
Selama bertarung, Puguh mencoba memperhatikan keadaan Rengganis. Namun, karena pertarungan mereka yang semakin sengit, membuat jarak mereka semakin berjauhan. Membuat Puguh tidak terlalu bisa memastikan keadaan Rengganis.
Dalam pertarungan yang berlangsung pada tingkat yang sangat tinggi, apa yang dilakukan Puguh sangat berpengaruh pada konsentrasinya.
Sedikit celah itu, merupakan peluang yang sangat besar bagi lawan lawannya. Hanya dalam sepersekian detik, tubuh Puguh terkena beberapa sabetan golok dan satu tendangan dari Nyi Riwut Parijatha yang mengenai perutnya.
Srat ! Srat ! Srat !
Duuaaakkk !
Seketika tubuh Puguh yang masih melayang, terlempar ke belakang, lalu jatuh ke tanah.
Namun dengan cepat Puguh berdiri lagi walaupun sambil menahan sakit, karena lawan lawannya tidak memberikan waktu baginya walaupun hanya untuk sekedar menata pernafasannya.
Baru saja berdiri, tiba tiba tongkat kecil Nyi Riwut Parijatha sudah mengancam lehernya, bersamaan dengan dua golok yang mengarah ke kepala dan perutnya.
Tidak ada pilihan lain bagi Puguh, tubuhnya melenting ke atas kemudian bersalto ke belakang untuk menghindari serangan berikutnya.
Begitu mendarat di tanah, Puguh segera kembali melesat ke atas. Sambil melayang, Puguh mengerahkan seluruh kekuatannya. Sinar hijau terang yang menyelimuti seluruh tubuhnya semakin pekat.
Tanpa menghiraukan lagi akan luka luka di sekujur tubuhnya, Puguh menerjang siapapun lawannya yang mendekat.
Dimainkan dengan menggunakan kekuatan penuh, jurus pedang warisan Pendekar Pengendara Elang, semakin menampakkan keampuhannya.
Pedang di tangan Puguh membentur setiap senjata yang mengacam tubuhnya.
Trang ! Trang ! Trang !
Beberapa lawannya mulai berjatuhan. Ada yang terpental karena benturan serangan ataupun terkena tebasan pedang di tubuhnya. Tetapi Puguh merasa, lawan lawannya seperti tidak ada habisnya. Karena, setiap ada yang jatuh atau tewas, selalu ada yang muncul menggantikannya.
----- * -----
Sementara itu pada pertarungan yang lain, Rengganis menghadapi keroyokan enam orang lawan yang sangat tinggi tingkat kemampuan dan kekuatannya.
__ADS_1
Pada awalnya, dengan mengandalkan kecepatannya, Rengganis mampu menghadapi keenam lawannya. Namun, ketika memasuki lima puluh jurus, Rengganis harus mengeluarkan seluruh kemampuannya. Tubuhnya melayang terbang, menghindari serangan sambil terus mencari kesempatan untuk menyerang dan menjatuhkan lawannya. Selain itu, Rengganis terus menerus mundur sambil terus bertahan, untuk mencari tempat yang banyak ditumbuhi pepohonan.
Kemudian, Rengganis mulai memainkan jurus Sara Jiwana. Dengan tubuh melayang, kedua tangan Rengganis melakukan gerakan gerakan tertentu yang membuat pohon pohon di sekitarnya bergerak dengan gerakan yang diinginkannya.
Diantara pepohonan yang dahan dahannya bergerak sesuai dengan perintahnya, ujung ujung pakaian dan rambutnya melambai lambai menambah keanggunannya.
Saat pertarungan berjalan seratus jurus lebih, Rengganis sekilas mendengar suara pukulan dan suara tubuh terjatuh. Sesaat Rengganis melihat Puguh terlempar dan jatuh ke tanah.
Hal itu membuat segala perasaan menyeruak dalam dada Rengganis. Tiba tiba, getaran kekuatan yang lebih besar lagi, keluar dari tubuh Rengganis.
Hembusan angin di sekitar pertarungan seketika bertambah kencang. Pohon pohon yang dekat dengan tempat pertarungan dahan dan daun daunnya bergetar dengan batang pohonnya yang meliuk ke arah Rengganis. Semua pendekar yang mengepung Rengganis merasakan, ada getaran kekuatan yang sangat tinggi yang berasal dari pohon pohonan itu mengalir ke tubuh Rengganis.
Sementara itu, tubuh Rengganis yang melayang di antara pohon pohonan, seluruh ujung baju dan rambutnya, melambai lambai terkena hembusan angin. Kedua bola matanya perlahan berubah menjadi putih dan mengeluarkan cahaya putih.
