Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Dharma Shankara dan Muka Pucat


__ADS_3

"Anak muda ! Terus terang, aku kagum dengan kemampuanmu dalam usiamu yang masih sangat muda ini !" kata Dharma Shankara sambil mendekat ke arah Puguh.


"Sekarang, coba kau hadapi ini !" kata Dharma Shankara lagi, dan kemudian tubuhnya melesat cepat ke arah Puguh sambil melayangkan serangkaian serangan.


Puguh yang sejak tadi sudah sangat waspada, bergerak menghindar dan terkadang menangkisnya dengan mengadu pukulan.


Buuuggghhh ! Buuuggghhh !


Plak plak plak !


Dalam setiap adu pukulan itu, lengan Puguh serasa membentur karang. Diam diam, Puguh merasakan tangannya sedikit bergetar.


"Orangtua ini mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi. Aku tidak boleh lengah menghadapinya," kata Puguh dalam hati.


Sementara itu, Dharma Shankara semakin kagum dengan Puguh yang mampu mengimbangi tingkat kecepatan dan tenaga dalamnya.


"Anak ini semakin membuatku kagum saja," kata Dharma Shankara dalam hati.


Kemudian, sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya, Dharma Shankara dengan kecepatan yang lebih lagi, melesat ke arah Puguh dan kembali melakukan serangan beruntun.


Melihat kecepatan lawannya yang bertambah, Puguh mulai menggunakan ilmu meringankan tubuh yang diperolehnya saat terjebak di dalam lubang pohon Kayu Hitam raksasa.


Tubuh Puguh melesat dengan sangat cepat, menghindari setiap serangan Dharma Shankara.


Bahkan, karena kecepatan gerakan Puguh yang diatas kecepatan Dharma Shankara, membuat Puguh mampu membalas serangan dan beberapa kali pukulannya berhasil mengenai bahu dan dada Dharma Shankara.


Plak plak !


Buuuggghhh !


Pukulan Puguh membuat tubuh Dharma Shankara terpelanting. Namun, dengan memutar tubuhnya, Dharma Shankara berhasil menstabilkan gerakan tubuhnya.


Sejenak Dharma Shankara terdiam sambil menatap Puguh dengan tatapan kagum.

__ADS_1


"Anak muda, aku akui kau sangat hebat. Bahkan lebih hebat dari yang aku perkirakan," kata Dharma Shankara lagi, "Sekarang keluarkan senjatamu. Mari kita bermain main dengan menggunakan senjata."


Kemudian, dengan perlahan, Dharma Shankara meloloskan sesuatu yang melilit di pinggangnya.


Sesaat kemudian, tangan kanan Dharma Shankara telah memegang cambuk hitam yang panjangnya mencapai tiga meter. Kemudian, telapak tangan kirinya yang telah dialiri dengan tenaga dalam, mengurut badan cambuk hingga ke ujung yang membuat cambuk itu mengeluarkan percikan percikan kecil seperti petir di sepanjang badan cambuk. Kemudian cambuk itu diputar putar di atas kepalanya hingga menimbulkan suara seperti suara petir yang menggelegar disertai kilatan kilatan petir yang menyambar ke berbagai arah.


Kemudian, dengan secepat kilat, Dharma Shankara mengarahkan cambuknya ke arah Puguh.


Karena baru pertama kali menghadapi senjata cambuk yang mengandung petir, Puguh memilih untuk menghindar dulu. Dengan kecepatan yang dia miliki, tubuh Puguh meliuk liuk di antara kilatan kilatan petir untuk menghindari ujung cambuk yang mengarah ke tubuhnya.


Puguh mencoba menerobos ruang ruang kosong pada serangan cambuk Dharma Shankara. Namun, kemanapun tubuh Puguh bergerak menghindar ataupun mencari celah kosong, ujung cambuk Dharma Shankara selalu menghadang gerakan majunya.


Memang cambuk adalah senjata bertarung jarak jauh yang terbaik, karena memiliki daya serang jarak jauh yang lebih luwes sekaligus mempunyai pertahanan yang sangat kuat karena selain bisa untuk menangkis ataupun menyapok serangan lawan, batang cambuk juga bisa untuk melilit senjata lawan.


Menghadapi keadaan itu, terpaksa Puguh mengeluarkan senjata pedangnya. Sambil terus bergerak menghindar, segera dialirkannya sebagian tenaga dalamnya ke senjata pedang yang dia genggam. Begitu teraliri tenaga dalam, pendaran cahaya hijau memancar dari bilah pedang Puguh.


