Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Dimulainya Perang Saudara II


__ADS_3

Senopati Lembu Caraka yang maju paling depan, segera bertemu dengan Senopati Wiraga.


Senjata gada besi di tangan kanan Senopati Lembu Caraka, segera berbenturan berkali kali dengan golok besar di tangan Senopati Wiraga.


Trang ! Trang ! Trang ! Trang !


Keduanya memang sangat layak dijadikan senopati. Karena kedua senopati itu, bersama sama dengan Senopati Arya Kastara, merupakan senopati yang tertinggi ilmu silat dan tenaga dalamnya. Tenaga dalam mereka berdua yang sangat tinggi serta ilmu silat mereka yang khas ilmu silat prajurit, membuat serangan mereka menjadi lugas. Mereka berdua berusaha saling mendesak dan menjatuhkan lawan secepat mungkin. Namun, sampai dengan belasan jurus, terlihat kalau ilmu silat dan tenaga dalam mereka seimbang.


Di sayap kanan, Senopati Karuna langsung dihadang oleh seorang prajurit yang pakaiannya acak acakan. Prajurit yang sepertinya pemimpin sayap itu tanpa berkata kata langsung menyerang Senopati Karuna.


Senopati Karuna yang merasa belum pernah melihat pemimpin pasukan itu sebelumnya, merasa heran dengan kemampuan prajurit itu. Serangan serangan prajurit itu sangat ganas ditambah dengan tenaga dalamnya yang ternyata tidak di bawahnya membuat Senopati Karuna langsung kerepotan, karena hanya menghindar terus.


Karena melihat lawannya bukan prajurit biasa, akhirnya tanpa ragu ragu dan tidak segan segan lagi, Senopati Karuna mengeluarkan kemampuan penuhnya.


Pertarungan Senopati Karuna melawan prajurit itu berjalan menarik. Jurus jurus khas prajurit yang bersifat lugas dari Senopati Karuna bertemu dengan jurus jurus serangan prajurit lawannya itu, yang penuh dengan tipuan licik dan ganas, terlihat lemah namun mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi.


Setelah pertarungan memasuki lima puluh jurus, bahkan mereka belum bertarung menggunakan senjata, Senopati Karuna mulai mendapatkan luka luka akibat terkena pukulan prajurit lawannya itu. Dari luka luka akibat pukulan itu, sedikit membuat gerakan Senopati Karuna melambat.


Sementara bersamaan dengan itu, di sayap kiri pertempuran. Senopati Cakrayuda mengalami hal yang hampir sama dengan Senopati Karuna.


Senopati Cakrayuda juga berhadapan dengan prajurit perempuan yang masih terlihat gurat gurat kecantikannya, walaupun dibalut bedak tebal. Sehingga sulit untuk diperkirakan berapa usianya.


"Senopati yang cukup tampan ! Bagaimana kalau kita tidak usah bertempur ? Kita berdua pergi dari sini ! Kita bertempurnya di tempat lain dengan cara yang lain ? Heeehhh he he he he .... !" kata prajurit perempuan itu sambil mencecar Senopati Cakrayuda dengan serangan tongkatnya.


"Kau perempuan tidak tahu adat sopan santun !" jawab Senopati Cakrayuda yang sibuk menangkis datangnya serangan tongkat prajurit perempuan itu.


Trak ! Trak ! Trak ! Trak !


Namun, setelah pertarungan memasuki jurus ke lima puluh, Senopati Cakrayuda harus merelakan tubuhnya terkena beberapa sabetan dan sodokan ujung tongkat.

__ADS_1


Tuuukkk ! Tuuukkk !


Buuuggghhh !


"Bagaimana senopati tampan ? Apakah kau tetap tidak mau pergi denganku ?" kata prajurit itu yang merasa di atas angin.


"Jangan pernah berharap aku mau menuruti keinginanmu, perempuan binal !" jawab Senopati Cakrayuda sambil sedikit terengah engah nafasnya.


Walaupun bagian tubuh yang terkena sabetan ataupun sodokan tongkat sudah lebam membiru dan terasa nyeri, Senopati Cakrayuda tetap mencoba bertahan.


Karena terlalu disibukkan oleh lawan lawannya, Senopati Wiraga, Senopati Karuna dan Senopati Cakrayuda kurang memperhatikan keanehan yang terjadi pada pertempuran di kalangan prajurit.


Pertempuran yang melibatkan para prajurit itu sepertinya tidak bisa dikatakan pertempuran. Lebih tepat kalau disebut pembantaian. Karena, begitu kedua pasukan saling berhadapan langsung terjadi pertempuran yang tidak seimbang.


Pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura tidak pernah sempat melakukan serangan dan tidak bisa melakukan tangkisan. Karena para prajurit yang menjadi lawannya bisa bergerak, berkelebatan dengan cepat sambil mengayunkan senjata mereka. Setiap gerakan menebas ataupun menusuk mereka, selalu memakan korban. Banyak prajurit prajurit Kerajaan Banjaran Pura yang terluka bahkan beberapa ada yang langsung tewas. Hingga akhirnya menimbulkan kekacauan di dalam barisan pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura.


Kekacauan di dalam barisan pasuka perang Kerajaan Banjaran Pura itu tidak terlepas dari pengamatan Ki Pande, Ki Kebo Ranu dan Ki Tanggul Alas.


Untuk mencegah agar situasi yang dialami para prajurit Kerajaan Banjaran Pura tidak semakin parah, Ki Pande segera berbagi tugas dengan Ki Kebo Ranu dan Ki Tanggul alas.


"Ki Kebo Ranu, ajak dua puluh pendekar ke tengah, membantu Senopati Wiraga, untuk membendung pergerakan lawan agar tidak semakin merajalela !" teriak Ki Pande pada Ki Kebo Ranu.


"Siap Ki Pande ! Tanganku juga sudah gatal gatal !" jawab Ki Kebo Ranu sambil segera mengajak dua puluh pendekar menengah dan kemudian melesat masuk ke dalam pertempuran.


"Ki Tanggul Alas ! Kau bantu sayap kanan ! Ajak lima belas pendekar ! Aku akan ke sayap kiri !" teriak Ki Pande yang segera mengajak lima belas pendekar menengah ke sayap kiri.


Ketiga pendekar sahabat Ki Dwijo itu segera bergerak dengan sangat cepat menyebar.


Ki Kebo Ranu yang membantu wilayah tengah segera memberi aba aba pada dua puluh pendekar yang mengikutinya untuk membantu para prajurit Kerajaan Banjaran Pura melawan pasukan perang Pangeran Panji.

__ADS_1


"Teman teman, jangan ragu ragu melawan mereka ! Mereka bukan prajurit sebenarnya ! Mereka adalah pendekar yang berseragam prajurit !" teriak Ki Kebo Ranu memberi semangat pada para pendekar.


Setelah kedua puluh pendekar menengah itu masuk ke ajang pertempuran, kemudian Ki Kebo Ranu mendekati pertarungan Senopati Wiraga melawan Senopati Lembu Caraka.


Ki Kebo Ranu melihat, pertarungan kedua senopati itu berjalan dengan seimbang. Sehingga Ki Kebo Ranu memilih membantu para prajurit.


Sementara itu, Ki Tanggul Alas, begitu melihat Senopati Karuna terdesak, segera mendekat. Namun Ki Tanggul Alas sedikit terlambat, saat prajurit itu melenting ke atas dan kemudian tubuhnya meluncur ke arah Senopati Karuna dengan telapak tangan mengarah ke ubun ubun Senopati Karuna, Ki Tanggul Alas segera melesat dan berusaha menangkis serangan itu.


"Senopati ! Awas serangan !" teriak Ki Tanggul Alas memperingatkan Senopati Karuna.


Mendengar peringatan itu, Senopati Karuna berusaha menjauh secepat mungkin. Namun telapak tangan prajurit itu masih juga mengenai dada Senopati Karuna.


Plaaakkk !


Begitu dadanya terkena serangan tapak, Senopati Karuna terdorong mundur hingga beberapa langkah dan kemudian jatuh terduduk. Sesaat kemudian, Senopati Karuna merasakan sesak dan panas di dadanya, hingga akhirnya memuntahkan darah segar.


Melihat senopati yang akan dibantunya telah terjatuh dan terluka, Ki Tanggul Alas segera berdiri di depan Senopati Karuna yang masih diam terduduk.


"Ternyata Iblis Timur. Jangan senang dulu, akulah yang menjadi lawanmu !" kata Ki Tanggul Alas.


"Haaahhh ha ha ha ha ... Ki Tanggul Alas ! Ternyata kau masih muncul juga !" sahut Iblis Timur.


Kemudian, tanpa berkata kata lagi, mereka berdua bertarung beradu serangan pukulan dan tendangan dengan sengitnya.


Bersamaan dengan itu, Ki Pande yang mendekati pertarungan Senopati Cakrayuda, segera membantu Senopati Cakrayuda yang terlihat lemas dan kepayahan, karena banyaknya luka luka di tubuhnya karena sabetan dan sodokan tongkat lawannya.


"Nyi Manis, bagaimana kalau tongkatmu diadu dengan palu yang kupegang ini ?" kata Ki Pande yang kedua tangannya masing masing memegang palu sebesar kepala manusia dewasa.


"Hiiihhh hi hi ... ada tukang pande besi yang ingin merasakan kerasnya tongkatku ini !" sahut Nyi Manis yang telah memberikan banyak luka ditubuh Senopati Cakrayuda.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, terdengar berkali kali benturan senjata saat Nyi Manis dan Ki Pande mulai saling serang.


__________ ◇ __________


__ADS_2