, adik Rengganis ? Kakang tidak peduli bagaimanapun keadaan adik Rengganis !" kata Puguh.
"Kita sudah tidak bisa berdekatan lagi, kita sudah tidak bisa bersama sama lagi, kakang. Rengganis sudah tidak layak berada di dekat kakang Puguh. Rengganis sudah ternoda !" jawab Rengganis.
"Adik Rengganis, coba ceritakan pada kakang !" kata Puguh sambil perlahan melangkah semakin mendekat ke arah Rengganis.
"Bila Rengganis cerita, hanya akan menyakiti hati kakang Puguh !" kata Rengganis dengan suara bergetar.
"Ceritakanlah adik Rengganis. Tidak ada yang akan tersakiti," jawab Puguh sambil meraih tangan Rengganis.
Kemudian perlahan, Puguh mendekap Rengganis yang seluruh tubuhnya bergetar. Di dalam pelukan Puguh itu, Rengganis bercerita.
----- * -----
Setelah Bantala Yaksa keluar dari kamar sehabis meletakkan beberapa tanaman bunga di dalam pot pot, Rengganis segera menata pernafasannya.
Walaupun saat ini tidak tersisa sedikitpun tenaga dalam di dalam tubuhnya, Rengganis tetap mencoba tehnik penyerapan kekuatan tumbuh tumbuhan yang diajarkan oleh Ibu Pohon.
Dalam posisi terbaring di tempat tidur, sedikit demi sedikit kekuatan tumbuh tumbuhan keluar dari tanaman bunga di dalam pot pot yang berjajar di dinding kamar.
Perlahan Rengganis mulai merasakan aliran tenaga dalam menyelimuti seluruh tubuhnya.
Tehnik Sara Jiwana yang digunakannya membuat aliran tenaga dalam memenuhi seluruh sel sel tubuhnya bahkan hingga seluruh syaraf syaraf terkecil dari tubuhnya.
Walau hanya tanaman bunga kecil kecil di dalam pot, tetaplah tumbuhan yang memiliki kekuatan yang sulit untuk diperkirakan.
Kemudian, masih sambil terbaring, Rengganis mencoba menggerak gerakkan kedua tangannya dengan pola tertentu. Sesaat kemudian, terlihat dahan dahan tanaman bunga di dalam pot pot ikut bergerak seirama dengan gerakan kedua tangan Rengganis.
Setelah beberapa waktu Rengganis merasa tenaga dalamnya semakin bertambah, walaupun belum mencapai separuh dari seluruh kekuatannya.
Saat baru saja menghentikan gerakan tangannya, tiba tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Bantala Yaksa ke dalam kamar dan langsung mendekati Rengganis.
"Bagaimana, sudah merasa lebih sehat ?" tanya Bantala Yaksa.
Rengganis hanya mengangguk, menjawab pertanyaan Bantala Yaksa dan belum memperlihatkan gerakan tubuh sedikitpun.
"Sudah kau putuskan, kau bersedia menjadi istriku ?" tanya Bantala Yaksa sambil semakin mendekat, kemudian kedua tangannya memegang tangan Rengganis.
Rengganis yang masih dalam posisi terbaring, merasakan tubuhnya bergetar hebat, namun berusaha tetap tenang dan berusaha menekan perasaannya dengan sekuatnya.
"Aku akan menjawab sekarang, tapi tolong bukalah jendela jendela kamar itu sekarang !" jawab Rengganis.
__ADS_1
"Baiklah ! Untukmu, aku akan melakukan semua yang kau inginkan !" kata Bantala Yaksa sambil bergerak cepat membuka seluruh jendela yang ada di kamar itu.
Setelah seluruh jendela sudah terbuka, Bantala Yaksa segera mendekati Rengganis kembali.
Kemudian, sambil memegang kedua tangan Rengganis, Bantala Yaksa membantu Rengganis untuk duduk.
"Ayo, aku bantu kau duduk !" kata Bantala Yaksa sambil menarik kedua tangan Rengganis.
Tanpa mengatakan apa apa, Rengganis bangun dari terbaringnya. Melihat Rengganis duduk di tempatnya terbaring, Bantala Yaksa merasa sangat senang. Begitu senangnya perasaan Bantala Yaksa, hingga dengan gerakan reflek, dipeluknya tubuh Rengganis.
Rengganis yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bantala Yaksa, kedua telapak tangannya reflek melakukan gerakan.
Angin berhembus cukup kencang masuk melalui seluruh jendela yang terbuka, ke dalam ruangan kamar itu. Lebih tepatnya, angin yang membawa kekuatan tumbuh tumbuhan dari pohon pohonan yang berada di luar kamar, masuk ke tubuh Rengganis.
Tiba tiba, dua buah pot berisi tanaman bunga yang berada di dalam kamar, melesat dengan sangat cepat dan menghantam punggung dan kepala Bantala Yaksa, saat Rengganis kembali menggerakkan kedua telapak tangannya.
Bruuuaaakkk ! Praaakkk !
Merasakan kesakitan, karena tidak mengira akan terkena hantaman pot utuh dengan tanamannya di belakang kepala dan punggungnya, Bantala Yaksa melepaskan pelukannya pada Rengganis.
