
Sementara itu, setelah meninggalkan pertarungan, Kartika Dhatu dan seluruh anggota inti serta anak murid Trah Keluarga Asmara Dhatu, segera menuju ke Gunung Pedang untuk menemui Iswara Dhatu.
Selama perjalanan menuju ke Gunung Pedang, hati dan pikiran Kartika Dhatu berkecamuk dengan berbagai perasaan.
Kartika Dhatu merasa marah dan benci, karena harus melarikan diri dari pertarungan. Tetapi apabila tetap bertarung, Kartika Dhatu tidak tega jika para anak murid dan anggota inti Trah Keluarga Asmara Dhatu banyaknyang menjadi korban.
Selain itu, Kartika Dhatu juga merasakan gelisah, khawatir bilamana Gunung Pedang juga mendapatkan serangan dari pasukan siluman manusia. Karena Kartika Dhatu sangat paham sifat Iswara Dhatu neneknya, yang akan memilih bertarung sampai mati, jika ada siapapun yang mengganggu Trah Keluarga Asmara Dhatu, apalagi sampai menyinggung harga dirinya.
Namun, sesampai di Gunung Pedang, Kartika Dhatu dan semua pengikutnya sangat terkejut, ketika melihat sisa sisa pertarungan yang masih baru yang sangat mengerikan. Banyak sekali korban pertarungan, baik yang tewas ataupun yang terluka parah, masih tergeletak di halaman depan dan di bangunan bangunan sekitarnya. Bau anyir dari darah dan tubuh yang terluka masih sangat tajam.
Kartika Dhatu segera memerintahkan semua pengikutnya untuk segera menolong korban pertarungan yang masih hidup dan memeriksa semua wilayah Padepokan Wukir Candrasa, untuk memastikan tidak ada korban pertarungan yang terlewatkan dan tidak tertolong.
Kartika Dhatu melihat, korban tewas ataupun korban yang terluka, tidak hanya dari pihak Trah Keluarga Asmara Dhatu. Banyak juga tubuh tubuh besar siluman manusia yang bergeletakan. Namun anehnya, tidak ada satupun korban dari pihak anak murid Padepokan Wukir Candrasa, baik yang tewas ataupun yang terluka.
Kemudian, karena tidak menemukan neneknya diantara tubuh tubuh korban pertarungan di halaman depan, Kartika Dhatu segera mencari neneknya ke dalam bangunan di sekeliling halaman depan, untuk memastikan keadaannya.
Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya Kartika Dhatu menemukan Iswara Dhatu neneknya duduk bersila di ruangan perpustakaan dalam keadaan tubuh penuh luka dan pakaian penuh dengan noda darah.
"Nenek !" teriak Kartika Dhatu sambil segera melesat mendekati Iswara Dhatu.
Mendengar suara cucunya, Iswara Dhatu yang sedang bersemedi untuk memulihkan staminanya, perlahan membuka matanya.
Melihat wajah cucunya yang sangat cemas, Iswara Dhatu tersenyum.
"Jangan khawatir, nenek tidak apa apa," kata Iswara Dhatu.
"Bagaimana dengan luka luka nenek ?" tanya Kartika Dhatu.
"Hanya luka luar dan ..... sedikit luka dalam !" jawab Iswara Dhatu.
__ADS_1
Namun, perkataan Iswara Dhatu tidak seperti keadaan yang sebenarnya. Karena tiba tiba Iswara Dhatu memuntahkan darah segar dengan napasnya yang terengah engah.
"Nenek terluka parah !" pekik Kartika Dhatu sambil segera mendudukkan neneknya, kemudian segera memberikan pertolongan dengan mengalirkan tenaga dalam melalui punggung neneknya.
Setelah hampir setengah hari memberikan bantuan tenaga dalam, Kartika Dhatu menghentikan penyaluran tenaga dalamnya, dan membiarkan neneknya tenggelam dalam semedinya.
Gurat kecemasan di wajah Kartika Dhatu sudah banyak berkurang, melihat neneknya bersemedi dengan nafas yang sudah lebih teratur dan ringan.
Sementara menunggu neneknya selesai bersemedi, Kartika Dhatu keluar dari ruang perpustakaan untuk berkeliling ke bangunan bangunan yang lain dan melihat lihat keadaan di halaman depan.
Di halaman depan, Kartika Dhatu melihat, sebagian besar anggota inti dan anak murid Trah Keluarga Asmara Dhatu yang menyertai dan membantu Iswara Dhatu mengurus Padepokan Wukir Candrasa, telah tewas. Hanya sebagian kecil yang bisa bertahan hidup, itupun dalam keadaan terluka parah.
Selain korban di pihak Trah Keluarga Asmara Dhatu, Kartika Dhatu juga melihat banyak sekali tubuh tubuh raksasa siluman manusia yang ikut tewas.
