
Kemudian Putri Mahatariti berdiri dan menatap Puguh.
"Mereka akan kami bebaskan, tetapi sebagai gantinya, kamu harus mau memenuhi undangan kami !" kata Putri Mahatariti sambil menunjuk Jalu dan ketiga saudara seperguruannya.
Untuk beberapa saat Puguh melihat ke arah Jalu dan saudara seperguruannya. Kemudian mengangguk dan bergeser sedikit mendekat ke arah Rengganis berdiri.
"Harap kalian lepaskan mereka. Aku akan menghadiri undangan kalian, hanya kalau temanku ini boleh ikut," jawab Puguh.
"Tapi kakang, ... ?" sahut Rengganis sambil memegang lengan Puguh.
"Adik Rengganis tidak perlu khawatir," jawab Puguh, "Tidak akan terjadi apa apa dengan kita."
"Baiklah," akhirnya Putri Mahatariti menerima syarat dari Puguh, "Akan ada orang kami yang akan memberitahu kalian, hari apa dan tempat dimana kalian diundang datang."
Kemudian Putri Mahatariti pergi meninggalkan tempa itu diikuti oleh keenam laki laki paruh baya itu.
Setelah rombongan berkuda Putri Mahatariti pergi, Puguh dan Rengganis segera menghampiri Jalu dan ketiga saudara seperguruannya. Puguh dan Rengganis melihat, Jalu dan ketiga saudara seperguruannya masih sangat muda dan hanya lebih tua sekitar dua tiga tahun dari Puguh dan Rengganis.
Melihat mereka berempat mendapatkan luka luka, Puguh segera memberi mereka beberapa pil dan ramuan untuk mempercepat penyembuhan luka.
"Terimakasih atas pertolongan kisanak berdua, sehingga kami masih bisa lolos dan tidak dibawa mereka," kata Jalu mewakili saudara saudara seperguruannya.
Setelah mereka berkenalan, akhirnya mereka berbincang bincang. Pada perbincangan itu, mereka bisa menjadi cepat akrab.
Awalnya Jalu memperingatkan Puguh untuk tidak menghadiri undangan mereka, karena hanya akan diperalat oleh kelompok mereka.
Pada kesempatan itu, puguh menanyakan banyak hal pada Jalu, yang ternyata banyak memiliki informasi tentang dunia persilatan, terutama di wilayah Kadipaten Randu Beteng dan sekitarnya.
Kepada Puguh, Jalu menceritakan, Kalau rombongan berkuda tadi adalah orang orang anggota inti Perkumpulan Jaladara Langking.
Putri Mahatariti yang memimpin rombongan tadi adalah anak kedua dari ketua Perkumpulan Jaladara Langking.
__ADS_1
Sebagai putri dari ketua Perkumpulan, Putri Mahatariti mempunyai kesaktian yang sangat tinggi. Dalam pertarungan tadi, dia belum menunjukkan kesaktian yang sebenarnya.
Saat ini, Putri Mahatariti juga ditugaskan oleh orangtuanya untuk mengendalikan wilayah Kadipaten Randu Beteng dan sekitarnya. Sehingga dia mempunyai wewenang yang besar di wilayah itu.
Selain itu, Jalu menceritakan tentang siapa dirinya. Dia dan ketiga saudara seperguruannya adalah murid dari seorang resi yang bertapa di sebuah hutan di pinggiran Kadipaten Randu Beteng, yang bernama Resi Ariwata.
Namun Resi Ariwata saat ini sudah ditangkap oleh Putri Mahatariti, saat datang memenuhi undangan, karena tidak mau membantu Perkumpulan Jaladara Langking.
Kemudian, Jalu dan ketiga saudara seperguruannya juga dikejar kejar oleh Perkumpulan Jaladara Langking, karena mereka selalu menolak undangan yang diberikan kepada mereka.
Jalu dan ketiga saudara seperguruannya diincar oleh Perkumpulan Jaladara Langking, karena mereka menguasai ilmu Jaring Sutra yang kalau dimainkan empat orang, pendekar sekelas Putri Mahatariti, kalau tidak waspada akan bisa dikalahkan.
Saat Resi Ariwata hendak ditangkap, Jalu dan ketiga saudara seperguruannya melakukan perlawanan. Namun gurunya memilih menyerah dengan tidak melawan demi keempat muridnya bisa terlepas dari Perkumpulan Jaladara Langking.
Setelah Jalu berhenti bercerita, sejenak suasana hening dan senyap.
"Bagaimana kalau kami mendatangi undangan mereka ?" tanya Puguh untuk memecahkan keheningan.
