Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Wasiat dari Asmara Dhatu


__ADS_3

"Puguh, walau terjadi kisah memilukan antara leluhur kami, Asmara Dhatu dengan Pendekar Pengendara Elang, hal itu tidak berarti menghilangkan perasaan cinta Asmara Dhatu pada Pendekar Pengendara Elang.


Maka menjelang hari hari meninggalnya, Asmara Dhatu berwasiat pada ibuku yang kemudian karena belum bisa terlaksana, wasiat itu diteruskan kepadaku.


Asmara Dhatu berpesan, sepeninggal dia, dia meminta, kami untuk menyuruh pulang siluman elang yang ditugaskan oleh Pendekar Penjaga Elang, untuk menjaga dan melindunginya.


Namun ternyata, sepeninggal Asmara Dhatu, siluman elang itu tidak mau pergi dan hanya mau dijemput oleh Pendekar Pengendara Elang.


"Dimanakah siluman elang itu sekarang bibi ?" tanya Puguh.


"Itulah masalahnya Puguh. Sepeninggal Asmara Dhatu, bersamaan dengan semakin bertambah besar pengaruh dan kekuatan Padepokan Wukir Candrasa seiring dengan semakin banyaknya orang yang bergabung dengan padepokan itu.


Ternyata, beberapa pemimpin Padepokan Wukir Candrasa diam diam merasakan dan mengetahui keberadaan siluman elang yang berada di sekitar bukit tempat berdirinya bangunan istana Asmara Dhatu. Mereka tidak berani mengganggu siluman elang itu karena masih segan dengan Asmara Dhatu.


Maka, begitu mereka mendengar Asmara Dhatu meninggal, beberapa orang itu mencoba mencari dan menaklukkan siluman elang itu. Bahkan mereka sempat berani memasuki wilayah kekuasaan Trah Keluarga Asmara Dhatu untuk mencari keberadaan siluman elang itu. Juga sempat beberapa kali terjadi bentrok antara penerus Asmara Dhatu, mulai dari ibuku sampai sekarang, dengan Padepokan Wukir Candrasa !" jawab Iswara Dhatu.


Mendengar semua yang diceritakan oleh Iswara Dhatu, Puguh masih terdiam saja sambil terus menatap Iswara Dhatu.


Mengetahui Puguh masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya, Iswara Dhatu segera menyambung.


"Saat sekarang ini, sudah tidak diketahui keberadaan siluman elang itu. Apakah tertangkap oleh Padepokan Wukir Candrasa atau pergi bersembunyi di tempat lain !" kata Iswara Dhatu.


Sejenak suasana hening dan semuanya terdiam. Terhanyut dengan bayangan dan pikiran mereka masing masing. Hingga beberapa saat kemudian, suara Iswara Dhatu memecah keheningan.


"Puguh, kami sudah yakin, kau mewarisi ilmu dari Pendekar Pengendara Elang. Bisa dikatakan kau adalah muridnya. Untuk itu, kusampaikan pesan dari leluhur kami, Asmara Dhatu, carilah siluman elang itu sampai ketemu. Setelah ketemu, selanjutnya terserah, tinggal takdirmu dan takdir siluman elang itu. Apakah siluman elang itu minta diantarkan ke makam Pendekar Pengendara Elang, atau siluman elang itu bersedia mengikutimu !" kata Iswara Dhatu menyampaikan pesan.


"Bibi, terimakasih atas kepercayaanmu padaku. Untuk mencari siluman elang itu, tanpa diminta pun aku akan ikut mencari sampai ketemu, sebagai baktiku pada guruku Pendekar Pengendara Elang !" jawab Puguh.


"Hanya saja, tolong beritahu padaku, dimana aku harus memulai pencarian ini !" sambung Puguh.


"Tentunya kalian berdua sampai di tempat ini, melewati hutan perbatasan. Dan tentunya kalian merasakan adanya getaran kekuatan siluman di sepanjang jalan di hutan yang kalian lewati. Sebagai permulaan, carilah di dalam hutan itu, apakah siluman elang bersembunyi di hutan itu. Kalau terpaksanya tidak diketemukan di hutan itu, kalian mungkin bisa mencari di sekitar Padepokan Wukir Candrasa !" jawab Iswara Dhatu.

__ADS_1


Mendengar jawaban Iswara Dhatu, Puguh dan Rengganis langsung teringat saat mereka berlari melewati hutan perbatasan yang terkenal sangat angker. Saat itu mereka merasakan banyak sekali getaran kekuatan siluman. Hanya saja saat itu mereka tidak sempat berhenti sejenak untuk merasakan siluman apa saja yang ada di hutan perbatasan itu.


