Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menuju Kotaraja III


__ADS_3

Ki Dwijo dan Puguh merasa agak tenang, karena langkah awal rencana mereka berdua bisa berjalan jalan baik dan lancar, yaitu mencari tempat yang bisa mereka gunakan untuk tinggal sekaligus untuk bersembunyi selama di kotaraja. Sekarang mereka bisa tinggal sementara dan bersembunyi di istana Pangeran Pandu.


Hal itu tidak terlepas dari usaha Ki Dwijo yang mencari informasi melalui para sahabatnya. Dan juga usaha Puguh yang mencari berita dengan langsung datang ke kotaraja.


Sebelumnya saat itu, Ki Dwijo yang melesat sendirian menuju kota raja, beberapa kali menyempatkan diri mendatangi sahabat sahabatnya dulu yang dia perkirakan sehaluan dengan rencananya dan bisa dipercaya.


Sesampai di pinggiran kotaraja, Ki Dwijo menemui seorang pembuat peralatan rumah tangga seperti sabit, parang dan kapak bernama Ki Pande.


Di pinggir kotaraja, Ki Pande hidup bersama dengan anak anak dan cucunya.


Di lingkungan tempat tinggalnya, tidak ada yang mengetahui kalau dulu saat mudanya, Ki Pande adalah seorang pendekar yang ilmunya setara dengan Ki Dwijo.


Tidak seperti Ki Dwijo dan yang lain lainnya, yang setelah mengundurkan diri dari dunia persilatan, menghilang dan tinggal di tempat tempat yang jauh dari keramaian, sedangkan Ki Pande, begitu mengundurkan diri dari dunia persilatan, hidup membaur dengan penduduk jelata sebagai seorang pande besi.


Dengan keahliannya membuat senjata pusaka tingkat tinggi pada masa mudanya, dengan mudah Ki Pande membuat sabit, parang, kapak dan lainnya dengan kualitas yang bagus.


Ki Pande juga membuat rumah di pinggiran kotaraja di tepi jalan menuju kotaraja. Rumah yang sekaligus dia gunakan sebagai toko untuk memajang alat pertanian dan pertukangan buatannya.


Pada suatu hari, Ki Pande menjaga tokonya dengan lebih waspada. Karena sejak siang tadi saat jalan di depan tokonya masih cukup ramai, Ki Pande melihat ada seseorang yang berdiri di seberang jalan dan selalu menatap ke arah tokonya. Orang itu duduk di bawah pohon sejak siang hingga sore ini.


Ki Pande kesulitan untuk mengenali, karena orang itu selalu memakai caping yang cukup lebar dan menggunakan kain penutup muka.


Hingga akhirnya pada sore hari setelah jalan sepi karena sudah jarang yang lewat, Ki Pande menuju seberang tokonya untuk menemui orang itu.


"Maaf kisanak, apa maksud kisanak berada disini sejak siang tadi dan selalu melihat ke arah tokoku ?" tanya Ki Pande.


Orang bercaping itu segera berdiri. Bukannya menjawab, justru orang itu mengeluarkan getaran tenaga dalam yang sangat besar.


Merasakan bahaya, Ki Pande segera mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh.


Sesaat kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, orang bercaping itu melesat ke arah Ki Pande. Anehnya, walaupun bergerak dengan kecepatan tinggi, orang bercaping itu menyerang Ki Pande tidak dengan jurus jurus ilmu silat. Sepertinya orang bercaping sengaja ingin mengadu tenaga dalam.


Melihat cara menyerang orang bercaping itu, Ki Pande pun mencoba menangkis setiap datangnya pukulan ataupun tendangan.

__ADS_1


Plak ! Plak ! Plak !


Duuuggghhh ! Duuuggghhh !


Dalam adu pukulan dan tendangan itu, Ki Pande dibuat terkejut.


"Siapa orang ini. Serangannya asal asalan, namun tenaga dalamnya sangat tinggi," kata Ki Pande dalam hati.


Sementara itu, sesaat setelah benturan pukulan dan tendangan beberapa kali, orang bercaping itu tertawa.


"Heeehhh he he he !"


"Ternyata, walaupun hidup berbaur dengan masyarakat, kemampuan Ki Pande tidak menjadi berkurang. Bahkan tetap meningkat dan tetap bisa mengimbangiku !" kata orang bercaping itu dalam hati.


Kemudian, orang bercaping itu kembali melesat lebih cepat lagi untuk melakukan serangan. Kali ini dia menyerang dengan menggunakan jurus pukulan tangan kosong yang sangat cepat.


Mendapatkan serangan itu, Ki Pande kembali menangkis. Namun Ki Pande kembali dikejutkan dengan jurus serangan orang bercaping itu.


Dugh ! Dugh ! Dugh ! Dugh !


Sepertinya orang bercaping itu memang sengaja gencar menyerang dengan sangat cepat, sehingga Ki Pande tidak punya kesempatan untuk berbicara ataupun mundur menghindari pertarungan.