Pendaran cahaya hijau terang itu membuat Dharma Shankara terkejut.


"Anak muda ! Ada hubungan apakah kau dengan Pendekar Penunggang Elang ?" tanya Dharma Shankara dengan keras.


"Haaahhh ha ha ha ..... Pendekar Penunggang Elang ! Mungkin kami tidak bisa membalas dendam padamu. Tapi, kami bisa membalaskan dendam Perkumpulan Jaladara Langking pada muridmu !" teriak Dharma Shankara sambil tertawa.


Sesaat setelah berteriak, tubuh Dharma Shankara melesat sangat cepat ke arah Puguh. Cemetinya berkelebatan dan mengeluarkan suara petir yang lebih keras lagi.


Daaarrr daaarrr !


Duuuaaarrrr !


Melihat lawannya menyerang dengan kecepatan dan tenaga dalam yang lebih kuat lagi, Puguh segera menambah aliran tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya terutama ke senjata pedangnya.


Terlihat pendaran sinar hijau yang sangat terang selalu menghadang kemanapun ujung cambuk itu bergerak. Terlihat pula, setiap ujung cambuk itu berbenturan dengan bilah pedang yang dipegang Puguh, selalu saja ujung cambuk itu terpental kembali ke belakang.


"Edan edan edaaannn !!!" teriak Dharma Shankara penuh emosi.

__ADS_1


----- * -----


Sementara itu, bersamaan dengan saat Dharma Shankara mengeluarkan dan memutar senjata cambuknya hingga menimbulkan suara petir berkali kali dengan sangat keras.


Di sebelah kanan Rengganis tiba tiba muncul istri dari Dharma Shankara yang dikenal dengan nama Muka Pucat. Sejak turun ke dunia persilatan, tidak ada yang tahu nama asli ibu dari Putri Mahatariti ini.


Rengganis sedikit terkejut dengan kemunculan Muka Pucat yang tiba tiba sudah berdiri di arah samping kanannya.


"Gadis muda, bagaimana kalau kita bermain main sebentar. Sudah lama aku tidak menggerakkan otot ototku !" kata Muka Pucat sambil langsung menyerang Rengganis.


Diserang dari samping kanan, Rengganis segera meloncat menghindar untuk kemudian membalas menyerang.


Semenjak berteman akrab dengan Puguh, Rengganis mengalami peningkatan pesat dalam ilmu silat yang dia miliki, terutama dalam hal kecepatan. Puguh banyak memberikan nasehat dan masukan tentang ilmu meringankan tubuh.


Suara benturan pukulan dan tendangan terjadi berkali kali. Muka Pucat diam diam terkejut, gadis lawannya ini mempunyai tenaga dalam yang mampu mengimbanginya san kecepatan yang tidak berada di bawahnya.


Hingga pertarungan berjalan dua puluh jurus, Muka.Pucat belum bisa mendesak Rengganis.


"Gadis muda ! Ada hubungan apakah kau dengan Ki Bajraseta ?" tanya Muka Pucat setelah menghadapi Rengganis beberapa puluh jurus dan melihat jurus jurus yang digunakan oleh Rengganis.


"Ki Bajraseta adalah kakekku !" jawab Rengganis polos.


"Hiiihhh hi hi hi .... Jadi kamu gadis kecil yang dulu disekap oleh Ki Bayuseta ? Kamu sudah menjadi perawan ternyata !" sahut Muka Pucat.


Rengganis memang belum pernah sekalipun bertemu dengan Dharma Shankara ataupun Muka Pucat. Karena dia ditahan oleh Ki Bayuseta agar Ki Bajraseta mau membantu gerakan Perkumpulan Jaladara Langking.


"Apakah anak ini sudah mewarisi ilmu simpanan Ki Bajraseta ?" kata Muka Pucat dalam hati.


Sementara itu, Putri Mahatariti masih berpikir, bagaimana cara menaklukkan Puguh. Melihat ibunya bertarung melawan Rengganis, terbersit ide di pikiran Putri Mahatariti.


Tanpa berlama lama lagi, Putri Mahatariti segera melesat dan bergabung dengan ibunya, sehingga Rengganis dikeroyok dua.


Walau sudah mewarisi dengan sempurna ilmu yang sangat tinggi dari kakek sekaligus gurunya, bahkan mungkin sekarang tingkatannya sudah setara dengan kakeknya berkat saran dan masukan dari Puguh, tetapi tetap berat bagi Rengganis, menghadapi Putri Mahatariti dan Muka Pucat ibunya sekaligus.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2