Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan pertama Rengganis


__ADS_3

"Kita jumpa lagi, nona. Dan kau punya hutang padaku, untuk menjelaskan kejadian kemaren !" kata Puguh sambil berdiri membelakangi gadis berbaju putih.


"Maaf, tapi lain kali saja. Kami harus segera membawa anak bandel itu !" kata perempuan itu sambil menunjuk ke arah lawan yang dia keroyok tadi.


Seolah tidak memperdulikan keberadaan Puguh, mereka berdua kembali melesat ke arah gadis berbaju putih yang berusaha memaksakan diri untuk tetap berdiri walau agak membungkuk dan badannya terlihat gemetar. Terlihat butiran keringat di kening dan pelipisnya.


Puguh yang melihat hal itu, memperkirakan kalau gadis berdiri di balakangnya sudah terluka.


Maka diapun mendahului dengan memapaki serangan kedua orang di depannya itu.


"Kalau kalian tetap memaksakan diri untuk menyerang, maaf, aku harus ikut campur. Atau kalian berdua bisa pergi dari sini !" kata Puguh lagi sambil menggerakkan kedua tangannya menggunakan ilmu 'Bantala Wreksa' yang diajarkan gurunya untuk menangkis serangan kedua orang di depannya.


Plak ! Plak ! Plak !


Deeesss ! Deeesss !


Kedua orang lawannya itu terkejut melihat kecepatan gerakan Puguh yang mampu menghadapi serangan mereka sekaligus.


Sesaat Puguh melirik ke gadis di belakangnya. Puguh mendengar suara nafasnya yang menggambarkan kalau keadaannya sudah sangat kepayahan.


"Gadis di belakangku itu sepertinya terkena racun dan harus segera ditolong. Aku harus segera mengusir dua orang itu," kata Puguh dalam hati.


"Kalian pergilah dari sini !" kata Puguh pelan sambil melesat ke arah mereka berdua. Dengan menambah tenaga dalamnya, Puguh menyerang dengan jurus yang sama namun dengan gerakan yang lebih cepat lagi.


Plak plak ! Plak plak !


Duuuggghhh ! Duuuggghhh !


Dua pukulan Puguh berhasil mengenai bahu kedua lawannya, hingga keduanya tersurut ke belakang beberapa langkah.


Saat keduanya terhuyung mundur itu, Puguh segera menyambar tubuh gadis di belakangnya dan membawanya pergi.

__ADS_1


Kedua lawannya segera mengejarnya. Namun baru sebentar kemudian, mereka berdua sudah kehilangan jejak Puguh.


Sementara itu, Puguh berlari cepat dan segera mencari tempat yang nyaman untuk memberikan pengobatan pada gadis yang terluka itu.


Begitu menemukan dinding tebing yang agak menjorok ke dalam sehingga menyerupai gua, Puguh segera memeriksa luka luka gadis itu. Gadis itu, selain terluka dalam karena terkena pukulan, juga terkena lemparan jarum yang ternyata beracun.


Terlihat wajah gadis itu pucat dengan keringat di seluruh wajah dan lehernya. Walaupun masih dalam keadaan sadar, namun gadis itu sudah terlalu lemah sehingga tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Namun gadis itu masìh bisa melihat semua yang dilakukan Puguh.


Puguh melakukan totokan pada beberapa tempat yang terkena racun dari senjata rahasia jarum.


Kemudian, melalui punggung, Puguh mengalirkan tenaga dalamnya untuk sedikit memberikan tenaga agar gadis itu tidak lemah tubuhnya atau bahkan kehilangan kesadarannya.


Baru setelah itu, Puguh mengeluarkan pedangnya yang dia dapatkan saat dia hidup di dasar jurang bersama dengan Ki Dwijo gurunya. Kemudian, sambil mengalirkan tenaga dalamnya pada pedang itu, Puguh meletakkan ujung pedang pada bagian bagian tubuh gadis itu yang terkena racun. Terlihat, begitu teraliri tenaga dalam, bilah pedang itu mengeluarkan pendaran sinar hijau terang. dan bilah pedang yang menyala hijau itu mulai menyerap racun


Hal itu Puguh lakukan beberapa kali sampai akhirnya semua racun yang berada di dalam tubuh gadis itu, bisa diambil.


Setelah beberapa saat beristirahat memulihkan tenaga, gadis berbaju putih itu segera berdiri dan menjura ke arah Puguh.


"Sama sama nimas, panggil saja aku Puguh," jawab Puguh sambil menatap wajah gadis itu. Puguh baru menyadari, ternyata gadis yang dia tolong itu sangat cantik.


