Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Tanggung jawab Ki Demang Pandan Ireng


__ADS_3

Sejenak Puguh terdiam sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Para petani menatap Puguh dengan penuh pertanyaan. Untuk memecahkan kebingungan, Puguh menyuruh para petani untuk membawa hasil panennya.


"Maaf paman paman semua. Silahkan dilanjutkan pekerjaannya. Hasilnya, silahkan dibawa ke rumah masing masing," kata Puguh.


Para petani itu hanya mengangguk dan kemudian segera memegang pekerjaannya masing masing.


Puguh menunggu sesaat di persawahan itu. Namun kemudian, tubuhnya melesat meninggalkan para petani yang hanya bisa bengong melihat itu semua.


Selama berlari ke arah rumah Kademangan, Puguh melihat sekelilingnya masih seperti yang dulu, tidak ada yang berubah.


Ketika hampir mendekati rumah Kademangan, Puguh menggunakan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuhnya, supaya kehadirannya tidak bisa dirasakan orang orang yang berada di Kademangan.


Beberapa saat kemudian, Puguh sampai di rumah Kademangan. Dengan ringannya tubuhnya hinggap di atas genteng rumah dalam, tempat keluarga inti Kademangan tinggal, tanpa menimbulkan suara.


Kemudian, tanpa sengaja, Puguh berada di atas sebuah ruangan besar yang biasanya dipergunakan sebagai ruangan santai.


Dari atas genteng itu, Puguh mendengar suara orang berbincang bincang, menilik dari suaranya, sepertinya Den Roro sedang berbincang dengan ayahnya, Ki Demang Pandan Ireng. Terdengar Den Roro sedang membicarakan tentang kejadian tadi di persawahan.


"Kalau anak itu masih hidup, mungkin saja gurunya juga masih hidup. Kalau memang gurunya masih hidup, berarti ada harapan kita untuk bebas dari cengkeraman mereka," kata Ki Demang Pandan Ireng.


"Tapi anak itu datang sendirian, bopo," sahut Den Roro.


"Tidak apa apa, kalau suatu saat kamu bertemu lagi dengan anak itu, ajaklah dia ke sini, aku ingin bertemu dengannya," jawab Ki Demang Pandan Ireng.


Kemudian sambil berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar.


"Mulai saat ini, kita harus bersiap siap, sepertinya akan ada banyak tamu yang datang ke kademangan ini," kata Ki Demang Pandan Ireng.


----- * -----


Tiga hari berlalu. Selama itu pula Puguh mengawasi Kademangan Pandan Ireng. Hingga kemudian pada hari ke empat pagi hari, terdengar suara bergemuruh di jalan yang mengarah ke rumah Kademangan.


Suara gemuruh tadi berasal dari lima ekor kuda yang ditunggangi oleh anggota Perkumpulan Jaladara Langking.


Tidak terlalu lama, rombongan berkuda itu sampai di halaman rumah Kademangan.


"Ki Demang Pandan Ireng ! Keluar kau !" teriak salah seorang yang baru turun dari kudanya.

__ADS_1


Sambil tergesa gesa, Ki Demang Pandan Ireng keluar menemui rombongan penunggang kuda.


"Ada yang bisa saya bantu pendekar ?" tanya Ki Demang Pandan Ireng.


"Kami mendapat laporan, kalau Ki Demang Pandan Ireng sudah berani melawan !" kata pendekar yang berteriak tadi. Sepertinya dia yang menjadi pimpinannya.


"Tidak ada yang melawan. Lihat ! Semuanya masih seperti biasanya," jawab Ki Demang Pandan Ireng.


"Anak buahku yang biasanya bertugas di sini, semuanya rontok giginya ! Masih berkata tidak ada kejadian apa apa !" bentak pemimpin pendekar itu.


"Kalau begitu, lakukan apa yang ingin kalian lakukan ! Kalian ingin membunuh kami ? Lakukan saja !" jawab Ki Demang Pandan Ireng.


"Akan kami laporkan pada Ki Kapiraga !" tukas pemimpin pendekar itu.


Kemudian, tanpa berkata kata lagi, rombongan berkuda itu segera pergi lagi.


"Bopo, semua ini gara gara Puguh ! Akan aku hajar anak itu !" kata Den Roro yang keluar dari dalam rumah.


"Jangan menyalahkan Puguh, nduk anakku. Bagaimanapun, dia merasa sebagai warga Kademangan ini. Dia berhak melakukan itu. Biarkan dia. Bopo siap bertanggung jawab !" jawab Ki Demang Pandan Ireng sambil melangkah keluar untuk melihat suasana di sekeliling rumah Kademangan.


Untuk mengendorkan pikirannya yang tegang, Ki Demang Pandan Ireng, berjalan berkeliling. Tidak hanya di sekitar rumah Kademangan, namun juga untuk melihat keadaan penduduk sekitar Kademangan.


