
Waktu seolah berjalan dengan cepat. Tanpa terasa sekitar satu bulan sudah terlewatkan. Selama satu bulan itu, Pangeran Panji yang sudah dianggap anak oleh ratu makluk penghuni alam lain yang mempunyai kekuatan iblis, yang lebih dikenal dengan sebutan Ratu dari Alam Iblis, ditempa dengan latihan yang sangat keras dan berat, sehingga sekarang mempunyai kekuatan yang hanya dibawah sang Ratu dari Alam Iblis.
Sementara Ki Kama Catra, yang saat itu sedang dalam kondisi terlemahnya, membuat jiwa dan tubuhnya dikuasai oleh iblis, dimana iblis yang mengendalikan tubuhnya diberi tugas untuk mendampingi dan membantu Pangeran Panji.
Untuk Putri Mahatariti, sebenarnya sangat disukai oleh Ratu dari Alam Iblis. Namun, karena masih ada sedikit kesadaran di dalam hati dan pikirannya, membuat dirinya belum bisa dikuasai sepenuhnya oleh Ratu dari Alam Iblis.
Walaupun selubung gaib yang menutupi perbatasan alam iblis dengan alam manusia di wilayah hutan Setra Jenggala telah retak, namun Ratu dari Alam Gaib belum berani untuk memasuki alam manusia, karena kekuatan kaumnya yang belum begitu kuat.
Maka, Ratu dari Alam Iblis berencana menggunakan kemampuan dan kekuatan Pangeran Panji, untuk masuk ke alam manusia guna mengambil sumber kekuatan yang banyak tersedia di alam manusia, untuk meningkatkan kekuatannya.
Di tempat lain, selama waktu berlangsung, satu bulan ini, Puguh berusaha keras berlatih untuk meningkatkan tenaga dalamnya dan juga mengkonsumsi ramuan obat yang diberikan oleh kera raksasa yang saat itu menjelma menjadi seorang laki laki paruh baya.
Selama Puguh berlatih itu, Rengganis menemani dan membantu apabila ada hal hal yang dibutuhkan oleh Puguh.
Sebagian besar waktunya, Puguh habiskan untuk bersemedi serta melakukan gerakan gerakan tertentu yang dapat meningkatkan tenaga dalamnya.
Di waktu yang sama, di istana Kerajaan Banjaran Pura, selama waktu satu bulan itu, tidak terjadi lagi hal hal yang membahayakan dan mengganggu ketenangan dan ketenteraman seluruh wilayah kerajaan. Selama keadaan tenang itu, membuat ketidak beradaan Puguh di istana, tidak terasa. Walaupun diam diam ada yang sangat menantikan kedatangan Puguh.
Apalagi para pendekar yang dulunya ikut membantu kerajaan, sudah kembali ke tempat tinggal mereka masing masing. Namun mereka semua mengatakan, mereka semua siap membantu jika sewaktu waktu Kerajaan Banjaran Pura membutuhkan bantuan mereka lagi.
----- * -----
Di suatu jalanan kampung di luar kotaraja, yang biasanya cukup ramai para pemakai jalan, pada siang hari ini terlihat cukup lengang, walaupun sebenarnya cukup banyak rumah yang berdiri di sepanjang jalan itu. Mungkin disebabkan cuaca hari itu yang sangat panas. Sehingga orang orang memilih untuk berteduh atau tetap di dalam rumah.
__ADS_1
Dib4awah teriknya matahari yang menyengat, terlihat seorang laki laki tua, berjalan pelan dengan santainya, seolah tidak merasakan panas.
Ketika laki laki tua itu melewati penjual buah yang menggelar dagangannya di pinggir jalan, penjual buah itu merasa kasihan pada laki laki tua itu.
"Kakek, berteduh dulu barang sebentar. Ini waktu baru terik teriknya !" teriak penjual buah sambil tangan kanannya melambai ke arah laki laki tua itu.
Mendengar teriakan seseorang yang seperti memanggilnya, kakek tua itu menghentikan langkah kakinya dan dalam sejenak menatap tajam penjual buah itu.