"Baik bibi, kami akan segera mencari siluman elang itu !" kata Puguh.


"Namun kami terlebih dahulu akan menunaikan tugas kami dahulu !" lanjut Puguh.


Kemudian, secara singkat Puguh memceritakan tentang tugasnya mewakili Kerajaan Banjaran Pura untuk menghadapi tantangan Prabu Girindra Nata, raja Kerajaan Kisma Pura yang kecewa dan murka karena lamarannya pada Putri Cinde Puspita, adik kandung Prabu Pandu Kawiswara raja Kerajaan Banjaran Pura, ditolak.


Mendengar cerita Puguh tentang tantangan Prabu Girindra Pura, Iswara Dhatu tersenyum sinis.


"Hiihhh ! Raja itu ! Belum sembuh juga kelakuannya !" kata Iswara Dhatu pelan.


"Puguh ! Jangan takut ! Lakukan tugasmu, kapan dan dimana ! Trah Keluarga Asmara Dhatu, berada si belakangmu dan mendukung kamu !" kata Iswara Dhatu.


Kemudian Iswara Dhatu memberitahukan pada Puguh, kalau Trah Keluarga Asmara Dhatu dan banyak pendekar lainnya yang tidak suka pada perbuatan sang raja, walau mereka rakyat Kerajaan Kisma Pura.


----- * -----


Setelah melewati beberapa bukit, Puguh dan Rengganis memasuki hutan perbatasan yang terkenal sangat angker.


Tidak seperti saat masuk hutan perbatasan dari arah Kerajaan Banjaran Pura dulu, saat ini Puguh dan Rengganis merasakan hawa yang sangat menekan dan banyak sekali getaran kekuatan yang sangat mengintimidasi.


"Adik Rengganis, hati hati. Sepertinya penghuni hutan ini sudah bersiap menyambut kita !" kata Puguh.


"Iya kakang ! Tidak seperti saat kita berangkat !" jawab Rengganis.


Sekarang ini Puguh sudah tidak terlalu mengkhawatirkan Rengganis. Dengan tingkat kemampuannya sekarang ini, jarang yang mampu melawan Rengganis.


Saat melawan Pendekar Penyebar Cinta kemaren lusa, Puguh yakin Rengganis mampu mengalahkannya, hanya saja Puguh tidak rela kulit tangan dan kaki Rengganis bersentuhan dengan pendekar cabul itu.


Begitu memasuki mulut hutan, Puguh dan Rengganis sudah dihadang oleh tiga siluman serigala hutan.

__ADS_1


Siluman serigala itu tubuhnya sangat besar, hampir sebesar serigala bermata biru yang Puguh temui saat terjatuh ke dasar jurang yang sangat dalam.


Tubuhnya yang hitam legam dengan bola mata yang merah membara dan geramannya membuat siluman serigala itu terlihat sangat mengerikan.


Ggrrrhhh !


"Oohhh maaf, kami hanya lewat, tidak akan mengganggu kalian !" kata Puguh.


"Ggrrhhh ! Kembalilah ke tempat asalmu anak manusia ! Kami tidak percaya manusia dari negerimu yang selalu memusuhi kami !" jawab salah satu siluman serigala itu.


"Negeriku ada di seberang hutan sana ! Kami hanya lewat. Baiklah, kami akan segera pergi !" jawab Puguh sambil memberi tanda pada Rengganis untuk bersiap melesat pergi.


"Ohh ya siluman serigala. Dimanakah tempat kami bisa menemui siluman elang hijau ?" tanya Puguh.


Mendengar pertanyaan Puguh itu, membuat ketiga serigala itu semakin marah.


"Ggrrhhh ! Kalian berdua tidak ada bedanya dengan yang lain. Datang kesini hanya untuk menangkap kami bangsa siluman !" sahut salah satu siluman serigala itu.


"Enyahlah kalian !" teriak siluman serigala lainnya sambil kemudian tubuhnya yang sangat besar itu dengan sangat cepat melesat melompat ke arah Puguh untuk menerkamnya.


Dua siluman serigala yang lainnya pun segera ikut melesat menyerang.


Ketika satu siluman serigala menerjang ke arahnya, Rengganis segera melenting ke atas untuk menghindarinya, hingga terkaman serigala itu hanya mengenai tanah kosong dan menimbulkan suara yang keras.


Dbummm !


Walau siluman serigala itu bertubuh sangat besar, tidak membuat gerakannya menjadi lambat.


Dengan sangat cepat, siluman serigala tadi langsung membalikkan badan dan kembali menyerang Rengganis.


Sementara itu, Puguh harus menghadapi serangan dua siluman serigala sekaligus.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2