Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pecahnya Selubung yang Melindungi Ibu Pohon


__ADS_3

Getaran yang terjadi pada rantai itu semakin lama semakin keras, hingga menimbulkan suara gemerincing yang sangat keras.


Secara bertahap, Puguh menaikkan tingkat tenaga dalamnya, hingga dalam tingkat yang sangat tinggi.


Tubuh Puguh mulai terangkat melayang lagi. Kesiuran angin perlahan muncul mengelilingi dan membalut tubuhnya yang seperti mengeluarkan nyala hijau terang.


Kesiuran angin yang entah datang dari mana, yang memuat kekuatan sinar rembulan yang kemudian dengan cepat diserap oleh tubuh Puguh.


Di antara hembusan angin yang memenuhi lubang tahanan itu, suara gemerincing rantai yang bergetar, terdengar semakin keras. Bahkan getaran itu membuat rantai itu mulai bergerak berayun tidak beraturan.


Getaran ayunan rantai itu, berdampak pada Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa. Cengkeraman ujung rantai itu pada leher dan kedua pergelangan tangan dan kedua pergelangan kakinya seakan menjadi semakin kencang, hingga membuat Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa itu merasakan kesakitan yang sangat luar biasa. Sakit yang ditimbulkan tidak hanya dari cengkeraman ujung rantai, namun terutama berasal dari tekanan aliran tenaga dalam Puguh yang membanjir keluar memenuhi seluruh permukaan rantai, yang akhirnya juga menerpa seluruh tubuh Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa.


"Anak .... muda .... ! Cepat selesaikan !" teriak Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa yang merasakan tulang tulangnya seperti terlepas semua dari tubuhnya, saat aliran tenaga dalam yang sangat besar melewati tubuhnya.


Pada rantai yang bergerak berayun ayun itu, terlihat pendaran sinar hijau terang dari tenaga dalam Puguh perlahan lahan mulai mendesak mundur tenaga dalam bermantera yang menyelubungi rantai. Pendaran sinar hijau terang mulai memenuhi rantai ketika tenaga dalam yang dikeluarkan Puguh mencapai delapan puluh persen.


Akhirnya, ujung rantai yang tertancap di dasar dinding lubang penjara, yang mengikat kedua pergelangan kaki Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa, perlahan lahan mulai terangkat dan akhirnya tercabut dari dasar dinding lubang penjara.


Krekkk !


Klanggg !


Seolah tidak bisa dibendung, pendaran sinar hijau terang dari tenaga dalam Puguh terus merembet ke rantai yang mengikat kedua pergelangan tangan Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa.


Setelah beberapa waktu, ujung rantai yang mengikat pergelangan kaki Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa juga mulai goyah dan akhirnya tercabut dari dasar dinding lubang penjara.


Krakkk ! Krakkk !


Klanggg !


"Tinggal satu lagi yang mengikat lehernya !" kata Puguh dalam hati.


Kemudian, Puguh mengerahkan tenaga dalamnya yang masih tersisa hingga hampir mencapai puncak kemampuannya.


Rantai yang mengikat leher Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa itu bergetar hebat. Begitu keras getarannya, hingga rantai itu berayun ayun yang akhirnya membuat Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa yang tinggi dan sangat kurus, merasa tercekik lehernya.


Dengan berteriak, Puguh mengerahkan kekuatannya, hingga ujung rantai yang mengikat leher Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa, yang tertanam pada ujung batang kayu hitam yang berdiri di tengah tengah lubang penjara, hampir tercabut.


Namun, saat kurang sedikit lagi, ujung rantai itu tercabut, tiba tiba datang sesosok tubuh yang langsung hinggap di puncak tiang kayu hitam.


"Anak muda bodoh ! Apa yang kau lakukan !" teriak sosok manusia yang baru tiba itu sambil kedua tangannya mengirimkan tenaga dalam dengan tingkat yang sangat tinggi, ke ujung rantai yang tertanam di puncak tiang kayu hitam.

__ADS_1


Masuknya tenaga dalam sosok manusia itu, menimbulkan ledakan yang sangat hebat.


Blanggg !


Dalam ledakan itu, tubuh sosok manusia yang memasukkan tenaga dalamnya ke puncak tiang itu langsung terlempar hingga cukup jauh dan kemudian jatuh terhempas ditanah.


Bruakkk !


Sosok manusia yang baru datang itu memaksakan diri untuk bangun lagi. Namun, saat dalam posisi duduk, sosok manusia itu memuntahkan darah segar. Kemudian tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa sesak.


Sementara, Puguh yang masih dalam posisi melayang, sesaat setelah terdengar suara ledakan, tubuh Puguh terlempar ke atas hingga melewati bibir lubang penjara dan kemudian jatuh dalam posisi duduk setengah berlutut.


