
Setelah berhasil menjatuhkan Ki Naga Wiru, Puguh segera melayangkan serangan pada Ki Klawu Carma.
Kedua telapak tangannya dengan jurus Cakar Harimaunya, bergantian memapaki tongkat Ki Klawu Carma.
Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk !
Traaakkk ! Traaakkk !
Karena tidak ingin membuang kesempatan yang dapat menimbulkan korban, Puguh segera mendesak Ki Klawu Carma dengan kecepatannya.
Tanpa bisa diimbangi lagi oleh Ki Klawu Carma, pukulan pukulan jurus Cakar Harimau mendarat di tubuh Ki Klawu Carma. Tamparan ke arah kepala, cakaran yang membuat luka memanjang di bahu dan dada serta tendangan ke arah perut yang membuat tubuh Ki Klawu Carma terlempar ke belakang kemudian jatuh terduduk, dengan tangan kanan yang masih memegang tongkatnya sebagai penyangga tubuhnya.
Paaaccckkk ! Paaaccckkk !
Sreeettt ! Sreeettt !
Buuuggghhh !
Ki Klawu Carma merasakan sesak di dadanya. Terlihat darah mengalir di kedua sudut bibirnya.
Baru saja Ki Klawu Carma berdiri, Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi kembali menyerang dengan seluruh tenaga mereka.
Pedang Ki Bajrapadsa dan sabetan tongkat Ki Ragajampi, berkali kali ditangkis tongkat butut. Namun kali ini, Ki Klawu Carma merasakan pedih di telapak tangan yang memegang tongkat. Tongkatnya pun terasa bergetar setiap berbenturan dengan pedang Ki Bajrapadsa ataupun dengan tongkat Ki Ragajampi.
Ki Klawu Carma pun semakin kewalahan menghadapi gempuran senjata ke dua lawannya. Hingga pada suatu kesempatan, karena kelelahan yang membuat Ki Klawu Carma terlambat untuk membuat gerakan menangkis. Kedua senjata lawannya berhasil mengenai tubuhnya.
Pedang di tangan Ki Bajrapadsa berhasil menghujam ke dada Ki Klawu Carma. Bersamaan dengan itu, tongkat Ki Ragajampi juga dengan telak mengenai kepala Ki Klawu Carma.
Praaakkk !
Jleeebbb !
Tubuh Ki Klawu Carma terdorong mundur dan terlempar ke belakang dan tewas seketika.
----- * -----
__ADS_1
Sementara itu, Puguh, setelah Ki Klawu Carma kembali diambil alih oleh Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi, segera melesat kembali ke arah Ki Naga Wiru yang baru saja selesai berdiri lagi.
Namun kali ini, Puguh menggunakan ilmu Bantala Wreksa yang diajarkan oleh Ki Dwijo gurunya. Dengan kecepatan dan tenaga dalam yang dimilikinya, membuat keampuhan ilmu Bantala Wreksa menjadi berkali kali lipat.
Hanya dalam beberapa jurus, tubuh Ki Naga Wiru terpaksa menerima hujan pukulan dan tendangan.
Plak ! Plak ! Plak !
Buggghhh ! Buggghhh !
Hingga setelah beberapa jurus, tubuh Ki Naga Wiru yang telah oleng, terkena pukulan tepat di dadanya yang membuat tubuhnya terdorong ke belakang dan terlempar hingga beberapa langkah, sambil mulutnya memuntahkan darah segar.
Tubuh Ki Naga Wiru jatuh terlentang dan kemudian tidak bergerak lagi.
----- * -----
Sementara itu, menghadapi tiga senopati sekaligus, menjadi pekerjaan yang sangat sulit bagi Ni Srayu. Walaupun telah mengerahkan semua tenaga dalamnya, tetap saja Ni Srayu tidak bisa keluar dari tekanan yang diberikan oleh ke tiga senopati itu.
Hingga pada suatu kesempatan, tangkisan golok dari Senopati Utama Wiguna yang lanjutkan dengan gerakan sontekan, berhasil membuat tasbih Ni Srayu putus dan jatuh berantakan. Disusul kemudian sabetan golok Senopati Raksaguna dan tusukan golok Senopati Nata tidak bisa dihindari lagi oleh Ni Srayu.
Jleeebbb !
Ni Srayu pun langsung terkapar dan tewas seketika, terkena dua serangan yang sudah tidak bisa dia hindari lagi, bersamaan dengan saat terlemparnya tubuh Ki Naga Wiru oleh serangan pukulan Puguh.
Setelah ketiganya tewas, Puguh segera melihat keadaan sekelilingnya. Siapa tahu ada anggota Perkumpulan Jaladara Langking yang masih bersembunyikan, dan membebaskan Raden Tumenggung Suryo Langit dan seluruh keluarganya dari penjara.
Bahkan Puguh berkeliling di sekitar gedung Kadipaten Langitan, hingga ke keempat arah perbatasan Kadipaten Langitan.
