
Ki Bhanujiwo merapikan jasad Ki Bajraseta. Kemudian mencari tempat untuk menguburkannya. Hanya dalam waktu sebentar saja, Ki Bhanujiwo selesai mempersiapkan tempat untuk mengubur jasad Ki Bajraseta.
Setelah semuanya selesai, Ki Bhanujiwo mendekat ke tempat Ki Dwijo, sambil menunggu Rengganis selesai bersemedi.
Pada kesempatan itu, Ki Dwijo menanyakan perihal Ki Bajraseta pada Ki Bhanujiwo.
Kemudian Ki Bhanujiwo menceritakan semua hal tentang Ki Bajraseta yang diam diam telah menolongnya, hingga sampai sekarang Ki Bhanujiwo masih hidup.
"Ki Dwijo, saat kalian terjatuh ke jurang, Ki Bajraseta sengaja membuang tubuhku juga ke jurang. Namun, diam diam dia memberikan totokan totokan di tubuhku dan memasukkan obat penawarnya ke kantongku. Saat melempar tubuhku, dia sengaja melempar ke bagian pinggir jurang yang banyak pepohonan, agar tubuhku tersangkut dahan dahan pohon," kata Ki Bhanujiwo.
Mendengar semua yang diceritakan oleh Ki Bhanujiwo, Ki Dwijo kemudian teringat pada Rengganis.
"Pantas saja ilmu silat gadis itu sepertinya aku pernah mengetahuinya. Ternyata dia cucu sekaligus murid Ki Bajraseta. Tetapi gadis ini tidak jahat," kata Ki Dwijo dalam hati.
Sesaat setelah mereka selesai bercerita, Rengganis terbangun dari semedinya. Rengganis pun langsung teringat pada kakeknya, hingga diapun melihat ke sekeliling mencari kakeknya.
Pandangan Rengganis terhenti pada sesosok tubuh yang terbujur kaku dengan darah yang sudah mengering yang memenuhi bajunya.
Seketika tangisan Rengganis pecah setelah menyadari, tubuh kaku itu adalah tubuh kakeknya, yang telah tewas karena melindunginya.
Den Roro yang sejak pertama bertemu dengan Rengganis sudah merasa tidak suka, akhirnya merasa iba dan berusaha menghibur dan menguatkan hati Rengganis.
Setelah beberapa waktu dibujuk dan diberi pengertian oleh Den Roro, Ki Dwijo dan Ki Bbanujiwo, akhirnya Rengganis bisa menerima kenyataan kakeknya telah tewas dan kemudian, segera menguburkannya.
Kemudian Ki Dwijo menawari Rengganis untuk ikut dengannya, sekalian mereka akan mencari Puguh.
__ADS_1
Mendengar nama Puguh disebut, muncullah sedikit semangat untuk tetap hidup. Apalagi Ki Dwijo mengajaknya untuk mencari Puguh sampai ketemu.
Akhirnya pada hari berikutnya, Ki Dwijo mengajak pergi Rengganis untuk mencari Puguh. Sedangkan Ki Bhanujiwo sengaja mencari arah lain untuk pergi, sehingga Ki Bhanujiwo dan Den Roro berpisah dengan Ki Dwijo dan Rengganis. Padahal diam diam Ki Bhanujiwo juga hendak mencari keberadaan Puguh.
----- * -----
Puguh terus berlari melayang di atas pepohonan. Kepalanya semakin lama semakin sakit. Sampai Puguh tidak menghiraukan tenaga dalamnya yang semakin menipis. Semakin lama pandangan matanya semakin buram. Hingga akhirnya, pada saat berlari dan melayangnya melewati puncak pohon yang sangat tinggi, pandangan mata Puguh menjadi gelap. Tenaga dalamnya pun habis. Hingga akhirnya Puguh tidak sadarkan diri. Tubuhnya tersangkut pada puncak pohon yang sangat tinggi. Kemudian tubuhnya melayang jatuh.
Dua hari penuh Puguh tidak sadarkan diri. Pada hari ke tiga Puguh merasakan seluruh tubuhnya sakit. Seluruh indera tubuhnya mulai terbangun. Puguh merasa, tempat dia tergeletak sekarang ini tidak asing baginya. Bau udaranya seperti sangat dia kenal. Penampakan sekelilingnya seperti sering dia lihat. Suara suara yang masuk ke telinganya seperti dulu pernah menemaninya.
Seiring dengan kesadarannya yang semakin pulih, Puguh merasakan sangat haus.