"Kami akan menghadiri undangan mereka, sekaligus untuk mengetahui kekuatan Perkumpulan Jaladara Langking yang berada di sini," kata Puguh.
Mereka berbincang hingga tanpa terasa waktu sudah menjelang malam. Akhirnya Puguh dan Rengganis menghabiskan malam dengan beristirahat di penginapan yang ada di deretan warung makan warung makan di sepanjang jalan itu.
----- * -----
Biasanya, setiap pendekar yang mendapatkan undangan dari Perkumpulan Jaladara Langking, akan menerima undangan yang disampaikan oleh salah seorang kepercayaan Putri Mahatariti dalam jarak waktu yang cukup lama dari sejak pendekar itu ditemui oleh Putri Mahatariti. Dan biasanya, pendekar yang menerima undangan tidak hanya seorang dua orang. Namun sampai beberapa orang.
Orang kepercayaan Putri Mahatariti akan dengan mudah menemukan pendekar yang disasar, karena setelah ditemui oleh Putri Mahatariti, akan ada pendekar dari Perkumpulan Jaladara Langking yang mengawasi dan memata matai pendekar itu.
Namun kali ini, hal itu tidak terjadi pada Puguh. Pada pagi berikutnya setelah bertemu dengan Putri Mahatariti, langsung ada seorang pendekar dari Perkumpulan Jaladara Langking yang menemui Puguh dan menyampaikan undangan, bahwa malam nanti Puguh diminta datang ke sebuah rumah yang tidak jauh dari pendopo Kadipaten Randu Beteng.
Mendengar hal ini, Jalu dan ketiga saudara seperguruannya merasakan ada yang aneh dalam undangan ini. Sehingga Jalu menyampaikan kepada Puguh, bahwa saat Puguh dan Rengganis berangkat masuk ke kota Kadipaten Randu Beteng, mereka berempat juga diam diam akan ikut masuk ke kota Kadipaten. Mungkin mereka bisa membantu, apabila terjadi apa apa dengan Puguh dan Rengganis.
__ADS_1
"Tapi aku minta, kakang Jalu berjati hati, jangan sampai tertangkap oleh mereka lagi," kata Puguh.
Kemudian Jalu menyarankan, untuk berangkat siang ini juga, agar sebelum malam tiba, Puguh dan Rengganis bisa sampai di kota Kadipaten Randu Beteng.
----- * -----
Siang harinya, Puguh dan Rengganis segera berangkat menuju ke arah kota Kadipaten Randu Beteng. Mereka berdua menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka, walaupun tidak terlalu cepat. Karena mereka berdua merasakan, ada seseorang yang mengikuti mereka.
Perjalanan mereka berdua sangat lancar. Menjelang petang,mereka berdua sudah memasuki kota Kadipaten Randu Beteng.
Di suatu jalan yang menuju ke pendopo Kadipaten Randu Beteng, Puguh dan Rengganis sengaja berjalan pelan agar orang yang mengikuti mereka bisa menyusul mereka.
Saat mereka berdua berjalan biasa, tiba tiba di hadapan mereka muncul seorang laki laki paruh baya mengenakan pakaian yang mirip dengan yang digunakan oleh Perkumpulan Jaladara Langking.
"Kalian berdua sudah ditunggu di rumah berwarna hijau yang yang berada diujung jalan ini," kata laki laki paruh baya itu.
Begitu Puguh memperhatikan arah yang ditunjukkannya laki laki paruh baya itu segera melesat pergi.
Puguh dan Rengganis segera berjalan menuju rumah yang dimaksud oleh laki laki paruh baya itu.
Sesampainya di halaman depan rumah berwarna hijau, ada seorang pendekar yang segera menghampiri Puguh dan Rengganis.
"Harap ikuti saya," kata pendekar itu yang kemudian langsung bergegas berjalan masuk ke dalam rumah itu.
Tanpa menjawab, Puguh dan Rengganis mengikuti pendekar itu. Karena halaman depannya yang cukup luas, membuat rumah bercat hijau itu terlihat kecil.
Begitu sampai di teras rumah, barulah tampak kalau rumah itu besar dengan terasnya yang cukup luas.
Puguh dan Rengganis dibawa masuk ke ruang tengah yang ternyata sangat besar. Begitu melewati pintu ke arah ruang tengah, Puguh melihat, Putri Mahatariti sudah berdiri dari kursinya di deretan paling ujung. Di sebelahnya terlihat duduk dua orang laki laki dan perempuan paruh baya dengan pakaiannya yang putih bersih.
__________ ◇ __________
__ADS_1