Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Sarung Pedang Dari Kulit Kayu Hitam


__ADS_3

Kartika Dhatu sangat terkejut dan marah melihat keadaan Iswara Dhatu neneknya.


"Kakek tua ! Lepaskan nenek itu !" teriak Kartika Dhatu sambil melenting ke arah Ki Naga Hitam, dan melakukan serangan pukulan berkali kali.


Mendapatkan serangan itu, Ki Naga Hitam meringis memandang rendah kemampuan gadis muda yang menyerangnya.


Tangan kirinya bergerak dengan sangat cepat, menghalau setiap pukulan Kartika Dhatu yang hampir mengenai tubuhnya.


Daaabbb ! Daaabbb ! Daaabbb !Jdaaappp !


Dalam benturan itu tubuh Kartika Dhatu terpelanting dan mundur hingga beberapa langkah. Sedangkan tubuh Ki Naga Hitam terdorong mundur selangkah.


Namun, tanpa membuang waktu lagi, Kartika Dhatu kembali melesat ke arah Ki Naga Hitam dan melakukan serangan lebih banyak lagi, dengan pukulan ataupun tendangan.


Kembali terdengar suara benturan pukulan dan tendangan berkali kali.


Dabbb daaabbb ! Dabbb daaabbb !


Braaasss ! Braaasss !


Dalam benturan pukulan dan tendangan itu, tubuh Ki Naga Hitam terhuyung mundur dua langkah. Sedangkan Kartika Dhatu terpental mundur hingga beberapa langkah.


"Kakek tua ini tingkat kekuatan tenaga dalamnya di atas Pangeran Langit Barat !" kata Kartika Dhatu dalam hati.


Sementara itu, Ki Naga Hitam yang masih meremehkan Kartika Dhatu, sedikit terkejut dengan kemampuan gadis muda yang menyerangnya itu.


"Bocah perempuan ! Sebelum terlanjur, kau kuberi dua pilihan ! Kau tetap melawan dan kau akan tewas si sini bersama perempuan tua itu, atau kau membantuku dan kau kubiarkan hidup !" bentak Ki Naga Hitam.


Begitu teringat Iswara Dhatu neneknya, Kartika Dhatu terkejut. Tetapi Kartika Dhatu berusaha bersikap tenang, seolah tidak ada yang mengagetkannya.


"Aku harus memperhitungkan kesempatan ! Aku akan mengikuti alur yang kakek tua ini inginkan !Yang terpenting, nenek bisa selamat lebih dahulu !" kata Kartika Dhatu dalam hati.


"Kau ingin bantuanku ?" tanya Kartika Dhatu.


"Benar sekali ! Kelihatannya tenaga dalammu lumayan, tidak seperti perempuan tua payah ini !" jawab Ki Naga Hitam sambil melemparkan tubuh Iswara Dhatu ke tumpukan senjata pedang yang paling bawah.


Kemudian, tubuh Ki Naga Hitam melayang ke atas perlahan menuju ke arah puncak tumpukan senjata pedang. Ki Naga Hitam berhenti dengan tubuh tetap melayang di dekat puncak tumpukan senjata pedang.

__ADS_1


Sementara itu, melihat neneknya dilempar di kaki tumpukan senjata pedang, sejenak Kartika Dhatu memperhatikan keadaan neneknya. Dilihatnya, neneknya tidak terluka dan keadaannya tetap pingsan. Namun Kartika Dhatu tetap menahan diri untuk tetap terlihat tidak bereaksi atas kondisi neneknya.


Sesaat kemudian, Kartika Dhatu menaiki tumpukan senjata pedang dengan berjalan seperti orang memanjat atau menaiki tebing. Kartika Dhatu memang sengaja tidak menggunakan kemampuan terbangnya.


Sesampainya di puncak tumpukan senjata pedang yang menggunung itu, Kartika Dhatu heran dengan perkataan Ki Naga Hitam yang meminta bantuannya.


Dengan mimik wajah keheranan, Kartika Dhatu menatap ke arah Ki Naga Hitam yang terbang melayang di depannya dengan jarak sekitar tiga tombak, kemudian berganti menatap puncak tumpukan senjata pedang.


Selain dengan sikap Ki Naga Hitam yang meminta bantuannya, Kartika Dhatu juga keheranan dengan kondisi tumpukan senjata pedang yang menggunung tinggi itu. Dilihatnya, pada tumpukan paling atas ratusan ribu senjata pedang itu, tergeletak sarung pedang yang terbuat dari kulit kayu hitam, yang terlihat sudah sangat lapuk.


Melihat gadis muda di depannya seperti orang keheranan, Ki Naga Hitam tertawa senang dengan keluguan yang ditunjukkannya.


"Hhaaahhh hah hah hah hah ! Bocah perempuan ! Ambillah sarung pedang itu ! Dan sebagai ganti dari jerih payahmu, kau boleh memilih senjata pedang yang mana yang kau inginkan. Berapapun ambillah !" kata Ki Naga Hitam sambil tertawa.


"Haahhh ! Mudah bukan ?" lanjut Ki Naga Hitam.


"Aku mau membantumu ! Tetapi ada syaratnya ! Kalau aku sudah melakukan apa yang kau inginkan tadi, kau harus membebaskan ne ... eh ... perempuan tua itu juga !" kata Kartika Dhatu.


"Haahhh ! Bawalah pergi perempuan tak berguna itu !" sahut Ki Naga Hitam.


