Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menyelamatkan Prabu Pandu Kawiswara dan Para Senopatinya


__ADS_3

Sesampai di dalam Istana Kerajaan Banjaran Pura, Puguh melihat, Prabu Pandu Kawiswara ditemani para senopatinya antara lain Senopati Roro Nastiti, Senopati Cakrayuda, Senopati Wiraga, Senopati Widura, Senopati Arimbi dan Senopati Darutama.


Prabu Pandu Kawiswara dan semua senopati terlihat terluka, terutama Senopati Cakrayuda dan Senopati Roro Nastiti yang terluka paling parah.


Begitu mereka semua melihat Puguh, perasaan lega memancar di wajah mereka.


"Puguh, akhirnya kau datang juga," kata Prabu Pandu Kawiswara dengan senyum yang dipaksakan karena menahan rasa sakit pada luka lukanya.


"Terimakasih, Baginda Prabu Pandu Kawiswara, apa yang terjadi di istana ini ?" tanya Puguh.


"Ssttt ! Jangan bicara terlalu keras dan jangan mengatakan hal hal sembarangan, Puguh !" sahut Prabu Pandu Kawiswara.


"Apa maksudnya, Baginda Prabu Pandu Kawiswara ?" tanya Puguh bertambah heran.


"Lihatlah ke atas !" kata Prabu Pandu Kawiswara.


Mendengar perintah Prabu Pandu Kawiswara, Puguh mencoba mendongakkan kepalanya. Namun Puguh tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.


"Mohon dijelaskan, Baginda Prabu Pandu Kawiswara !" jawab Puguh.


Mendengar pertanyaan Puguh, Senopati Wiraga berdiri kemudian menghampiri Puguh. Sementara itu, melihat Senopati Wiraga berdiri, Prabu Pandu Kawiswara dan senopati yang lainnya, memandang dengan raut muka khawatir.


"Puguh, sebenarnya, kami semua terpaksa hanya berdiam diri, karena kami semua selalu diawasi oleh pendekar yang mengaku berasal negeri yang sangat jauh. Pendekar itu menantang kita semua !" kata Senopati Wiraga.


"Senopati Wiraga, dari mana pendekar yang menantang itu mengawasi kalian ?" tanya Puguh.


"Kau lihat atap istana yang paling tinggi itu, dia duduk di atap istana itu sepanjang waktu. Setiap kali kami bercerita dan menyebut namanya, pendekar itu menyerang kami dsri jarak jauh !" jawab Senopati Wiraga sambil melirik ke atap istana.


Setelah mendengar jawaban Senopati Wiraga, Puguh langsung melesat ke atas, terbang ke arah atap istana yang dimaksud.


Di atap itu, Puguh melihat sebatang pedang berdiri menancap di kayu atap dan ditutupi dengan kain putih.


Begitu mendekat, Puguh merasakan, ada getaran kekuatan yang agak aneh yang keluar dari pedang itu.


"Sepertinya pedang dan kain putih ini telah diberi mantera !" gumam Puguh.


Kemudian, dengan mengalirkan kekuatannya ke kedua tangannya, Puguh mencoba untuk menyentuh kain putih yang menutupi pedang.

__ADS_1


Tetapi, tangan Puguh tertahan, seperti ada kekuatan yang menolak. Lalu, dengan menambah lagi aliran tenaga dalamnya hingga cukup besar, Puguh berusaha untuk menembus selubung pelindung yang terbuat dari kekuatan yang dimanterai.


Hingga pada suatu saat, tangan kanan Puguh berhasil menembus selubung pelindung itu, hingga menimbulkan suara ledakan yang cukup keras diikuti keluarnya asap hitam yang cukup tebal.


Jdaaammm !


Sesaat setelah suara ledakan itu, Puguh kembali meluncur turun ke bawah dengan membawa sebilah pedang dan kain putih pembungkusnya. Hal itu membuat Prabu Pandu Kawiswara dan semua senopati merasa terkejut.


"Baginda Prabu, tidak ada pendekar yang mengawasi istana ini. Yang ada hanyalah ini," kata Puguh.


Puguh menatap sejenak ke arah Prabu Pandu Kawiswara dan para senopati, satu persatu.


"Tidak ada getaran emosi sedikitpun pada diri Banginda Prabu dan semua senopati. Sepertinya mereka juga terkena mantera, sehingga yang ada hanya perasaan takut dan melihat pedang yang menancap dsn dibungkus dengan kain putih, seperti melihat pendekar yang memanterainya !" gumam Puguh pelan.


Maka, setelah meletakkan pedang dan kain putih itu, Puguh mendekat ke arah Prabu Pandu Kawiswara.


"Maaf Baginda Prabu !" kata Puguh sambil menempelkan telapak tangannya ke punggung Prabu Pandu Kawiswara. Seketika, aliran tenaga dalam yang cukup besar, memasuki tubuh Prabu Pandu Kawiswara dan langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.


Setelah tenaga dalam Puguh mengaliri seluruh tubuhnya, Prabu Pandu Kawiswara terkejut seperti disadarkan dari tidurnya.


