
Saat ada dua senjata golok bergagang panjang menebas tubuhnya secara bersamaan, dengan sedikit melenting, Puguh mengayunkan senjata pedangnya untuk menangkis kedua senjata golok itu.
Trang ! Trang !
Dalam dua tangkisan yang bersamaan itu, dua senjata golok bergagang panjang itu terpental dan tubuh kedua wujud Panglima Perang Gardapati terlempar ke belakang.
Sementara itu, dalam posisi sedikit melayang, tubuh Puguh terdorong dan terpental ke atas hingga beberapa meter tingginya.
Tubuh Puguh belum berhenti melayang mundur ke atas, saat dari kiri dan kanannya, melesat ke atas dan mengejarnya, empat wujud Panglima Perang Gardapati.
Keempat wujud Panglima Perang itu langsung memberikan serangan yang berbeda beda saat mereka sudah berada dekat dengan Puguh. Ada yang menebas tubuh Puguh secara menyilang, ada yang melakukan tusukan ke arah dada dan kepala Puguh.
Dalam keadaan yang melayang mundur dan terutama saat itu sedang berusaha mencoba tehnik Mata Elang yang diberikan oleh siluman elang, membuat pertahanan Puguh ada sedikit celah. Sehingga saat datang empat serangan sekaligus, membuat salah satu tebasan golok bergagang panjang mengenai punggung tangan kirinya dan hampir mengenai perutnya.
Sraaattt !
Bersamaan dengan itu, kedua bola mata Puguh tiba tiba berubah menjadi berwarna hijau seluruhnya.
Begitu berhasil mengaktifkan tehnik Mata Elang, Puguh melihat, keadaan di depannya sangat berbeda. Seluruh wujud Panglima Perang Gardapati yang tadi mengepungnya, terlihat transparan.
Akhirnya, setelah beberapa saat mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, Puguh melihat, tubuh asli Panglima Perang Gardapati berdiri di barisan paling belakang. Terlihat, kedua tangan Panglima Perang Gardapati menggerakkan senjata golok bergagang panjang, seperti seorang yang sedang latihan silat. Gerakannya sangat mirip dengan jurus jurus yang dimainkan oleh wujud Panglima Perang Gardapati yang sedang menyerang Puguh.
"Ternyata tubuh aslinya sudah pindah ke belakang dan mengendalikan gerakan semua wujud tubuhnya dari belakang ! Aku harus menghentikannya !" kata Puguh dalam hati.
Beberapa saat kemudian, terlihat angin bergerak perlahan mengitari tubuh Puguh, saat Puguh kembali menaikkan aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Sinar hijau terlihat semakin terang keluar dari bilah pedangnya yang mulai mengeluarkan suara gemuruh.
Sesaat kemudian, seperti menghilang, tubuh Puguh melesat dengan sangat cepat ke arah tubuh asli Panglima Perang Gardapati.
Sementara itu, karena tidak menyangka lawannya bisa segera menemukannya, Panglima Perang Gardapati buru buru memutar senjata golok bergagang panjang untuk menangkis tebasan senjata pedang Puguh.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Dalam beberapa kali benturan senjata, senjata golok bergagang panjang di tangan Panglima Perang Gardapati selalu terpental keras ke belakang, bahkan tubuhnya pun juga terus terdorong ke belakang. Diam diam, Panglima Perang Gardapati merasakan, kedua tangannya tergetar hebat.
__ADS_1
Masih merasa lawannya hanya kebetulan bisa mencapai tempatnya berdiri, Panglima Perang Gardapati kembali menggerakkan senjata golok bergagang panjang dengan kedua tangannya, sambil bibirnya bergerak gerak membaca mantera.
Tetapi, Panglima Perang Gardapati belum sempat menggerakkan ilusi tiruan wujud dirinya, saat tiba tiba Puguh sudah berada di depannya dan siap menebaskan senjata pedangnya.
"Kenapa .... dia bisa .... secepat ... i ... ni ... ?" ucap Panglima Perang dengan terbata bata, sambil berusaha menangkis tebasan pedang Puguh.
Traaannnggg ! Traaannnggg !
"Jangan kau kira aku bisa kau kelabui lagi !" sahut Puguh sambil kembali melakukan tebasan dan tusukan dengan pedangnya.
Mendapatkan serangan beruntun dari Puguh, Panglima Perang Gardapati semakin pontang panting dan mulai kacau gerakannya.
Tebasan pedang yang pertama, senjata pedang Puguh bisa ditangkis dengan golok bergagang panjang.
Traaannnggg !