"Kalian semua sudah keterlaluan ! Kalian akan menerima hukumannya !" kata Rengganis dengan suara yang agak dalam.
Dengan tangan kanan memegang pedang di depan dada, tangan kiri Rengganis diangkat ke atas kepala dengan telapak tangan menghadap ke atas.
Melihat apa yang terjadi pada Rengganis, semakin bertambah jumlah pendekar yang mengepungnya.
"Siluman serigala mata biru ? Ternyata makhluk itu benar benar ada !" gumam salah seorang pendekar yang ikut melayang mengepung Rengganis.
Dengan mengalirkan tenaga dalam lebih banyak lagi, pendekar pendekar yang mengepung Rengganis, bersiap untuk mengeroyok lagi. Kemudian, dengan tanpa diberi aba aba, mereka melesat ke arah Rengganis.
Saat melihat semua lawannya bergerak menyerang, Rengganis mendengus pelan. Kemudian tubuhnya melesat menerjang setiap lawan yang mendekat.
Suara senjata beradu, kembali berdentangan seperti berlomba dengan suara teriakan teriakan. Sesekali diselingi suara suara kesakitan dan kematian. Pelan tapi pasti, satu persatu Rengganis mulai menghabisi lawan lawannya.
Hal yang sama dilakukan oleh siluet berwujud siluman serigala mata biru. Dengan terkamannya ataupun tamparan kedua cakar depannya, membuat semua pendekar yang mendekati Rengganis dari samping ataupun dari belakang, jatuh terpental bahkan ada beberapa yang tidak bisa bangun lagi.
Sementara itu pada pertarungan lainnya, saat hari menjelang malam, Puguh sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya. Tenaga dalam yang dikeluarkannya sudah mencapai puncak batasnya. Lawan pun sudah banyak yang berjatuhan, tewas di tangannya.
Namun, seakan tidak ingin melepaskan mangsanya lagi, jumlah pendekar yang datang semakin banyak. Hal itu membuat Puguh mulai merasa letih. Bukan lelah tubuhnya, namun letih hati dan pikirannya. Hatinya merasa letih, karena selalu membunuh, entah sudah berapa puluh bahkan mungkin berapa ratus pendekar yang terpaksa harus dia bunuh. Pikirannyapun merasa lelah melihat kenyataan, kalau tidak dibunuh, dia yang akan terbunuh.
__ADS_1
Tangan dan pedangnya, bajunya dan seluruh tubuhnya bahkan mukanya, sudah penuh dengan noda darah.
Dalam puncak letihnya, Puguh masih bergerak dengan sangat cepat, sambil memutar pedangnya menghalau senjata yang hampir mengenai tubuhnya.
Tubuhnya yang masih kuat, masih bisa bergerak dengan sangat cepat. Namun Puguh sudah lelah untuk merasakannya dan memikirkannya.
Hingga pada suatu saat, ada empat golok yang mengarah ke tubuhnya. Dua dari sebelah kanan dan dua lagi dari sebelah kirinya.
Mendapat serangan dari empat arah sekaligus, Puguh memutar pedangnya sedemikian rupa untuk menangkis keempat golok itu.
Namun, saat Puguh memutar tubuhnya ke kanan untuk menangkis, tiba tiba dari arah depannya, meluncur dengan sangat cepat sebuah tongkat kecil, mengarah ke pinggang kirinya yang terbuka dan hanya berjarak satu jengkal dari tubuhnya. Sementara itu, dua golok yang menyerang dari sebelah kiri sudah sangat dekat dengan punggungnya.
Dalam situsi itu, Puguh yang sudah sangat letih jiwanya, letih hati dan pikirannya, merasa sudah sangat dekat dengan ajalnya. Puguh tiba tiba teringat akan simboknya yang sudah meninggal.
"Simbok, .... tungu ... Pu ....guh !" kata Puguh dalam hati sambil memejamkan matanya.
Tiba tiba, Puguh merasakan tubuhnya terjatuh.
Bruuuaaakkk !
Dalam keadaan mata terpejam, Puguh mendengar suara perempuan.
"Kenapa to ngger ? Tidak usah buru buru. Sini simbok bantu berdiri lagi,"
Dengan cepat Puguh membuka matanya.
"Simbok ?" tanya Puguh dengan mata berbinar, setengah tidak percaya.
Puguh segera berdiri dan memeluk simboknya. Rasa tenteram menjalar di hatinya, merasakan kehangatan pelukan simboknya. Tubuhnya merasa nyaman, merasakan elusan tangan kasar simboknya di kepala dan punggungnya.
Puguh kembali memejamkan matanya, seolah tidak ingin kehilangan semua perasaan itu.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1