Selama berusaha menyadarkan seluruh penghuni istana, Puguh sempat mencoba mengukur tingkat kekuatan pendekar yang memanterai pedang itu.


"Seberapa tinggi kekuatan dan tenaga dalam orang itu, hingga mampu menyihir Prabu Pandu Kawiswara dan semua senopatinya ! Mungkinkah orang yang sama dengan orang yang bernama Pangeran Langit Barat, yang sempat bertarung denganku ?" kata Puguh dalam hari.


Beberapa waktu kemudian, semuanya sudah sadar sepenuhnya. Begitu sadar, melihat kedatangan Puguh, tanpa memperdulikan luka luka tubuhnya, Senopati Roro Nastiti langsung bangkit dan memeluk Puguh sambil menangis terisak.


Puguh membiarkan Senopati Roro Nastiti menumpahkan segala perasaan yang menyesakkan dadanya.


Setelah semuanya kembali normal, Puguh memberikan saran pada Prabu Pandu Kawiswara untuk mengundang dan meminta bantuan pada semua pendekar yang berada di Kerajaan Banjaran Pura. Karena, saat bertarung melawan Pangeran Langit Barat, Puguh sempat mendengar pembicaraan Pangeran Langit Barat dengan sosok berpakaian panglima, tentang pasukan yang semuanya sudah mendarat.


Namun Prabu Pandu Kawiswara masih ragu dengan apa yang disarankan Puguh, karena berbeda dengan apa yang dikatakan oleh pendekar yang mengalahkan mereka semua.


Kemudian, setelah beberapa waktu, Senopati Roro Nastiti menceritakan semua kejadian yang menimpa Kerajaan Banjaran Pura.


----- * -----


Pada suatu hari, pada pagi menjelang siang. Di wilayah Kerajaan Banjaran Pura yang dekat dengan Hutan Perbatasan, terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat.

__ADS_1


Blaaannnggg !


Di tempat terdengarnya ledakan itu, timbul kepulan debu yang sangat pekat.


Setelah beberapa saat terkena hembusan angin, kepulan debu itu berangsur menghilang dan menampakkan sesosok laki laki muda berpakaian serba putih yang terbuat dari bahan yang mewah, dengan nafas yang masih terengah engah.


Laki laki muda berkulit putih bersih itu, tangan kirinya memegang sebuah sarung pedang yang sangat panjang, hingga menjulur ke belakang dan menyentuh tanah.


Setelah beberapa waktu, setelah tarikan nafasnya kembali seperti biasa, laki laki muda itu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Sepertinya aku sudah sampai di tempat yang aku tuju. Di belakangku, hutan yang dihuni oleh banyak sekali siluman hewan dengan tingkat kekuatan yang sangat tinggi. Getaran kekuatan siluman siluman binatang itu, bisa aku rasakan dari sini. Berarti arah aku menghadap adalah Kerajaan Banjaran Pura !" gumam laki laki muda itu.


Kemudian, dengan melangkah perlahan, laki laki muda itu berjalan menjauhi Hutan Perbatasan dan mengambil arah ke kotaraja Kerajaan Banjaran Pura.


Ketika sampai di tempat perbatasan menuju ke arah kota raja, laki laki muda itu dihadang oleh Senopati Darutama, senopati Widura dan Senopati Arimbi beserta pasukannya yang kebetulan sedang patroli rutin dan merasakan adanya getaran kekuatan dari arah Hutan Perbatasan.


"Siapa kau ! Dan apa maksudmu, sengaja mengeluarkan getaran kekuatan yang kau miliki ?" tanya Senopati Darutama.


"Apakah ini wilayah Kerajaan Banjaran Pura ?" tanya laki laki muda berpakaian mewah itu, tanpa memperdulikan pertanyaan Senopati Darutama.


"Betul, kau telah memasuki wilayah kerajaan Banjaran Pura ! Sekarang, apa maksud kedatanganmu kesini ?" tanya Senopati Darutama lagi.


"Aahhh ! Aku adalah Pangeran Langit Barat dari Kerajaan Menara Langit. Aku mendengar, di kerajaan ini ada seorang pendekar yang memiliki ilmu dan kemampuan yang sangat tinggi. Aku ingin menantangnya bertarung !" jawab laki laki muda yang bernama Pangeran Langit Barat.


Mendengar jawaban Pangeran Langit Barat, ketiga senopati itu segera bersiap untuk mengusirnya.


"Pulanglah ke negerimu ! Jangan membuat Kerajaan Banjaran Pura menjadi ladang pertarungan lagi !" kata Senopati Arimbi.


"Kalau aku tidak mau pergi, bagaimana ?" jawab Pangeran Langit Barat.


"Terpaksa kami akan mengusirmu keluar dari Kerajaan Banjaran Pura !" kata Senopati Arimbi.


"Usirlah aku. Aku ingin melihat, bagaimana cara kalian mengusirku !" jawab Pangeran Langit Barat.


Mendengar jawaban yang menantang itu, Senopati Darutama segera melenting ke atas kemudian sambil meluncur turun, mengarahkan serangan pada Pangeran Langit Barat.


---------- ◇ ----------

__ADS_1


__ADS_2