"Tapi aku harus meletakkan nenek itu di tempat yang aman dulu !" jawab Kartika Dhatu sambil perlahan turun mendekati Iswara Dhatu neneknya yang masih pingsan.


Tetapi Kartika Dhatu diam diam curiga, kenapa kakek tua itu tidak melakukan sendiri, mengambil sarung pedang yang tergeletak di atas puncak tumpukan senjata pedang yang menggunung.


"Pasti ada sesuatu yang membuat takut kakek tua itu ! Dan sesuatu itu sepertinya ada hubungannya dengan sarung pedang itu !" kata Kartika Dhatu dalam hati.


Sementara itu, melihat gadis muda itu menuju ke perempuan tua yang dia lemparkan ke kaki tumpukan senjata pedang, Ki Naga Hitam segera memutar tubuhnya menghadap ke arah lorong tempat mereka masuk tadi.


Tiba tiba, dari telapak tangan kanannya yang diacungkan ke depan, muncul bola cahaya mengkilap yang terbentuk dari kekuatan tenaga dalamnya.


Kemudian, dengan sekali mengayunkan tangan kanannya, bola cahaya mengkilap itu melesat cepat memasuki lorong masuk, dan sesaat kemudian terdengar ledakan yang membuat dinding tengah tengah lorong longsor dan menutup jalur lorong itu.


Melihat kejadian itu, Kartika Dhatu yang sudah memanggul tubuh neneknya yang pingsan, merasa terkejut dan marah dan ingin sekali menyerang kakek tua itu dengan sekuat tenaganya.


Tetapi mengingat keselamatan neneknya, Kartika Dhatu menekan kemarahannya.


Kemudian, dengan sekali loncat, Kartika Dhatu sampai di mulut lorong yang belum ikut longsor, dan menyandarkan tubuh neneknya di dinding lorong.

__ADS_1


Lalu dengan cepat Kartika Dhatu melakukan beberapa kali totokan untuk menyadarkan neneknya.


Ketika melihat neneknya tersadar, Kartika Dhatu segera berbisik di telinga neneknya.


"Nenek duduk di sini dulu, sambil berusaha mengembalikan kekuatan tenaga dalam milik nenek ! Aku akan mencoba mencari kelengahan kakek tua itu !" bisik Kartika Dhatu.


Sementara itu, Iswara Dhatu terkejut bercampur rasa senang, saat melihat, Kartika Dhatu cucunya berada di dekatnya.


"Hati hati cucuku ! Kekuatan tenaga dalamnya sulit untuk diukur !" kata Iswara Dhatu pelan memberi peringatan pada Kartika Dhatu cucunya.


"Nenek percayakan padaku. Nenek mempersiapkan diri saja. Nanti saat ada kesempatan, aku akan langsung membawa nenek pergi dari sini !" bisik Kartika Dhatu lagi.


"Cucuku ! Jangan pernah sekalipun kau memindahkan ataupun mengambil tumpukan senjata pedang itu !" bisik Iswara Dhatu.


Mendengar Iswara Dhatu neneknya berpesan demikian padanya, semakin kuat dugaan Kartika Dhatu tentang adanya sesuatu yang ditakuti oleh kakek tua itu, bahkan juga oleh neneknya.


Agar neneknya tidak khawatir, Kartika Dhatu mengangguk sambil tersenyum, lalu mundur dengan perlahan.


Kemudian, agar tidak membuat Ki Naga Hitam curiga, Kartika Dhatu segera melenting meloncati jurang gelap dan melesat memanjat tumpukan ratusan ribu senjata pedang, hingga akhirnya kembali ke tempatnya semula berdiri, di puncak tumpukan senjata pedang.


"Haahhh ! Kau sudah siap, bocah perempuan ? Ambillah sarung pedang di depanmu itu !" kata Ki Naga Hitam, begitu melihat Kartika Dhatu sudah berdiri lagi di depannya.


Perlahan Kartika Dhatu melangkah mendekati sarung pedang yang tergeletak di depannya, dengan tatapan mata yang terus memperhatikan gerak gerik Ki Naga Hitam.


Kemudian, tangan kanannya terulur ke bawah dan memegang sarung pedang yang terbuat dari kulit kayu hitam yang terlihat sudah sangat lapuk itu.


Sesaat sebelum mengangkat sarung pedang itu, Kartika Dhatu melihat, muncul selubung transparan di depan Ki Naga Hitam, yang terbentuk dari kekuatan tenaga dalamnya.


Kemudian, dengan cepat Kartika Dhatu kembali berdiri tegak dengan tangan kanan memegang erat sarung pedang itu dan mengacungkannya ke depan.


Begitu melihat sarung pedang itu dipegang oleh Kartika Dhatu, Ki Naga Hitam segera melesat mendekat sambil melakukan serangan pukulan ke arah Kartika Dhatu.


"Bocah bodoh ! Bawa menjauh sarung pedang itu !" teriak Ki Naga Hitam sambil melayangkan serangan pukulan.


Karena tidak menyangka kakek tua itu akan melakukan serangan, dengan cepat Kartika Dhatu menggunakan sarung pedang itu untuk menangkis sambil mengalirkan sebagian besar kekuatan tenaga dalamnya.


Benturan dua kekuatan tenaga dalam itu menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.

__ADS_1


Jdaaammm !


---------- ◇ ----------


__ADS_2