
Tanpa ada yang tahu dari mana datangnya, tiba tiba Ki Dwijo sudah berdiri di tengah tengah panggung utama dan tatapannya tajam ke arah kelompok Ki Klawu Carma dan Ni Srayu.
"He he he he .... lakukan apa yang telah kau ucapkan ! Aku ingin tahu, apakah kalian masih bisa pergi dari tempat ini dengan selamat !" kata Ki Dwijo sambil mendekat beberapa langkah ke arah Ki Klawu Carma dan yang lainnya.
Melihat datangnya sosok Ki Dwijo, Ki Bajrapadsa segera teringat informasi dari senopati Nata dan cerita dari Puguh.
"Apakah dia orangnya, yang berjuluk Pendekar Tangan Seribu ?" tanya Ki Bajrapadsa dalam hati.
Andaikata memang benar, Ki Bajrapadsa berharap, Pendekar Tangan Seribu berada di pihaknya.
Sementara itu di pihak Ki Klawu Carma, melihat kedatangan Ki Dwijo, Ki Klawu dan Ni Srayu terkejut dan diam diam merasa khawatir.
"Heh he he he .... Kudengar, sudah sangat lama, Ki Dwijo sudah tidak mau lagi turut campur urusan dunia persilatan. Tetapi sekarang Ki Dwijo turun gunung juga. Tentunya bukan karena ingin turut campur urusan kami kan," kata Ki Klawu Carma.
"He he he he .... Ki Klawu Carma dan Ni Srayu, kita sudah sama sama uzur, tentunya kita sudah tidak ingin lelah dengan urusan dunia. Aku hanya mengingatkan kalian berdua," jawab Ki Dwijo.
Ki Klawu Carma sebenarnya sudah sangat marah, disindir oleh Ki Dwijo. Namun dia tidak ingin bentrok dengan Ki Dwijo dulu, jika keadaan memang tidak menguntungkan mereka.
"Ki Dwijo benar. Terimakasih sudah diingatkan. Kita yang tua tua ini, sebaiknya mundur saja," kata Ki Klawu Carma lagi.
Seolah seperti orang yang menurut atau segan dengan Ki Dwijo, namun sebenarnya Ki Klawu Carma sedang bersiasat. Jika mereka nekad, mereka berempatlah yang akan rugi.
Mereka berdua mengetahui, siapa itu Ki Dwijo yang dijuluki Pendekar Tangan Seribu oleh dunia persilatan. Walaupun mereka belum pernah bentrok dengan Ki Dwijo, namun kabar berita yang tersebar tentangnya membuat mereka harus berhati hati. Karena kalau memang berita tentang Ki Dwijo itu benar, maka mereka mengeroyok empat pun belum tentu bisa menang. Dan pula, di situ masih ada tokoh tokoh persilatan yang lain yang berada di pihak Kadipaten Langitan. Bisa dipastikan, mereka berempat akan kalah.
Namun lain halnya jika dia dan Ni Srayu mundur dengan syarat Ki Dwijo juga mundur, maka dua orang berpakaian serba hitam itu dia perkirakan mampu melawan para senopati Kadipaten Langitan dan tokoh tokoh yang hadir di situ.
Karena itulah, demi kelancaran dan merahasiaan misi mereka, Ki Klawu Carma berniat mengajak mereka mundur dulu.
"Baiklah, karena menghormati nama besar Pendekar Tangan Seribu, kami berdua akan mundur, menyertai Ki Dwijo yang tentunya juga mundur," kata Ki Klawu Carma lagi.
__ADS_1
"Baiklah ! Ayo kita turun bersama sama," jawab Ki Dwijo.
Namun, baru saja selesai Ki Dwijo berbicara, sudah disahut oleh orang berbaju serba hitam yang berdiri di sebelah kiri Ki Klawu Carma.
"Tidak bisa ! Kalian semua tidak ada yang akan meninggalkan tempat ini. Karena, hari ini kalian semua harus mati !"
Ki Klawu Carma dan Ni Srayu sangat terkejut, mendengar perkataan orang berbaju serba hitam di sampingnya. Padahal dia sedang merencanakan, agar Ki Dwijo tidak ikut bertarung dengan mengajaknya turun dari panggung. Kalau Ki Dwijo masih di atas panggung dan ikut bertempur, mereka berempat yang akan mendapat kerugian.