"Nampaknya pertarungan di Gunung Pedang ini hampir bersamaan waktunya dengan penyerbuan pasukan siluman manusia ke bukit tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu !" kata Kartika Dhatu dalam hati.
Setelah beberapa waktu berkeliling, kemudian Kartika Dhatu kembali ke ruang perpustakaan. Di ruang perpustakaan, Kartika Dhatu melihat neneknya sudah terbangun dari semedinya.
Setelah Kartika Dhatu mendekat, Iswara Dhatu pun menceritakan semua kejadian selama dia mengurus Padepokan Wukir Candrasa.
----- * -----
Beberapa hari setelah mengurus Padepokan Wukir Candrasa, Iswara Dhatu mulai mengecek semua dokumen milik Padepokan Wukir Candrasa.
Selain mengecek semua dokumen, Iswara Dhatu juga melihat ke dalam ruang perpustakaan. Di ruang perpustakaan itu, Iswara Dhatu tertarik dengan sebuah kitab ilmu silat berjudul Kitab Naga Pijana.
Setelah beberapa kali mencoba mempelajari Kitab Naga Pijana, Iswara Dhatu merasakan, jurus jurus dalam Kitab Naga Pijana sangat cocok dimainkan dengan jurus jurus dalam ilmu silat 'Tarian Dewi Kematian'.
Maka, diam diam, selama beberapa hari, Iswara Dhatu mencoba melatih jurus jurus Kitab Naga Pijana dan menggabungkannya dengan judus jurus Tarian Dewi Kematian.
__ADS_1
Namun, kurang beruntungnya Iswara Dhatu, saat baru setengahnya mempelajari Kitab Naga Pijana, datanglah serangan dari pasukan siluman manusia yang berjumlah cukup banyak dan berkekuatan besar ke Padepokan Wukir Candrasa.
Seluruh pemimpin pasukan siluman manusia itu memiliki kekuatan dan tenaga dalam pada tingkat sangat tinggi.
Walaupun kalah dalam jumlah pasukan, Iswara Dhatu tetap melakukan perlawanan sampai selesai pertarungan.
Akhirnya, terjadilah pertarungan yang sangat brutal dan keji di halaman depan Padepokan Wukir Candrasa.
Dalam pertarungan yang berlangsung selama seharian itu, sebagian besar anggota inti dan anak murid Trah Keluarga Asmara Dhatu tewas. Yang masih bertahan hidup pun mengalami luka luka yang parah.
Sementara itu, hampir seluruh anggota pasukan siluman manusia, tewas.
Dalam pertarungan itu, Iswara Dhatu menghadapi keroyokan enam sampai delapan pimpinan pasukan siluman manusia yang tingkat kemampuan dan tenaga dalamnya sudah sangat tinggi.
Di dalam pertarungan itu, Iswara Dhatu mencoba menggunakan jurus gabungan dari Ilmu silat Tarian Dewi Kematian dengan jurus jurus dari Kitab Naga Pijana.
Selama menggunakan jurus gabungan itu, dua senjata selendang Iswara Dhatu, mematuk matuk dan menebas dengan lebih ganas lagi. Bahkan, saat kedua senjata selendangnya itu terlepas dari tangannya, dua senjata selendang itu, tetap bisa dikendalikan oleh Iswara Dhatu. Kedua senjata selendang itu melayang layang dan meliuk liuk kemudian menyambar dan mematuk setiap lawan yang menjadi sasarannya.
Dari jarak yang agak jauh, seluruh gerakan senjata selendang itu bagaikan naga yang sedang menari nari di taman bunga.
Walaupun jurus gabungan dua ilmu silat itu belum sempurna dan baru setengahnya, namun dalam pertarungan itu, Iswara Dhatu berhasil menewaskan banyak pemimpin pemimpin pasukan siluman manusia.
Namun, bersamaan dengan itu, banyak juga anggota inti dan anak murid Trah Keluarga Asmara Dhatu yang menjadi korban tewas dalam pertarungan di halaman depan Padepokan Wukir Candrasa.
Walaupun berhasil menewaskan banyak siluman manusia, tetapi Iswara Dhatu juga menerima banyak sekali luka luka di tubuhnya. Beberapa kali tubuhnya terhempas terkena hujaman senjata gada di tangan lawannya.
Akhirnya, pertarungan di halaman depan Padepokan Wukir Candrasa itu mencapai puncaknya. Saat Iswara Dhatu hampir kehabisan tenaga, sisa sisa pasukan siluman manusia itu tiba tiba pergi meninggalkan tempat pertarungan.
Beberapa saat setelah pertarungan berhenti, Iswara Dhatu jatuh terduduk dan kemudian memuntahkan darah segar hingga dua kali.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_