Belum sempat menata pertahanannya, tebasan senjata pedang milik Puguh sudah kembali menyerang Panglima Perang Gardapati.
Traaakkk !
Akhirnya, pada saat baru berbicara, satu tusukan senjata pedang dari Puguh, tidak bisa dihindari lagi dan menghujam di dada Panglima Perang Gardapati.
"Kau .... sudah bisa .... melihat ... ku ?" gumam Panglima Perang Gardapati.
Claaappp !
Terkena tusukan pedang di dadanya, Panglima Perang Gardapati langsung tewas dengan tatapan mata yang penasaran.
----- * -----
Bersamaan dengan itu, di angkasa di atas tempat Puguh bertarung. Pertarungan Pangeran Indra Prana melawan Panglima Perang Anggaraksa berjalan semakin sengit. Tingkat kesaktian dan tenaga dalam mereka berdua yang seimbang, membuat pertukaran serangan mereka terus terjadi sepanjang waktu.
Seratus jurus sudah mereka lewati. Pangeran Indra Prana dan Panglima Perang Anggaraksa sama sama sudah mendapatkan beberapa luka. Namun walaupun begitu, mereka berdua masih mampu untuk mempertahankan pasisi terbang mereka.
__ADS_1
Hingga pada suatu kesempatan, Panglima Perang Anggaraksa mengerahkan tenaga dalamnya hingga hampir mencapai puncaknya. Dari dalam tubuhnya merembes keluar getaran kekuatan yang sangat sangat besar. Bahkan getaran kekuatan Panglima Perang Anggaraksa itu mampu membuat senjata pedang di tangan kanannya bergetar.
Tiba tiba, dengan diiringi teriakan yang keras menggelegar, Panglima Perang Anggaraksa melemparkan senjata pedangnya ke arah Pangeran Indra Prana.
"Hhyyyaaa !"
Senjata pedang itu melesat dengan sangat cepat membelah udara. Sesaat kemudian, saat baru mencapai jarak sepertiganya, tiba tiba senjata pedang itu pecah menjadi banyak dan semuanya melesat lurus ke arah Pangeran Indra Prana.
Sementara itu, melihat lawannya mengeluarkan kemampuan puncaknya, Pangeran Indra Prana segera meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga hampir sepenuhnya.
Kemudian, dengan kedua tangannya, Pangeran Indra Prana memutar senjata tongkatnya dengan sangat cepat di depan dadanya. Berputarnya senjata tongkat itu menimbulkan pusaran berwarna hitam yang berputar dan semakin lama semakin bertambah luas dan bertambah tebal.
Saat senjata pedang yang berjumlah sangat banyak mendekat ke tubuhnya, Pangeran Indra Prana segera mendorong pusaran hitam yang terbentuk dari tongkatnya.
Sesaat kemudian, terdengar suara ledakan bertubi tubi, saat puluhan senjata pedang itu dengan sangat cepat membentur pusaran hitam yang berputar itu.
Jdammm ! Jdammm ! Jdammm !
Jdammm ! Jdammm !
Dalam benturan yang bertubi tubi itu, Pangeran Indra Prana yang mengendalikan pusaran hitam yang berputar itu, terlihat tubuhnya sedikit bergetar dengan butiran keringat memenuhi dahinya.
Saat setengah lebih, jumlah senjata pedang yang meluncur itu, membentur pusaran hitam, tubuh Panglima Perang Anggaraksa melesat ke depan dengan sangat cepatnya. Ketika tubuhnya sudah sangat dekat dengan pusaran hitam yang berputar itu, dengan cepat, tangan kanannya memegang gagang pedang yang tepat meluncur di depannya, dan menusukkannya dengan menggunakan tenaga dalamnya yang sangat tinggi.
Pedang di tangan kanan Panglima Perang Anggaraksa itu segera amblas ke dalam pusaran hitam yang berputar itu, hingga menimbulkan satu ledakan yang sangat kuat.
Dbaaannnggg !
Sesaat setelah suara ledakan itu, pusaran hitam yang cukup besar dan tebal itu kembali mengecil menjadi seukuran panjang tongkat. Sedangkan tubuh Pangeran Indra Prana terdorong mundur terhuyung huyung hingga beberapa langkah. Nafasnya terlihat terengah engah. Kesua tangannya yang memegang tongkat kayunya nampak bergetar.
Sementara itu, sesaat setelah senjata pedangnya membentur pusaran hitam, tubuh Panglima Perang Anggaraksa terlempar ke belakang hingga beberapa langkah. Pakaiannya terlihat sobek di beberapa tempat, imbas dari ledakan itu.
---------- ◇ ----------
__ADS_1