Hingga pada suatu saat, kedua telapak tangan mereka yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi, saling bertemu dan menimbulkan suara yang sangat keras.


Blaaammm ! Blaaammm !


Dalam benturan itu, terlihat dua tubuh sama sama terdorong ke belakang hingga tiga langkah.


"Heeehhh he he he ... ! Ternyata menjadi orang kota, tidak membuat kemampuan Ki Pande berkurang sedikitpun, bahkan semakin meningkat !" kata orang bercaping itu sambil melepas caping dan penutup mukanya, hingga menampakkan wajah yang kembali mengagetkan Ki Pande.


"Orang kampung sialan ! Membuat kaget orang saja. Ayo kita masuk saja !" ajak Ki Pande yang segera membalikkan tubuh dan segera melesat ke rumahnya, yang diikuti oleh Orang bercaping itu.


----- * -----

__ADS_1


"Ki Dwijo, bagaimana kabarnya setelah lama menghilang ? Dan kenapa datang ke sini harus memakai penutup kepala dan penutup muka ?" tanya Ki Pande, setelah mereka berdua masuk ke ruang di belakang toko.


"Ki Pande, aku hendak ke kotaraja. Dan aku kesini hendak minta nasehatmu," jawab orang bercaping yang ternyata adalah Ki Dwijo sahabatnya.


"Ki Dwijo, kalau boleh aku tahu, apa tujuanmu ke kotaraja ?" tanya Ki Pande dengan serius sambil menatap tajam Ki Dwijo.


Kemudian, Ki Dwijo pun bercerita. Awalnya dirinya terkejut dan tertarik dengan kemunculan kembali Perkumpulan Jaladara Langking. Kemudian semakin curiga dengan segala gerak gerik dan tindakan anggota Perkumpulan itu. Lalu dia melakukan penyelidikan. Hingga yang terakhir beberapa hari kemaren saat datangnya Pangeran Panji ke Kadipaten Randu Beteng, muncul lagi pertanyaan, apa hubungan Perkumpulan Jaladara Langking dengan Pangeran Panji ?


Mendengar penuturan Ki Dwijo, Ki Pande menarik nafas panjang satu kali, kemudian tersenyum.


"Ki Dwijo, walaupun sempat menghilang dari dunia persilatan, tapi darah pendekar yang mengalir di dalam tubuhmu tidak pernah luntur," kata Ki Pande dalam hati.


"Ki Dwijo, semua keanehan yang kau tangkap, hampir sama dengan yang kami rasakan di sini, di kotaraja ini. Walaupun dalam kejadian yang berbeda," kata Ki Pande.


Kemudian Ki Pande mengisahkan, sejak raja Kerajaan Banjaran Pura, Prabu Lingga Kawiswara sakit sakitan, pemerintahan kerajaan agak kacau.


Kekacauan itu terjadi, karena sering terjadi titah dari kerajaan yang saling bertentangan. Ternyata, titah kerajaan itu tidak berasal hanya dari satu orang saja, yaitu permaisuri yang biasanya mewakili raja, tetapi mulai ada titah lain yang seringnya berbeda dengan titah yang pertama. Itu terjadi semenjak selir Prabu Lingga Kawiswara mulai ikut campur dalam pemerintahan.


Namun, yang menjadi perhatian beberapa tokoh dunia persilatan, bukanlah masalah pemerintahan. Namun ada hal yang menurut anggapan mereka lebih membahayakan. Yaitu, dalam beberapa bulan ini, banyak orang orang dunia persilatan yang memasuki kotaraja. Yang mengkhawatirkan lagi, banyak tokoh persilatan golongan hitam yang bermunculan. Termasuk berita kemunculan lagi Perkumpulan Jaladara Langking, sudah terdengar hingga ke kotaraja.


Walaupun belum terjadi apa apa, namun semua itu hanya menunggu waktu saja.


"Ki Pande, aku akan masuk ke kotaraja untuk menyelidiki hal itu, apa saranmu ?" tanya Ki Dwijo sambil berdiri menatap keluar.


"Ki Dwijo, paling aman jika Ki Dwijo bisa masuk ke istana kepangeranan Pangeran Pandu. Selain Ki Dwijo bisa leluasa untuk menyelidiki, Ki Dwijo juga bisa melindungi Pangeran Pandu secara diam diam," kata Ki Dwijo.


"Datanglah ke keramaian Ki Dwijo. Biasanya Pangeran Pandu senang berada di sana, bergaul langsung dengan rakyat jelata," saran Ki Pande.


Setelah mereka berbincang lagi untuk beberapa waktu, Ki Dwijo pun berpamitan untuk menuju kotaraja malam ini juga. Sebelumnya, Ki Dwijo juga meminta pada Ki Pande, jika suatu saat dibutuhkan, Ki Dwijo akan meminta bantuan dari Ki Pande.


Ki Pande pun berjanji, setiap saat Ki Dwijo meminta, Ki Pande akan segera datang membantu. Bahkan Ki Pande akan berusaha mengajak sahabat sahabat lama yang lainnya.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2