"Apa yang kau lakukan !" teriak Bantala Yaksa sambil mundur ke belakang hingga tiga langkah.
"Kau sudah melecehkan aku dengan menyentuhku !" sahut Rengganis.
"Tetapi, ... Bukankah kita akan menjadi pasangan suami istri ?" kata Bantala Yaksa.
"Bukankah kau sudah bersedia untuk menjadi istriku ?" tanya Bantala Yaksa.
"Aku tidak akan pernah mau menjadi istrimu !" jawab Rengganis dengan ketus.
"Kalau begitu, kau memang harus aku paksa !" kata Bantala Yaksa yang marah sambil menghunus senjata goloknya.
Sriiinnnggg !
Kemarahan Bantala Yaksa memuncak, karena merasa ditipu dan dipermainkan oleh Rengganis.
Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, tiba tiba ujung golok Bantala Yaksa sudah mengancam bahu kiri Rengganis.
Sementara itu, melihat laki laki di depannya itu menghunus senjata, tubuh Rengganis segera bangkit dari duduknya.
Dengan cepat, tubuh Rengganis melayang turun dan berdiri di depan Bantala Yaksa.
Saat ujung golok Bantala Yaksa mengarah ke bahu kirinya, Rengganis segera melenting ke samping kanan untuk menghindarinya.
Namun, tidak ingin gadis yang diinginkannya lepas, Bantala Yaksa terus mengejar dan menghujani Rengganis dengan serangan serangan senjata goloknya.
Sesaat kemudian, di ruangan kamar yang cukup besar dan luas itu, berlangsung pertarungan dalam gerakan yang sangat cepat.
__ADS_1
Semakin lama, gerakan Bantala Yaksa semakin cepat. Serangan goloknya semakin bervariasi dan berbahaya. Walaupun tidak mengarah ke bagian tubuh yang mematikan, serangan golok Bantala Yaksa tetap akan menimbulkan luka.
Sebagai anak kandung Ki Dahana Yaksa sekaligus sebagai penerus untuk memimpin Padepokan Wukir Candrasa, tingkat kekuatan dan tenaga dalam Bantala Yaksa tidak di bawah Ki Dahana Yaksa ayahnya.
Bahkan, karena fokus dengan tehnik ilmu golok andalan Padepokan Wukir Candrasa, membuat jurus jurus golok Bantala Yaksa lebih ganas dan semakin berbahaya, karena mempunyai cabang cabang serangan yang lebih bervariasi dan sulit diduga arah serangannya.
Sementara itu, sambil terus berlompatan menghindari serangan Bantala Yaksa, Rengganis terus menggerakkan kedua telapak tangannya.
Perlahan, angin berhembus masuk ke dalam ruangan kamar itu melalui seluruh lubang jendela, dan semakin lama semakin kencang.
Gerakan angin yang sedikit memutar itu, mulai mengelilingi tubuh Rengganis dan kemudian masuk terserap oleh tubuh Rengganis.
Setelah selama dua puluh jurus terus menerus menghindar, akhirnya Rengganis merasakan lonjakan kekuatan yang luas biasa.
Dengan tubuh sedikit melayang, Rengganis mulai membalas menyerang.
Kedua tangannya sesaat bergerak ke arah pinggangnya. Tiba tiba, dua buah selendang meluncur dari pinggang Rengganis, ke arah bagian bagian tubuh Bantala Yaksa.
Bantala Yaksa terus memutar senjata goloknya sedemikian rupa untuk menangkis dua selendang yang melesat ke arahnya.
Dua selendang yang dialiri tenaga dalam tingkat sangat tinggi itu, berbenturan dengan bilah golok milik Bantala Yaksa, sehingga menimbulkan suara yang nyaring.
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Tanpa terasa, pertarungan sudah berjalan sekitar seratus jurus. Benturan senjata golok dengan selendang telah terjadi berulang kali. Semakin lama, benturan itu semakin membuat tangan Bantala Yaksa terasa kebas dan bergetar. Sehingga akhirnya Bantala Yaksa semakin terdesak mundur. Tetapi sebaliknya, semakin lama, kekuatan Rengganis justru semakin meningkat.
Hingga akhirnya, pada suatu kesempatan, dua selendang Rengganis berhasil menghalau senjata golok Bantala Yaksa.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Sesaat setelah senjata golok itu terpental ke belakang, Rengganis menyusulinya dengan pukulan tangan kiri ke arah dada lawan.
Plllaaakkk !
Terkena pukulan tepat di dadanya, tubuh Bantala Yaksa terlempar ke belakang dan jatuh berdebum di lantai kamar.
Dbuuummm !
Bersamaan dengan jatuhnya tubuh Bantala Yaksa, tiba tiba Rengganis sudah berdiri di dekatnya dan melayangkan cakaran tangan kanannya ke arah dada Bantala Yaksa.
Craaakkk !
Dengan gerakan yang sangat cepat tangan kanan Rengganis menembus dada Bantala Yaksa dan membetot keluar jantungnya.
Akhirnya, Bantala Yaksa tewas seketika di tangan Rengganis.
__________ ◇ __________
__ADS_1