"Kakang Puguh, perkenalkan, namaku Rengganis," kata gadis itu sambil sekilas melirik ke wajah Puguh.


Untuk beberapa saat, mereka saling menatap. Namun kemudian, mereka sama sama tersipu malu.


Kemudian, untuk menghilangkan rasa jengah, mereka saling menanyakan keadaan mereka. Hingga tanpa mereka sadari, mereka saling bercerita selama beberapa waktu.


Setelah waktu menjelang sore, barulah Puguh menyadari, jika mereka sudah berada di situ terlalu lama.


Akhirnya Puguh mengantarkan Rengganis kembali ke tempat tinggalnya. Begitu sampai di tempat Rengganis bertarung tadi, mereka berdua berhenti.


"Sampai di sini saja kakang. Karena aku masih harus mencari kakek sekaligus guruku," kata Rengganis.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun berpisah. Rengganis kembali masuk ke hutan yang lebih dalam lagi. Sambil berlari, Rengganis tersenyum sendiri.


"Dalam usianya sekarang ini, Puguh sudah mempunyai ilmu dan tenaga dalam yang sangat tinggi. Kelihatannya, melakukan perjalanan bersama dengannya sangat menyenangkan," gumam Rengganis dengan tak henti hentinya tersenyum.


Sedangkan Puguh kembali ke Kadipaten Langitan.


Selama berjalanan ke Kadipaten Langitan, barulah Puguh bisa merasakan, jika gadis yang dia tolong tadi, selain berwajah cantik, terlihat ceria dan enak diajak mengobrol. Namun dia lupa untuk menanyakan siapa nama guru atau kakeknya tadi.


Sesampai di Kadipaten Langitan, hari memasuki waktu malam. Baru saja hendak melewati pintu gerbang yang dijaga banyak prajurit, tiba tiba dari arah sampingnya ada tangan lembut yang menariknya ke pinggir.


"Puguh, kamu dari mana saja ? Aku menunggumu sejak dari pagi !" kata den Roro.


"Maaf Den Roro. Aku tadi mencari cari guruku dan belum bisa bertemu dengan guru," jawab Puguh.


"Lain kali kalau kamu hendak pergi, bilang aku biar aku temani," kata Den Roro lagi sambil tangannya terus menarik tangan Puguh dan mengajaknya berjalan ke arah gedung Kadipaten.


----- * -----


Pagi hari berikutnya, di tengah hutan, di tempat yang cukup jauh dari Gedung Kadipaten Langitan. Rengganis sejak semalam selalu merengek pada kakeknya, Ki Bajraseta, minta ijin ingin berkelana. Kalau tidak diijinkan, tetap ingin berkelana bersama dengan kakeknya.


Namun hal itu menjadi suatu pilihan yang sulit bagi Ki Bajraseta. Ki Bajraseta belum tega untuk melepaskan Rengganis cucunya, pergi berkelana sendiri. Sementara, Ki Bajraseta ingin sebisa mungkin tidak bertemu dengan orang orang dari Perkumpulan Jaladara Langking.


Selama ini Ki Bajraseta juga sudah mengajak Rengganis keluar dari hutan tempat tinggal mereka sejak pertama menetap di hutan. Namun pengembaraan mereka hanya dari satu hutan ke hutan yang lain.


Rengganis bertemu dan bertarung dengan dua orang dari Perkumpulan Jaladara Langking yang seusia dengannya, itupun hanya kebetulan. Karena dua orang muda mudi dari Perkumpulan Jaladara Langking itu memang diutus oleh Perkumpulan, untuk mencari lagi Ki Bajraseta. Mereka berdua bertemu dengan Rengganis dan mencoba menanyainya, karena ciri ciri Rengganis mirip dengan gambaran yang diceritakan oleh anggota Perkumpulan yang bertugas mencari informasi.


Saat itu Rengganis sedang sendirian karena Ki bajraseta sedang masuk hutan. Karena dipesan untuk sebisa mungkin menjaga rahasia, maka saat ditanya tentang Ki Bajraseta, Rengganis tidak mau menjawab dan akhirnya terjadi pertarungan. Sebenarnya jika berhadapan satu lawan satu, Rengganis bisa mengimbangi kemampuan silat mereka.


Sementara itu, karena Rengganis yang terus terusan meminta untuk berkelana ke luar, tidak hanya dari hutan ke hutan, namun lebih untuk mencari pengalaman, akhirnya dengan berat hati, Ki Bajraseta mengijinkan Rengganis untuk berkelana sendiri. Namun, jika menemui masalah, Rengganis diminta untuk segera mencari kakeknya.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2