Kemudian, selama beberapa hari, Puguh dan yang lainnya melakukan pembersihan dengan mendatangi Kademangan Kademangan yang berada di dalam wilayah kekuasaan Kadipaten Langitan.
Di daerah Kademangan itu, mereka hanya menjumpai anggota Perkumpulan Jaladara Langking yang kemampuannya di bawah Ni Srayu dan Ki Klawu Carma. Sehingga dengan mudah, mereka membasminya.
Setelah wilayah Kadipaten Langitan benar benar terbebas dari cengkeraman orang orang Perkumpulan Jaladara Langking, Puguh pun berpamitan untuk pergi ke wilayah Kadipaten lainnya, yang juga dikuasai oleh Perkumpulan Jaladara Langking.
Awalnya Ki Bajrapadsa dan yang lainnya bersikeras hendak ikut Puguh pergi ke Kadipaten lain. Namun setelah diberi pengertian oleh Puguh, bahwa tenaga mereka semua lebih dibutuhkan untuk menjaga Kadipaten Langitan, akhirnya mereka semua bisa menerima dan melepaskan Puguh untuk pergi sendirian.
__ADS_1
Sebelum pergi, Puguh menyampaikan, jika ada daerah lain yang membutuhkan bantuan kekuatan tempur, Puguh akan segera memberi kabar pada mereka semua.
----- * -----
Pagi hari, di perbatasan Kadipaten Randu Beteng dengan sebuah hutan. Langit yang cerah dengan matahari yang baru saja memancarkan kehangatan sinarnya.
Setiap permukaan bumi yang menerima dekapan kehangatan sinar itu, memancarkan berjuta kilauan putih keperakan. Kilauan yang berasal dari hamparan embun pagi, yang menyelimuti dedaunan, batang dan ranting pohon, rumput rumput, permukaan tanah dan bebatuan.
Pertemuan dari semuanya itu, menyajikan suatu pemandangan yang sangat indah, yang membawa rasa damai dan tenteram. Padahal itu hanyalah secarik lukisan kecil, tangan Tuhan.
Keindahan itu semakin sempurna dengan hadirnya suara suara dedaunan yang dibelai angin, burung burung yang mulai menyanyikan elegi pagi.
Semua itu menjadi harmoni alam yang tiada duanya.
Namun, segala keindahan itu, sedikit ternodai oleh suara desiran senjata berkelebat, suara benturan logam dan suara suara teriakan kemarahan.
Dalam keheningan pagi itu, telah terjadi dua pertarungan yang berlangsung secara bersamaan.
Terlihat, Rengganis sedang menghadapi pertarungan yang sengit melawan Ki Bayuseto yang terhitung masih kakeknya. Sedangkan Ki Dwijo, terlihat dipaksa pontang panting melawan dua lawan sekaligus yaitu Nyi Chandra Praya dan Kalayaksa.
Sebelumnya, dalam melakukan perjalanan, Ki Dwijo yang ditemani oleh Rengganis tiba di perbatasan Kadipaten Randu Beteng setelah beberapa pekan mereka melakukan perjalanan keluar masuk hutan.
Tujuan mereka memang hendak ke Kadipaten Randu Beteng, guna mencari informasi tentang keberadaan Puguh.
Saat baru saja mereka tiba di perbatasan Kadipaten Randu Beteng, mereka dihadang oleh Ki Bayuseta, Nyi Chandra Praya dan Kalayaksa.
Mereka bertiga memang sengaja menghadang perjalanan Ki Dwijo dan Rengganis.
Apalagi setelah Ki Bayuseta sempat mendengar kabar, kalau Rengganis adalah yang dulunya anak kecil cucu Ki Bajraseta, adik kandungnya. Maka Ki Bayuseta berencana menarik Rengganis untuk berada di pihaknya.
Namun, walaupun Rengganis masih berusia muda, namun karena kecerdasannya dan berkat bimbingan dari Ki Dwijo, setelah sebelumnya sempat diajari oleh Puguh, Rengganis tumbuh menjadi seorang gadis yang memiliki kemampuan tidak kalah oleh Ki Dwijo.
Pagi itu, saat Ki Bayuseta dan kedua temannya berhasil menghadang Ki Dwijo dan Rengganis, Ki Bayuseta langsung menyerang Rengganis. Ki Bayuseta berpikir, Rengganis masih muda dan tingkat ilmu serta kecepatannya, tidak mungkìn melebihi guru sekaligus kakeknya. Maka Ki Bayuseta berniat secepat mungkin menjatuhkan Rengganis. Setelah Rengganis berada di tangannya baru kemudian secepatnya menghabisi Ki Dwijo.
Namun, diluar perkiraannya, Rengganis mampu melawannya bahkan untuk tenaga dalam dan kecepatannya, anak gadis yang masih terhitung cucunya itu, tidak kalah dengan tidak kalah dengannya.
__ADS_1
__________ ◇ __________