"Ki Jalu dan Ki Janu, sudahlah, kita pergi dari sini dulu," kata Ki Klawu Carma yang berusaha tidak bentrok dengan Ki Dwijo.
"Kalian berdua lebih takut pada mereka, daripada organisasi ?" tanya Ki Jalu, salah satu orangbyang berpakaian serba hitam," Kalau kalian takut, biar kami berdua yang menghabisi mereka !"
Kemudian mereka berdua maju satu langkah dan menatap ke arah kelompok senopati utama Wiguna.
Merasa diancam, senopati utama Wiguna muncul jiwa senopatinya.
"Tidak perlu tahu siapa kami ! Karena kami akan mengirim kalian pergi menemui malaikat maut !" jawab orang berpakaian serba hitam itu, sambil kemudian melesat menyerang Ki Dwijo, sedangkan orang berbaju serba hitam yang satunya ikut melesat menyerang senopati utama Wiguna.
Melihat ada yang melesat dan menyerangnya, Ki Dwijo mendengus cukup keras sekali, dan kemudian mengibaskan ujung baju kirinya ke arah orang berbaju serba hitam yang menyerangnya.
Saat dirinya sudah dekat dengan Ki Dwijo, tanpa mengetahui apa yang terjadi, tubuh orang berbaju serba hitam itu terpelanting hingga bergulingan kembali ke belakang.
Sementara itu, orang berbaju hitam yang menyerang senopati utama Wiguna, belum juga mendekat ke arah senopati utama Wiguna, tubuhnya seperti tertahan oleh sesuatu dan kemudian seperti ditarik paksa hingga jatuh bergulingan di tanah.
Mereka berdua belum menyadari, kekuatan seperti apa yang mereka hadapi, sehingga mereka masih nekat maju. Secara bersamaan, Ki Jalu dan Ki Janu melesat ke arah Ki Dwijo yang masih berdiri di tengah panggung.
"Senopati, bawa mereka semua ke rumah Kadipaten dan lindungi mereka disana !" kata Ki Dwijo pada senopati utama Wiguna.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Dwijo, Ki Bajrapadsa segera mengajak senopati utama untuk segera bergerak.
__ADS_1
"Dan kalian berdua ! Jika masing sayang dengan nyawa kalian, segera tinggalkan tempat ini !" kata Ki Dwijo sambil menuding ke arah Ki Klawu Carma dan Ni Srayu sambil bersiap menghadapi serangan Ki Jalu dan Ki Janu.
Mendengar kata kata Ki Dwijo, Ki Klawu Carma dan Ni Srayu jadi serba bingung.
Bersamaan dengan itu, serentetan serangan Ki Jalu dan Ki Janu tiba. Ki Dwijo menghindari semua serangan itu dengan menggeser kaki ataupun meliukkan tubuhnya.
Semua serangan Ki Jalu dan Ki Janu bisa dihindari Ki Dwijo. Sebenarnya Ki Dwijo terkejut dengan serangan serangan mereka yang cenderung telengas. Maka Ki Dwijo ingin memberikan mereka pelajaran.
Kemudian, dengan cepat tubuh Ki Dwijo seperti menghilang dari depan Ki Jalu dan Ki Janu sambil dua kali menggerakkan tangan kirinya.
Paaaccckkk ! Paaaccckkk !
Tubuh Ki Jalu dan Ki Janu kembali terpelanting seperti didorong ke belakang dengan paksa, saat sapokan telapak tangan kiri Ki Dwijo mengenai dada mereka.
Mereka berdua terjatuh dengan dada yang terkena sapokan terasa nyeri.
Di sisi lain, Ki Dwijo semakin terkejut saat sempat melihat di dada kanan baju mereka terdapat sulaman gambar awan dari benang berwarna kuning.
"Apa hubungan kalian dengan Ki Naga Gringsing ?" tanya Ki Dwijo.
Ki Jalu dan Ki Janu memang tidak tahu siapa Ki Dwijo, sehingga mereka semakin marah dan mengeluarkan senjata golok mereka.
Sring ! Sring !
"Tidak usah banyak bertanya, karena kau akan mati hari ini !" kata Ki Jalu.
Kemudian mereka berdua kembali menyerang dan mengurung Ki Dwijo dengan serangan serangan yang penuh tenaga dan berbahaya.
__________ ◇ __________
__ADS_1