
Sementara itu, di langit di atas tebing yang menjulang di tepi sungai. Pertarungan Puguh melawan Panglima Perang Jaladri berlangsung semakin sengit.
Pertarungan yang mengandalkan kekuatan siluman yang dimilikinya serta digabungkan dengan kekuatan dari dalam dirinya, sangat membutuhkan banyak tenaga dalam dan menguras tenaga dalam tingkat tinggi yang sangat banyak.
Pertarungan yang diwarnai dengan saling serang kedua siluman itu, serta berkali kali terjadi benturan kekuatan yang mengandung tenaga dalam tingkatan sangat tinggi itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Setiap benturan kekuatan itu, menimbulkan ledakan yang mengeluarkan kilatan sinar. Selain itu, juga membuat udara di sekitar pertarungan terasa berat dan sangat menekan.
Hingga pada suatu saat, terjadi lagi bertemunya serangan kedua siluman itu. Siluman harimau besi menggunakan kedua cakar depannya untuk menerkam disertai dengan mulutnya yang terbuka lebar siap memangsa lawannya. Sedangkan siluman elang dengan kedua cakarnya yang tajam, dalam setiap sambarannya, berusaha mencakar kedua mata siluman harimau besi yang berwarna merah membara.
Selama pertarungan itu, Puguh sudah memberitahukan pada siluman elang untuk berhati hati dengan kedua mata siluman harimau besi dan jangan sampai menatap mata itu terlalu lama. Karena, kekuatan siluman harimau besi itu ditopang oleh kekuatan sihir yang diletakkan di kedua mata siluman harimau besi itu.
Maka dari itu, Puguh memerintahkan pada siluman elang, untuk terus fokus menyerang kedua mata siluman harimau besi.
Dalam suatu benturan serangan, siluman elang dengan sengaja mengebaskan kedua sayapnya ke arah tubuh siluman harimau besi dari arah kiri dan kanan. Kebasan kedua sayap siluman elang yang berkekuatan tenaga dalam sangat tinggi itu, menimbulkan angin badai yang sangat kuat yang menghantam ke arah tubuh siluman harimau besi.
Mendapatkan serangan yang tidak seperti biasanya itu, siluman harimau besi segera sedikit meloncat dan mengangkat kedua cakar depannya untuk menghalau kepakan sayap siluman elang.
Namun, sesaat sebelum terjadi benturan, siluman elang mendadak menahan kepakan sayapnya, dan tiba tiba, kedua cakarnya dengan kekuatan silumannya dan ditambah dengan kekuatan tenaga dalam Puguh, melabrak kedua mata siluman harimau besi.
Benturan kekuatan dari kedua cakar siluman elang dengan kekuatan sihir di kedua mata siluman harimau besi itu, menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.
Blaaarrr !
Sesaat setelah suara ledakan itu, wujud siluman elang terdorong mundur hingga mendekati tempat Puguh berdiri melayang. Nafasnya terlihat sedikit terengah engah dengan beberapa bulu sayapnya yang rusak. Sementara Puguh masih terlihat kokoh dengan kuda kudanya.
"Panglima Perang Jaladri sebenarnya tingkat kekuatan tenaga dalam dan ilmu silatnya masih sedikit di bawah Panglima Perang Jaladra kakaknya. Tetapi karena digabungkan dengan kekuatan sihirnyalah yang menjadikannya sulit untuk dikalahkan !" gumam Puguh.
__ADS_1
Sedangkan wujud siluman harimau besi terdorong mundur beberapa langkah. Seluruh tubuhnya terlihat bergetar hebat dengan kedua matanya yang mengeluarkan percikan percikan sinar merah. Wujud tubuhnya terlihat berkedip kedip dan menjadi semakin terlihat transparan.
Sesaat kemudian, terdengar suara seperti logam pecah, saat kedua mata siluman harimau besi itu hancur seiring dengan hilangnya wujud tubuhnya dan kembali lagi ke wujud senjata rantai dengan bandul bola besi berduri yang hancur.
Sementara itu, tubuh Panglima Pedang Jaladri terlihat oleng dengan tatapan matanya yang kosong. Terlihat kedua mata Panglima Perang Jaladri memerah. Tangan kirinya menekan dadanya yang seperti kesulitan bernafas.
Setelah beberapa waktu, tiba tiba Panglima Perang Jaladri memuntahkan darah hitam hingga dua kali. Tangan kanannya yang terlihat lemas hingga membuat senjata rantainya terlepas. Tubuhnya tertekuk hingga terduduk berlutut dan kemudian tubuh itu melayang turun dan nyawanya melayang sebelum tubuhnya jatuh terhempas ke tanah.