----- * -----


Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari tempat Puguh berada, di suatu Negeri di Tanah Jawadwipa.


Rengganis yang sudah selesai mempelajari semua ilmu yang diajarkan oleh Ibu Pohon, selalu mengulang ulang latihannya, hingga bisa dikatakan penguasaan ilmunya nyaris sempurna.


Seperti tidak ada bosannya, Rengganis melakukan itu walaupun sendirian. Karena sudah sejak Rengganis dianggap menguasai semua ilmu yang dia ajarkan, Ibu Pohon sudah tidak terdengar suaranya, atau terlihat bayangan tubuhnya walaupun sangat jarang menampakkan diri. Mungkin Ibu Pohon sudah pergi meninggalkan pohon besar itu atau mungkin sudah terlelap dalam semedinya.


Semua itu Rengganis lakukan, untuk mengisi waktunya selama hari demi hari menunggu selubung pelindung itu terbuka atau dibuka oleh Puguh.


Kemudian, seperti biasa, Rengganis menata kembali tempat pohon besar dan sekitarnya yang porak poranda terkena imbas latihannya.


Rengganis mengeluarkan tenaga dalamnya dengan lembut untuk menyelimuti seluruh tubuhnya. Perlahan lahan tubuhnya terangkat ke atas dan melayang di udara.


Kemudian, dalam posisi melayang, kedua telapak tangan Rengganis yang terbuka, diarahkan ke depan. Dari kedua telapak tangannya, mengalir keluar tenaga dalamnya yang bergerak mirip angin.


Tenaga dalam angin itu perlahan menyebar dan menerpa apapun yang dilewatinya. Pohon besar, tanah, rerumputan dan semua makluk hidup yang tinggal di dalam selubung pelindung, tidak luput dari terpaan angin itu.


Dan ajaibnya, semua yang mengalami kerusakan, saat terkena terpaan tenaga dalam angin itu, bergerak pulih kembali. Sehingga tidak berapa lama, keadaan di dalam selubung pelindung menjadi tertata rapi lagi.


Rengganis baru saja akan meluncur turun, saat tiba tiba, dari arah atas, terdengar suara ledakan berkali kali, diikuti dengan munculnya kilatan kilatan seperti petir berwarna hijau terang.


Tarrr ! Tarrr ! Tarrr ! Tarrr !


"Kakang Puguh !" kata Rengganis yang telah lama menantikan kedatangan Puguh.


Rengganis pun menambah aliran tenaga dalam lembutnya, sehingga membuat tubuh Rengganis melayang lebih tinggi lagi.


Sesaat kemudian, terdengar lagi suara ledakan dari arah atas yang disertai suara retakan.

__ADS_1


Tarrr ! Tarrr ! Tarrr ! Tarrr !


Krakkk ! Krakkk ! Krakkk !


Disertai pula dengan hembusan angin yang tidak beraturan.


Di sela sela suara retakan itu, tiba tiba terdengar suara ledakan sangat keras, seperti ada sesuatu yang hancur terkena pukulan.


Blanggg !!!


Kruuuaaakkk !


Sesaat setelah suara ledakan itu, gerakan angin di dalam selubung pelindung menjadi semakin besar denga arah sangat kacau.


Kemudian Rengganis melihat, semua yang berada di selubung pelindung itu terangkat ke atas dan bergerak terbawa angin, kecuali pohon besar yang tetap terdiam tidak bergeming. Bahkan tubuh Rengganis yang melayang pun seperti ditarik ke atas kemudian terhisap masuk ke suatu tempat.


Blappp !


Rengganis dan apapun semuanya yang ada di dekat pohon besar itu, tiba tiba hilang lenyap, hanya meninggalkan pohon besar yang berdiri sendirian.


Rengganis merasakan, tubuhnya seperti terhisap sesuatu.


Setelah beberapa waktu, Rengganis merasa, tubuhnya seperti dilempar ke suatu tempat.


Tappp !


Rengganis terjatuh di suatu tempat dengan posisi berdiri. Betapa terkejutnya Rengganis, ketika di tempatnya dia jatuh, tiba tiba dia melihat Puguh dalam keadaan terduduk.


Nafas Puguh terlihat berat, mukanya pucat. Di kedua sudut bibirnya keluar sedikit darah.


Begitu melihat Puguh, serta merta Rengganis berteriak.


"Kakang Puguh !" teriak Rengganis sambil berlari mendekat ke arah Puguh.


Namun, belum juga Rengganis mendekati Puguh, tiba tiba muncul satu tangan yang sangat besar dan penuh bulu, yang bergerak cepat memukul Puguh diikuti suara geraman.


Grrrhhh !!!


Jdammm !


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2