Raut wajah laki laki tua itu tetap datar. Namun terlihat, cumping hidung laki laki tua itu bergerak gerak sangat pelan. Perlahan laki laki tua itu berjalan lagi, mendekat ke arah penjual buah.
Sesampai di meja lapak yang penuh dengan berbagai buah buahan, laki laki tua itu menatap tajam wajah penjual buah dan kemudian berganti menatap tumpukan buah buahan di depannya.
Setelah cukup lama melihat aneka buah buahan di depannya, laki laki tua itu menjulurkan tangan kanannya dan kemudian meletakkan telapak tangan kanannya ke tumpukan buah di depannya.
Melihat kejadian itu, penjual buah buahan itu sangat terkejut.
"Kakek ! Apa yang kau lakukan !?!" tanya penjual buah buahan itu setengah berteriak.
Laki laki tua itu hanya terdiam mendengar teriakan penjual buah buahan itu. Tanpa menghiraukan teriakan penjual buah buahan, kembali laki laki tua itu meletakkan telapak tangannya di tumpukan buah yang lainnya.
Sama seperti tumpukan buah yang pertama tadi. Begitu tersentuh oleh telapak tangan laki laki tua itu, tumpukan buah berikutnya, juga dengan cepat berubah warna menjadi hitam legam dan juga mengeluarkan bau yang sangat busuk.
"Kakek ! Kau ... ? Kau ... bu ...kan ... manu ... !" ucap penjual buah buahan yang tidak terucap hingga selesai. Karena, sambil berucap, penjual buah itu berdiri dan tubuhnya membungkuk melewati tumpukan buah dan menyorongkan tangannya untuk mendorong laki laki tua itu, agar menjauh dari lapaknya.
__ADS_1
Akan tetapi, di luar perkiraannya sama sekali, saat penjual buah itu menjulurkan kedua tangannya, kedua telapak tangannya di sambut oleh kedua telapak tangan laki laki tua itu.
Kalimat yang keluar dari mulut penjual buah buahan itupu tidak selesai, saat kedua telapak tangannya bersentuhan dengan kedua telapak tangan laki laki tua itu.
Dari pertemuan kedua telapak tangan penjual buah dengan sepasang telapak tangan laki laki tua itu, keluar asap. Asap yang langsung dihirup oleh laki laki tua itu.
Saat asap yang keluar dari pertemuan dua pasang telapak tangan itu habis terhirup oleh laki laki tua itu, seluruh tubuh penjual buah buahan itu berubah menghitam dengan sangat cepat.
Kemudian laki laki tua itu menarik kembali kedua tangannya, hingga mengakibatkan tubuh penjual buah yang menghitam seluruhnya itu, jatuh menimpa tumpukan buah yang juga sudah berubah busuk dan berubah warna menjadi hitam pekat. Penjual buah buahan itu telah tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.
Untuk beberapa saat, laki laki tua itu menarik nafas panjang, seolah menikmati asap yang sudah terhirup dan masuk ke lubang hidungnya.
Sesaat kemudian, laki laki tua itu kembali berjalan ke arah jalan, dan kembali berjalan menyusuri jalanan yang terasa panas terkena terik matahari.
Semua kejadian itu berjalan dengan cepat dan tidak ada yang mengetahuinya.
Selama menyusuri jalan perkampungan itu, laki laki tua itu mendekat setiap bertemu dengan orang yang berada ditepi jalan, di dalam rumah ataupun para pejalan kaki lainnya.
Hingga akhirnya, pada siang menjelang sore, saat laki laki tua itu telah berjalan setengah lebih dari panjang jalan itu, terjadi keributan di sepanjang jalan itu.
Para warga yang tadinya di dalam rumah ataupun para pendatang dan para pejalan kaki yang baru tiba, menyaksikan banyak kematian yang mengerikan di sepanjang jalan itu.
Pada suatu saat ada orang yang sempat menyaksikan apa yang dilakukan oleh laki laki tua itu dan memberitahukannya pada orang orang yang lainnya yang masih hidup.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_