Namun, sampai dengan hampir tengah malam, Ki Demang Pandan Ireng tidak menjumpai seorangpun penduduk yang keluar rumah. Setiap kali hanya berpapasan dengan sekelompok prajurit yang beronda. Setiap bertemu Ki Demang Pandan Ireng, para prajurit itu selalu menawari untuk mengawalnya, namun selalu ditolak oleh Ki Demang Pandan Ireng dan menyuruhnya untuk tetap berjaga, menjaga keamanan lingkungan Kademangan Pandan Ireng.


Masuk waktu tengah malam, Ki Demang Pandan Ireng beranjak pulang ke rumah Kademangan. Karena melakukan dengan berjalan kaki biasa, Ki Pandan Ireng butuh beberapa waktu hingga sampai di rumah Kademangan.


Saat masuk ke halaman depan rumah Kademangan yang cukup luas, Ki Demang Pandan Ireng dikejutkan dengan suara yang pelan, namun terasa menakutkan.


"Apakah kau siap untuk bertanggung jawab, Ki Demang ?"


Ki Demang Pandan Ireng menajamkan pandangannya. Agak jauh di depannya, keluar dari teras rumahnya seorang laki laki tua. Rambutnya jarang dan berwarna campuran putih dan sedikit hitam. Tubuhnya kecil dan berkulit coklat cenderung hitam. Tangan kanannya memegang tongkat panjang setinggi tubuhnya.


"Owhhh Ki Kapiraga. Kenapa tidak memberi kabar dulu, biar aku bisa menyambutmu dengan sepantasnya," jawab Ki Demang Pandan Ireng.


"Apa Ki Demang sudah tidak mau mengikuti peraturan Perkumpulan ? Sehingga kejadian itu bisa terjadi ?" tanya Ki Kapiraga.


"Sejujurnya aku tidak tahu Ki Kapiraga. Tetapi, kalau aku harus bertanggung jawab, aku tidak akan lari dari tanggung jawab," jawab Ki Demang Pandan Ireng.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kau serahkan saja salah seorang anakmu, untuk dididik di markas utama ?" tanya Ki Kapiraga.


"Tidak ! Sejak dulu aku sudah menjawab tidak, untuk hal ini ! Itu tanggung jawabku, bukan tanggung jawab anak anakku !" tukas Ki Demang Pandan Ireng.


"Hihi hi hi .... Jadi Ki Demang memang berniat melawan Perkumpulan Jaladara Langking !" sahut Ki Kapiraga.


"Terserah Ki Kapiraga menilainya. Yang penting aku sudah menjalankan apa yang diminta oleh Perkumpulan kalian, walaupun itu berarti aku harus memeras rakyatku !" jawab Ki Demang Pandan Ireng tegas.


"Hihi hi hi hi .... "


Sambil tertawa, Ki Kapiraga memindahkan tongkatnya ke tangan kirinya. Kemudian tangan kanannya dengan jari jari terbuka diangkat hingga setinggi pundak.


Tiba tiba, dari telapak tangan kanannya keluar kepulan asap hitam, yang kemudian, kepulan asap itu membentuk gulungan dan dengan cepat melesat ke arah Ki Demang Pandan Ireng.


Melihat serangan itu, Ki Pandan Ireng segera meloncat untuk menghindari serangan jadak jauh itu.


Tetapi ternyata gulungan hitam yang terbentuk tidak hanya satu, tetapi masih ada beberapa lagi di belakangnya.


Dua gulungan asap hitam masih bisa dihindari oleh Ki Demang Pandan Ireng. Namun dua gulungan asap hitam berikutnya tepat mengenai dada Ki Demang Pandan Ireng.


Plaaasss ! Plaaasss !


Ki Demang Pandan Ireng terlempar ke belakang. Karena sebenarnya ilmunya kalah jauh dari Ki Kapiraga.


Ki Demang Pandan Ireng berusaha bangkit lagi walaupun pandangannya gelap. Namun saat baru bisa terduduk, Ki Denang Pandan Ireng memuntahkan darah hitam. Nafasnya pun menjadi berat.


"Biar kuringankan penderitaanmu, dengan mengirimmu menghadap malaikat maut !" kata Ki Kapiraga sambil memutar tongkat dengan tangan kirinya.


Sesaat kemudian, tongkat dari kayu hitam itu meluncur ks arah kepala Ki Demang Pandan Ireng.


Namun, saat ujung tongkat hanya tinggal berjarak satu jengkal tiba tiba tongkat itu terpental dan balik meluncur ke arah Ki Kapiraga dengan lebih cepat lagi.


Traaakkk !!!


"Bagaimana kalau ternyata yang melukai anak buahmu itu adalah aku, kakek tua ?"


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2