Puguh berusaha untuk duduk, sambil melihat ke sekelilingnya. Semua terlihat temaram remang remang mendekati hitam. Pandang matanya terhenti pada salah satu dinding yang mengeluarkan kilatan memanjang.
Karena sudah merasakan sangat haus, tanpa berpikir panjang, Puguh segera menjilati air yang merembes mengalir menyusuri dinding itu. Puguh tidak peduli dengan rasa pahit dari air yang dia jilati itu.
Setelah cukup lama, akhirnya Puguh menghentikan meminum air rembesan itu.
Setelah rasa hausnya hilang, Puguh mulai mempelajari sekitarnya. Dinding di sekelilingnya berbentuk melingkar berwarna hitam pekat. Lantainya juga berwarna hitam pekat. Hampir tidak ada sinar masuk ke ruangan itu.
Tanpa terasa, satu hari penuh Puguh gunakan hanya untuk duduk dan melihat lihat keadaan tempat itu. Dalam waktu sehari itu, Puguh sudah dua kali meminum dengan cara menjilati air rembesan yang mengalir menyusuri dinding.
Semakin banyak yang Puguh bisa lihat dan temukan, semakin Puguh merasa, semua itu seperti bukan hal yang asing baginya.
Hingga kemudian, Puguh mencoba menggali ingatannya. Namun, hal itu justru memicu munculnya kembali, rasa sakit di kepalanya. Ditambah lagi rasa haus yang tiba tiba datang dan seolah tidak bisa dia tahan.
__ADS_1
Akhirnya, dengan rasa sakit di kepalanya yang semakin mendera, Puguh terus menerus menjilati rembesan air yang mengalir menyusuri dinding ruangan itu. Entah sudah sampai berapa lama Puguh menjilati rembesan air itu. Ketika akhirnya, Puguh merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya yang membuatnya tidak bisa menahan lagi hingga akhirnya Puguh tidak sadarkan diri kembali.
Namun kali ini tidak hanya tidak sadarkan diri, namun, tubuh Puguh juga terasa sangat panas. Terutama mukanya terlihat merah padam. Seluruh badannya berkeringat, hingga dahi, pelipis dan ujung hidungnya keluar titik titik air.
Hingga pada puncaknya, dalam keadaan tidak sadarkan diri, badan Puguh terasa sangat panas, namun dia merasakan kedinginan hingga badannya menggigil hebat. Dalam keadaan seperti orang yang sedang mengalami demam itu, mulut Puguh bergumam berulang ulang menyebut beberapa nama. Terkadang menyebut kakek, kemudian mengucapkan nama Rengganis. Hal itu terjadi berulang ulang.
Dalam keadaan tidak sadarkan diri itu, kedua tangan Puguh sampai menarik narik rambutnya, hingga rambutnya acak acakan tidak karuan.
Hingga pada akhirnya, Puguh terdiam terbaring hingga beberapa lama.
Waktu berjalan entah berapa lama, ketika Puguh sedikit demi sedikit tersadar. Puguh merasakan pakaiannya basah semua dan badannya terasa agak dingin.
Ketika tersadar sepenuhnya, Puguh mendapati, dirinya berada di tempat yang hampir gelap gulita. Hanya sinar temaram dari atas yang membuat mata Puguh masih bisa melihat.
Untung saja mata Puguh sudah terlatih melihat dalam tempatnyang sangat kurang cahaya.
Akhirnya Puguh menyadari, dirinya berada di dalam ruangan yang ada di dalam batang pohon yang sangat besar, tempat yang dulu dia terjebak untuk beberapa lama.
Puguh pun langsung teringat beberapa ilmu yang sempat dia baca dan dia dapatkan, tertulis di seluruh permukaan dinding ruangan itu.
Karena merasakan tenaga dalamnya tinggal sedikit, Puguh segera duduk bersila, duduk bersemedi untuk memulihkan tenaga dalamnya. Sebentar kemudian, Puguh pun tenggelam dalam semedi. Hingga tanpa terasa, Puguh duduk bersila melakukan semedi hingga dua hari dua malam.
Merasa cukup semedinya, Puguh pun terbangun. Pertama yang dia rasakan adalah, tubuhnya terasa ringan dan nyaman, tenaga dalamnya hampir pulih sepenuhnya. Semua ingatannya telah pulih. Rangkaian kejadian yang sebelumnya dia alami, sangat dia ingat.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1