Bersamaan dengan jatuhnya tubuh Panglima Perang Jaladri, ada sesosok tubuh yang melesat ke atas mendekati Puguh. Sosok itu, pakaian dan seluruh permukaan kulitnya berwarna hitam legam. Rambutnya yang panjang menghitam, terkuncir di belakang dengan sederhana.
Ketika hanya tinggal berjarak sekitar sepuluh meter, sosok itu berhenti dan melayang di depan Puguh.
Kemudian, selama beberapa waktu, Puguh dan sosok yang baru datang itu terdiam. Untuk sesaat Puguh terkejut dan menatap tajam sosok hitam di depannya itu. Puguh melihat sinar mata sosok itu. Puguh melihat bentuk dan postur tubuh orang yang melayang di depannya itu. Berbagai perasaan tercampur aduk di dalam hati dan pikirannya.
"Adik Rengganis ? Benarkah ini adik Rengganis ?" tanya Puguh pelan.
Tetapi, Puguh yang sangat yakin dengan penglihatannya, segera melesat ke depan dengan cepat, kemudian menyambar sosok tubuh hitam itu, kemudian memeluknya dengan erat dan membawanya melesat lebih ke atas lagi hingga terbang melayang sangat tinggi.
Hingga beberapa waktu, tidak ada kata kata yang keluar dari mulut mereka. Sampai akhirnya Puguh menghentikan terbangnya dan mengendurkan pelukannya.
"Adik Rengganis ! Maafkan kakang yang belum berhasil menemukan adik Rengganis. Tetapi apapun, kakang sangat senang, kakang bisa bertemu adik Rengganis di sini. Bahkan kekuatan adik Rengganis sudah semakin meningkat !" kata Puguh.
Sosok dengan tubuh dan pakaian yang berwarna hitam seluruhnya itu belum sempat mengatakan apa apa, saat tiba tiba, dari bawah mereka melesat dengan sangat cepat dua bola raksasa yang langsung menerjang ke arah Puguh.
Karena gerakan kedua bola raksasa itu yang sangat cepat, membuat Puguh harus segera melepaskan pelukannya pada sosok hitam itu untuk menghindar.
__ADS_1
Namun, begitu terjangannya tidak mengenai sasaran, kedua bola raksasa itu segera membalikkan tubuh dan kembali melesat ke arah Puguh.
"Guru berdua ! Ini kakang Puguh, seperti yang aku ceritakan pada kalian dahulu !" teriak sosok hitam mencoba menghentikan gerakan kedua bola raksasa itu.
Namun, kedua bola raksasa yang ternyata adalah Aswa Muka dan Aswa Kudana itu tidak menghiraukan teriakan sosok hitam itu.
Tubuh mereka berdua tetap melesat ke arah Puguh. Tidak hanya sekedar menerjang, Aswa Muka dan Aswa Kudana juga melakukan serangan ke arah Puguh. Tubuh bulat mereka berdua, melesat sambil berputar kencang. Saat mereka berdua mendekati Puguh, dari tubuh yang berputar itu, mencuat kaki ataupun tangan mereka dengan melakukan tendangan ataupun pukulan.
Sementara itu, setelah beberapa kali menghindar terus, akhirnya pada suatu ketika, Puguh menangkis serangan beruntun Aswa Muka dan Aswa Kudana. Tangkisan yang menggunakan kekuatan yang cukup besar itu, menimbulkan suara yang cukup keras.
Jdaaammm ! Jdaaammm !
Begitu terkena tangkisan Puguh, tubuh Aswa Muka dan Aswa Kudana terpental ke belakang hingga cukup jauh.
"Kwa kwa kwa kwa ! Sungguh kekuatan yang sangat besar !" teriak Aswa Muka sambil tubuhnya melesat berputaran ke belakang.
"Kwa Kwaaa ! Ayo kita coba lagi !" sahut Aswa Kudana.
Aswa Muka dan Aswa Kudana langsung saling mendekat. Kemudian, tubuh mereka berdua berputar kemudian melesat bersamaan ke arah Puguh. Saat hampir sampai di dekat Puguh, tiba tiba tubuh mereka berdua yang berputar kencang, berubah posisi hingga membentuk seperti dua buah bola raksasa bertumpuk.
Sesaat kemudian, dari tubuh Aswa Muka dan Aswa Kudana yang berputar cepat, mencuat keluar kaki dan tangan mereka yang langsung mengarahkan serangan ke tubuh Puguh, hingga menimbulkan suara menggelegar.
Jledaaarrr ! Jledaaarrr !
Dalam benturan itu, tubuh Aswa Muka dan Aswa Kudana kembali terlempar ke belakang hingga lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Kwaaa !" teriak mereka berdua yang tubuhnya melayang bergulingan ke belakang.
----------- ◇ ----------